Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Tower yang tinggi


__ADS_3

Pas masuk kamar, Arya langsung di suguhkan dengan pemandangan indah dan menggoda, sehingga membuat kedua netra Arya tak bisa berkedip.


"Baru pulang sayang?" tanyanya Fatma yang tengah berdiri di dekat tempat tidur. Lalu berpindah posisi merangkak naik ke atas tempat tidur lantas berpose menggoda.


"I-iya, sayang!" gumam Arya tanpa mengalihkan pandangannya.


Arya yang dari tadi mematung dibuat mati kutu, terkesima dengan yang dilakukan sang istri yang begitu berani. Membuat detak jantungnya meningkat, darah yang mengalir semakin deras dan napas semakin memburu.


Makin lama netra nya Arya kian terbelalak melihat sesuatu yang bikin dirinya merasa gak kuat lagi untuk menahan sesuatu yang kian meronta.


Gairah untuk melakukan sesuatu kian bersemangat. Hasrat yang makin memuncak, juniornya yang sudah semakin siap itu membawa langkah nya mendekati tempat tidur lantas membuka yang melekat di tubuhnya.


Manik mata yang terus bergerak menatap setiap lekuk sebuah pemandangan yang indah dan memanjakan mata itu.


Fatma tersenyum melihat Arya yang sudah siap, bak harimau yang sudah tidak sabar menerkam mangsanya.


Pria itu merangkak naik, dengan tatapan yang tidak pernah lepas sedikitpun dari mangsanya yang bersikap pasrah. Selanjutnya mereka berdua menjalankan ritualnya penuh semangat dan gairah yang membara.


Malam yang dingin ini terus beranjak menyambut pagi. Terlewati dengan syahdu dan penuh kemesraan.


Menjelang pagi. Fatma terbangun lebih dulu, menggeliat nikmat walau tubuh ini terasa remuk dan sakit. Membuka manik matanya melihat ke samping, dimana sang suami masih terlelap.


Bibir Fatma tersenyum merekah, lantas mengarahkan telunjuknya ke pipi Arya yang masih terpejam. "Hi ... bangun? bentar lagi subuh." Suara Fatma parau khas bangun tidur.


Namun Arya tetap tidak bergeming walau sudah beberapa kali Fatma pencet hidungnya. Tetap saja gak bangun-bangun selain bergumam pelan.


"Hem ..." kepala Fatma menggeleng. Lalu tersenyum seakan mendapat angin segar, mendapat ide bagus.


Fatma meringsut ke atas sambil menjepitkan selimut di ketiaknya, cuph! kecupan mesra Fatma berikan pada bibir Arya yang sejuk.


"Merasakan ada pergerakan di bibirnya dan terasa dingin namun menghangatkan. Sehingga Arya muai bergerak bangun, membuka kedua matanya yang masih terasa sepet dan ngantuk.


"Em, sayang ..." suara berat Arya begitu dekat di telinga Fatma.


"Bangun? bentar lagi subuh." Kata Fatma yang masih berada di tempat semula yang nemplok di atas tubuh Arya.


"Alhamdulillah, masih bisa melihat Bidari ku yang satu ini," ucap Arya sambil memicingkan netra nya.


"Aish ... baru saja sadar dari tidur. Sudah berkata gombal merayu, mandi!" Fatma Mendudukkan tubuhnya di samping sang suami.


"Ya, sudah. Kita bangun dan mandi." Arya pun gegas bangun dan mengibaskan selimutnya.


Bikin Fatma kaget. "Jangan!"


"Ke-kenapa?" Arya heran dan menatap sang istri lekat. Tidak nyadar dengan keadaannya yang polos.


"Hi hi hi ..." Fatma menangkupkan telapak tangannya di mulut, lalu menunjuk ke arah aset Arya yang berdiri tegak. "I-itu, gak nyadar apa? towernya yang tinggi itu terkena angin? semilir."


