Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Tidak aktif


__ADS_3

"Papa, baksonya yang kecil-kecil. Rania gak suka yang besar." Protes Rania.


Kedua netra mata Arya melirik ke arah Fatma yang langsung memberi tanggapan dengan anggukan.


"Baiklah ... yang besar buat Papa, dan yang kecil-kecil buat Rania tukeran ya?" Arya menukar baksonya.


"Mie, nya Rania suka." Rania menunjuk mie, bihunnya.


"Oke, papa cuma tuker bakso besarnya aja." Arya langsung melahap baksonya.


Sultan dan Sofi yang ada di tempat yang sama namun duduk agak jauh dari Arya dan Fatma.


"Ehem, apa maksudnya kamu bilang seperti itu sama Rania, Sofi?" tanya Sultan di sela-sela makannya.


"Maksud kamu apa Tan?" Sofi kebingungan.


"Itu, bilang ... kalau Arya mencari mama baru?"


"Ooh ... hi hi hi ... aku bercanda! kenapa sih serius amat?" Sofi cekikikan.


"Anak-anak itu memorinya bagus. Tadi aku kebingungan jawabnya." Lanjut Sultan.


"Anak kecil di dengerin ah," ucap Sofi dengan santainya. Matanya menatap tanpa eskpresi, entah apa yang ada dalam pikiran Sofi saat ini.


"Sesungguhnya. Ada yang ingin aku katakan sama kamu. Sudah sejak lama--" Sultan menggantungkan kalimatnya.


Sofi mengernyitkan keningnya. "Apa itu? jangan bikin aku penasaran deh."


Sultan menggaruk tengkuk nya rasanya bibir ini kelu, berat untuk mengutarakan. Melihat ke arah Arya dan Fatma yang tampak happy sekali.


"Eeh, malah bengong?" tanya Sofi lagi-lagi menautkan keningnya.


"Em ... mau gak? jadi pacar ku,"


Degh!


"Kamu?" Sofi menatap lekat ke arah Sultan.


"Aku, serius. Aku suka sama kamu dari lama," ucap Sultan meyakinkan.


Sejenak Sofi terdiam sambil mengunci tatapannya tertuju pada Sultan, pria ganteng itu tampak sangat serius dengan perkataannya.


"Eh ... aku cuma ingin mendengar kata ya atau tidak. Kita akan jalani hubungan ini bersama kita bisa memupuk cinta supaya tumbuh bermekaran dan bersemi." Sultan terus mengetuk pintu hati Sofi yang setau dia kalau Sofi ini suka sama Arya.


"Aku ... bagaimana ya?" Sofi menjadi bingung.


Sultan menatap penuh harap. "Kau masih ragu sama aku?"


"Bu-bukan ragu, tapi ... boleh aku katakan sesuatu?"


"Boleh," Sultan mengangguk.


"Aku--" Sofi menggantung perkataannya dan menatap lekat.


Membuat hati Sultan berdebar penasaran. Harap-harap cemas akan jawaban dari Sofi.


"Menurut kamu, aku akan terima atau ... gimana?" tanya Sofi.


Sultan terdiam sembari menatap lekat pada Sofi yang sedang makan bakso.


"Aku sih percaya kalau kamu akan terima." Dengan sangat percaya diri.


Sofi mengulas senyum termanisnya. "Aku mau kok."


"Bener? mau menjadi pacar ku?" selidik Sultan yang ingin meyakinkan hatinya.


"Bener dong ... masa bohong," balas Sofi meyakinkan.


"Yes, Huuh ... akhirnya aku punya pacar," Sultan sangat bahagia dan bersorak.


"Terima kasih?" cuph! tangan Sofi diciumnya dengan refleks.

__ADS_1


Sofi tersipu malu. Tak mengira kalau akan pacaran dengan Sultan yang ia anggap Hanya sebagai teman. Sementara orang yang ia incar itu adalah Arya sejak lama namun Arya hanya menganggap dirinya sahabat.


Arya dan Fatma selesai makan baksonya tinggal menunggu Rania yang masih belum habis.


"Ayo sayang, habiskan dulu baksonya." Titah Arya pada Rania.


Kemudian mengalihkan pandangan nya ke arah Fatma yang meneguk minumnya. Tangan Arya meraih tisu lantas melap bibir Fatma yang ada tetesan saosnya.


"Makannya belepotan?" Arya menautkan alisnya.


