
Setibanya di rumah, langsung disambut oleh sang bunda. "Kok baru pulang sih sayang?" tanya bundanya Renata.
"Iya, Bun. Tapi kan belum malam! baru saja menjelang magrib," sahut Renata pada dan bunda.
"Tante, karena Renata sudah sampai dengan selamat di rumahnya ini. Aku mau pamit Tante," suara Doni setelah mengantar Renata sampai teras.
"Oh, iya makasih ya? sudah mengantar lagi ke rumah," ucap bundanya Renata.
"Renata, aku pulang dulu ya? sampai jumpa lagi." Doni melempar senyuman pada Renata.
"Iya, hati-hati." Renata menganggukkan kepalanya.
Doni memutar badan lalu berjalan mendekati mobil. Kemudian melambaikan tangan sambil memasuki mobilnya. Detik kemudian melajukan mobilnya menjauhi kediaman Renata.
Setalah mobil Doni hilang dari pandangan. Renata dan sang bunda masuk ke dalam rumah. "Yu, masuk sayang?"
"Ayo, Bun." Renata menggandeng tangan sang bunda.
Renata langsung menaiki anak tangga untuk masuk ke kamarnya di lantai atas. Kemudian menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur yang empuk itu.
Pandangan mata Renata jauh menerawang dan pikiran juga melayang mengingat semua perkataan Doni tadi sore. Membuat bibirnya senyum-senyum sendiri. "Kenapa baru ngomong, kalau suka sama aku. Ah ada-ada saja orang sudah tunangan juga."
Retttt ....
Getar ponsel Renata pertanda ada pesan masuk. Ketika di buka bibir Renata kian mengembang. Rupanya Doni yang mengirimkan pesan yang isinya.
^^^Doni: "Met istirahat sayang. Jangan lupa pikirkan penawaran dariku! kita jadian diam-diam ya?"^^^
^^^Renata: "Em ... aku takut, ketahuan Arya."^^^
^^^Doni: "Jangan takut sayang. Kita nggak akan ketahuan asalkan kita pandai menjada rahasia kita ini. Oke?"^^^
^^^Renata:"Em ... aku bingung ah."^^^
^^^Doni: "Ayolah baby. Percaya deh sama aku. Kita bersahabat sudah lama lho beb, masa kamu gak percaya sama aku?"^^^
^^^Renata: "Percaya sih! tapi aku masih butuh waktu untuk memikirkannya. Sebentar lagi aku mau menikah, masa aku selingkuh? kan gak etis lah."^^^
^^^Doni: "Ini bukan soal etis dan gak etis beb, ini tentang perasaan yang membara dari dahulu dan baru bisa mengutarakan sekarang."^^^
^^^Renata: "Em ... gimana ya? baiklah. Tapi janji, ini rahasia kita berdua."^^^
^^^Doni: "Tentu beb, kita akan menjaga rahasia kita berdua." Doni terus meyakinkan Renata.^^^
__ADS_1
Renata pun akhirnya tersenyum, walau hati deg deg ser tak menentu. Antara senang dan cemas menghantui perasaannya.
...---...
Arya baru saja lending, di bandara yang terkenal di kota ini. Ia berjalan menarik kopernya bersama yang lain.
Sedang asyik berjalan berpapasan dengan Fatmala yang mau berangkat ke luar kota urusan kerja.
Mereka sempat bertegur sapa. "Mau berangkat Kak?" sapa Arya. Berdiri menatap Fatmala.
"Iya, kau dari tugas ya?" balas Fatmala sambil mengulas senyumnya.
"Begitulah Kak. Selamat jalan dan hati-hati." Arya mengangguk.
"Oke, sampai jumpa!" Fatmala membalas sambil mengangguk.
Keduanya berjalan berlainan arah. Arya menuju pulang dari tugas, sementara Fatmala baru mau menjalankan tugas.
Kepala Fatmala menoleh ke belakang. Melihat lagi Arya si pemuda yang ia bantu tuk mencapai cita-citanya, begitupun Arya menoleh ke arah Fatmala yang melihatnya. Kedua pasang mata mereka bertemu sejenak seakan mengatakan sesuatu yang tak pernah terucap lewat bibir.
Bugh!
Tepukan tangan Sultan di pundak Arya yang membuatnya tersadar kalau yang dia pandangi sudah tiada. Menghilang di pintu ke sekian tuk tek-up.
"Ya, seorang CEO. Memang penampilannya selalu tampak elegan." Lagi-lagi bibir Arya tertarik senyum lebar.
"Kau tahu banget?" Sultan heran.
"Tau lah." Kemudian Arya bergegas berjalan cepat tuk membuat sebuah laporan.
"Eh, tunggu? malah makin cepat lagi bak pesawat aja jalannya." Sultan mengejar langkah Arya yang sudah jauh.
