
"Iya betul, Mama ingin kau menikahi gadis sholehah dan baik," ucap Azkia.
"Mamakan tahu dari dulu aku cuma cinta sama Kiara," ucapFarhan.
"Farhan Mama merasa Kiara bukan gadis yang baik," ucap Azkia.
"Terserah Mama, tapi aku akan menikahi Kiara akhir minggu ini," tegas Farhan.
"Farhan jangan mengambil keputusan yang salah, Mama tidak setuju kau menikahi Kiara," ucap Azkia.
"Ma apa salahnya kalau aku nikahi Kiara, apa karena Kiara miskin jadi Mama tidak setuju?" ucap Farhan.
Farhan malah mengira Mamanya tidak setuju karena Kiara miskin. Dia tidak selevel dengan keluarganya.
"Mama tidak pernah memandang siapapun dari harta dan kekuasaannya, tapi dari akhlak dan kepribadiannya," ucap Azkia.
"Lalu kenapa Mama gak setuju?" tanya Farhan.
"Itu karena Mama ingin yang terbaik untukmu nak," ucap Azkia.
"Yang tahu itu baik atau tidak untukku, itu aku sendiri Ma. Jadi ku mohon jangan membuatku marah sama Mama," ucap Farhan.
Farhan menaiki tangga, dia naik ke lantai atas.
Dia tak menggubris ucapan Azkia. Dihatinya cuma ada Kiara. Dia tidak ingin menikahi wanita lain yang tidak dia cintai.
Setelah keluarga Andra-Zhafira pulang, Azkia duduk bersama Raka. Azkia membicarakan masalah Farhan pada suaminya.
"Pa, gimana ini? Farhan tidak mau dijodohkan?" tanya Azkia.
"Memangnya kenapa?" tanya Raka.
"Itu Pa, dia sudah punya pacar yang bernama Kiara," ucap Azkia.
"Kita memang tidak bisa memaksakan kehendak kita pada Farhan, apa yang kita bilang baik belum tentu disukai Farhan," ucap Kiara.
"Iya sih Pa, tapi Mama ingin yang terbaik untuknya" ucap Azkia.
Raka memeluk Azkia dalam dekapannya.
"Sabar ya Ma, Papa yakin pasti akan ada jalannya yang keluarnya," ucap Raka.
"Iya Pa, semoga saja Farhan bisa menikahi Lilia," ucap Azkia.
"Amin," jawab Raka.
Raka dan Azkia yakin Farhan akan mendapatkan yang terbaik. Sebagai orangtua mereka hanya ingin melihat kebahagiaan anaknya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Kiara sedang berbaring diranjang. Dia memainkan handphone ditangannya. Ibu Yesi datang menggampirinya dan duduk disamping Kiara. Dia ingin tahu perkembangan hubungan anaknya dengan Cucu Leo Ariendra.
"Kiara gimana?" tanya Ibu Yesi.
"Tenang aja Ma, Farhan sudah berjanji akan menikahiku," ucap Kiara.
"Bagus, sekarang kau hanya punya Farhan, jadi jangan sampai lepas ingat itu," ucap Ibu Yesi.
__ADS_1
"Iya Ma, lagian Farhan itu cinta mati denganku, jadi tak perlu khawatir," ucap Kiara.
"Bagus deh, kau memang harus mendapatkan Farhan," ucap Ibu Yesi.
Ditempat lain Aksa sedang bersiap berangkat bekerja. Dia membereskan semua perlengkapan kerjanya ke dalam tas. Kakinya melangkah menujj pintu apartemen. Dia membuka pintu, didepannya berdiri Naira yang membawa rantang makanan.
"Naira," ucap Aksa.
"Ibuku membawakan ini untukmu," ucap Naira.
Naira memberikan rantang makanan itu pada Aksa dan berjalan meninggalkannya. Aksa mengunci pintu apartemennya. Dia mengejar Naira.
"Naira tunggu," teriak Aksa.
"Ada apa?" tanya Naira.
"Apa kau yang memasak makanan ini?" tanya Aksa.
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Naira.
"Masakanmu enak, aku suka," ucap Aksa.
"Baguslah kalau kau suka, jadi makanan itu tidak akan mubazir," ucap Naira.
"Maukah kau sarapan denganku, dibawah ada taman, sepertinya enak sarapan sambil menikmati matahari pagi," ucap Aksa.
"Aku tidak punya waktu, pagi ini calon suamiku mengajakku bertemu, maaf," ucap Naira.
"Naira, dia tidak akan datang. Kau tahu itukan?" ucap Aksa.
"Aku yakin kau tahu dia sudah tiada, kau hanya belum menerima kepergiaannya saja," ucap Aksa.
"Heh, kau itu baru mengenalku tapi sudah bicara banyak tentangku, jangan berani mencampuri urusanku lagi, ingat itu," ucap Naira.