Arya menoleh pada yang Fatma bilang towernya itu, langsung di tutup lagi. "Ha ha ha ... lupa." Dia tertawa juga.


Setelah itu Arya menggendong tubuh Fatma dibawanya ke kamar mandi. Sebelumnya mengibaskan selimut yang membalut tubuh Fatma dan bikin sang istri terkesiap bukan main.

__ADS_1


"A-aku bisa sendiri." Fatma berusaha melepaskan diri namun Arya tidak mengindahkan permintaan sang istri, terus saja berjalan menggendongnya.


Kini keduanya sudah berada di kamar mandi. Sama-sama sejenak berendam di bathub yang sama. Dengan air hangat yang sangat menyegarkan itu.


Setelah beberapa saat berendam, keduanya sama membersihkan diri, sesekali diselingi dengan bercanda dan tertawa bersama.


Hari ini Fatma benar-benar, Berada di rumah. Begitupun Arya terus menemani dan begitu memanjakan sang istri, Fatma.


"Aa, mau jemput Rania dulu ya? jangan ke mana-mana. jangan capek-capek, pokonya istirahat!" Arya mencium pucuk kepala Fatma.


"Aduh, Aa ... emang aku melakukan apa sih? semua pekerjaan. Sudah ada yang ngerjain, dan aku cuma duduk-duduk saja." Protes Fatma sambil menggeleng.


"Ya ... kali saja ngapain gitu? guling-guling atau ngangkat yang berat-berat--"


"Batu, gitu ya?" Fatma memotong perkataan Arya. "Kerja gak boleh. Tetapi minta jatah mulu! emangnya ngelayanin kamu gak capek apa?"


"Seeettt ... itukan sayang juga yang selalu menggoda ku, lagian yang bekerja dan memeras keringat itu aku sayang, kamu cukup menikmati saja." Kata Arya dengan seringainya.


"Enak saja, aku juga capek. Coba aku mati rasa, emang enak?" bela Fatma.


"Nggak, kayanya. Bagai meniduri pohon pisang yang tidak bisa bergerak. Ha ha ha ..." ada saja jawaban Arya untuk menggoda sang istri.


"Sudah ah, sana pergi? nanti keburu pulang! terus banyak pertanyaan lagi." Fatma mesem sambil mendorong dada Arya.


"Iya, iya bidadari ku." Cuph! kecupan mesra kembali mendarat di pipi Fatma.


Kemudian Arya gegas pergi, keluar Mension tersebut melalui pintu belakang sekalian mau ke garasi mengambil mobil.


"Papa mana sih. Kok belum jemput juga? tadinya katanya mau jemput. Makanya pak supir pulang." Kepala Rania celingukan melihat kedatangan Arya yang janji mau jemput.


"Sebentar lagi kali sayang, masih di jalan pasti." Dewi melirik ke arah anak itu yang tampak gelisah itu.


"Kok lama sih?" Rania tampak gelisah.


"Sabar, tenang. Pasti jemput kok Jangan khawatir." Dewi menenangkan anak itu.


Rania melihat teman-teman nya sudah berangsur pulang. Dan yang ada tinggal beberapa gelintir orang saja.


Beberapa kali Rania menggoyangkan kakinya dan menghentakkan nya, untuk mengusir kejenuhan sesaat.


Dan pada akhirnya. Mobil yang di bawakan oleh Arya dengan semangatnya berhenti yang tidak jauh dari tempatnya Rania berdiri.


"Hore ... papa datang," Rania bersorak lala mendekati. Dengan tidak lepas dari tangan Dewi, sebab harus menyebrang terlebih dahulu.


"Mama mana? Pah, mama kok gak ikut?'' selidik Rania sembari celingukan ke arah dalam mobil.


"Lho. Kan mama, Papa suruh istirahat di rumah. Kalau jalan-jalan mah sama aja bohong," sahut Arya yang masih duduk di belakang kemudi.


Dewi duduk di belakang, sementara Rania di depan sama papanya.


"Emang Mama kenapa, Pah?" selidik Rania sambil melihat ke arah sang papa.

