Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Musim 3 : Alina adalah Alea? Part 32


__ADS_3

Rehan mengendarai mobilnya bersama Rafael yang duduk disamping. Dia memilih mengendarai mobilnya untuk keluar kota sekalian jalan-jalan. Mobil itu melalui perbukitan yang indah. Hamparan perkebunan teh dan hutan dilaluinya. Tiba pada sebuah jalan yang menanjak dan menurun. Kanan bukit dan kiri jurang. Mobil terus melaju tiba-tiba salah satu ban pecah, mobil kehilangan kendali hingga menabrak pembatas jalan dan terjatuh ke jurang.


Bluuuug......


Mobil itu ke dalam jurang. Untung air bag berfungsi dengan baik. Rehan dan Rafael tidak terkena benturan dikepala hanya benturan ringan. Tapi kaki Rehan terjepit body mobil bagian depan yang rusak. Rafael coba membantu Rehan keluar dari dalam mobil. Dia berusaha menyingkirkan penghalang yang menjepit kaki kiri Rehan. Mobil mulai mengalami konsleting.


"Nak Rafael tinggalkan Om, mobilnya bisa jadi terbakar" ucap Rehan.


"Tidak Pak, kita akan keluar bersama-sama dari sini" ucap Rafael.


"Kau bisa mati jika mobil ini terbakar" ucap Rehan.


"Saya tidak takut mati tapi saya takut, saya tidak bisa menyelamatkan Anda" ucap Rafael.


Rafael tidak peduli jika harus mati tapi jika dia tidak bisa menyelamatkan Rehan akan jadi penyesalannya seumur hidup. Rafael berusaha mencari alat yang bisa digunakan untuk menyingkirkan body mobil yang menjepit kaki Rehan. Rafael keluar dari dalam mobil menuju bagasi mobil untuk mengambil kotak perkakas. Dia membawa perkakas itu. Lalu mengeluarkan berbagai alat. Dia menggunakan kunci allen untuk melonggarkan body mobil yang menjepit kaki Rehan. Dia coba menariknya sekuat tenaga.


"Pergilah nak, mobilnya sudah mulai terbakar, jika sampai mengenai bensin akan meledak" ucap Rehan.


Mobil bagian depan sudah mulai sedikit terbakar.


"Tidak, aku yakin bisa mengeluarkanmu Om" ucap Rafael.


Rafael menarik dan menarik. Dia tidak mau menyerah.


"Ayolah, kau bisa Rafael, Om Rehan harus selamat, ku mohon" batin Rafael sambil terus menarik.


Dan akhirnya kaki Rehan bisa ditarik keluar. Rafael membantu Rehan keluar dari mobil. Rehan tidak bisa berjalan, kakinya cidera karena tadi terjepit body mobil bagian depan.


"Naik ke punggungku Om" ucap Rafael. Dia memutar ranselnya ke depan tubuhnya.


"Tapi Nak Rafael" ucap Rehan merasa tidak enak.


"Saya mohon, kaki Anda cidera biarkan saya menolong Anda" ucap Rafael.


"Baiklah, terimakasih sebelumnya nak" ucap Rehan.


"Iya Om" ucap Rafael.


Rehan naik ke punggung Rafael. Kemudian Rafael menggendong Rehan sambil berjalan menjauh dari mobil itu. Baru berjalan beberapa meter mobil yang dinaiki mereka berdua meledak dan terbakar total.

__ADS_1


"Alhamdulillah" ucap Rehan.


Rehan bersyukur dia bisa selamat. Dia melihat anak muda yang menggendongnya. Rehan kagum padanya. Lelaki muda itu tidak takut mati demi menolong orang lain.


Rafael terus berjalan sambil menggendong Rehan diantara hutan belantara. Sudah setengah hari mereka belum menemukan jalan keluar dari hutan itu.


"Nak Rafael, apa tidak lelah menggendong Om?" tanya Rehan.


"Sedikit Om, apa kita istirahat dulu dibawah pohon besar itu" ucap Rafael.


"Iya nak Rafael" ucap Rehan.


Rafael dan Rehan istirahat dibawah pohon besar.


"Om haus?" tanya Rafael.


"Iya nak" ucap Rehan.


Rafael mengeluarkan botol minumnya yang tadi pagi dia isi dirumah Leo. Dia memberikan pada Rehan.


"Memangnya kamu tidak haus juga nak?" tanya Rehan.


"Om duluan saja, nanti saya sisanya" ucap Rafael.


