Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Uang nafkah


__ADS_3

"Boleh sayang, jadi aku pulangnya ke apartemen ya. Oya mana nomor rekening mu?" Arya menatap sang istri dan menggerakkan tangan menyentuh pipi bawahnya.


"Buat apa?" Fatma balik bertanya, lalu meneguk minumnya. "Lagian nomor rekening yang dulu juga masih aktif kok."


"Ooh, oke! aku transfer buat bulanan." Arya merogoh sakunya mengambil ponsel membuka m banking, mengirim sejumlah uang ke nomor rekening Fatma.


Netra mata Fatma ikut menatap layar ponsel Arya yang sedang melangsungkan transfer uang sebesar delapan juta.


"Maaf ya? aku gak bisa ngasih yang lebih besar dari ini," ucap Arya sembari menyimpan kembali ponsel ke sakunya.


Hening!


Fatma sejenak terdiam memandangi ke arah Arya, hatinya merasa haru, sedih bercampur bahagia mendapat transferan. Ini pertama kalinya ia mendapat nafkah dari suami.


Dulu, Aldian tak pernah memberikan uang sekalipun buat belanja. Kecuali makan bersama di luar, baru dibayarin. Kalau sengaja memberi nafkah itu gak pernah. Bukan masalah besar dan kecilnya yang jadi permasalahannya, namun bentuk tanggung jawabnya.


Padahal Aldian punya gaji yang lumayan lah buat kehidupan sehari-hari. Namun entah kenapa dia tak pernah memberikan haknya Fatma sebagai seorang istri.


"Kenapa menatapku seperti itu? bari lihat kah suami mu yang hansem ini? ha ha ha." Arya tergelak sendiri.


Fatma senyum tipis lalu memeluk Arya dari arah samping. "Terima kasih?" menyusupkan kepala nya di bawah leher Arya.


Tangan Arya bergerak membalas pelukan sang istri. "Terima kasih buat apa?"


"Terima kasih sudah memberiku uang belanja." Fatma mendongak.


"Ooh, itukan sudah kewajiban ku. Cuma maaf saja kalau yang aku berikan kurang dan tidak seberapa?" ucap Arya sembari mengusap punggung Fatma.


"Segitu juga aku sudah bersyukur dan bahagia kok!" Fatma semakin merekatkan pelukannya pada tubuh Arya.


"Untung, di sini cuma berdua saja. Tapi coba lihat, mereka memperhatikan kita seperti monyet sedang bercinta. Ha ha ha ..."


"Iih ... tega ya menyamakan aku dengan hewan! awas ya? aku gak mau dekat-sekat lagi." Ancam fatma sembari mesem-mesem sendiri.


"Jangan dong ... kita ini baru satu malam bersama, masaau berjauhan. Habis mereka melihat ke arah kita terus. Mungkin kita di anggap topeng monyet." Tambah Arya kembali.


"Kamu, bukan aku!" lanjut Fatma sembari merapikan bajunya.


"Habiskan dulu makannya? aku mau salat dulu." Cuph. Kecupan hangat mendarat di kening sang istri.


"Hem," Fatma menyuapkan suapan yang terakhir ke mulutnya.

__ADS_1


"Aku mau bayar dulu semuanya!" Arya beranjak dari duduknya.


Fatma yang meneguk minumnya melihat ke arah Arya. "Aku aja yang bayar semuanya."


Arya membalikan badan menatap ke arah Fatma yang meraih tasnya. "Aku aja yang bayar, kecuali kalau mendesak." Dengan nada dingin.


Fatma menghela napas panjang. Menatap ke arah Arya yang membawa langkah nya.


"Sayang. Sekalian bayarin makannya, aku gak bawa uang kes," kadang ada aja alasan dari Aldian.


Yang bikin Fatma mengusap dada. Berusaha sabar untuk menerima kenyataan dengan harapan semoga suatu hari dia berubah. Namun pada kenyataannya Aldian malah menggila dan main perempuan yang notabine nya wanita malam dan memerlukan bayaran yang besar pula.


Fatma cuma bisa menangis dalam hati. Protes juga sering namun tidak di anggap. Apalagi kalau ada maunya Fatma suka dianiaya terlebih dahulu, setelah itu barulah meluapkan hasratnya sebagai suami terhadap istrinya.


