
"Tapi, Papa gak lama kan?" selidik Rania menatap lekat pada Arya yang mengenakan jaket.
"Nggak Rania sayang ... Nanti malam juga pulang, tunggu sama mama ya? jangan nakal dan jangan rewel, Rania kan sudah besar." Arya berjongkok lantas mencium pipi Rania kanan dan kiri. Setalah itu Rania bermain boneka-bonekaan.
Arya mendekati Fatma yang sedang berdiri, tangan Arya menyentuh pipi Fatma dan mengusapnya dengan sangat lembut. "Sayang, aku pergi dulu ya?"
"Hem, hati-hati." Lirihnya Fatma.
Manik mata Arya sesaat bergerak mengawasi Rania yang anteng bermain boneka. Kemudian mengalihkan pandangan ke arah Fatma dengan mesra ibu jarinya masih mengelus pipi Fatma yang halus lalu Dengan singkat Arya mengecup pipinya yang sebelahnya pas di ujung bibir Fatma.
Yang membuat hati Fatma terkesiap takut Rania melihatnya. Namun anak itu terlalu fokus dengan mainannya.
"Tunggu aku pulang ya?" bisik Arya tepat di telinga fatma.
Fatma mengangguk dan mengusap pipi Arya. Dengan senyuman manisnya, Arya pun pergi keluar kamar. Setalah sebelumnya berpamitan pada Rania.
Fatma menyusul dan mengantar sampai teras. Kemudian setelah mereka berangkat. Fatma dan sang bunda ke kamar Dewi untuk menemani.
"Dewi, sudah makan belum?" tanya Fatma setelah berada di kamar Dewi.
"Belum, gak lapar." Balasnya lesu. Kedua matanya sembab akibat menangis terus.
"Makan dulu, Nak Dewi. Nanti sakit dan itu akan rugi sendiri." Timpal Bu Wati yang duduk di tepi tempat tidur.
"Kakak ambilkan ya? makannya." tawar Fatma.
"Aku belum lapar Kak, aku cuma ingin sendiri." Suaranya lemas.
"Dewi yang sabar dan kuat ya? mungkin ini cobaan untuk Dewi dan Kakak yakin kalua di balik ini semua akan ada hikmahnya." Fatma mengusap punggung Dewi.
"Yang jelas. Hikmahnya Aa yang dapatkan, Aa berencana menikah dengan tunangan nya hari ini, tanggal ini dan bulan ini. Terlaksana juga meski bukan dengan wanita yang sebelumnya direncanakan."
Fatma dan bu Wati terdiam dan mencerna maksud dari Dewi. Menatap gadis itu yang tampak terpuruk dan terpukul dengan apa yang telah menimpanya.
"Emangnya, Aa rencana nikahnya nikah sama dia hari ini juga?" Selidik Fatma.
"Iya, hari ini. Katanya dia juga jadi menikah hari ini namun dengan pria selingkuhannya," ucap Dewi seraya mengangguk.
"Kakak juga dapat undangan nya. Calon mempelai nya anak rekan bisnis Kakak."
__ADS_1
Dewi mendongak. "Jadi Kakak gak datang ke sana!"
"Nggak lah, Kakak kan berada di sini dalam beberapa hari ini," Tutur Fatma lirih.
"Ooh, kamu juga dapat undangannya?" Bu Wati menatap putrinya.
"Iya, Bu. Benar, aku cuma kirim kado nya saja. Kakak yakin suatu hari nanti Dewi akan temukan pria yang lebih baik lagi, sedih boleh, tapi jangan terpuruk lama-lama ya? kita harus bangkit, semangat. Kita harus melanjutkan hidup dan sambut bahagia," ujar Fatma kembali.
Manik mata Dewi menatap ke arah Fatma. Aku sangat mencintai nya Kak."
"Aku mengerti. Tapi mungkin Allah lebih menyayanginya. Sehingga Allah mengambilnya lebih cepat dan sekarang dia sudah tenang di sana, kita tinggal mendoakannya saja," ucap Fatma sangat lembut.
Dewi menggeleng. "Aku hanya sedih kenapa harus secepat ini? di hari pernikahan kami tanpa kami bertemu dulu."
"Sudahlah. Allah pasti punya rencana lain untuk Dewi." Fatma memeluk Dewi sangat erat.
Bu Wati tersenyum getir melihatnya mereka berdua. Menatap haru akan nasib yang menimpanya keduanya.
