
"Eeh, ngapain buka baju?" tanya Fatma seraya memalingkan wajahnya, gak enak kalau harus melihat tubuh Arya yang sixpeks tanpa baju.
"Baju basah." Arya menjemur di bahu kursi.
"Boleh, aku tanya sesuatu?" ucap Fatma dengan menunduk melihat pasir.
Arya menoleh ke arah Fatma yang berada di sampingnya. "Tanya apa?"
"Em. Aku cuma wanita yang sudah mengalami kegagalan, dan aku juga sudah mempunyai buah hati," ucap Fatma.
"Terus?" selidik Arya.
"Bila ada laki-laki yang mau sama aku otomatis harus mau menyayangi anak ku, sebab aku tidak mencari kebahagiaan untuk sendiri. Melainkan kebahagiaan Rania juga."
"Apa kau masih meragukan ku?" kini Arya balik bertanya serta menumpukan kedua sikunya di atas paha.
"Aku tidak meragukan. Tapi aku masih butuh meyakinkan hati, percuma kalau aku bahagia tapi putriku tidak."
"Hem, aku mengerti." Timpal Arya.
"Ketika ada papanya, Rania kurang kasih sayangnya. Sehingga dia kurang merasakan kehadirannya." Fatma mendongak tidak ingin menderaikan air mata, sedih.
"Aku tahu." Arya mengangguk.
"Dia merindukan sosok ayah yang menyayanginya, sentuhan lembut penuh kasih sayang. Menjadikan dia terlalu berharap kamu selalu ada--"
"Huuh ..." Arya mengembuskan napasnya. "Jadi bundanya tidak mengharapkan kehadiran ku?"
"Bu-bukan gitu!" Fatma menggeleng dan sekilas menoleh.
"Tidak apa-apa bila aku tidak di harapkan." Arya berdiri berlari menuju Rania dan Mia.
"A, bukan gitu. Aku belum selesai ngomo-ng." Ck! berdecak kesal.
Kemudian Fatma beranjak meraih kaos Arya yang tertinggal di kursi. Berjalan menghampiri mereka.
"Mama-Mama? Lihat deh, Rania di gendong papa." Teriak Rania.
Rania nemplok di punggung Arya sambil berjalan menghampiri air. Dia begitu happy bersama Arya sat ini.
Fatma cuma melihat di tepi bersama Mia, hati Fatma turut bahagia melihatnya. Sesekali melihat cincin yang di jari manisnya.
Di balik senyum Mia ada sekelumit rasa sakit, ia dibuat patah hati dengan lamaran Arya ke majikannya karena sesungguhnya Mia naksir pada Arya.
Mia suka sama Arya dari sejak di rumah Fatma ketika itu bermain di kolam renang bersama Rania. semenjak itulah dia menyimpan rasa.
Tapi sayang, Arya tidak sedikitpun menoleh apalagi mempunyai rasa. Sungguh miris jadinya.
Hari sudah menjelang sore, dan Rania sudah nampak capek. akhirnya Arya dan Fatma memutuskan untuk segera pulang.
__ADS_1
Setelah memandikan Rania, Fatma melihat ke arah Arya melihat penampilannya yang basah dan kotor dengan pasir.
"Nggak bawa ganti?" tanyanya Fatma.
"Tidak," akunya Arya sembari menepuk-nepuk celananya.
"Terus?" selidiknya Fatma kembali.
"Terus kenapa sayang? tak apa lah," gumamnya Arya.
"Iih, Papa gak mandi. Bau ..." seraya memencet hidungnya sendiri.
Arya tersenyum ke arah Rania lalu menghampiri. "Bajuku?"
Fatma bengong, dengan tatapannya yang kosong ke arah Arya yang bertelanjang dada.
"Ooh. Iya ini." Fatma mesem sambil membuka kaos Arya yang melingkar di pinggang nya.
"Papa mandi, bau iih ... Rani gak mau dekat sama Papa ah, bau." lagi-lagi Rania memberi pendapatnya yang sedang diikat rambut sama Mia.
"Enak aja bilang papa bau, wangi nih sayang, masih wangi." Akunya Arya lagi sambil mendengus mencium bau badannya.
"Bau, bau matahari." Kekeh Rania.
"Biar aja ah ... yang penting mama mau deket-deket sama papa?" ucap Arya sambil memainkan mata nakalnya ke arah Fatma.
Fatma maju dua langkah mendekati Arya yang merapikan rambut yang akan tertutup topi.
