
Sebelum sampai ke kantornya. Aldian mampir dulu di sebuah rumah bordil yang menyediakan layanan pijat plus-plus.
"Selamat pagi, Tuan ada perlu apa pagi-pagi begini datang kemari? namun suatu kehormatan bagi saya Tuan datang sepagi gini." Sapa madam di sana menyambut dengan ramah.
"Saya butuh wanita yang cantik untuk menemani saya 30 menit saja. Sekarang juga," jelas Aldian.
"Oh, tapi maaf Tuan untuk saat ini waktunya mereka istirahat dan kebetulan di saat-saat ini bukan jam kerja mereka, anda pun tahu itu!" jawab madam itu.
Kedua netra mata Aldian melotot sempurna, mengingat alat suntik nya sudah meronta-ronta membuat Aldian tambah bernafsu. "Katakan, butuh bayaran berapa? saya bayar kes dan cepetan! saya butuh sekarang juga." Sergah Aldian menatap tajam bikin hati lawan bicaranya menciut.
"Ba-baik Tuan, mari ikut saya?" Madam ngeloyor pergi dan langsung diikuti oleh Aldian.
Madam mengetuk setiap pintu kamar yang ada di sana dan cuma menunggu beberapa detik saja keluarlah beberapa wanita cantik dengan masih mengenakan lingerie. Dan tampak wajah-wajah bantal mereka namun tak mengurangi kecantikan wajahnya.
"Ada apa madam?" suara parau salah satu diantara mereka.
"Ini ada Tuan Al yang ingin satu diantara kalian menemaninya sekarang juga."
"Tapi Madam, ini bukan jam kerja kami," protes wanita-wanita yang terbilang masih muda itu.
"Stttt ... kalian jangan protes, layani saja Tuan Al dengan baik." Tambah madam.
Aldian menyapukan pandangan pada satu-satu hidangan pria hidung belang itu. Sampai ia netra matanya menemukan seseorang yang sangat menarik baginya. Wanita yang bertubuh ideal namun bokongnya begitu besar menggoda.
"Kamu? saya pilih kamu." Tunjuk Aldian pada wanita itu.
Dengan cepat wanita tersebut tersenyum, menghampiri dan langsung disambut Aldian dengan remasan di bokongnya yang besar itu.
Kemudian keduanya masuk bilik cinta. Sementara yang lain masuk kembali ke dalam kamarnya masing-masing, begitupun madam ngeloyor entah kemana.
Suara de sa han terdengar memenuhi bilik tersebut, raungan nikmat dari suara pria begitu panjang mewarnai rintihan kecil dari si wanita. Sesekali terdengar seperti suara orang yang bergulat penuh ambisi yang ingin saling mengalahkan lawannya.
Sekitar 30 menit kemudian Aldian keluar dengan rapi namun napasnya masih tampak tersengal-sengal. Bibirnya tersenyum puas dan mengusap alat suntik nya yang mulai tenang dalam tempatnya.
Ia berjalan dengan wajah tampak segar, penuh semangat dan gairah hidup yang bergelora.
...****...
"Permisi Tante? apa Renata nya ada?" sapa Doni yang berdiri di pintu dan kebetulan yang membuka pintu bundanya Renata.
"Oh, ada. Silakan masuk Nak Doni." Bundanya Renata mengajak masuk.
"Makasih, Tante." Doni pun mengikuti tuan rumah ke dalam dan mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu.
"Sebentar ya? Tante mau panggilkan Renata dulu." Bundanya ngeloyor pergi.
__ADS_1
"Baik Tante," manik matanya melihat punggung wanita yang masih tampak muda itu.
Di kamar, Renata sedang bersantai ria kebetulan kuliahnya sedang libur jadi bisa santai aja di rumah. Terdengar suara ketukan dari balik pintu dan memanggil namanya.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Sayang, Renata ... di luar ada Nak Doni sedang menunggu mu." Kata sang bunda.
Renata menegakkan duduknya. "Doni? ngapain ke sini? gumam Renata dalam hatinya yang merasa heran.
"Dengan siapa Bun?" tanya nya sambil mengangkat bokongnya yang berisi itu.
"Sendiri. Apa kamu ada janji sama dia?" selidik sang bunda.
Cklek!
"Tidak Bu, aku gak ada janji sama dia kok." Renata mengernyitkan keningnya.
"Ya, sudah temui saja dia." Bundanya berjalan dan diikuti oleh Renata.