Fatma tersenyum simpul dan mengambil tisu tersebut dari tangan Arya. "Terima kasih?"


"Sama-sama sayang," balasnya dengan menunjukan senyumnya.


Rania menoleh ke arah Fatma dan Arya bergantian, keduanya saling melempar senyuman. Rania sangat bahagia melihatnya.


"Sudah, kenyang." Suara Rania sambil mengelap mulutnya dengan tisu.


"Oke. Kita pulang sekarang, biar cepat bobo dan besok pagi-pagi kan harus siap-siap untuk acara pernikahan aunty Dewi." Ajak Arya sambil berdiri.


Fatma pun beranjak dari duduknya dan lantas menuntun Rania. Arya mengikuti langkah mereka setelah sebelumnya membayar yang sudah mereka makan.


Mendekati motor Arya yang terparkir cantik di tepi tempatnya, kemudian Arya bersiap melajukan sepeda tersebut dengan sebelumnya mengenakan helm.


"Mau kemana bro?" tanya Sultan.


"Pulang lah, masa mau di sini terus? istirahat! persiapan besok." Balas Arya sedikit menoleh.


"Nanti aku nyusul." Pekik Sultan.


"Yoi!" Arya melajukan roda dua nya. Meninggalkan tempat tersebut dan Sultan juga Sofi yang sesekali menatap kepergian Arya dan Fatma.


Rania di depan dan Fatma duduk di belakang. di sepanjang perjalanan, seperti biasa! Rania ngoceh apapun di tanyakan atau bernyanyi seinget dia. Menjadikan suasana tambah riuh. Mengiringi sayup-sayup suara mesin.


Tidak lama di jalan. Mereka tiba di halaman rumah Arya, ketiganya turun seiring tertutup nya mulut Rania yang di tuntun Fatma.


"Cepat bobo ya sayang. Besok shubuh-shubuh harus bangun. Oke?" kata Arya dari belakang Fatma.


"Aku juga mau tidur duluan ya?" Fatma melirik ke arah Arya yang membuka topi nya.


"Tolong simpan di kamar!" tangan Arya menyodorkan topi kesayangannya pada Fatma.


"Ini, topi dari ku?" gumam Fatma, berdiri dan menatap topi yang sudah berada di tangannya.


"Iya," sahut Arya.


Fatma mesem-mesem mengingat topi ini. Kemudian mereka melanjutkan langkahnya menuju pintu utama yang terbuka, sementara di dalam terlihat tegang.


Terutama wajah si calon mempelai. Yaitu Dewi tampak gelisah, was-was dan cemas, melihat ke arah Arya yang melintasi pintu sembari mengucapkan salam.


"Assalamu'alaikum ... ada apa ini? monyong semua dan tampak gelisah." Tanya Arya dan langsung bergabung di antar keluarga nya, begitupun Bu Wati dan suami pun ada di sana.


Fatma mau ikut duduk namun Rania merengek ingin segera bobo ditemani sang bunda sehingga gegas Fatma membawa Rania ke kamar. Dengan hati penasaran ada apa nih?


Abah menghela napas panjang dan melirik ke arah Dewi yang menunduk sedih.


Sorot mata Arya mengarah pada Dewi. "Ada apa Dewi? cerita ke Aa."


"Ini, A. Ari gak bisa dihubungi," lirihnya dengan nada sedih.


"Mungkin ponselnya sedang di carger. Kenapa harus se'cemas ini? nanti juga hidup kembali ponselnya." Arya dengan nada santai.


"Tapi, dari sore ga dapat dihubungi, A. Aku hubungi keluarganya juga gak di angkat, gimana aku gak khawatir coba? tinggal beberapa jam lagi lho, Aa ..." ungkap Dewi terlihat sedih.


"Sabar, sabar aja. Semoga semua akan baik-baik saja. Tak ada halangan apapun." Tutur lembut nya Arya Sambil merangkul bahu sang adik, di peluknya dan mengusap bahunya.


"Aku takut, Aa ...."


"Settt ... jangan berpikiran yang macam-macam, berpikir positif saja semoga Allah menjaga kita semua. Sudah ah jangan galau begini!" sambung Arya. Mengusap kepala sang adik dengan penuh kasih.


"Tapi, A?"

__ADS_1


"Sudah. Sekarang tidurlah. persiapkan diri untuk besok." Titah Arya.


Hening!


