
Mendengar jeritan, semua yang berada di rumah mewah tersebut menghampiri sumber suara berasal. Termasuk Arya yang setengah melompat dari lantai atas.
Suara itu berasal dari outdoor. Dimana asisten rumah tangga menjerit barusan, dia tampak sangat ketakutan sorot matanya tertuju ke sebuah box yang berisi boneka berbentuk pocong dihiasi warna darah pula.
"Ada apa, Bi?" tanyanya Fatma lirih bertanya pada Bi Ina yang mendekati gadis tersebut.
"Kurang tau, Nya." Jawab Bi Ina menggeleng.
Lalu gadis itu memeluk Bi Ina sambil menangis. Di tangannya ada secarik kertas berisi sebuah pesan.
"Barang ini dari mana?" tanya Arya memegang boneka tersebut.
"A, jangan di angkat-angkat. Aku takut." Fatma cegah Arya yang mengangkat barang tersebut.
Dengan iseng barang itu malah di sodorkan pada Fatma yang langsung mundur dan membalikan badan.
"Iya, dari mana itu?" Bu Wati penasaran.
Si gadis yang berasangkutan cuma menggeleng sambil menyembunyikan wajahnya di undak Bu Ina.
Dan Arya mengambil secarik kertas yang terjatuh dari tangan gadis itu. Lalu ia bacakan.
...Jangan sekali-kali kau mendekati kekasih ku lagi, bila tidak mau bernasib malang atau terjadi sesuatu yang tidak inginkan...
Itu isi secarik kertas itu yang berisi sebuah ancaman. Arya menarik napas panjang.
Kemudian mereka bubar satu persatu menggalakan tempat tersebut begitupun gadis itu diajak masuk sama Bi Ina dan Mia.
Semuanya masuk dan melaksanakan Maghrib terlebih dahulu. Dan selepas itu, Arya mengajak Fatma untuk makan malam di luar.
"Makan malam di gajebo bukan?" sembari menunjuk ke arah gajebo yang ada di luar rumah.
"Bukan, tapi di dalam hatiku. Ibu Negara." Balas Arya sambil ngeloyor menuruni anak tangga.
"Iddih, pergi begitu saja." Fatma menggeleng dengan hati yang berbunga-bunga. Lalu Kembali masuk ke dalam kamar tuk siap-siap.
Setelah berdandan, Fatma membawa langkahnya ke kamar Rania tuk melihat nya masih tidur apa sudah bangun? kalau sudah bangun mau ia ajak.
Namun setelah didekati, Rania masih nampak nyenyak sekali. Tangan Fatma terulur mengusap kepala Rania dan mencium hnagat kening anak itu.
"Sayang, Mama mau ke luar dulu ya! sebentar." Gumamnya Fatma. Kemudian beranjak lagi meninggalkan kamar Rania.
__ADS_1
Fatma turun dari tangga menghampiri Arya yang sudah menunggu di ruang tamu bersama ayah dan ibunya.
Netra mata Arya menyambut kedatangan Fatma yang tampak cantik dan elegan. Dengan setelan celana jeans panjang dan atasan berbahan satin berwarna biru pastel cocok dengan kulitnya. Namun Arya segera menundukkan kepala sebelum kebablasan memandangi calon istrinya.
Arya berniat membawa Abah dan umi nya kembali ke Jakarta setelah nanti acara di Bandung selesai dan mas Iddah Fatma habis. Baru dia akan segera meresmikan hubungannya dengan Fatma.
"Yu?" ajak Arya yang langsung disambut anggukan oleh Fatma.
"Bu, Ayah, kami pergi dulu. Gak lama kok, aku akan segera mengantarnya pulang.
"Iya, hati-hati. Jangan ngebut." Balas Bu Wati dengan lirih.
"Titip Fatma ya, Nak Arya?" ucap pak Wijaya sambil tersenyum ramah.
Lalu mereka langsung berjalan beriringan menuju motor Arya yang sedari pagi terparkir di garasi, untuk pelindung kepala Fatma, ia meminjam helm milik pak Harlan.
Kemudian keduanya menaiki motor yang sebelumnya mengenakan helmnya masing-masing terlebih dahulu.
"Nggak apa-apa kan naik motor?" selidik Arya sebelum melajukan motornya menoleh ke samping.
