Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Pengorbanan


__ADS_3

"Ayo cantik kita bersenang-senang, menikmati hidup," ucap Aldian sambil mencolek dagunya wanita yang ada di sampingnya itu.


Wanita itu menuangkan win pada gelas Aldian. Langsung di teguk nya lalu mengeluarkan sejumlah uang untuk wanita itu dan ia sisipkan diantara belahan dua buah yang menggantung indah.


"Makasih Tuan." Wanita itu kegirangan dan menciumi pipi dan bibir Aldian sebagai tanda terima kasih.


"Kau boleh pergi. Aku tidak membutuhkan mu malam ini," ucap Aldian sambil mengibaskan tangannya.


Lantas wanita itu pergi, tinggallah Adian dengan beberapa teman prianya yang masih menikmati minuman dan rokok nya.


"Kalian masih betah di sini bro?" tanya Aldian menatap kawan-kawannya.


"Sebentar lagi, kami pulang bro," jawabnya.


Aldian berdiri. Lantas berjalan keluar dari Bar tersebut meninggalkan teman-temannya.


Kini mobil Aldian melesat ke sebuah tempat, yang agak jauh dari kota itu. Setibanya di sebuah halaman rumah mewah, Mobil Aldian berhenti. Lalu bergegas masuk, disambut seorang wanita muda yang memakai lingerie menyambut kedatangan Aldian.


"Sayang, kemana saja sih? lupa ya sama aku!" tangannya bergelayut mesra di tangan Aldian.


Aldian membuka jas nya. Ia lempar ke sembarang tempat. "Aku baru sempat," balas Aldian.


"Aku kangen kamu." Wanita itu memeluk erat dan menciumi wajah Aldian. Untuk menumpahkan rasa rindu."


"Aku juga kangen," lirih Aldian sambil membalas pelukan wanita itu dan dengan ganasnya meraup bibir wanita itu.


Sesaat keduanya saling menumpahkan rindu, maklumlah lama mereka berdua tidak bertemu. Aldian membawa wanitanya ke tempat yang ternyaman dan tanpa sedikitpun melepas pagutan nya. Lalu menindih tubuh wanitanya dan bersiap untuk berenang-renang di danau kering. Mereguk madu di lembah kecil yang sudah terlihat keindahannya.


Berapa saat kemudian terjadilah pergulatan yang sangat memanas dan mereka melakukannya tak perduli di mana, saking nafsunya, Mereka melakukan hal gila itu di sofa yang ada di ruang tengah. Membuat asisten di sana menutup mata dan telinga dan berlari ke tempat yang jauh.


"Kamu tega ya membiarkan aku sendiri di sini?" wanita itu menatap sendu. Di sela ritual panasnya.


"Sayang ... ini kan buat kita juga. Kita gak akan bisa seperti ini bila tak ada pengorbanan," balas Aldian sambil menyingkirkan anak rambut di pipi wanita tersebut. Ia selipkan ke belakang kupingnya.


"Iya sih, tapi aku juga sedih jauh terus dari kamu." Rajuk wanita tersebut. Yang kini berada di atas tubuh pria bertubuh besar itu.


Sebenarnya wajah Aldian itu lumayan manis, cuma ya gitu sering arogan. Pemabuk dan suka main perempuan.


"Sabar sayang, nanti juga akan ada saatnya." Cuph! mendaratkan kecupan di kening, pipi dan berakhir di bibir.

__ADS_1


Wanita yang bernama Suci ini terus menikmati setiap sentuhan dari Aldian. Suci ini adalah istri Aldian yang pertama, mereka sampai sekarang tidak mempunyai keturunan. Demi sebuah tujuan khususnya harta, Aldian mendekati Fatmala yang terkenal kaya raya dan akhirnya terjadi pernikahan dan memiliki anak ya itu Rania.


Suci terpaksa merelakan demi suami tercintanya. Dan demi harta juga, ia tidak tahu kalau suaminya ini suka main cewek di luaran sana. Selain sama istri-istrinya.


Lama keduanya memadu kasih di ruang tengah itu, sehingga membuat risih penghuni rumah tersebut. Untung saja malam hari, kalau saja siang hari pasti menghambat aktifitas asisten rumah tangganya.


Setelah merasa puas, badan pun seakan sudah lemas tak berdaya dan kehabisan tenaga. Keduanya mengakhiri dan berpindah ke dalam kamar. Mungkin mau melanjutkan lagi di sana entahlah.


...****...


Di Mension, Fatmala sedang menyuapi gadis kecilnya yang bersiap tuk pergi ke sekolah itu.


"Mam, Papa mana? gak pulang lagi ya?" netra mata yang bening dan polos itu menatap lekat sang bunda.


Kening Fatmala mengernyit dan menoleh pada asisten di sana. "Tuan pulang gak Bi?"


