
Namun Fatma tak ingin larut dalam kesedihan meski rasa perih, sakit berbaur menjadi satu. Ia mengusap kasar pipinya yang basah, tumpah ruah dengan air mata dan dari sudut bibir pun keluar darah yang sudah mulai mengering. "Eh ... sakit!" rintihnya. Tapi Fatma masih betah dalam posisinya yang sama.
Suara langkah kaki kecil yang begitu cepat tertuju ke tempat dimana Fatma berada. Fatma mendongak menunggu munculnya bidadari kecilnya.
Blak!
"Mama, Rania bawakan obatnya." anak itu langsung mengoleskan salep ke pipi Fatma bergantian kanan dan kiri.
"Au!" desis Fatma ketika salep Rania oleskan ke kedua pipinya.
"Tahan ya Mam ... biar cepat sembuh." Kata anak itu lagi.
"Makasih sayang." Fatma tersenyum getir sambil mengusap pucuk kepala gadis kecil tersebut.
"Sama-sama Mama, mana lagi luka nya? sini Rania obati lagi," tanya Rania setelah mengobati pipinya selesai.
"Em, sini Mama saja." Fatma mengambil dan memberikan salep ke jarinya. Ia mau obati sendiri luka gigitan Aldian di beberapa bagian dadanya. Di leher pun tak luput dari perilaku garang nya Aldian.
"Sini Mam, Rania yang obati!" Rania geregetan pengen membantu sang bunda.
"Nggak sayang, biar Mama sendiri saja. Malu kan?" Fatma kekeh mau mengobati sendiri.
"Papa jahat ya sama Mama!" ucap Rania secara tiba-tiba.
Fatma menoleh pada Rania dan ditatapnya lekat. "Kenapa bilang gitu sayang ... hem?"
"Buktinya, Mama dibikin sakit terus dan terluka. Rania gak suka Mama di sakiti terus." Celoteh anak itu bikin hati Fatma tergores lagi. Air mata yang mengering perlahan kembali berembun.
"Sayang, Rania sayang sama Mama?" tanya Fatma pelan nyaris tak terdengar saliva nya seakan terhenti di tenggorokan. Ia memeluk Rania sangat erat.
__ADS_1
"Sayang Mam. Rania sa ... yang Mama. Rania gak suka sama papa yang suka dekat-dekat dengan perempuan lain."
Fatma hanya terdiam mendengar perkataan Rania tentang Aldian dekat dengan wanita lain. "Emang Rania tau dari mana sayang?" pada akhirnya Fatma bertanya tanpa melepaskan pelukan.
"Rania sering lihat papa bawa aunty cantik ke kamar dan waktu mengantar Rania dari taman juga papa ketemu aunty cantik lain lagi. Kok teman wanita papa banyak ya Mam?"
"Em ... Mama nggak tahu sayang." Jawab Fatma seraya menggeleng.
...****...
Arya baru saja mau memejamkan matanya. Namun terganggu dengan telepon yang mengaku Rania, tidak lama kemudian Arya menutup telepon dari anak kecil tersebut yang memakai kontak Fatma. Dengan hati bingung, Arya bertanya-tanya. "Apa benar, tapi sakit apa? gak mungkin aku kembali ke sana gak enak dengan yang lain. Suaminya, apa mungkin bermasalah dengan suaminya? ah aku gak ada hak tuk ikut campur," monolog Arya sambil duduk melamun.
Berdiri, jalan mondar-mandir dengan tangan di dada. "Aku khawatir. Tapi siapa aku? malam-malam ke sana. Argh ..." tangan Arya mengacak rambutnya tampak frustasi lalu kembali mendudukkan tubuhnya di tempat semula.
Arya terlihat gelisah dan khawatir kalau Fatma ke napa-napa. Tapi pergi pun tidak memungkinkan, sebab sudah malam! apa kata orang-orang nanti?
Akhirnya Arya memutuskan untuk menelpon balik siapa tahu di angkat. Setelah beberapa kali panggilan telepon pada akhirnya di angkat juga namun yang angkat Rania bukan mamanya.
^^^Arya: "Halo juga sayang, tadi. Maksud Rania apa? katanya tadi Mama sakit, sakit apa jangan bikin Om cemas sayang!"^^^
^^^Rania: "Em ... mama. Mama pipinya merah-merah Om luka. Sudut bibirnya juga berdarah."^^^
^^^Arya: "Apa? berdarah?"^^^
Sungguh membuat Arya terkejut dan membuat jiwanya memanas. Marah, kecewa dan dendam. pasti itu ulah Aldian suaminya, si pria gigolo wanita. Rahang Arya mengerat dan tangannya mengepal kuat. Sungguh ia tidak rela bila ada yang menyakiti Fatma, walau suaminya sekalipun.
^^^Rania: "Om, Om?"^^^
Panggil Rania yang merasa Arya menghilang karena suaranya pun tak ada.
__ADS_1
^^^Arya: "I-iya. Mana mamanya Rania? om mau bicara sebentar ... saja."^^^
^^^Fatma: "Halo, ada apa? maaf Rania sudah bikin kamu repot?"^^^
^^^Arya: "Nggak-nggak. Kak Fatma kenapa? bilang sama aku Kak?"^^^
Suara Arya bergetar dan terdengar begitu khawatir membuat Fatma tertegun.
^^^Fatma: "A-aku tidak ke napa-napa kok, aku baik-baik saja."^^^
^^^Arya: "Yakin? tapi Rania bilang tadi ...."^^^
^^^Fatma: "Maaf, sudah dulu ya. sudah malam. Mau istirahat."^^^
^^^Arya: "Oh, ya sudah. Maaf juga sudah mengganggu."^^^
Tut ....
Tut ....
Tut ....
Telepon terputus begitu saja. Hati Arya yakin seyakin-yakinnya. Kalau Rania tidak mungkin berbohong padanya dan suara Fatma juga secara tidak langsung menunjukan dia tidak baik-baik saja.
Arya menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur ukuran king size itu.
Pikirannya melayang dan pandangan juga menerawang jauh ke langit-langit yang tampak tenang. Bibirnya bergumam. "Fatma."
Seiring waktu yang berlalu. Malam yang semakin larut membawa Arya ke sebuah alam mimpi ....
__ADS_1
****
Apa kabar malam ini Reader ku semua semoga kabar kalian semua senantiasa ada dalam lindungan yang maha kuasa. Jangan lupa like, komennya dan Juga vote, semangati aku untuk terus berkarya.