
Kini Arya sudah berada di kamarnya yang sepi tanpa sang istri. Menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur yang empuk dan luas namun saat ini hanya ada dirinya yang berguling-guling di sana.
Arya menghela napas panjang dan menatap kosong langit-langit. Pikirannya pun melayang entah kemana? Dari mulai mengingat kejadian tadi di Mall sampai teringat sama sang istri. Lalu matanya terpejam juga tertidur merasakan lelahnya tubuh ini yang belum sempat sehat.
Jarum waktu terus saja berputar dari siang menjadi sore, sore belalu berganti malam. Matahari beristirahat digantikan bulan bila pun bersinar.
Saat ini setelah makan malam bersama, pak Wijaya. Bu Wati dan Arya berkumpul di ruang tengah. Termasuk Rania yang sedang belajar di temani Dewi.
"Ehem," di awali dengan deheman, Arya bersiap memberitahu berita bahagia yang datang dari Fatma. "Sebenarnya, saya ada berita penting untuk kalian?"
Bu Wati menoleh dengan cepat. "Apa itu, Aa?"
"Iya, berita apa itu? apa Aa mau berhenti bekerja atau mau mengelola perusaan Fatma atau mau menjadi bisnisman sendiri?" pak Wijaya memberikan rentetan pertanyaan pada Arya.
Arya bengong memandangi Merta nya. Bisa-bisanya sang mertua memberi pertanyaan yang jauh dari berita yang ingin dia sampaikan.
"Pah, kapan ya mama memberikan adek bayi untuk Rania?" celetuk Rania.
Sontak Arya menoleh ke arah Rania yang sedang belajar bersama Dewi. "Ha? Nah itu yang ingin Papa sampaikan."
"Maksud, Aa?" tanya Bu Wati tambah penasaran.
Arya tersenyum mengembang. sebelum menjawab. Lalu meneguk minuman hangatnya dengan nikmat sehingga mengeluarkan suara. "Akh ...."
Membuat beberapa pasang mata memperhatikannya. Masing-masing dalam hati bertanya-tanya, apakah yang ingin Arya sampaikan saat ini?
"Kalian mau tahu gak?" tanya Arya kembali.
"Aa, mau ngomong aku di gantung-gantung kaya gantungan baju aja." Protes Dewi.
"Iya, Papa. Gantung-gantung Mulu. Kaya ... gantungan pocong." Rania sekenanya.
"Ha ha ha ... emang ada ya gantungan pocong? Rania ada-ada saja deh." Dewi menggeleng.
"Ada! pocong atas kepalanya di gantung." Balas Rania.
"Itu diikat sayang, bukan di gantung," ucap Arya.
"Ooh," anak itu bengong entah apa yang dia pikirkan.
Arya bersiap mengutarakan sesuatu. "Kalian pasti kaget bila mendengar ini, sebab ... kawin semua akan mendapatkan baby ...."
"Apa?" Bu Wati dan pak Wijaya berbarengan, keduanya kaget, shock dan bahagia mendengarnya.
Dewi menatap ke arah Arya. "Beneran Aa, Kak Fatma hamil?" seakan ingin meyakinkan dirinya.
"Iya, bener. Kak Fatma hamil." Ray meyakinkan adiknya.
"Masya Allah ... Alhamdulillah ... Abah dan umi pasti senang mendengarnya." Dewi mendongak lalu mengusap wajahnya.
"Aa, tahu dari mana ah? dia kan belum periksakan, kalau benar, kenapa kemarin gak bilang sama Ibu, Aa. Gurau ya?" Bu Wati ragu.
__ADS_1
Arya menggeleng. "Ya ampun Bu ... buat apa, Aa bohong?"
"Terus, dia telepon gitu? bilang kalau dia hamil? atau baru tanda-tanda saja?" tanya Bu Wati kembali masih tidak percaya, habis tadi sore juga Fatma telepon tidak bilang apa pun.
"Sebenarnya ... Aa kemarin itu kan? tugas, penerbangan internasional, dan ternyata Fatma menjadi penumpang pesawat yang, Aa bawa. Jadinya kami bertemu di sana. Dan Fatma ngecek kehamilan dengan tes pack, hasilnya positif," ujar Arya panjang lebar.
"Jadi, Rania mah punya adek ya?" Rania menatap Dewi.
"Iya, Rania mau punya adek. Seneng gak?" tanya Dewi.
"Seneng dong ye-ye-ye, ye ... Rania mau punya adek bayi, adek nya laki-laki ya Pah?" Rania berdiri bersorak dan berjingkrak.
Semua mata menoleh pada Rania yang tampak sangat bahagia itu.
"Masya Allah ... ya Allah ... kita mau punya cucu lagi, Yah?" bu Wati menoleh sang suami.
"Semoga cucu kita ini seperti yang Rania mau ya, Bu? pria laki-laki, Tetapi mau laki-laki ataupun perempuan itu sama aja, iya kan Bu?" pak Wijaya berucap lirih dengan penuh kebahagiaan.
"Benar banget, Yah. Kita harus menyayanginya." Timpal Bu Wati sambil mengusap wajahnya.
Arya sangat bahagia melihat reaksi kedua mertua nya bahagia. Tinggal keluarga yang di Bandung yang belum diberi tahu berita ini. Mereka pasti akan lebih bahagia mengingat ini cucu yang pertama buat mereka.