Naira berjalan memasuki lift. Dia meninggalkan Aksa begitu saja. Aksa hanya berdiri sambil memegang rantang ditangannya. Dia berjalan menuju lift dan turun ke lantai bawah. Aksa berpikir untuk sarapan ditaman sambil berjemur. Segera dia pergi ke taman disamping apartemen. Tak sengaja dia melihat Naira duduk ditaman, dia terlihat menangis sendirian. Aksa duduk disampingnya.
"Kenapa kau menangis?" tanya Aksa.
"Kau benar, dia memang sudah tiada, hanya aku saja yang belum bisa menerimanya hik hik hik," ucap Naira.
"Memang sulit melupakan orang yang kita cintai, apa lagi melepaskan pergi. Dulu aku juga pernah ditinggal orang yang ku cintai. Bertahun-tahun aku sendirian, menutup diri dan membuat diriku menyimpan rasa sakit itu sendirian. Aku merasa semua ini tak adil padaku. Aku sampai menggindari semua orang yang ada dihidupku. Tapi aku sadar semua itu percuma. Dia tak akan kembali dan aku tetap kesepian. Akhirnya aku membuka diri, ku biarkan dunia masuk dalam hidupku dan memberi warna hingga aku bisa hidup seperti orang pada umumnya," ucap Aksa.
Naira mendengarkan ucapan Aksa. Dia merasa yang diucapkan Aksa ada benarnya. Selama ini dia hanya tidak bisa menerima kenyataan. Dia menutup diri dan membuat dirinya tersiksa karena kenyataan ini.
"Kau mau sarapan, aku tidak akan bisa menghabiskan semuanya," ucap Aksa.
Naira mengangguk. Mereka makan berdua sambil menikmati matahari pagi.
"Naira kau pandai memasak, apa kau tidak ingin membuka sebuah rumah makan? aku akan jadi pelanggan pertama," ucap Aksa.
"Dulu aku dan ibuku jualan nasi bungkus dikedai kecil milik kami, tapi sejak aku..., setelah itu kedai ditutup," ucap Naira.
"Kalau begitu buka lagi, aku yakin semua orang yang biasa membeli makanan dikedai milikmu sudah rindu masakanmu," ucap Aksa.
"Kau ini, pandai sekali membuat suasana hatiku membaik," ucap Naira.
"Aku hanya ingin melihatmu semangat menyambut hari-harimu, aku yakin kau akan menemukan kebahagiaanmhu," ucap Aksa.
__ADS_1
"Terimakasih Aksa," ucap Naira tersenyum pada Aksa.
"Iya, oya kau mau kemana biar ku antar?" tanya Aksa.
"Aku mau pulang, tapi aku naik bus saja," ucap Naira.
"Kalau gitu aku ikut naik bus," ucap Aksa.
"Kau yakin?" tanya Naira.
Aksa mengangguk. Mereka berjalan menuju halte bus lalu naik bus bersama. Karena tempat duduk penuh, Aksa berdiri bersama Naira.
"Naira kau capek berdiri?" tanya Aksa.
"Tidak, aku sudah terbiasa berdiri seperti ini ketika naik bus," ucap Naira.
Aksa melihat Naira, dia melihat gadis itu sederhana dan terlihat cantik dimatanya.
"Aksa aku punya sebuah permainan, cari aku ya sampai dapat," ucap Naira.
Naira berjalan melewati orang-orang yang berdiri dilorong bus, meninggalkan Aksa.
"Naira tunggu," ucap Aksa.
Aksa menyusul mencari Naira, dia berjalan diantara orang yang berdiri dilorong. Dia memegang lengan gadis didepannya.
"Naira aku menemukanmu," ucap Aksa.
Saat wanita itu berbalik ternyata bukan Naira.
"Iya ayang, ganteng banget, eke mau loh jadi simpananmu," ucap Banci didepan Aksa.
"Sorry, saya hanya menyimpan yang jelas alamnya. Next aja ya," ucap Aksa.
"Ayang, eke dah oplas loh dijamin alam udah jelas," ucap Banci itu.
"Makasih, tapi aku pengen yang originil, skip aja ya," ucap Aksa.
"Ayang tolonglah terima cinta eke, langsung DP ciuman memabukkan," ucap Banci itu.
Banci itu menarik Aksa hendak menciumnya, Naira langsung menaruh rantang didepan muka banci itu.
"Lah kok rantang," ucap Banci itu.
"Neneng jangan nyosor sembarangan, dia ini pacarku ya," ucap Naira.
"Bilang dong, jadi eke gak akan comot duluan," ucap Banci itu.
Aksa terkejut mendengar Naira mengakuinya sebagai pacarnya. Dia merasa nyaman mendapat pengakuan itu.
"Aksa ayo turun," ucap Naira.
"Oh, iya," ucap Aksa bengong.
Aksa dan Naira turun dari bus. Ditepi jalan Aksa terus memikirkan ucapan Naira yang tadi.
"Naira tadi kau bilang aku pacarmu?" tanya Aksa.
__ADS_1