Kini Arya sudah berada di atas moge miliknya. Dan melarikan dengan cepat biar segera sampai di apartemen. Jalanan begitu ramai dan hari sangatlah terik, panas.
Selang beberapa waktu. Motor Arya memasuki parkiran apartemen. Ia terus berjalan mendekati lift, tekan tombol lantai sekian. Lift pun memberi tanda naik.
Setibanya di kediamannya Arya masuk ke dalam dan mendekati jendela tuk membuka semua gorden, suasana di dalam pun terang dengan cahaya matahari.
Dia melanjutkan perjalanannya ke kamar sambil membuka kancing kemejanya dan melempar ke keranjang tempat cucian kotor. Sebelum beristirahat Arya berniat membersihkan dirinya terlebih dahulu. Berendam di bathtub sementara waktu hilangkan penat dan lelah, kepalanya mendongak menatap langit sekejap menari-nari senyuman manis sosok Fatmala.
"Ah, terbayang jelas di mataku ... senyumnya. Wajahnya, aduh ... bikin aku tergila-gila." Arya menggelengkan kepalanya. Ingin membuang semua isi otak di kepalanya itu.
Lalu berdiri di bawah air shower yang hangat. Membersihkan seluruh tubuhnya yang polos sama sekali tak mengenakan sehelai kain pun. Sejenak ia tatap dan ia sentuh junior nya yang kedinginan sehingga tak kira-kira mengecil sebesar burung pipik. "Eh. Kira-kira burung pipik ini membesar gak ya? kok setiap ku lihat kecil mulu. Apa gak normal?" pikirannya jadi menerawang.
__ADS_1
"Perasaan kata orang kalau pria tidur sendiri, bangunnya berdua sama si kecil ini ikut bangun! tapi sepertinya gini-gini juga, bangun sih ... tapi entah besar entah kecil aku gak pernah memeriksanya." Arya jadi senyum-senyum sendiri sambil mematikan shower dan meraih handuknya. Menutup bagian pinggulnya dan mengeringkan burung pipit nya.
Bergegas keluar dan berjalan mendekati lemarinya. Mengambil pakaian santai yang mau ia kenakan sekarang.
Sekitar 30 menit kemudian ia membaringkan tubuhnya di atas sofa yang ada di sudut kamar sambil memainkan ponselnya. Ia berpikir sejenak. "Besok aku tugas lagi. Sebaiknya aku menemui Renata ah, tumben gak bawel? biasanya bawel nanyain ini itu. Hem ...."
Tubuh Arya beranjak dari duduknya. Mengambil dompet, kaca mata hitam dan kunci motor. Di depan pintu meraih helmnya yang berwarna biru tua.
Arya melarikan motornya ke jalan xx yaitu tujuan rumah Renata si calon istri yang beberapa hari ini tidak bertemu.
Dren-dren.
Arya turun dan membuka helm. Mengayunkan langkah lebarnya ke teras marmer yang bening jika berkaca pun nampak jelas.
Mau pencet bell namun pintu terbuka setengahnya. Sehingga Arya cuma mengucap salam saja. "Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikum salam," sahut dari dalam dan langsung menemui tamunya. "Eeh ... Nak Arya. Apa kabar Nak Arya?"
"Baik Bunda, gimana sebaliknya?" Arya meraih tangan bundanya Renata dan menciumnya penuh hormat.
"Baik, ayo masuk?" tuan rumah menyilakan masuk pada tamunya.
"Makasih Bunda." Arya berjalan lantas mendudukkan di salah satu sofa yang ada di ruang tamu. "Renata nya ada, Bun?"
"Ha? Renata ... sedang keluar, katanya mau belanja sesuatu ke mall." Tadinya bunda Renata mau ke belakang untuk mengambil minum.
"Sudah lama, Bun?" selidik Arya.
"Em ... ada lah satu jam kira-kira." Jawabnya.
"Kalau gitu, aku susul aja Bunda." Arya kembali berdiri dan pamit.
"Emangnya Renata nggak tau Nak Arya mau ke sini?" tanya calon ibu mertua.
"Em, tidak Bunda. Tadinya mau kasih kejutan gitu, tapi ya sudah lah. Aku susul aja." Arya membawa langkahnya keluar lagi dari dalam rumah. Setelah sebelumnya berpamitan.
Ibunda Renata menatap langkah Arya dari dekat pintu.
Setelah mengenakan helm. Arya bersiap meluncurkan motornya. "Paling ke Mall yang biasa tempat nongkrong." Batin Arya sambil melajukan dengan cepat.
Tidak terasa di perjalanan. Arya tiba juga di salah satu Mall yang biasa mereka kunjungi. Di parkiran Arya mengedarkan pandangan. Dan menangkap beberapa kendaraan yang ia kenal siapa pemilik nya ....
****
__ADS_1
Assalamu'alaikum ... sudah membacakan? jangan lupa like dan komennya ya? tinggalkan jejak nya dan aku ucapkan makasih🙏