
"Ooh, gitu ya Pah?" Rania menatap Arya.
"Air kelapa itu dari tanah yang menyerap ke akar pohon kelapa sehingga menyerap dan menyebar ke setiap buahnya. Nanti kamu akan tahu dan bisa mencari tahu sendiri sayang, kalau sekarang susah untuk di jelaskan lebih detailnya," sambung Arya sambil memperlihatkan gigi putihnya.
"Oke, Papa." Anak itu mengangguk.
"Anak pintar." Tangan Arya mengusap kepala Rania.
Sultan nyengir. "Tahu aja yang akan aku katakan. Ha ha ha ..." Sultan tertawa.
"Aku tahu, kau itu suka nyeleneh. Nanti bikin anak ini tersesat," ucap Arya yang di tujukan pada Sultan,
"Enak ya di sini nyaman, tentram. Betah kayanya tinggal di kota ini, Yah." Suara Bu Wati sembari mengamati suasana sekitar.
"Iya, Bu. kayanya Ayah juga akan betah bila tinggal di Bandung ini." Pak Wijaya mengangguk dan sejalan dengan pemikiran nya sang istri.
"Beli villa yu, Yah. Buat kita menenangkan diri dari hiruk pikuk kota, kalau kita balik dari Luar Negeri, kita bisa bersantai di Bandung gitu," ungkap Bu Wati pada sang suami.
"Ayah sih setuju saja kalau Ibu mau," balasnya sembari menganggu dan menarik piringnya.
"Setuju Om, Sultan dukung deh. Biar nanti aku capek, penat bisa bersantai ria di villa Om dan Tante." Kata Sultan nimbrung.
"Villa itu harus di rawat, kalau terbengkalai mubazir, kan Aa?" Fatma melirik ke arah Arya yang mulai mau makan.
"Iya, bener. Buktinya tidak sedikit Villa atau rumah yang tak terurus lagi, terbengkalai sebab pemiliknya tidak terlalu membutuhkan dan orang dekat atau pengurus juga enggan untuk anunya. Dia rawat? dia tinggali? dia juga punya tempat tinggal sendiri, akhirnya banyak bangunan yang tak terawat dan mubazir lah intinya," ujar Arya.
"Hebat, pemikirannya sama. Bapak dan Ibu Negara," celetuk Sultan.
"Di kampung ku juga ada beberapa villa yang seperti Tuan Arya bilang. Terbengkalai ditinggal sama pemiliknya, padahal masih baru. Tapi mereka tinggalkan dan sudah beberapa tahun tidak kembali, si orang yang yang di titipin nya juga enggan mengurusnya lagi sebab mungkin karena gak ada kejelasan kali. Jadinya tidak terurus gitu, barang-barang nya pun rusak begitu saja," kata Mia.
"Iya, sama. Di kampung saya juga begitu, barang-barang bagus di jarah orang yang tidak bertanggung jawab. Yang tersisa barang berat kali. Seperti kursi, lemari dan tempat tidur aja yang selamat." Sambung pak Harlan.
"Pak, emangnya orang yang tidak bertanggung jawab itu menghamili siapa? sehingga harus bertanggung jawab?" tanya Sultan menatap ke arah pak Harlan.
"itu, artinya mengambil barang orang Tatan ..." pekik Sofi yang tertahan menatap jengah Sultan.
"Intinya, kalau mau? menetap lah di suatu tempat yang sekiranya akan bermanfaat. Dan tidak akan sia-sia akhirnya," lanjut Arya kembali.
Bu Wati dan suami mengangguk. Pak Harlan dan Mia pun ikut mengangguk mengerti.
"Mam, Rania lapar nih, ngobrol terus? kapan makannya nih?" suara Rania kesal.
"Iya, sayang iya." Fatma memberikan piring yang sudah berisi makanan buat Rania.
__ADS_1
"Siapa yang mau es kelapa?" tanya Arya pada Rania yang sedang menyuapkan sendok ke mulutnya.
"Rania, Papa. Rania mau ..." pekik Rania sambil memandangi kelapa yang. Arya pegang.
"Ini, punya Papa. Punya Rania gak datang, kehabisan kelapanya." Goda Arya.
"Ah ... gak mau. Itu punya Rania aja. Punya Papa gak tau, itu buat Rania, Papa ..." Rania kesal dan nampak sedih.
"Iya-iya, ini punya Rania." Arya menyimpan kelapa di dekat Rania.
"Aku pengen ke toilet sebentar!" Fatma berdiri dan segera pergi meninggalkan tempat makannya.
"Perlu di antar gak, Bu? Om Tatan siap nih nganterin." Goda Sultan seraya menolehkan kepalanya ke arah Fatma yang sedang pergi beberapa langkah.
"Nggak usah, makasih," balas Fatma sambil terus berjalan.
