Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Semoga segera


__ADS_3

"Maaf atas ketidak nyaman anda di resto ini?" ucap manajer resto yang datang menghampiri Arya dan Fatma.


"Iya, lain kali lebih di perketat lagi ya, Pak. Saya tidak ingin kejadian tadi terulang lagi dan menimpa sama siapapun," ucap Fatma seraya mengangguk hormat.


"Sekali lagi mohon maaf atas ketidak nyamanan, Bapak dan Ibu. Semoga tidak kapok untuk datang kembali." Manajer tersebut membalas anggukan hormat dari Fatma.


Lalu keduanya berjalan menuju parkiran, sebelum mengenakan helem. Arya menegang hidungnya yang terasa panas dan sakit bahkan ada tetesan darah.


Tangan Fatma mengulur, dan melap darah di hidung Arya dengan tisu sampai bersih. Arya hanya bisa menatapi wajah Fatma yang pandangannya fokus ke hidung Arya.


"Sorry ya? gara-gara aku, kamu jadi begini." Tanpa melihat kedua mata Arya yang memandanginya dengan intens.


"Ngga apa-apa."


"Kita ke dokter ya?" ucap Fatma seraya menggerakkan netra nya melihat netra mata Arya yang anteng menatap kearahnya.


Kemudian tatapan mereka terkunci satu sama lain, sementara waktu mereka berdua bersitatap sangat lekat. Seolah menyelami hati masing-masing. Namun pada akhirnya Fatma mengalihkan pandangan ke lain arah, kemudian menunduk dalam menunjukkan rasa malunya.


Dada keduanya berdebar-debar dan jantung terus berdegup sangat kencang, tatapan Arya yang begitu mesra bikin dag dig dug tak menentu.


Arya tersadar bahwa malam sudah semakin larut. "Oh, sudah malam. Kita pulang. sekarang?" Arya melanjutkan niatnya untuk mengenakan helm.


"Iya," Fatma mengangguk pelan lalu naik ke atas motor Arya yang bersiap melaju.


Kendaraan Arya kini meluncur dengan sangat cepat mengingat waktu dah larut dan perjalanan menuju lebih jauh ketimbang apartemennya Arya.


"Pegangan aja, aku mau percepat laju motornya biar cepat sampai." Suara Arya yang nyaris tak terdengar yang beriringan dengan suara mesin dari roda dua Arya dan juga yang lainnya.


Namun masih dapat Fatma dengar dan menuruti nya. Tangan Fatma melingkar di melingkar di pinggang Arya walau terasa canggung. Bibir Arya tertarik melengkung senyuman. Setelah itu benar saja Arya menaikan kecepatan si kuda besi yang dia kendarai bersama Fatma.


Si kuda besi melesat begitu cepat bagaikan anak panah yang keluar dari busurnya membelah jalanan dan menembus kegelapan yang hanya berhiaskan lampu-lampu penerang jalan yang berdiri tegak di samping jalan raya.


Berteman angin malam yang berdesir lembut dan menyelinap ke dalam kulit keduanya. Disaksikan bulan yang bersinar terang dan bintang-bintang yang berkedip seakan tersenyum melihat sepasang manusia yang tengah dalam penjajakan satu sama lain itu.

__ADS_1


Setibanya di Mension, keduanya pun turun dan memasuki Mension tersebut, berjalan dengan beriringan lantas disambut hangat dan ramah oleh kedua orang tua Fatma.


"Assalamualaikum? gimana kabar kalian berdua?" tanya Arya seraya mengulurkan tangan lalu mencium punggung tangan keduanya.


"Wa'alaikum salam, baik alhamdulilah ... gimana sebaliknya?" balas bu Wati dan sang suami.


"Alhamdulillah baik juga, Bu. Rania mana? pasti sudah tidur ya?" mata Arya mencari keberadaan Rania.


"Ooh, iya Rania sudah tidur. Oya kalian kok malam-malam begini baru sampe?" Bu Wati menatap keduanya.


"Habis ada acara, Bu. Arya ulang tahun." Balas Fatma sambil mendudukkan dirinya di sofa ruang keluarga dan Arya pun sama.


"Oya, selamat milad ya, Nak Arya. Semoga panjang umur dan murah rejeki, dan satu lagi semoga cepat dapat jodoh." Tutur Bu Wati diiringi dengan doa.