"Doa kan ya Bu, Ayah. Supaya Fatma di sana sehat dapat menjaga kesehatan tubuhnya--"
"Itu pasti kami doa kan, tapi kami yakin kalau Fatma itu kuat. Kemarin juga waktu Rania dia menjalani nya sendiri tanpa adanya kami. Dan mungkin waktu itu di masa-masa sulit, entah lah kami gak tahu juga." Kenang Bu Wati menjadi terharu.
Pak Wijaya mendekat dan mengusap punggung sang istri. "Sudahlah jangan di kenang lagi, yang penting ke depannya saja." Suaranya pelan.
"Padahal gak usah pergi ya? kalau hamil muda gini!" kata Bu Wati kembali.
"Percaya deh. Kalau Fatma bisa menjaganya, kita jangan banyak khawatir. Justru akan membuat dia stres." Tambah sang suami.
"Jadi Papa, semalam sama Mama ya? hem ... Rania gak di ajak. Curang, Papa curang nih?" ucap Rania yang ditujukan pada Arya.
"Sini?" tangan Arya meraih tangan Rania agar mendekat. "Kemarin, Papa itu tugas sayang, kerja. Dan kebetulan Mama naik pesawat yang Papa terbangkan."
"Tapi, kan Papa ketemu mama! Rania nggak." Rania merajuk dan memajukan bibirnya beberapa senti ke depan.
"Em ... kan Papa sudah bilang. Kalau ada waktu kita berdua akan pergi ke sana, mau gak?" Bujuk Arya sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah Rania.
"Mau, mau ikut." Jawab Rania dengan manik matanya yang bening menatap wajah Arya.
"Makanya, banyak-berdoa biar Papa punya waktu senggang. Dan kita bisa menyusul Mama deh." Arya memeluk Rania erat.
"Asyeeeeek ... Rania mau menyusul mama." Anak itu sangat riang.
"Oke, sekarang ... Rania bobo, besok mau sekolah dan Papa mau tugas lagi." Titah Arya sambil mengecup kening Rania.
"Yu, bobo dulu?" ajak Dewi sambil meneteskan peralatan Rania belajar barusan.
"Ayo?" anak itu beranjak dan berpamitan pada Oma dan opanya.
__ADS_1
"Bobo yang nyenyak ya? jangan lupa membaca doa, sebelum tidur," pesan bu Wati lalu mencium pucuk kepala Rania.
Begitupun pak Wijaya, melakukan yang tidak jauh beda dengan sang istri.
"Oya, Aa. ke Bandung mau aku yang kasih tahu apa mau, Aa aja? kasih kabarnya." Tanya Dewi pada sang kakak yang juga beranjak dari duduknya semula membawa laptopnya.
"Hem, Biar, Aa saja yang memberi kabar itu." Jawab Arya kemudian menggiring Rania menaiki tangga. Sebelumnya Arya pun berpamitan pada sang mertua.
"Baiklah," Dewi mengangguk. Kemudian menyusul Rania ke kamarnya.
"Met bobo sayang?" Arya mengusap pucuk kepala Rania sebelum berpisah di pertengahan jalan.
"Iya, Papa." Rania memasuki kamarnya Diikuti oleh Dewi.
Arya pun membawa langkahnya ke kamar, mendudukkan dirinya di sofa lalu merogoh sakunya mengambil telepon dengan niat menelpon keluarganya di Bandung.
^^^Arya: "Assalamu'alaikum. Umi sehat?"^^^
^^^Umi Santi: "Wa'alaikum salam. Umi Alhamdulillah sehat, gimana sebaliknya, Aa sehat?"^^^
^^^Arya: "Syukurlah kalau sehat, Abah mana? Suhat juga?"^^^
^^^Abah: "Ini Abah. Alhamdulillah kasep, Abah sehat dan tidak kurang suatu apapun."^^^
^^^Arya: "Sae atuh nya Ari sehat mah. Ini Umi, Abah. Aa, mau kasih kabar buat Abah dan umi, kalau umi dan Abah akan mendapatkan cucu."^^^
^^^Umi Santi: "Apa? Aa mau ngasih umi cucu, ya Allah ... beneran ini teh? Tidak bohong?"^^^
Umi Santi dan Abah seakan belum percaya dengan berita ini.
^^^Arya: "Beneran atuh Umi, Abah ... buat apa Aa bohong?"^^^
^^^Umi Santi: "Ya Allah semoga engkau melindungi kita semua. Umi terharu, akhirnya akan mendapatkan cucu pertama dari, Aa."^^^
Suara umi Santi terdengar berat, bahagia penuh haru.
^^^Abah: "Semoga saja calon cucu Abah sehat selalu tumbuh dengan baik, nantinya menjadi anak Soleh dan solehah. Aamiin."^^^
^^^Arya: "Aamiin ya Allah."^^^
^^^Umi Santi: "Mana mantu umi nya? umi mau bicara sama mantu Umi."^^^
^^^Arya: "Fatma gak ada, Mi ... dia sudah dua hari ini berada di luar Negeri, ada tugas di sana."^^^
^^^Umi Santi: "Eleuh-eleuh, em saha eta teh? sama siapa? Wanita hamil muda itu maunya deket sama suami. Pengen di manja sama suami. Gitu Umi juga waktu menghasilkan, Aa."^^^
^^^Arya: "Sendiri, Umi ... kan Fatma sedang tugas di sana."^^^
Terdengar suara Abah yang ditujukan pada sang istri. Wanita hamil itu beda-beda umi jangan di samain atuh ....
.
__ADS_1
.