Rehan meminum air dari botol minum itu. Dia menyisakannya setengahnya. Setelah itu memberikan pada lelaki muda disampingnya itu.


Rafael langsung meminum air minum sisanya.


"Nak Rafael, tadi kau tidak takut mati, memangnya kau tak punya keluarga. Tentu mereka akan sedih jika kehilanganmu" ucap Rehan.


"Ada, dia adik kesayanganku" ucap Rafael.


"Lalu kenapa kau rela mati untuk menyelamatkanku. Bagaimana jika adikmu bersedih saat kau tiada" ucap Rehan.


"Aku tidak bisa melihat orang lain mati begitu saja jika aku masih bisa menyelamatkannya" ucap Rafael.


"Lalu adikmu bagaimana?" tanya Rehan.


"Adikku gadis kuat dan pintar, aku yakin jika aku tidak ada disisinya dia bisa mandiri dan jadi wanita hebat nantinya" ucap Rafael.

__ADS_1


"Siapa nama adikmu?" tanya Rehan.


"Alina Clemira" ucap Rafael.


Rehan ingin tahu banyak hal tentang lelaki muda disampingnya itu. Dia penasaran seperti apa kehidupan lelaki muda itu.


"Nama yang indah, kalian tinggal dimana?" tanya Rehan.


"Kami menyewa sebuah kontratrakkan untuk tempat tinggal" ucap Rafael.


"Maaf, memangnya orangtua kalian kemana?" tanya Rehan.


"Kami anak yatim piatu dari panti asuhan yang diadopsi orangtua angkat kami. Hanya saja orangtua tua angkat kami sudah meninggal beberapa bulan lalu. Rumah tempat tinggal kami disita bank, jadi kami memutuskan menyewa kontrakkan" ucap Rafael.


"Apa kau dan adikmu saudara kandung?" tanya Rehan.


"Bukan, orangtuanku meninggal karena kebakaran, hanya aku yang selamat. Sementara Alina dia bayi yang ditemukan dilaut oleh sepasang ustad dan ustadzah. Mereka merawat Alina. Tapi mereka mengalami kecelakaan hingga Alina dititipkan dipanti asuhan lalu diadopsi orangtua angkat kami sama sepertiku" ucap Rafael.


"Alina ditemukan dilaut?" tanya Rehan.


Kata-kata laut mengingatkan Rehan akan bayi Alea yang juga dibuang ke laut oleh Eden. Rasanya membuat hatinya teringat kembali peristiwa itu.


"Iya, beberapa waktu yang lalu kami mendapat sebuah surat dari ustad dan ustadzah, orangtua yang merawat Alina. Mereka memberitahu kalau mereka menemukan bayi Alina hanyut dilaut, saat itu kondisi Alina kritis, mereka secepatnya membawa Alina ke rumah sakit, akhirnya Alina bisa sembuh dan dirawat oleh mereka" ucap Rafael.


"Alina hanyut di laut saat masih bayi" batin Rehan.


Rehan merasa kisah Alina hampir sama dengan bayi Alea. Tapi dia harus memastikannya lagi.


"Nak Rafael, ada sesuatu yang Om ingin ceritakan padamu" ucap Rehan.


"Silahkan Om" ucap Rafael.


"Om memiliki tiga bayi kembar. Saat itu istri dan ketiga bayi kembarku diculik kakakku Eden, dibawa ke atas kapal. Aku coba menyelamatkan anak dan istriku. Tapi aku tidak bisa menyelamatkan semuanya. Salah satu bayiku dibuang ke laut 17 tahun yang lalu. Dan jenazahnya tak pernah ditemukan. Bayi kami terpaksa dinyatakan meninggal karena pencarian sudah dilakukan hingga berbulan-bulan dan hasilnya nihil" ucap Rehan.


Rehan menceritakan semuanya pada Rafael. Dia berharap ada sesuatu keajaiban untuknya. Mungkin saja Alina adalah Alea anaknya walaupun dia belum memastikan secara test DNA.


"Bayi Alina juga ditemukan di laut 17 tahun yang lalu" ucap Rafael.


Rehan langsung berpikir, dia mencocokkan waktu dan kejadian yang dialami Alina dan Alea hampir sama. Meskipun harapan itu tipis, Rehan masih optimis berharap Alina memang benar anaknya.

__ADS_1


"Apa mungkin Alina adalah bayiku Alea yang hanyut di laut?" ucap Rehan.


Rafael langsung melihat ke arah Rehan. Dia memikirkan sesuatu tentang Alina.


__ADS_2