"Gimana sih? gak dukung amat calon suaminya." Goda Arya menyunggingkan bibirnya.
"Ogah, bau!" seraya menyemprotkan parfum ke tubuh Arya.
"Tuh, kan. Mama juga sangat sayang sama papa, jadi wangi deh. Papa jadi wangi, ye-ye-ye!" ungkap Arya ditujukan pada Rania.
"Aah ... Mama curang ih ... Rania suruh mandi dulu, papa nggak." Rania cemberut.
"Nanti, papanya Mama marahin kalau sudah sampai di rumah. Rania kan mandi jadi gak Mama marahin nantinya. Oke?" ucap Fatma sambil mengangkat tangan buat Toos.
"Syukurin ... nanti papa kena marah Mama." Manik mata Rania mendelik pada Arya dengan lucunya.
"Ya ... jadi sedih dong kalau mama marah?" Arya berekspresi sedih bikin Rania tertawa geli.
Mereka pun bersiap pulang setelah Mia selesai bersih-bersih. Berjalan menuju dimana mobilnya terparkir.
Sepanjang perjalanan. Rania bernyanyi riang sampai ngantuk pun datang dan akhirnya tertidur di pangkuan sang bunda.
Arya melirik ke arah Fatma yang memangku Rania yang tertidur lelap.
Suasana hening dari suara-suara Rania yang tadi bawel. Sekarang terdengar cuma suara mesin mobil Fatma yang halus.
__ADS_1
"Mau kemana lagi kita?" tanya Arya pada Fatma.
"Maaf Nyonya. Tuan, boleh gak? turunkan saya di depan. Ada sesuatu yang harus saya beli." Suara Mia dari belakang.
"Boleh," balas Arya dan Fatma serempak.
Mobil berhenti di tempat yang Mia tunjuk dan menunggu sesaat sampai dia kembali lagi.
Mobil kembali melaju dengan cepat menuju Mension Fatma. Sekitar Maghrib barulah sampai di depan gerbang. Sebentar menunggu pintu gerbang terbuka.
Fatma tampak kelelahan memangku Rania membuat Arya mengitari mobil dan mengambil alih Rania yang begitu nyenyak.
"Sini aku yang bawa?" Arya langsung meraih tubuh gadis kecil itu.
"Nggak, pa-pa aku aja. Kamu pasti capek habis nyetir," tolak Fatma namun melepaskan rania. yang Arya ambil.
Arya membawa Rania masuk ke dalam Mension yang tidak lupa mengucap salam. Sebelum melintasi pintu.
Fatma tersenyum melihat punggung Arya yang memeluk Rania. Kemudian ia turun meraih tasnya, disusul oleh Mia yang menggendong tas milik Rania.
"Pakaian basahnya jangan lupa aunty." Kata Fatma.
Langkah Arya terus lurus dengan tujuan kamar Rania. Sebelum menapaki tangga bertemu dengan calon ibu mertua.
"Rania bobo bukan, A?" tanyanya Bu Wati dengan sorot mata tertuju pada Rania yang menyampai di pundak Arya.
"Iya, Bu. Kecapean kali," sahut Arya sesaat hentikan langkahnya untuk sekedar menjawab sapaan dari Bu Wati.
Arya melanjutkan langkahnya untuk menidurkan Rania di kamarnya.
"Assalamu'alaikum, Bu?" Fatma berjalan gontai memasuki ke dalam rumah.
"Wa'alaikum salam. Gimana happy?" selidik Bu Wati.
Fatma mengangguk pelan diiringi dengan senyuman yang mengembang. Sekilas ia tunjukan ada sang bunda.
Wajah Fatma yang terlihat sumringah. Senyuman yang tampak merekah, membuat Bu Wati ikut bahagia akan kebahagiaan sang putri.
"Bu, aku naik dulu ya? mau mandi dulu, badanku sudah lengket." Kata Fatma sembari melanjutkan langkahnya.
"Baiklah, yang bersih dan wangi ya?" goda sang Bunda pada Fatma.
"Eeh. Sebentar!" Bu Wati menahan Fatma dari pergi.
Fatma menoleh pada sang bunda. "Ada apa, Bu?"
"Itu, kamu beli cincin baru ya?" selidik Bu Wati menatap intens yang melingkar di jari manisnya Fatma yang gegas Fatma tutupi dengan jarinya yang lain.
"Aaaaaaa ..." jerit seseorang ....
__ADS_1