Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Mengundang


__ADS_3

Seseorang tengah berdiri di dekat jendela dengan posisi memunggungi pintu dan memandangi ke arah luar melalu jendela.


Fatmala mendekat. "Sedang apa di sini?"


Pria itu menoleh dengan senyuman. "Pagi Kak?"


"Pagi juga. Sedang apa di sini?" ulang Fatmala sambil menatap ke arah pria itu.


"Aku, ingin bertemu saja dan mau memberikan ini sebagai tanda terima kasih." Arya memberikan sebuah buket bunga yang indah dan tadi tersimpan di meja.


Netra mata Fatmala memperhatikan yang Arya berikan padanya. "Padahal, nggak usah repot-repot." Sambil mengambil buket bunga tersebut.


"Nggak juga. Oya aku mau mengundang anda ke acara syukuran rumah di Bandung," ucap Arya.


"Duduk?" Fatmala menunjuk sofa yang ada di sana.


Arya pun mendudukkan dirinya di sofa, duduk berhadapan dengan seorang Fatmala.


"Kapan acaranya? mungkin aku bisa dan gak bisa datang ke sana. Sebab ... seperti kau tahu saya sibuk. Lusa juga saya mau ke luar kota dalam beberapa hari."


"Aku tahu Kakak sibuk. Tapi bukan dalam waktu dekat ini kok, acaranya bulan depan jadi masih lama juga," jelas Arya sedikit tersenyum.


"Oh, bulan depan. Kasih tahu aja tanggalnya agar saya bisa mencatatnya." Pinta Fatmala.


"Iya, nanti saya kirim tanggalnya. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih? semoga kita berjodoh.''


"Ha?" Fatmala mendongak, kaget mendengar perkataan Arya.


"Em, maksud saya semoga kita berjodoh. Bisa dipertemukan di sana, keluarga saya ingin sekali bertemu dengan anda yang sudah lama tidak berjumpa," sambung Arya.


"Iya sih."


"Oya, silahkan aja anda bekerja, jangan terganggu kehadiran saya. Biar saya di sini sebentar." Arya mempersilakan Fatmala tuk bekerja.


"Baiklah ..." Fatmala beranjak dan memeluk bunga dibawa ke meja kerjanya.


Tok ....


Tok ....


Tok ....

__ADS_1


Fatmala dan Arya menoleh ke arah sumber suara. "Masuk!" suara Fatmala.


"Ini kopi yang anda pinta," kata office boy yang bersama sekretaris.


"Makasih! simpan di meja sana satu." Menunjuk ke meja dekat Sofa yang ada Arya nya.


Office boy pun menyimpan kopi di tempat yang di tunjuk oleh sang CEO. Kemudian mereka pergi setelah sekretaris memberikan sebuah map yang harus Fatmala tanda tangani.


Fatmala berkutat dengan kerjaannya dan Arya masih duduk di sofa ditemani segelas kopi. Sesekali melihat ke arah Fatmala yang tampak serius dengan beberapa map dan layar laptopnya.


"Kamu gak kerja?" sekilas melirik ke arah Arya yang duduk santai di pojokan.


Tatapan pria ini begitu lekat. "Nanti sore baru mau ada penerbangan. Kenapa?" Arya balik tanya.


"Oh, kabar keluarga mu baik, kan? saat ini!"


"Alhamdulillah baik." Arya mengangguk dan tersenyum. Kemudian matanya mengarah pada foto yang terpajang di meja Fatmala. Sebuah gambar wajah Fatmala dan gadis kecilnya.


"Syukurlah," tanpa melihat, Fatmala kembali memfokuskan pandangan ke layar laptop.


Arya melihat jam yang melingkar di tangannya. "Oya, aku pergi dulu Kak. Sorry ya sudah mengganggu, tapi lain kali aku ganggu lagi sih." Tangannya meraih jaketnya.


"Oh, oke. Nggak juga kok," sahut Fatmala memandangi punggung Arya. Pria itu melangkah pergi pesonanya masih tampak meskipun dilihat dari samping atau belakang.


Hari ini Fatmala ada jadwal ketemu pengacara tuk menggugat cerai sang suami. Namun ia masih butuh banyak bukti untuk melancarkan tujuannya. Ia sudah tidak kuat bila harus menjalani rumah tangga macam ini, walau harus mengorbankan anak namun harus gimana lagi percuma dipertahankan juga jika harus menyiksa hati.


Fatmala sudah jengah. Dengan sikap Aldian yang makin ke sini semakin macam-macam dan gak tau diri.