__ADS_1


"Mama lagi masa ngidam. Jadi ... bawaannya mual, makanya Kakak Rania tidak boleh merepotkan mana ya, oke?" Arya mengusap kepala Rania alu memakaikan sabuk pengamannya.


"Nggak, Rania ga suka bikin repot mama kok! Rania juga gak pernah nyuruh-nyuruh mama, iya kan aunty?" Rania melirik ke belakang yaitu ke arah Dewi.


"Iya dong, Kakak Rania kan pinter. Dan hebat," sahut Dewi sambil mengacungkan jempolnya.


"Iya kah? hebat dong!" Arya muai bersiap untuk melajukan mobilnya menuju pulang.


Di sini senang, di mana senang. Di mana-mana hatiku senang, hari ku senang, hari senang. karena mama ada di rumah, itulah nyanyian Rania yang tampak riang sambil melihat keluar jendela.


Arya melirik sekilas dengan menyunggingkan senyuman di bibirnya.


Selang beberapa puluh menit. Mobil yang di kemudikan oleh Arya memasuki halaman mension. Rania turun dan langsung berlari mendekati pintu utama, berjalan ke ruang tengah dan langsung mendapati mamanya sedang sibuk dengan laptopnya.


"Assalamu'alaikum ... Mama, Rania pulang! ih. Mama jangan sibuk-sibuk kata papa juga, gak boleh capek." Datang-datang anak itu memberi instruksi.


Fatma mencium pipi Rania kanan dan kiri. "Wa'alaikum salam. Sayang ... Mama ini gak capek kok cuman sibuk pake laptop doang."


"Tapi, kan. Pake laptop juga capek lho. Tangan dan pikiran itu harus bekerja, sebab kalau sudah tidak bekerja tidak akan menghasilkan sesuatu, Mama ..." ungkap Rania dengan pinter nya.


Arya yang baru masuk penuh bangganya. "Masya Allah ... pandai nya putri Papa," ucap Arya ketika mendengar ucapan dari Rania yang pinter itu.


Fatma melihat sang suami dan tersenyum bahagia, bangga dengan putrinya itu. "Ya ampun ... Rania pinter. Tapi gimana dong? kalau cuma berdiam diri dan bengong. Mama bosan dong sayang."


"Nggak pa-pa, kan ada papa dan Rania yang nemenin. Ada aunty juga." Rania dengan pinter nya berceloteh.


Manik mata Fatma melirik ke arah suaminya itu yang tersenyum dan pada Rania.


"Em ... sekarang, Rania ganti baju dulu ya? setelah itu baru main," titah Fatma pada Rania yang malah sibuk berceloteh.


"Oke, Mama! yu aunty temenin Rania ke kamar?" Rania beranjak sambil melihat ke arah Dewi yang juga beranjak untuk mengantarnya.


"Yang, lusa Dewi mau bersiap lamaran, kan di Bandung? seperti nya harus segera mencari pengganti deh." Fatma melirik sang suami sembari berucap serius. Setelah Rania dan Dewi gak ada.


"Iya, benar. Dewi akan segera ke Bandung," sahut Arya sembari menghela napas panjang.


"Mak-maksud ku, Dewi nanti ke sini lagi. Cuman tidak fokus lagi, hanya membantu saja." ralat Fatma, takut Arya tersinggung.


"Iya, Aa. Mengerti dan itu memang benar, Dewi kan gak bisa intens lagi menjaga Rania setelah menikah nanti." Balas Arya kembali.


"Nah, itu maksud ku. Dewi gak akan bisa intens lagi, lagian Dewi perannya aunty bukan pengasuh seutuhnya.


Heningh!


Suasana hening, tidak ada yang bicara lagi. Sampai ada suara mobil yang memasuki pekarangan tersebut ....


.


.


Ini cerita mendekati ke ending yang aku sendiri masih bingung akan endingnya seperti apa?

__ADS_1


__ADS_2