Hening!
Ketiganya memilih terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sayup-sayup terdengar suara adzan Maghrib yang merdu mengajak semua umat Islam untuk memenuhi undangannya.
Bu Wati beranjak lalu pergi meninggalkan Fatma dan Dewi. "Ibu keluar dulu ya?"
"Kak Fatma gak salat?''
Kepala Fatma menggeleng. "Nggak. Masih pms," jawabnya.
"Hem ... gak bisa ml dong, kak?" ucap Dewi sambil tersenyum tipis.
"Hem," gumam Fatma.
Kemudian Fatma beranjak seiring dengan beranjak nya Dewi ke kamar mandi.
Setelah menunggu beberapa lama. Akhirnya Ara pulang dan langsung masuk ke dalam kamar dan tentunya disambut langsung oleh Fatma.
"Baru pulang!" sambut Fatma mendekat.
''Assalmu'alaikum ... belum tidur?'' sapa Arya sambil mencondongkan wajahnya dan mendaratkan kecupan di kening Fatma yang langsung memejamkan mata.
__ADS_1
Rasanya baru kali ini iya diperllakukan seperti ini. Sebelumnya Aldian tidak pernah memperlakukan semesra ini kecuali ada maunya.
"Belum, baru pukul delapan spuluh menit." Jawabnya seraya melirik ke arah jam.
"Rania mana?" tanya Arya sambil membuka jaketnya lalu ia gantung kembali ke tempatnya.
"Sama Mia dan ibu. Merengek terus nanyain papa, katanya papa bohong mau sebentar tapi lama!" Fatma menirukan omongan Rania.
"Aa, ke ke makam dulu sekalian berziarah," sambung Arya.
"Mau makan dulu? aku siapkan ya?" tawar Fatma sembari menatap lekat ke arah Arya.
"Em. Sudah makan, disuguhi di sana. Gak enak kalau nolak," ucap Arya. "Sayang dah makan?"
Arya balik tanya dan mendekat memeluk bahu Fatma dan meletakkan dagunya di dekat leher samping Fatma.
"Aku, sudah tadi sama Ibu dan aku bujuk Dewi untuk makan." Tangan Fatma bergerak mengusap pipi Arya. Sebagai wanita yang sudah pengalaman. Setidaknya Fatma tidak terlalu canggung dalam bersentuhan dengan pria yang menjadi suaminya. Walau kadang jantungnya seakan ingin melompat jauh.
"Baguslah, kalau dia mau makan. Aa mau mandi dulu ya?" Arya berdiri dan membuka kausnya berjalan mendekati pintu.
Kedua netra mata Fatma menatap punggung Arya yang lantas hilang di balik pintu. Lalu Fatma pun beranjak dengan niat mau menyiapkan pakaian tidur buat Arya, sekalian dia pun belum ganti baju tidur.
Fatma mengambil baju tidur yang tipis miliknya, kebetulan yang dia membawa satu lingerie ini dan piyama yang kini basah dapat nyuci.
Fatma mengganti pakaiannya dengan baju yang ada yaitu lingerie hitam tersebut.
Tidak lama kemudian Arya keluar dari balik pintu dengan handuk melilit di pinggang dengan tetesan air yang jatuh dari rambutnya.
Kedua mata Arya langsung mendapati Fatma yang mengenakan lingeria panjang berwarna hitam.
Netra mata Fatma menatap seakan tak berkedip tubuh Arya yang hanya mengenakan handuk saja, mengekspos tubuhnya yang atletis. Beberapa kali Ia menelan saliva nya yang tercekat di tenggorokan.
Arya membawa langkahnya mendekati baju yang Fatma persiapkan di atas tempat tidur, lengkap dengan pakaian dalamnya.
Fatma mendekat lalu memeluk tubuh suaminya itu dari belakang, mulanya Arya terkesiap namun lama-lama menikmati juga walau dada dag-dig-dug.
Fatma menempelkan pipinya di punggung Arya dan kedua tangan melingkar di perutnya tepat dia atas lilitan handuk.
"Kenapa hem?" tanya Arya sembari menggenggam tangannya. Sesungguhnya Arya tahu kalau Fatma merindukan sentuhan dari seorang suami, secara dia sudah pernah berpengalaman dan beberapa bulan ini mungkin dia kesepian ....
__ADS_1
.
.