Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Jangan berisik


__ADS_3

"Maaf, Nyonya? saya mau belanja bulanan, apa ada yang harus saya beli? maksudnya mau pesan apa?" kata Bi Ina mendongak.


Langkah Fatma yang terhenti. Melihat ke bawah sembari terdiam dan hanya menggercapkan kedua matanya. "Em ... nggak kayanya. Gampang lah kalau butuh sesuatu. Bisa pesan online aja." Pada akhirnya menjawab juga.


"Ooh, baik Nya." BI Ina mengangguk.


Fatma melanjutkan kembali langkahnya uang terhenti dengan suara bi Ina tadi, untuk segera sampai ke kamar pribadinya.


Cklek!


Fatma mendorong handle pintu lalu menyeruak masuk ke dalam dan mendapati Arya yang sedang berbaring di atas tempat tidur dengan hanya bertelanjang dada.


Pas Fatma dekati, setelah menyimpan laptop di atas nakas. Tampak Arya sedang memejamkan matanya, dengan perlahan Fatma duduk di tepi tempat tidur samping sang suami.


Kemudian netra mata Fatma melirik jam yang ada di dinding. Baru pukul 11 siang. Netra nya Fatma kembali mengarah pada Arya yang tetap terpejam.


"Sayang?" panggil Fatma sembari mencondongkan tubuhnya mendekatkan wajahnya ke wajah Arya. Di tatapnya wajah tampan itu.


"Hem!" gumamnya Arya tanpa membuka kedua matanya.


Kalau di lihat-lihat, Arya jauh lebih tampan dari Aldian bila harus dibandingkan. Sifat dan perlakuan pun sangat jauh berbeda.


"Mau bobo apa jam segini?" tanya Fatma sambil menempelkan pipinya di dada pria tersebut.


"Ngantuk yang." Tangannya memeluk bahu Fatma dengan erat.


"Ngantuk? oke lah. Kalau begitu!" Fatma beranjak setelah mengusap lembut pipi sang suami.


Niat beranjak dari posisinya. Namun malah dipeluk erat dan membawanya berbaring, dengan gerakan cepat tubuh Fatma sudah berada dalam kungkungan tubuh kekar tersebut.


"Akh!" pekik Fatma sebab terkesiap. Dengan gerakan Arya yang cepat membawanya ke atas tempat tidur yang luas tersebut.


"Setth ... jangan berisik nanti ada yang dengar." Bisik Arya seraya menempelkan telunjuknya di bibir Fatma.


Netra Fatma bergerak ke pintu yang terbuka sedikit, ia lupa menguncinya tadi. Melihat Fatma yang memperhatikan ke arah pintu.


"Hem ... sembarangan yang ...kok gak di kunci sih?" Arya dengan cepat berdiri mendekati pintu dan cklek! dikuncinya.


Lalu kembali mendekat dan memeluk sang istri yang tampak pasrah. Arya mencumbu Fatma dengan penuh kelembutan, Fatma pun menerima dengan penuh suka cita. Dan membalas secara agresif.


Jemari Fatma yang lentik menyusuri dan mengusap dada arya dan seperti biasa bemain di titik sensitif Arya.

__ADS_1


"Geli sayang." Gumam Arya sembari menangkap tangan Fatma yang asyik menari-nari di area tubuh Arya.


"Biarin. Aku nggak! hi hi hi." Balas Fatma sambil menepis tangan Arya dari tangannya.


"Awas ya?" Arya langsung membalas Fatma dengan mulutnya yang langsung menerkam bagian-bagian yang dia suka.


Fatma menggeliat geli dan cekikikan menerima perlakuan dari Arya yang lebih nakal dan erotis.


Kemudian Arya menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya yang mulai polos. Sedang asyik-asyiknya bercumbu.


"Mama? Papa, ada di dalam kan? Mam, Papa?" suara Rania dari balik pintu.


Fatma langsung melonjak, bangun dan dengan cepat mengambil bajunya. Sementara Arya menjatuhkan tubuhnya ke bantal dengan napas yang tidak beraturan. Untung belum mulai, masih pemanasan.


Buru-buru Fatma berpakaian dan merapikan diri. Lalu membawa langkahnya mendekati pintu yang terkunci tersebut.


Blak!


"Ada apa sayang?" suara Fatma setelah pintu terbuka sambil mengikat rambutnya.


