Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Gimana caranya


__ADS_3

Sekitar pukul 16.00 wib. Arya bersiap berangkat dengan menggunakan mobil Fatma. Bersama Fatma dan Rania yang ingin jalan-jalan menaiki pesawat.


"Ayo dong, Pah ... dah sore nih? nanti keburu sore!" rengek Rania yang melihat Arya masih bersantai ria.


"Iya Nona manis. Bentar lagi," sahut Arya dengan santainya.


"Mam ... ayo dong? berangkat." Rania makin merengek melihat Arya malah santai-santai aja.


Fatma menoleh ke arah Arya yang tertawa melihat Rania yang cemberut. Raut wajahnya di tekuk begitu masam.


"Sayang, mau berangkat sekarang gak?" tanya Fatma akhirnya mengeluarkan suara juga.


"Nggak jadi ah. Nanti malam aja ya Mam. Papa masih pengen di rumah."


"Akh ... Papa bohong? akh Papa gak asyik." Rania semakin cemberut dengan tangan melipat di dada.


Fatma hanya menatap ke arah Arya dengan lekat.


"Papa? ayo?" Ajak Rania sembari menarik-narik tangan Arya.


"Iya, Nona. Iya, yu jalan yu?" Arya berjalan dengan menuntun tangan Rania.


"Gitu dong ... itu baru Papa Rania." Gumam anak itu berubah riang kembali.


Keduanya berjalan melewati pintu utama. Meninggalkan rumah mewah tersebut dengan segala pasilitas nya.


Fatma mengikuti dari belakang, wanita yang berpenampilan anggun itu tak bisa menyembunyikan rasa bahagia, atas kedekatan sang putri kecil dengan papa sambungnya tersebut.


Langkahnya berhenti di dekat mobil menunggu Rania masuk duluan. Namun setelah Rania duduk dengan nyaman, Arya menutup pintunya seraya berkata.


"Papa sama mama nanti aja akh perginya. Rania aja sendiri duluan Pak Harlan. Kami masih pengen di rumah," ucap Arya sembari menolah ke arah pak Harlan yang langsung mengangguk. Tangan Arya merangkul bahu sang istri.


"Akh ... Papa, Mama? gak mau!" Rania menggedor kaca mobil tak beraturan.


Namun Arya segera membuka dan masuk bersama sang istri.


Fatma hanya tersenyum aja menyaksikan tingkah Arya yang terus menggoda Rania.


"Iih ... sebel deh. Papa bikin Rania esmosi terus," Rania mendelik dan sedikit memukul jok mobil yang dia duduki.

__ADS_1


"Emosi sayang ... bukan esmosi! makanya jangan marah-marah dulu. Sabar dulu, Papa gak mungkin bohong kok," ujar Fatma seraya melirik sang suami yang selalu mengulas senyuman.


"Papa nya. Goda Rania mulu, bikin mood Rania turun akh," ungkap Rania kembali.


"Ha ha ha ... emang mood itu seperti apa? Nona manis?" tanya Arya sambil mencolek pipi gembul Rania.


"Em ... apa ya? em ..." Rania mengetuk-ngetukan jarinya ke dagu. "Nggak semangat, gak pengen."


"Nggak pengen? ya udah, Pak balik lagi Pak ... gak usah jalan akh." Arya menepuk pundak pak Harlan yang fokus nyetir.


"Mam, Papa nih nakalin Rania terus, ih sebel ...."


"Aa ... kasian akh. Nanti nangis!" ucap Fatma dengan sangat lirih seraya mengusap pipi Arya lembut.


Arya malah tertawa senang. "He he he ...."


Kemudian Rania berpindah duduk. Menjadi di tengah-tengah dan kepalanya bersandar di dada Arya. Anak itu tampak manja sama papanya.


Tidak berselang lama, akhirnya mobil sudah memasuki area bandara. Arya langsung mengajak Rania ke lapangan, di sana sudah ada bagian teknisi yang merawat mesin pesawat.


Arya menuntun Rania memasuki badan pesawat. Mulanya Rania terdiam dengan mata yang sibuk mengamati dalam nya pesawat. Mulutnya menganga dan sesekali tertawa riang, senang akhirnya bisa berada di dalam pesawat juga. Kendati bukan rangka untuk perjalanan, melainkan cuma untuk main-main saja.