Menuruni anak tangga yang sedikit memutar tersebut. Setibanya di dekat Doni Renata tak lekas menyapa melainkan menatap heran pada Doni.
"Ada apa?" tanya Renata sambil menempelkan bokong nya di sofa. Jarinya menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.
"Em, aku mau mengajak mu ke rumah Indah, menjenguknya." Doni tersenyum.
"Iya sih, aku juga belum ke sana! kamu sendirian ke sini?" selidik Renata sambil celingukan siapa tahu Doni sama kawannya di luar.
"Aku sendiri, ke sini mau mengajak menjenguk indah dan yang lain sudah kemarin," ungkap Doni sambil memainkan matanya.
"Minum dulu, Nak Doni," bundanya Renata menyuguhkan dua cangkir minuman di meja.
"Terima kasih Tante!"
"Bun, Renata Meu menjenguk Indah dulu ya sama Doni, Ijin ya?" Renata menatap bundanya.
"Indah kenapa?" selidik sang bunda. Menatap putrinya.
"Sakit, Bun. Sudah beberapa hari gak kuliah juga, kalau aku nunggu Arya gak tahu kapan bisa mengantarku nya? dia kan lagi sibuk dan sulit diganggu," ungkap Renata.
"Oh, baiklah tapi jangan lama-lama ya sebelum malam harus sudah pulang. Kalau nggak, Bunda susul kamu." Sambung bundanya.
__ADS_1
"Ih, Bunda ... gitu amat sih. Iya ... aku pulang pasti tepat waktu. Tenang saja," sahut Renata dan berdiri. "Aku mau ngambil jaket dan ponsel dulu."
Mata Doni terus melihat punggung Renata yang berjalan menanjak ke atas tangga.
"Nak Doni titip Renata ya? sebelum malam, harus diantar pulang." Pinta bundanya Renata.
"Iya, Tante. Saya akan ajak dia pulang segera kok. Paling ke tempat Indah doang tidak ke mana-mana lagi," sahut Doni sambil mengangguk.
Detik kemudian Renata datang dengan mengenakan jaket yang menutupi kaosnya. Di tangan menggenggam sebuah ponsel.
"Yu jalan? Bunda aku pergi dulu ya?" Renata melihat Doni dan bundanya bergantian.
Bundanya mengantar sampai teras. "Hati-hati, jangan lupa pesan bunda ya sayang."
"Oke, Mah." Renata membentuk jarinya ok.
Renata kini sudah berada di dalam mobil Doni dengan duduk bersandar melihat ke depan. Di luar cuaca begitu panas dan menggerah kan meskipun baru saja keluar dari dalam rumah.
"Kita mampir di Alfamart dulu ya? membeli buah tangan buat indah." Gumamnya Renata sembari melirik ke arah Doni.
"Baik, tuan putri saya siap mengantar," sahut Doni.
"Makasih, kemana teman-teman mu? biasanya suka bareng geng."
"Aku cuma ingin berdua saja dengan mu." Jelas Doni sambil tersenyum dan fokus ke depan.
"Bisa aja!" ucap Renata sambil menggeleng pelan.
Setibanya di depan Alfamart, mobil Doni berhenti dan keduanya turun memasuki tempat itu untuk mencari sesuatu yang enak dijadikan buah tangan. Untuk menjenguk orang yang sakit.
Renata mengambil yang sekiranya pas ia bawa. Seperti buah jeruk dan kue, minuman dingin dan vitamin.
Doni setia menemani lagian tidak lama. Kemudian keduanya kembali ke mobilnya yang segera melaju dengan cepat menuju kediaman Indah sahabat mereka.
Tidak terasa di perjalanan, mereka pun sampai di depan rumah yang sederhana yaitu kediaman Indah. Yang tampak sepi.
"Yu, sayang?" Doni menggandeng tangan Renata.
Renata menggerakkan dan mengarahkan pandangan pada tangan yang Doni pegang itu.
"Sorry," Doni menarik tangannya dari lengan Renata. Lalu keduanya berjalan beriringan memasuki teras rumah tersebut.
"Dah ... Indah?" panggil Renata sambil mengetuk pintu depan.
Tidak lama menunggu, pintu terbuka dan berdiri seorang ibu-ibu, yaitu ibu dari Indah ....
__ADS_1
****
Yang sudah baca, jangan lupa tinggalkan jejak ya? makasih🙏