"Emang kenapa sih? kebiasaan suka nanya gitu, bikin bad mood aja."
"Iya-iya, iya Ibu Negara iya, aku gak nanya itu lagi. Senyum dong?" dengan masih menoleh ke samping.
"Ah ... senyumnya gak ikhlas nih," goda Arya.
"Iih ... mau pergi gak? kalua nggak! aku mau turun lagi."
"Ha ha ha ... iya-iya ..." dren-dren, dren ... lalu melaju merayap keluar dari pekarangan rumah mewah tersebut.
Lantas melaju dengan sangat cepat menuju restoran cepat saji, tak ada yang mengeluarkan suaranya, mereka memilih sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Selang beberapa puluh menit tibalah di sebuah restoran sepat saji. Keduanya memilih tempat yang strategis yang menyambungkan dengan pemandangan malam yang Iddah dari lampu-lampu malam menghiasi kota.
"Mau pesen apa?" tanya Arya sambil melihat buku menu.
"Steik daging, dan ... jus buah." Pesanan Fatma.
"Ya sudah sama aja, menunya," pinta Arya pada pelayan.
"Dissert nya? makanan penutupnya." Tanya pelayan tersebut.
__ADS_1
Arya melempar pandangan pada Fatma yang juga menoleh ke arahnya.
"Makanan manis aja, sama buah." Fatma mengangguk.
"Baik, di tunggu sebentar ya Nyonya dan Tuan. sebentar akan datang makanan pembuka." Pelayan mengangguk ramah lalu membalikan badan menjauhi tamunya.
"Em, seandainya ... kita dah nikah nanti, jangan minta kendaraan roda empat dulu ya? takut gak mampu beli he he he ..."
"Ngapain membeli mobil? di rumah juga ada beberapa unit gak ke pake semua. Lagian kalau kamu butuh, pake aja yang ada," ucap Fatma sambil mengangguk pada pelayan yang menyuguhkan makanan pembuka.
"Aku pribadi sih, motor saja dah cukup kok. Nggak ... aku khawatir aja setelah menikah kamu minta mobil baru yang belum tentu bisa aku penuhi." Arya menghela napas dalam-dalam.
"Siapa juga yang mau seperti itu," balas seraya menyedot minumannya.
"Oya, satu lagi. Mau mahar apa buat nanti?" pertanyaan Arya bikin Fatma bengong.
"Harus secepat ini kah?" batin Fatma sembari menatap manik matanya Arya.
"Kenapa, masih ragu juga hem?" tanya Arya yang meneguk minumnya.
"Ah, nggak. Apa ya?" menggerakkan matanya ke sekeliling tempat.
"Kok balik nanya sih? gak lucu ah," ungkap Arya lagi.
"Habis bingung. Em ... terserah kamu aja ah, aku gak mau memberatkan kamu. Jadi terserah kamu saja." Fatma tersipu malu.
"Terserah? justru aku yang bingung kalau kamu Ibu Negara bilang terserah. Aku gak tahu dan belum pengalaman," akunya Arya seraya menggeleng.
Fatma menggigit bibir bawahnya. Ia benar-benar bingung mau Minta apa? otaknya bleng untuk itu.
Makanan yang di pesan pun datang, dan mereka berdua segera menyantap hidangan makan malam yang tertata di meja dengan lahap. Sesekali keduanya saling lempar pandangan dan senyuman.
"Ya ampun ... kok berantakan sih makannya?" gumam Arya sambil mengambil tisu lalu ia pakai untuk mengelap sudut bibir Fatma yang ada saosnya.
Fatma terdiam sejenak. Menerima perlakuan yang seromantis ini dari Arya. Lalu mengambil tisu itu. "Makasih."
Di tengah kebahagiaan Arya dan Fatma yang begitu nampak dari wajah keduanya yang sumringah, dan berseri.
Ada sepasang mata yang memperhatikan dengan perasaan yang tak biasa, rasanya panas bagai terbakar. Kenapa harus bertemu di sini apalagi harus menyaksikan kemesraan keduanya.
Walau tanpa sentuhan yang tertangkap oleh mata. Namun bahasa tubuh dan tatapan mata sungguh nampak jelas kemesraan di antaranya ....
__ADS_1
****
Assalamu'alaikum reader ku semua? semoga kabar baik ya🙏