"Hi ... Nona manis! ngapain di sini? mau ikut terbang?" Sultan berjongkok menyesuaikan dengan anak itu yang menyambutnya dengan hangat.


Rania menatap serta menggeleng. Sesaat keduanya berpelukan, menumpahkan rasa rindu yang lama tidak bertemu.


"Terus ngapain berada di sini? kalau gak mau ikut?" ulang Sultan.


"Em ... jalan-jalan doang. Nanti juga Rania turun, oh gini dalamnya pesawat?" balas Rania sembari membalikan badan melihat-lihat lagi dan berjalan maju ke depan.


Tangan Rania menarik tangan Sultan. Sementara Arya berada di bawah bersama teknisi dan Fatma pun berada di sana.


"Om, kenapa sih gak main lagi ke tempat Rania?" tanya anak itu sambil mendongak.


"Em, sibuk sayang. Lagian takut ganggu!" jawab Sutan.


"Mengganggu apa?" selidik Rania penasaran.


Sultan mengerutkan keningnya sebelum berbicara. "Papa sama mama kan pengantin baru, jadi Om takut ganggu gitu. Secara biasanya pengantin baru itu sedang asyik-asyiknya berduaan bikin baby."

__ADS_1


Anak itu bengong. "Oo! jadi kalau papa dan mama berduaan itu sedang bikin baby ya? tapi, kok baby nya nggak ada?" tanya Rania menggeleng.


"Iya, baby nya ... nanti kalau perut mama membuncit." Jawab Sultan sambil mulai beres-beres.


"Nanti kalau mama sama papa berduaan. Rania mau tau ah gimana caranya bikin baby!" dasar anak-anak percaya aja dengan omongan Sultan yang nyeleneh itu.


Sultan terkejut. "Eeh, jangan! gak boleh, kalau papa dan mama lagi berdua justru jangan diganggu. Biarkan aja mereka, nanti kalau Rania ganggu gak akan kelar bikin Dede nya."


Sultan menggaruk tengkuknya, kelimpungan dengan perkataannya sendiri. "Aduh ... gue ngomong apa sih? sudah tahu anak jaman sekarang itu pinter-pinter. Mati deh gue! bakalan kena semprot bapak nya nih nanti gue."


"Lho, kan Rania cuma lihatin, nggak ganggu kok, Om. Lihatin doang, janji," sambung Rania sembari mengacungkan jarinya.


"Nggak-nggak, gak boleh. Nanti Om yang kena marah papa dan mama. Anak kecil dilarang keras mencampuri urusan orang tua." Jelas Sultan, perasaannya menjadi tidak menentu.


"Om Tatan gak asyik nih? Oya Om, kalau pesawat ini terbang, berat gak?" anak itu langsung mengalihkan pembicaraan.


"Em ... nggaklah. Kalau berat itu gak bisa terbang dong." Kata Sultan.


Kemudian pramugari mengerubungi Rania, merasa gemes dengan anak itu. "Anak siapa nih? cantik banget, montok. aish ... bikin gemes deh. Kita culik yu?" kata salah satu pramugari, riuh dengan yang lainnya.


Rania jadi pusing berhadapan dengan para wanita cantik itu. Penampilannya begitu rapi anggun.


"Rania, aunty." Balas Rania ketika wanita-wanita cantik itu menanyakan nama Rania.


Ada yang memberikan coklat dan permen. "Anak siapa sih nih anak? lucu banget."


"Dia anak kapten Arya." Timpal Sultan dari depan.


Semua pramugari saling pandang. "Ha? anak kapten Arya? iih ... cantik, lucu. Bikin gemesy pengen nyubit pipinya yang kaya bakpau."


"Woi! kerja-kerja. Jangan menggoda anak itu terus! masalahnya waktu kerja nih." Pekik Sultan.


Kemudian para pramugari tersebut menjauhi Rania, dengan segala aktifitasnya. Rania pun mulai celingukan mencari orang tua nya.


Rania menghampiri Sultan. "Om Tatan? Antar Rania ke papa sama mama?" dengan nada sedih. Mulutnya belepotan dengan coklat.


"Ha? papa dan mama! yu? sama Om." Sultan menuntun tangan Rania dibawanya ke luar badan pesawat ....


****

__ADS_1


Sudah membaca kan? jangan lupa dukungannya ya🙏


__ADS_2