Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Tersinggung


__ADS_3

Sofi yang sedari tadi hanya menatap dingin ke arah Sultan dan Rania dibikin jantungan dengan lirikan matanya Arya.


Degh!


Kemudian mereka berjalan dengan santainya. Namun ketika di eskalator tiba-tiba Sofi terjatuh menubruk Arya.


Otomatis Arya meraih pinggang Sofi yang hampir terjatuh ke eskalator yang sedang berjalan.


"Aw!" Pekik Sofi kaget.


Arya langsung menyangga tubuh Sofi dan sultan buru-buru membantu Arya dan memapah tubuh Sofi agar lebih aman segera menapaki lantai.


"Kamu kenapa Sofi?" pada akhirnya Sultan bertanya.


Sofi yang memeluk pinggang Arya dan kepala pun nyender ke bahu Arya, hanya menjawab. "Nggak tahu, kaki ku keseleo, Tan."


Fatma dan Rania yang tadi di belakang akhirnya tiba juga di lantai dimana Arya dan Sultan yang memapah Sofi.


Orang-orang yang berlalu lalang hanya melihat tanpa perduli pada orang lain yang mungkin membutuhkan pertolongan.


"Kamu kenapa?" tanya Fatma pada Sofi yang malah betah dengan posisinya itu.


"Kaki ku sakit Kak," sahut Sofi. Bibirnya menyimpan senyuman penuh kemenangan.


"Terus gimana dong?" Sultan kebingungan. Dan Arya menyerahkan sepenuhnya Sofi pada Sultan. Dia lepas tangan, dengan alasan Sultan pasti bisa mengatasi sendiri.


Apalagi tangan Rania menarik tangan Arya. "Papa. Ayo pulang? Rania ngantuk."


"Aduh ... kaki ku sakit!" desisnya.


Fatma terdiam menatap intens ke arah Sofi. Dalam pandangan Fatma, berasa ada kejanggalan, sepertinya ini cuma kamuflase saja. Buat bisa dekat dengan orang yang di inginkan.


Kemudian Fatma menyunggingkan bibirnya ketika Arya menyerahkan Sofi sepenuhnya pada Sultan.


"Tan, bawa ke dokter saja. Klinik terdekat lho." Fatma memberi saran.


Sultan mengangguk dan mengajak Sofi perlahan berjalan dengan tetap ia memapah atau gandeng pinggangnya. "Iya. Kita ke klinik ya?"

__ADS_1


Sofi yang merasa kecewa, Arya yang berhenti memapah dirinya. "Ti-tidak usah. Pulang saja, nanti juga sembuh kayanya!" tolak Sofi.


"lho, katanya sakit? aku antar kok!" Sultan kekeh.


Sementara Sofi juga kekeh gak mau, dengan alasan di rumah saja diolesi salep pasti sembuh.


Kini Fatma yang tersenyum penuh kemenangan melihat kepergian Sofi yang sedikit tertatih. Di gandeng oleh Sultan.


Kemudian Fatma menoleh ke arah sang suami yang malah asik ngobrol dengan Rania yang merengek mengajak pulang.


Selang beberapa waktu di perjalanan. Kini Fatma dan Arya sudah berada di apartemen nya.


Fatma langsung menemani Rania tidur. "Met bobo sayang? semoga mimpi indah ya!" menyelimutinya sampai menutupi dada. Mengusap kepalnya dengan lembut dan mengecupnya.


Kemudian Fatma perlahan menapakkan kaki ke lantai lalu keluar dari kamar Rania. menuju kamarnya. Namun netra nya tidak mendapati Arya di sana.


Fatma berbalik mengedarkan pandangan ke semua ruangan. Kali aja Arya berada di ruang tengah atau dapur. Tapi kosong.


Langkah Fatma kembali ke kamar. "Aa, sayang ... dimana?"


Lalu Fatma membawa langkahnya ke balkon dan ternyata Arya tengah berdiri menatap langit yang bertabur bintang. Berdiri dengan mengenakan sarung. Habis melaksanakan isya.


Bibir Fatma tersenyum. "Aku panggil-panggil bukannya nyaut malah diem bae!" gumamnya sembari berjalan pelan mendekati dan memeluknya dari belakang.


"Aku panggil-panggil dari tadi. Bukannya nyaut ih ..." Kata Fatma sembari mengeratkan pelukannya. Tempat terindah istri itu adalah pelukan suami. Katanya sih, sebab author nya jomblo🤭


"Hem ... ada apa? bobo sana? sudah malam, besok mau ngantor kan?" Gumamnya Arya seraya mengelus punggung tangan Fatma, lalu diciumnya.