"Terima kasih, Bu." Arya mengangguk dan senyumnya yang manis, di kedua pipi arya ada kempot nya menjadikan senyumnya bertambah manis.


"Ibu, gimana sih? kan jodohnya sudah ada. Tinggal ganti saja doanya, semoga di segerakan." Timpal pak Wijaya disertai senyum bahagia.


Membuat Arya terutama Fatma tersipu malu. Mereka berdua sama-sama menunduk menyembunyikan wajahnya dari pandangan bu Wati dan pak Wijaya.


"Em, aku mau mandi dulu ya? badan ku sudah gak enak. Gerah dan lengket." Fatma berdiri.


"Aku juga mau pamit pulang," Arya ikut berdiri dengan tujuan yang berbeda sebab dia mau langsung pulang saja lagian sudah malam.


"Nggak! eh ... ma-maksud aku duduk dulu aku obati dulu hidungnya." Pinta Fatma sembari duduk kembali.


"Tapi, sudah malam! aku harus pulang." Akunya Arya, namun setelah melihat ekspresi wajah Fatma yang penuh permohonan. Membuat Arya memilih duduk kembali di tempat semula.


"Iya, kok buru-buru banget. Baru saja datang. Lagian. Nginep saja kenapa sih? biar ketemu Rania. Dia nanyain terus lho," cegah Bu Wati. Agar Arya menginap saja.


Fatma menunjukan senyumnya lalu memanggil asisten buat mengambil kotak obat.


"Emang kenapa, luka?" selidik Bu Wati penasaran.

__ADS_1


"Tadi ada insiden dikit, jadi hidung Arya luka memar." Kata Fatma sambil mengambil kotak obat dari asistennya. Lantas mengambil salep dan langsung dioleskan ke hidungnya Arya yang memar itu.


"Pelan-pelan?" pinta Arya pada Fatma yang langsung menghentikannya.


"Ini juga pelan, gimana sih! kan tadi sudah aku bilang, ke dokter," timpalnya Fatma seraya menyimpan salep itu ke tempatnya.


"Iya gak usah ke dokter gini doang mah. Makasih?" ucapnya Arya dengan tangan menyentuh hidung mancungnya yang terasa sakit namun setelah di kasih salep. Ada nyess dingin.


"Nggak ikhlas gitu makasih nya ..." protes Fatma kembali menjauhkan dirinya dari Arya.


Kedua orang tua Fatma tidak ada lagi di situ. Entak pada kemana mereka? mungkin memberikan ruang untuk Arya, Fatma berduaan.


"Hem, baiklah ... terima kasih Ibu Negara ku," ucapnya Arya yang terdengar sangat lembut nan mesra dibarengi tatapan yang mesra pula.


Fatma melempar senyuman dan membalas tatapan dari manik mata Arya. Sementara waktu mereka saling tatap dan bibir pun tidak lepas dari senyuman, membuktikan kalau keduanya tengah merasa bahagia.


"Oh, ya udah. Aku mandi dulu, mau pulang apa mau nginep?" Fatma kembali berdiri.


"Emang boleh menginap ya?" Arya malah bertanya sambil mengernyitkan jidatnya.


"Boleh lah. Emang kenapa? banyak ruangan yang kosong kok," sahut Fatma sembari menggerakkan bola matanya.


"Kali aja gak boleh! gak takut, ada penyusupan?" goda Arya.


"Penyusupan apa? awas aja kalau sampai seperti itu. Aku pecat dari calon suami." Timpal Fatma, wajahnya memerah dan menunjukan senyum simpul.


"Emang sudah di terima?" selidik Arya menatap lekat ke arah Fatma yang sudah berdiri itu.


"Sudah, aku mau mandi. Oya kalau mau nginep di kamar yang biasa dan sudah di bersihkan pasti." Fatma berjalan mendekati tangga yang menjadi akses jalan untuk sampai di lantai atas.


"Eh ... bukannya jawab malah pergi!" gumamnya Arya melihat punggung Fatma yang membawa langkahnya, berjalan menaiki anak tangga.


Fatma yang berjalan naik. Tak bisa menyembunyikan senyuman dari bibirnya. Betapa berbunga-bunga nya hati Fatma saat ini ....

__ADS_1


__ADS_2