Pedih dan sakit bila mengingat masa-masa itu. Jarang pulang itu wajah toh punya istri selain Fatma, kadang pulang dengan keadaan mabuk. Minta di layani oleh Fatmala, intinya Fatma layaknya teman ranjang di kala kesepian saja. Ketika dia jenuh dari wanita lain dan melampiaskannya pada Fatma sebagai istrinya.


"hi? sayang? kok melamun?" suara Arya yang kembali lagi menghampiri Fatma yang bengong. Tatapannya kosong jauh ke depan.


Suara itu membuyarkan lamunan Fatmala yang anteng. "Ha?"


"Sayang kenapa melamun? ayo jalan?" ulang Arya menangkap tangan Fatma dan menuntunnya berjalan.


Selesai membayar Arya mencari mushola terdekat bersama umi, Bu Wati dan Mia, Dewi lagi libur hari ini.


Dewi menunggu saja sambil.menikmati indahnya suasana sekitar, bersama Fatma dan Rania berjalan-jalan.


Sebuah senyuman tersirat dari bibir Mia, senang melihat Arya tidak nempel dengan istrinya. Fatma.


"Tuan, mari? kita ke mushola bareng-bareng." Mia mengulas senyumnya pada Arya.


Arya yang berjalan pun membalas dengan senyuman sewajarnya saja. Berjalan di antara Bu Wati dan umi. Kedua wanita itu terlihat begitu akrab dan terus mengobrol.


Langkahnya yang tampak begitu penuh wibawa dan membuat terpesona bagi yang melihatnya. Memakai ti-ser berwarna abu, topi coklat dan kaca mata hitam yang menyembunyikan wajah tampannya.


Mia terus mencuri pandang sosok pria itu sampai masuk ke dalam mesjid.


Selepas salat, Arya memakai sepatu kembali di teras masjid. Bu Wati dan umi sudah duluan jalan ke depan. Ketika berdiri dan hendak berjalan tiba-tiba ada yang menubruk punggungnya.


"Ma-maaf."


Arya kaget dan sontak membalikan badan. Rupanya yang menubruk punggungnya itu adalah Mia yang berdiri sedikit oleng dan memegangi keningnya. Tangan yang lain mencari pegangan.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" selidik Arya dengan nada heran melihat Mia seperti itu. Dengan refleks tangan Arya menangkap tangan Mia yang mencari pegangan tersebut.


"Sa-saya, kepala saya pusing. Tu-tuan. Tolong sa-saya." Suara Mia terbata-bata.


Arya salah tingkah, bingung harus bagaimana. Lalu Arya memapah Mia untuk berjalan, menjauh dari area masjid.


Mia berjalan sambil merangkul pinggang Arya, di bibirnya terbesit senyuman penuh kemenangan. Beberapa kali Mia mendesis. "Aduh ...."


"Balik ke mobil saja ya?" ucap Arya sambil terus memapah Mia.


"I-iya Tuan. Ke mobil saja," sahut Mia mengangguk dan sesekali mendesis.


"Apa sudah biasa seperti ini?" selidik Arya ingin tahu yang sebenarnya.


"Iya, Tu-tuan. Sekarang aku sering pusing." Jawabnya Mia.


"Ke dokter belum?" tanya Arya lagi.


"Be-belum, saya takut jarum suntik." Lirih nya Mia.


"Kamu harus periksakan diri. Takutnya nanti lebih parah," ucap Arya begitu perhatian.


Membuat hati Mia semakin meleleh dibuatnya. Dengan perhatian Arya yang begitu perhatian.


"Iya, nanti saya paksakan untuk berobat, Tuan.'' Mia mengangguk.


"Mbak Mia kenapa?" tanya pak Harlan dari belakang mereka.


Langkah Arya terhenti dan menoleh ke arah sumber suara.


"Pak, tolong Antarkan Mia ke dalam mobil? bila perlu bawa dulu berobat," ungkap Arya dan menyerahkan Mia ke pak Harlan.


"Ta-tapi Tu-Tuan." Mia ingin protes dan meminta Arya tuk terus memapahnya. Namun itu tidak mungkin juga.


Kini Mia sudah digandeng pak Harlan. "Mbak kenapa?" ulang Pah Harlan.


Wajah Mia sedikit di tekuk. Dan Arya menjauh dari Mia yang lagi-lagi mendesis ....


****


Jangan lupa like komen dan vote nya ya🙏 dan semoga kabar kalian saat ini dalam lindungan yang maha pencipta.

__ADS_1


__ADS_2