Semua memilih terdiam dan sibuk dengan pemikirannya masing-masing.


Begitupun Arya, sesungguhnya dalam hati bertanya-tanya. Kenapa Ari, calon suami Dewi gak bisa di hubungi? apa sebabnya gerangan. Sengaja ataukah ... "Ah, tidak boleh suudzon juga." Arya sedikit menggelengkan kepalanya.


Fatma datang dan melihat Arya memeluk bahu sang adik. Dia berdiri terdiam tidak jauh dari Arya duduk.


Umi yang tidak jauh dari Fatma berdiri meraih tangannya. "Duduk, Neng Fatma?"


Fatma mengangguk, lantas duduk disamping umi dengan mata terus melihat ke arah Arya yang masih memeluk bahu Dewi yang tampak sedih.


Kemudian Fatma memberanikan diri untuk bertanya. "Ada apa Umi? kok Dewi tampak sedih?" suara Fatma pelan.


"Itu, calon suaminya tidak bisa di hubungi," lirihnya Umi.


Fatma terdiam dan merasakan kecemasan yang kini Dewi rasakan. Pasti cemas, galau dan gelisah itu pasti.


"Sudah salat belum? kalau belum, salat dulu dan berdoa. Kemudian tidurlah, biar besok tidak kesiangan. Mana nomor Ari nya? biar Aa yang menghubungi nya. Kamu tenang saja," ujar Arya lagi-lagi mengusap bahu Dewi yang menanggapi dengan anggukan.


Lantas Dewi memberikan sebuah nomor seseorang pada Arya, dan Arya langsung mencoba hubungi namun nihil, nomor yang dituju sedang tidak aktif.


Dewi beranjak ditemani uminya ke kamar, namun sebelumnya umi berpamitan dulu pada Fatma.


"Umi, tinggal dulu ya?" tutur umi Santi pada Fatma yang langsung merespon dengan mengangguk.


Umi dan Dewi berjalan menuju kamar yang akan menjadi kamar pengantin esok hari. Dewi yang berjalan dengan gelisah. bagaimanapun hatinya khawatir takut terjadi sesuatu atau gimana lah yang tidak ia inginkan.


"Sudah, jangan terlalu di pikirin, Dewi. Tenang saja dulu dan semoga besok acaranya lancar tidak ada halangan apa pun," ujar umi Santi.


"Jujur, aku takut Umi." Dewi menangis dan memeluk sang bunda.


Umi Santi membalas pelukan Dewi dan ikut terharu. Sedih dengan kekhawatiran sang putri.


"Rania sudah tidur, sayang?" tanya Bu Wati pada Fatma yang terlihat bengong.


Fatma menoleh pada sang bunda. "Ha? iya, Bu sudah."


"Capek kali, sudah tidur jam segini." Kata Bu Wati kembali.


"Iya, Bu. kekenyangan juga katanya," timpal Fatma.


Arya lagi dan lagi menghubungi calon suami Dewi yang masih saja tidak aktif. Membuat Arya berputus asa dan akhirnya berhenti dengan harapan semua akan baik-baik saja.


"Gimana, A?" Abah menatap lekat ke arah Arya.


Respon Arya cuma menggeleng lemas. Kemudian beranjak mau menunaikan salat isya terlebih dahulu.


Fatma masih di sana dengan keluarga yang lain mengobrol dan ini itu, sampai uma Santi muncul kembali di tempat tersebut. Duduk di dekat sang suami.


"Dewi ketakutan kalau besok itu--" umi menggantung perkataannya.


"Kita berdoa saja agar semua lancar." Kata Abah yang terus berpikir positif tingking.


"Aamiin ya Allah," sahut semua yang ada di sana.


"Iya, bener. Kita berdoa saja semoga acara ini tak ada halangan." Timpal pak Wijaya.


"Mereka berdua baik-baik saja, kan? tidak ada masalah apapun?" selidik Abah pada sang istri.


"Tidak, Abah ... Umi sudah tanya pada Dewi. Katanya mereka baik-baik saja," sahut umi Santi.


"Syukurlah kalau begitu." Abah mengangguk pelan.


"Assalamu'alikum? ada apa nih? serius amat." Sultan yang baru datang langsung penasaran melihat wajah-wajah yang tampak gusar ....


****


Mana nih dukungan untuk ku? agar aku tambah semangat nih🙏

__ADS_1


__ADS_2