Mata anak itu begitu intens menatap sang bunda. Lalu tengok kanan dan kiri. Celingukan ke dalam entah apa yang dia cari.


"Ada apa sayang?" ulang Fatma. Menatap heran sang putri kecilnya.


"Papa? ada tuh lagi bobo!" Fatma menoleh ke belakang menunjuk tempat tidur yang ada Arya tengah tiduran.


"Aduh, semoga aja Aa sudah memakai pakaiannya. Kacau nih!" gumam Fatma dalam hati ketika Rania masuk menghampiri papanya.


"Papa?" panggil Rania setelah berada dekat dengan Arya.


"Hem?" gumamnya Arya seraya memicingkan sebelah matanya, pura-pura tidur.


"Papa bobo?" tanyanya lagi.


"Iya sayang, Papa ngantuk. Nanti sore kan Papa mau bekerja lagi." Suara Arya lesu persis orang ngantuk.


"Em, gitu ya? nggak sakit?" menatap lekat pada papanya.


Dalam hati Arya tersenyum. "Em, iya sayang. Kepala Papa sedikit pusing aduh ... harus istirahat sebentar nih."


Mendengar Arya merasa pusing. Rania malah naik ke atas tempat tidur, duduk di dekat kepala Arya. "Rania pijit ya?" mulai menyentuh kening Arya.

__ADS_1


"Ya salam ... nih anak pinter malah naik dan pijit-pijit lagi? Halah ... gagal dong. Main tembak-menembak nya?" monolog Arya dalam hati.


Fatma yang berdiri tidak jauh dari mereka mesem-mesem sendiri, mendengar percakapan Arya dan Rania serta melihat tingkah Rania yang bukannya pergi malah mendekat. Namun kendati demikian, Arya tampak mengelus kepala Rania.


"Makasih anak pintar? Papa merasa sakit kepala nih. Tapi Papa cukup dibawa tidur kok pasti akan cepat sembuh." Kata Arya seraya memicingkan matanya sebelah.


"Sudah minum obat belum, Papa? Rania ambilkan ya?" tanya anak itu penuh perhatian.


"Sudah. Mama sudah kasih Papa obat, tinggal istirahat saja!" sambung Arya kembali.


"Ooh, Rania temenin ya?" tawar anak itu sambil memijat kening Arya.


"Em ja-janga--" suara Fatma menggantung.


"Makasih sayang, anak manis. Tapi gak perlu. Rania main saja sama teman-teman ya? biarkan Papa bobo sebentar sebelum nanti sore."


"Hem ... Rania pengen nemenin Papa di sini. Biar cepat sembuh!" raut mukanya mendadak di tekuk.


"Yang ada bukan sembuh sayang. Tapi makin pusing atas bawah kalau gini caranya." Batin Arya.


"Em ... bukannya Rania mau naik pesawat? gimana kalau nanti sore Papa berangkat lebih awal, agar Rania bisa masuk ke pesawat yang mau Papa tangani. Gimana?" Arya melebarkan pandangan matanya.


Rania terdiam sejenak sembari menatap papanya lekat. Seakan meragukan dengan ucapannya.


"Gimana sayang? kita berangkat masih sore dan Papa akan mengajak Rania masuk pesawat," bujuk Arya terus meyakinkan.


"Baiklah, kalau begitu. Hore ... Rania mau!" anak itu bersorak dan mengangguk setuju.


"Kalau begitu, sekarang biarkan Papa bobo sendiri dulu ya? Biar cepat sembuh dan nanti sore ajak Rania jalan-jalan di pesawat. Oke?" ucap Arya terus meyakinkan.


"Oke, Papa. Baiklah ... Rania mau main lagi dan cepat sembuh ya? Rania sayang Papa!" cuph! rania mencium kening Arya tanda sayang.


"Papa juga sayang anak manis. Hati-hati turunnya." Pesan Arya.


Anak itu turun meninggalkan Arya setelah memberikan ciuman di kening Arya. "Mama, Rania main lagi ya? jagain Papa ya."


Fatma yang sedang duduk di sofa mengangguk dan tersenyum. "Hati-hati ya mainnya? jangan nakal dan jangan jauh-jauh." Pinta Fatma.


Anak tersebut mengangguk sambil melintasi pintu kamar Fatma ....


****

__ADS_1


Mana nih dukungannya? jangan lupa like komen dan tonton iklannya🙏


__ADS_2