Arya menghabiskan makannya. lebih dulu. Sebab berasa lama Fatma belum juga kembali, Arya memutuskan untuk menyusulnya ke toilet.
langkah Arya berhenti di dekat toilet wanita. Netra matanya mengawasi ke arah pintu dan mencari keberadaan Fatma. Kemudian Arya mengetuk pintunya.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Detik kemudian pintu terbuka dan Fatma muncul dengan kagetnya, kalau Arya menyusul dirinya.
"Lho, ngapain di sini?" tanya Fatma heran. "Itu toilet pria." Menunjuk ke arah toilet pria.
"Bukan, makannya belum dihabiskan," ucap Arya sembari menunjuk ke suatu arah dengan dagunya.
"Iya, tapi sudah kenyang." Jawab Fatma sambil melangkah lebih dulu, wajahnya sedikit meringis dan memegangi pinggang.
"Kenapa?" selidik Arya melihat ekspresi wajah Fatma.
"Nggak, aku baik-baik saja kok," akunya Fatma, padahal dia sedang merasa kurang baik-baik saja.
Dengan tidak sengaja, netra mata Arya menemukan pemandangan aneh dari pinggul Fatma yang ada noda merahnya. Kemudian Arya memberanikan diri untuk bertanya.
"Lagi datang bulan ya?" selidik Arya sambil berjalan berdampingan.
"Ha? tembus?" tangan Fatma menyentuh ke belakang, langkahnya terhenti dan menghadap Arya.
__ADS_1
"Iya," jawab Arya singkat.
Fatma menggigit bibir bawahnya. "Aduh ... kok bisa sih? langsung banyak dan tembus gini, belum lama aku melaksanakan salat, mana gak bawa persiapan pembalut lagi." Batin Fatma kebingungan.
Arya memandangi wajah cantik Fatma yang terlihat gugup dan kebingungan. Arya tanpa berpikir panjang. Membuka kaus panjangnya dan menyisakan kaos oblong saja.
"Kamu mau apa membuka baju segala?" tanya Fatma dengan manik mata yang bergerak melihat sekitar yang ada aja berlalu-lalang
Arya tidak menjawab, melainkan ia ikatkan ke pinggang Fatma seraya berkata. "Lumayan untuk menutupi pinggul mu, yu jalan?" setalah pinggul Fatma tertutup.
Membuat Fatma semakin dibuat malu, dan kagum dengan sifat Arya yang selalu melindungi. "Terima kasih?" Kepala Fatma menunduk melihat kas Arya melingkar di pinggangnya.
"Sama-sama, silakan jalan?"
"Aku ingin ke warung dulu, mau beli sesuatu. Dan aku ingin ganti, bawahan ku ini. Nggak mungkin aku kaya gini." Gumam Fatma sambil berjalan pelan.
"Ooh. Aku tahu yang ingin kamu beli, pembalut kan?" lagi-lagi Arya menatap ke arah Fatma.
Fatma tertegun malu, namun tak ayal kepalanya mengangguk pelan.
"Gini saja. Mau tunggu di sini sebentar atau nunggu di mobil? biar aku yang membeli." Tawar Arya dengan tulus tawarkan jasa.
Fatma bengong, tidak percaya kalau Arya akan menawarkan jasa. "Tapi. Pakaian ganti ku ada di mo-bil." Jawaban Fatma tampak ragu. "Em, aku tunggu di mobil saja, biar nanti balik lagi ke toilet."
"Ya ... sudah." Arya dan Fatma gegas berjalan dengan tujuan langsung ke tempat mobil berada.
Dan Arya langsung mencari warung terdekat. Sebab letak Alfamart agak jauh dari situ. Tidak butuh waktu yang lama. Arya kembali setelah mendapatkan yang dia cari, adalah satu pack pembalut dan ia persembahkan pada Fatma tanpa merasa canggung. Justru yang canggung dan tidak enak adalah Fatma.
Namun karena kondisinya tidak memungkinkan, gegas Fatma berjalan membawa juga pakaian ganti ke toilet. Arya sendiri kembali ke resto Untuk membayar semua bil bekas makan siang.
"Hedeuh ... dari mana sih? pacarannya di pending aja dulu napa?" suara Sultan yang beranjak mau membayar bil tagihan.
"Paj, mama mana?" tanya Rania. Netra matanya yang bening mencari sosok bundanya yang tidak ada di sana.
"Ada di mobil sayang. Biar aku yang bayar semuanya, Tan," ucap Arya pada Rania dan Sultan bergantian. Kemudian langsung mengeluarkan sebuah kartu dari dompet nya.
"Nak Arya. Bil tagihan kami biar kami yang bayar," ucap pak Wijaya.
Namun Arya membayar semuanya begitu saja. Tanpa membeda-bedakan ....
****
Terus dukung aku ya🙏 sebab dukungan dari kalian membuatku semangat dalam berkarya.
__ADS_1