"Tidak Nyonya. Mobilnya pun tidak ada. Di kamar pun kosong," sahutnya.


"Oh, berarti papa gak pulang sayang."


"Rania kangen deh, kapan sih papa pulang?" rajuk Rania berwajah sedih.


"Mau, Rania mau. Hore ... ye-ye-ye mau jalan-jalan sama Mama." Anak itu bersorak kegirangan.


Bibir Fatmala tersenyum merekah. Melihat reaksi gadis kecilnya tersebut.


Lanjut Fatmala mengantar Rania ke mobil. "Mia, jaga Rania baik-baik jangan sampai terjadi sesuatu sama dia. Dan kamu Pak supir kamu juga turut bertanggung jawab terhadap Rania." Tatapan Fatmala tajam mengarah keduanya.


Mereka pun mengangguk, pertanda mengerti lalu mereka bersiap berangkat ke sekolah. Sementara Fatmala kembali masuk berjalan naik ke lantai atas menuju kamarnya untuk mengambil semua barang yang harus di bawanya bekerja.


Blak!


Pintu terbuka dan sontak Fatmala menoleh pada siapa yang datang. Tampak Aldian berjalan menghampirinya.


"Pagi sayang?" sapa Aldian dengan manisnya dan hendak meraih kepala Fatmala tuk dicium keningnya.


Fatmala menghindar. "Pagi juga. Anak mu mencari mu. Menanyakan mu terus, jangan sampai anak itu merasa lelah seperti halnya aku." Dengan nada dingin.


Aldian mendudukkan dirinya di bahu sofa. "Benarkah kau lelah dengan ku?" memicingkan matanya.

__ADS_1


"Tanpa ku jawab pun, kau tahu sudah jawabannya." Fatmala berdiri dekat cermin rias sambil mengenakan jam tangan di tangan kanannya.


"Oya?" Aldian tersenyum kecut.


"Apa kabar istri mu?" selidik Fatmala. Ia tahu kalau Aldian sudah beristri setelah beberapa tahun menikah dan dari situ lah Fatmala hilang rasa ditambah lagi dengan sikap Aldian yang berubah 98%. Yang mulanya baik, lembut, Jadi arogan, pemabuk dan main perempuan.


"Baik," jawabnya. Kedua mata Aldian menatap intens pada Fatmala yang tampak sempurna tak kalah dengan tubuh Suci, istrinya.


"Baguslah." Fatmala menjinjing tas nya berjalan melintasi Aldian.


Geph!


Tangan Fatmala Aldian tangkap dan menarik agar mendekat. Dan langsung Fatmala tepis tidak suka di sentuh laki-laki itu.


"Jangan menyentuh ku!" dengan nada tinggi dan mata melotot.


"Heh, kau itu istri ku!" suara Aldian tak kalah tinggi dari Fatmala.


"Hem, Suami? suami macam apa ha? apa kau pernah menghargai ku sebagai istri? yang kau butuh itu cuma duit!" Fatmala berlalu tak menghiraukan lagi Aldian yang berdiri di kamarnya.


"Dasar laki-laki tak berguna." gerutu Fatmala sambil berjalan cepat menuruni tangga dan langsung menghampiri mobilnya yang sudah menunggu dengan supirnya.


"Jalan, Pak." Pinta Fatmala pada supir yang duduk di depan. Setelah ia memasang sabuk pengaman.


"Baik Bu," supir mengangguk dan segera memutar kemudinya. Melaju cepat meninggalkan rumah mewah tersebut.


Mobil yang ditumpangi Fatmala melesat menuju perusahaannya Fatmala. Tiba-tiba Fatmala menerima telepon dari seseorang.


"Iya, Mah. Nanti Fatma suruh supir untuk menjemput." Kata Fatmala di ujung teleponnya.


Fatmala menoleh ke arah supirnya. "Setelah mengantar saya, langsung ke bandara ya jemput orang tua saya. Beliau akan tiba satu jam lagi."


Pria paruh baya itu pun mengangguk. "Tuan dan Nyonya besar. Pasti sudah kangen sama cucunya ya!" suara pak supir tanpa menoleh, matanya tetap fokus ke depan jalanan yang ramai dengan kuda besi lainnya.


Sesampainya di halaman kantor, Fatmala bergegas turun dengan penampilan nya modis dan elegan selalu jadi pusat perhatian setiap orang yang berpapasan dengannya. Termasuk para karyawan.


Setibanya di ruangannya. Fatmala tertegun ketika melihat seseorang tengah berdiri dekat jendela memandang lepas pemandangan dari atas gedung yang tinggi menjulang tersebut ....


****

__ADS_1


Fatmala dan Arya up lagi nih, jangan lupa kasih dukungannya ya? makasih sebelumnya🙏


__ADS_2