Sementara Arya yang sudah menunggangi motornya berlari tanpa tujuan. Tanpa sengaja Arya melewati jalan di depan sekolah TK yang kemarin ia hampir menabrak seorang anak. Dan kali ini Arya melihat anak itu bermain di taman bersama pengasuhnya.


Ketika netra mata bening anak itu mendapati sosok Arya langsung menghampiri. "Om ganteng?"


"Hi ... cantik! nggak belajar?" tanya Arya sambil berjongkok mengsejajar kan dengan anak itu.


"Lagi istirahat Om," sahut Rania.


"Non, jangan jauh-jauh! nanti dimarahi mama." Suara pengasuhnya dari belakang Rania.


Rania menoleh. "Nggak kok aunty. Cuma di sini aja kok." Kemudian netra mata Rania kembali menoleh ke arah Arya. "Om ganteng ngapain ada di sini? apa putrinya sekolah juga di sini."


Arya tersenyum, mendengar pertanyaan Rania si gadis kecil itu. "Om, kebetulan lewat saja. gadis cantik ...."

__ADS_1


"Oh, Rania kira anak Om nya sekolah di sini juga!" sambung Rania pandangannya selalu tertuju pada Arya.


"Nggak, Om lewat saja." Kerena terdengar lagi suara Bell pertanda semua pelajar harus masuk kembali. "Ya sudah. Masuk dan belajar lagi sana, yang rajin biar pinter."


"Ayo Non, masuk belajar dulu?" Mia menuntun tangan Rania masuk.


Kedua mata Rania sesekali menoleh ke arah Arya yang masih terdiam di tempat melihat langkahnya.


Arya memang memandangi anak itu sampai hilang dari pandangan Arya, entah kenapa ia langsung jatuh hati pada anak itu. Tapi bukan semata-mata Rania itu anaknya Fatmala. Tapi memang ia benar-benar jatuh hati dan sayang sama anak itu dari sejak pertama bertemu.


Kemudian Arya berdiri dan menduduki jok motornya sambil pandangan ke dalam sekolahan yang ramai dengan anak-anak. Kedua mata Arya terus menatap ke arah sana.


Tangannya memainkan kunci di putar-putarnya pelan. Arya yang saat ini menggunakan topi berwarna putih itu tampak lebih mempesona. Ia berjalan menuju pedagang arumanis yang sangat mengembang berwarna-warni. Ia siapkan buat Rania satu.


Arya dengan sabar menunggu anak itu selesai dan keluar dari sekolah tersebut. Hingga akhirnya masa belajar pun selesai, dan Rania yang memang mencari keberadaan Arya langsung berlari menghampiri.


"Non? nggak usah lari, nanti jatuh. Mama marah lho!" pekik pengasuhnya dan mengejar langkah Rania yang menghampiri Arya.


"Non, mobil di sebelah sana Non!" ulang Mia sambil menunjuk ke arah mobil yang terparkir dan menunggu Rania selesai belajar.


"Rania mau bertemu sama om dulu aunty ..." setelah sampai di depan Arya, Rania disambut hangat.


"Sudah belajarnya?" tanya Arya menyambut tangan mungil Rania.


"Sudah, Om. Kenapa Om masih di sini sih? apa menunggu Rania ya ...."


Arya tersenyum dan menunjukan sesuatu pada Rania. "Tereng ... Om punya apa nih buat Rania."


"Wah ... arumanis kesukaan Rania," Anak itu sangat antusias dan kedua matanya begitu berbinar. Melihat ke arah arumanis yang berada di tangan Arya.


"Rania suka?" tanya Arya menatap anak itu begitu lekat. Dengan bibir tersenyum.


"Suka, Om suka banget." Rania mengambil itu dari tangan Arya dan langsung melahapnya.


"Non, jangan dimakan! kata mama jangan gampang mengambil makanan dari sembarang orang," suara Mia dan hendak mengambil permen tersebut dari tangan Rania.


Namun Rania tak begitu saja memberikannya. "Tapi aunty?"


"Maaf, Mbak! saya tidak memasukan racun kok pada permen itu, jangan khawatir juga. Saya bukan orang jahat." Arya meyakinkan Mia.


Yang lain sudah pada pulang dan Rania pun bersiap pulang. Sehingga anak itu berpamitan pada Arya, yang dibalas anggukan oleh Arya dan lambaian tangan ....

__ADS_1


****


Yang sudah membaca harap meninggalkan jejaknya🙏


__ADS_2