"Em ... Aa, mau gak aku rekomendasikan kamu di kantor? biar kerja sama aku!" suara Fatma dari balik punggung Arya.


Arya menghela napas panjang, lalu membuka pelukan Fatma. Kini mereka berdiri berhadapan.


"Sayang, kan tahu. Menjadi pilot adalah impian ku, dan sekarang di saat karier ku di sana berjalan dengan baik. Harus aku tinggalkan? nggak sayang!" kepala Arya menggeleng, punggung jarinya mengarah ke pipi Fatma dielusnya sangat lembut.


"Tapi kamu, ngantornya saat gak terbang saja. Ya ibarat sampingan lah, nggak harus full juga." sambung Fatma.


"Uang belanja yang aku berikan masih kurang kah? memang sih gak seberapa! tapi setidaknya cukup kok buat kita bertiga atau supir satu, asisten satu insya Allah aku mampu bayar. Jadi buat apa aku kerja di kantor juga? yang bahkan akan menimbulkan kecemburuan pekerja lainnya?"

__ADS_1


Fatma bengong. Dengan tidak sengaja mungkin. perkataannya menyinggung perasaan Arya.


"Staf lain akan cemburu. Kalau aku kerja di sana, mentang-mentang suami bos besar sehingga masuk kerja dengan seenaknya saja. Apa katanya bila sebulan aku cuma masuk seminggu bahkan kurang? itu hanya akan menimbulkan kecemburuan sosial saja," sambung Arya sembari menumpukan tangan ke pagar balkon, raut wajahnya mendadak di tekuk.


"A-aku, gak bermaksud membuat mu tersinggung soal itu. Uang belanja pun cukup kok dan aku sangat bersyukur, kamu memberikannya padaku. Aku merasa dihargai, cuman ... niat aku, apa salahnya kamu mengembangkan diri, siapa tahu ada bakat di perusahaan!" lirih Fatma kini lebih hati-hati lagi dalam berbicara.


"Aku gak ada bidang di sana. Em ... mungkin bisa aja aku belajar. Tapi aku tidak ingin di perusahaan mu. Aa tidak ingin di anggap hidup dibawah ketiak sang istri." Jelas Arya sembari berjalan meninggalkan balkon.


"Sayang?" panggil Fatma lirih, sepertinya Arya benar-benar tersinggung dengan ucapannya itu.


Fatma mematung sesaat dengan manik mata yang nanar. Menyesal telah membuat suaminya tersinggung. Selama mengenal Arya khususnya setelah menikah, baru kali ini ia melihat Arya sedingin ini.


"Huuh ..." Fatma hembuskan napas berat sambil mendongak ke langit.


lalu perlahan mengayunkan langkahnya ke dalam kamar. Menyusul Arya yang lebih dulu masuk.


Setelah mengunci pintu. Netra mata Fatma mendapati Arya sudah berbaring, lampu pun sudah berganti temaram. langkah Fatma berhenti di tepi tempat tidur. Kemudian merangkak naik mengibaskan selimut lanjut berbaring.


Arya yang sudah berbaring duluan menghadap langit-langit, hanya terdiam saat merasakan pergerakan dari sang istri yang berbaring di sampingnya.


Bener-bener sebuah sikap yang dingin dari sosok Arya yang gak biasa Arya tunjukan pada sang istri.


Sungguh sebuah sikap yang membuat Fatma tidak nyaman, dadanya terasa sangat sesak dan sakit.


Yang mulanya Fatma berbaring terlentang, lantas memilih berbaring miring memunggungi sang suami yang begitu dingin. Entah memang sudah tidur atau sengaja mendiamkannya.


Air bening yang terasa hangat mengalir dari sudut matanya Fatma. Jatuh ke bantal sebagai saksi pertama bahwa pemilik bantal ini menangis.


Mungkin bila saja bantal dapat bicara! pasti dia yang pertama menenangkan Fatma untuk tidak bersedih, sebab perbedaan pandangan itu hal yang biasa dan sifat yang manusiawi.


Tapi sayang, bantal yang Fatmala pakai hanyalah benda mati yang tak dapat berbuat apa-apa. Sehingga air bening yang terasa hangat itu semakin deras berjatuhan.


Apakah sepanjang malam mereka akan tetap dalam keadaan diam? atau hati Arya akan sendirinya segera melunak dan memberi kehangatan pada sang istri? ikuti terus kisahnya ....


-


-

__ADS_1


__ADS_2