
"Abah, Umi. Boleh ya? Rania ikut ke Bandung? kata Mama juga nanti kalau Abah dan Umi di Bandung ada acara! Mama mau ke sana ajak Rania, iya, kan Mam?" netra mata yang polos dan bening itu melihat lekat pada Abah dan umi lalu ke arah sang bunda bergantian.
Fatma menoleh ke samping, dimana sang putri duduk sedang makan malam. "Iya sayang."
Umi dan Abah saling melempar senyuman. "Tentu cantik ... jangankan nanti, besok juga boleh Rania ikut Abah, kapanpun boleh ke sana."
"Kalau nanti itu ... nikahannya adik om yang bernama Dewi. Kita berkumpul di sana nya geulis?" ucapnya umi dengan senyuman yang melukiskan kebahagiaannya.
"Mama, geulis itu apa?" Rania menatap sang bunda.
Fatma yang tengah mengunyah menggeleng dan melirik ke arah Arya sambil menggerakkan alisnya seolah meminta bantuan.
"Geulis itu ... artinya cantik. Sayang." Arya mengarahkan wajahnya kepada Rania.
"Ooh." Rania membulatkan bibirnya. Lalu melanjutkan makannya.
Arya dan Rania juga Fatma duduk di ruang keluarga bertiga, setelah selesai makan malamnya.
Arya duduk menyandar ke bahu sofa, di sampingnya Rania bersama boneka pemberian dari Arya waktu itu.
Sementara Fatma duduk di sofa terpisah namun tidak jauh dari Arya. "Rania bobo sayang, sudah malam lho."
"Nggak mau, belum ngantuk." Kemudian anak itu memeluk tangan Arya. "Om, Rania kapan di ajak makan eskrim lagi?"
__ADS_1
Arya yang mendongak dan memejamkan mata, menoleh. "Hem, lain kali ya? pasti Om ajak Rania jalan. Tapi mamanya mau gak? biar sama-sama jalannya." Sedikit melirik ke arah Fatma.
Fatma yang sedang memperhatikan Arya langsung tampak gugup, mengalihkan tatapannya kelainan arah. "Em, em."
"Mam, mau gak? jalan sama Om dan Rania, nanti Om nya ajak jalan aunty lho." Rania menatap sang bunda.
"Ha?" Fatma membuka matanya lebar-lebar lalu bergerak melihat ke arah Arya yang malah melukiskan senyuman dari balik wajah lelahnya.
"Bodo amat. Orang tunangannya mungkin." Batin Fatma sembari menunduk melihat lantai.
Manik mata Arya terus memperhatikan wajah Fatma yang menunduk. Ada rasa bahagia bisa menatapnya, namun dibalik itu suasana hati Arya masih belum stabil masih dalam suasana luka yang menghimpit perasaan.
Fatma kembali menggerakkan wajahnya dan melihat ke arah Arya kemudian terjadinya bersitatap. Seolah saling menyelami perasaan keduanya.
"Ha? iya ada apa sayang?" Fatma menoleh ke arah Rania yang menatapnya.
"Mau, gak jalan sama Om?"
"Em, Mama sibuk sayang, dan lusa Mama harus keluar kota." Jawab Fatma sambil tumpang kaki, kakinya jenjang dan mulus terlihat sempurna.
"Ah, Mama. Ya udah Om, kita berdua saja atau sama opa dan Oma. Mama gak usah diajak." celoteh anak itu pada Arya.
"Iya sayang, kita saja." Arya mesem namun dalam hati sedikit kecewa gimana ... gitu, mendengar jawaban dari Fatma barusan.
__ADS_1
Fatma membuka laptop yang berada di pangkuannya. Rania berceloteh dengan Arya dan juga bonekanya.
Setelah beberapa menit, Fatma menoleh ke arah Arya dan Rania yang tampak sepi. Tak terdengar suaranya, rupanya Rania tertidur di sofa. Kepalanya berada di pangkuan Arya, lalu manik mata indah Fatma bergerak melihat wajah Arya yang juga terpejam kepalanya nyender ke bahu sofa.
Pandangan Fatma terkunci di situ. Melihat wajah pria itu yang tampak sangat lelah tersebut. "Kasian. Dia capek tapi bela-belain ke sini demi Rania. Belum mengingat kejadian tadi sore! pasti dia sangat shock."
Sementara orang tua Fatma sedang mengobrol dengan Abah dan umi di ruang tamu, tampak sangat akrab. Mengingat sudah larut malam, tuan rumah menyuruh tamunya menginap saja. Lagian banyak kamar tamu yang kosong jadi gak akan bingung mau tidur di mana?
"Abah sih tergantung AA saja." Balas Abah melirik sang istri.
Umi berdiri hendak melihat Arya yang berada di ruang sebelah. Namun satu menit kemudian kembali dengan membawa berita kalau Arya tertidur di sofa ruang keluarga.
"Si AA, tertidur di sofa, Abah." Umi duduk kembali di tempat semula.
"Dia pasti capek atuh Umi, biarkan sajalah." Timpal Abah.
"Makanya, sudah. Kalian nginep saja di sini? di sini luas banyak kamar yang kosong juga." Pak Wijaya kekeh.
"Bibi? sini?" Bu Wati memanggil asisten di rumah tersebut.
Tidak lama Bi Ina datang menghadap. "Iya, Nyonya besar ada yang harus saya lakukan?" mengangguk hormat.
"Tolong antar Abah dan Umi ke kamar tamu, jangan lupa bersihkan dulu ya tempatnya?" perintah bu Wati.
__ADS_1
"Baik Nyonya. Mari?" BI Ina mengangguk hormat pada Abah dan umi yang beranjak hendak mengikutinya ....