Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Rencananya


__ADS_3

Kepala Fatma menggeleng. "Terus Rania tau artinya?" tanya Fatma dan Rania langsung menggeleng.


"Sayang ... jangan ikut-ikutan apa yang orang luar ucapkan ya, dan Rania gak boleh ngomong gitu lagi. Itu gak sopan sayang apalagi di tujukan sama orang tua, pokoknya gak boleh ya? Rania ngerti kan yang Mama bilang ini?"


Rania mengangguk dalam. Wajahnya berubah sedih. Fatma mengangkat wajah anak itu ditatapnya lekat.


"Mama gak suka Rania bicara gak sopan kaya tadi. Sudah! kita sarapan dulu yu?" tangan Rania Fatma tuntun berjalan keluar kamar lalu menuruni anak tangga.


Mia berjalan di belakang sang majikan dan dengan membawa tas di punggung milik Rania.


Kini mereka berada di meja makan, duduk bersama bu Wati dan pak Wijaya yang sudah siap dengan sarapannya.


"Eeh! cucu Oma dah cantik, wangi. Siap berangkat sekolah ya?" sapa bu Wati pada Rania dengan senyumannya.


"Iya dong ... Oma, Rania senang deh. Nanti malam om ganteng mau ke sini. Mau main sama Rania, jadi sekarang Rania mau sekolah dulu." Anak itu begitu antusias, menyambut gembira rencana kedatangan Arya di rumah itu.


Bu Wati dan suaminya saling tatap lalu tatapannya mengarah pada Fatma seakan bertanya kebenarannya.


"Rencananya sih begitu, Bu. Ada orang tuanya dari Bandung ingin bersilaturahmi. Tapi gak tau juga sih, sebab hari ini ada jadwal terbang." Fatma mengiyakan tapi kurang meyakinkan.


"Oya, sama orang tua nya dari Bandung?" Bu Wati melirik suaminya yang juga melirik kearah dirinya sambil tersenyum tipis.


"Iya, sudah lama tidak berjumpa!" balas Fatma sembari mengangguk.


"Kamu kenal sama keluarganya dari Bandung?" selidik pak Wijaya menatap ke arah Fatma lekat.

__ADS_1


"Sama orang tua nya kenal! beberapa kali dulu ketemu. Tapi sekarang sudah lama tidak jumpa," sambung Fatma sambil menuangkan air putih untuknya.


"Pokoknya, Rania mau ketemu sama om. Hari ini juga!" ucap anak itu sedikit cemberut dan melipat tangan di dada.


"Iya sayang ... pasti! om pasti datang dan Rania harus berdoa, semoga omnya selamat, lancar kerjanya. Biar bisa ke sini, ia kan Mam?" ucap bu Wati melihat Rania dan Fatma bergantian, Fatma pun mengangguk.


"Bener kata Oma. Rania harus berdoa sama Allah supaya om nya terjaga dari wanita lain, eh maksud opa terjaga dari marabahaya." Ralat pak Wijaya.


Fatma tertegun mendengar ucapan sang ayah. "Ayah bicara apa sih?" yang akhirnya tersipu malu.


"Ma-maksud Ayah, itu. Terjaga dari mara bahaya. Gitu maksud Ayah," ucap pak Wijaya sambil tersenyum tipis. Begitupun sang istri yang mesem-mesem.


Kemudian Fatma mengambilkan sarapan buat Rania, namun sebelumnya melihat ke arah sang putri. "Mau nasi goreng apa roti dikasih selai?"


"Rania mau makan roti aja," Rania menunjuk roti.


Rania langsung melahap. Roti tersebut dengan segelas susu hangat buatan Mia.


Tangan Fatma mengambil piring lalu diisinya beberapa sendok nasi goreng dan telor.


"Jangan lupa makan, lihat tuh tubuh mu terlihat kurus." Terngiang diingatan Fatma kata-kata dari Arya, membuat ia tersenyum sendiri. "Apa yang kurus? gak lihat apa badan aku berisi begini?" batinnya.


Bu Wati dan sang suami saling tukar padangan melihat putrinya senyum-senyum sendiri itu.


Fatma segera menghabiskan makannya. Lalu diakhiri dengan segelas air putih, menoleh putri kecilnya yang sudah bersiap berangkat sekolah.

__ADS_1


"Pak Dudin, hati-hati bawa mobilnya ya? Oya Mia kalau ada orang yang ingin bertemu Rania selain itu em ... itu, Arya. Jangan dibiarkan, saya tidak ijinkan," pesan Fatma pada supir dan Mia.


"Baik, Nyonya." Mia mengangguk. dan juga pak Dudin. Segera mendekati mobilnya.


Rania dituntun Mia ke mobil. Sebelumnya mencium tangan Fatma, opa dan Omanya bergantian.


"Belajar yang rajin ya sayang?yang pinter." Bu Wati mengusap pucuk kepala Rania. Begitupun dengan pak Wijaya.


Fatma berjongkok dan memeluk tubuh mungil itu, kecupan penuh kasih mendarat di kening Rania. "Belajar yang rajin ya? Mama sayang Rania."


Rania dan Mia melanjutkan langkahnya menuju mobil yang sudah siapa meluncur.


Waktu sudah semakin siang dan Fatma bergegas mengambil tasnya di atas, yang masih berada di dalam kamar.


Sesaat kemudian Fatma kembali dengan menjinjing tas kerja nya.


"Bu, Ayah. Fatma berangkat dulu. Yah," Fatma berpamitan pada orang tua nya untuk pergi ke kantor.


"Hati-hati, sayang. Mau persiapan apa buat makan malam nanti bersama Arya dan keluarganya?" tanya bu Wati menatap sang putri.


"Em ... apa saja lah, Bu. Terserah Ibu saja mau pakai menu apa. Yang jelas masakannya yang sesuai dengan lidah orang sunda yang penting enak," ucap Fatma sembari berjala melewati pintu utama mendekati mobilnya.


Setelah berada di dalam mobil. Fatma menyimpan tas nya lalu menoleh pak Harlan yang sudah siap tuk menyusuri jalan menuju kantornya Fatma ....


****

__ADS_1


Bila ada yang bertanya atau saran. Melalui IG saja juleha2606


__ADS_2