Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Papa jahat


__ADS_3

"Ya sudah. Bagaimana kalau kita jalan sekarang yu?" ajak Arya sambil berdiri.


"Ayok?" Rania menyambut senang ajakan Arya untuk jalan.


"Yu, Mam?" Arya menggerakkan kepalanya pada Fatma sebuah anggukan.


"Ayo?" Fatma pun beranjak, meraih tas nya dan ponsel yang tergeletak di atas nakas. "Nanti Mama langsung berangkat ya? gak pulang dulu sini."


"Emang Mama mau ke mana sih? masa Rania di tinggalin?" Rania menatap datar.


"Mama ada urusan kerja sayang, nanti malam." Fatma bergerak maju membawa langkahnya itu.


"Yu sayang?" Arya mengulurkan tangan pada Rania yang langsung d! sambut.


"Nggak pa-pa, mungkin kami nungguin nanti. Biar pulang sama-sama." Kata Arya yang di tujukan pada sang istri.


Bibir Fatma tertarik ke samping membentuk sebuah senyuman. "Makasih sayang?"


"Sama-sama cintaku." Balas Arya tidak lupa tersenyum pula.


"Rania gak pernah Papa panggil cintaku?" gerutu Rania sambil jalan.


Arya dan Fatma saling bertukar pandangan di sela-sela berjalannya sambil tertawa tipis.


"Ooh, Rania pengen di panggil cintaku? boleh! Rania cintaku nya Papa, tolong ambilkan kaca mata hitam Papa di atas nakas?" kebetulan Arya lupa membawa kaca mata yang ia simpan di tas nakas kamar.


"Baiklah. Papa ... Rania ambilkan sebentar ya? tungguin, jangan ditinggalkan ya?" Rania ketakutan di tinggal mama, papanya.


"Nggak sayang ... gak di tinggal. ambilkan dulu sana?" Fatma tersenyum sambil menggeleng.


"Oke." Rania berjalan, pas di pintu berbalik ke arah mamanya. "Tungguin?"


"Astagfirullah ... sayang ku cintaku! Papa tungguin." Seru Arya mendekati sang istri.


Lalu Rania masuk. Hilang di balik pintu, Arya menoleh ke arah Fatma lalu menarik tangan Fatma di ajaknya pergi bersembunyi ke salah satu tempat yang tidak dapat Rania lihat.


"Mau ke mana sih?" tanya Fatma sambil mengikuti langkah Arya yang menarik tangannya.


"Kita sembunyi sebentar yang ..." Arya terus menarik tangan Fatma, berhenti di dekat pohon yang ada di juru dekat lift.


Tidak lama kemudian, Rania keluar dari kamar dan alangkah kagetnya dia ketika melihat mama dan papanya tidak ada di tempat semula.


"Papa? Mama?" pekik Rania memanggil Arya dan Fatma.


Mata Rania terus mencari dan memutar. Sementara yang ada hanya orang lain yang tengah berjalan hilir mudik.


"Hik-hik-hik, Mama ... Papa ... aku sendirian ... hik-hik-hik." Suara Rania menangis.


"Mama ... Rania sendian! Papa ... kalian jahat ..." pekik Rania lagi, dia menangis sehingga dihampiri orang ya berada di sana.


Arya dan Fatma yang melihat dari kejauhan. Akhirnya keluar dari persembunyiannya sambil tertawa dan memanggil nama Rania.

__ADS_1


"Rania, sayang ku. Cinta ku?" Arya melambaikan tangan berbarengan dengan Fatma.


"Rania ... ini Mama?" suara Fatma sedikit nada tinggi.


Rania menoleh. "Mama? Papa? kalian jahat!" ucap Rania sembari mengusap pipinya yang basah.


Berlari menyeruak ke arah Fatma dan Arya yang malah tersenyum melihat ke arah dirinya.


"Ha ha ha ... Rania takut ya? di tinggal sendirian. Papa dan Mama sembunyi di sana lho." tawa Arya bikin Rania kesal.


"Ngapain sih Papa dan Mama sembunyi-sembunyi segala? Rania takut tau ..." ucap Rania mendongak.


Fatma berjongkok. Mengusap mata dan pipi Rania yang basah itu. "Mama gak mungkin ninggalin Rania sendirian! kasian amat putrinya Mama ini."


Fatma memeluk dan mencium Rania dengan penuh kasih sayang. Arya pun berjongkok ikut memeluk anak itu.


"Maafin Papa sayang, Papa cuma bercanda kok--"


"Papa dan Mama jahat! Rania marah sama Kelian berdua," ucap Rania sambil menyilang kan tangan di dada, bibirnya mengerucut bikin gemes yang melihat.


"Ya sudah, kalau Rania marah. Papa juga mau marah ah, gak jadi jalannya, Papa mau balik lagi aja. Yu Mam?" Arya berbalik dan meraih tangan Fatma.


"Iih, Papa? kok Papa yang merajuk sih, Rania yang harusnya merajuk. Aneh deh! Rania yang marah, Rania yang harusnya merajuk ..." ucap Rania sambil meraih tangan Arya.


Arya tersenyum dan kembali berbalik. "Terus maunya gimana?" tanya Arya sambil menatap anak itu dengan gemas.


"Mau jalan, gak marah nggak. Rania gak marah nggak." Rania Rania menggeleng sambil menggoyangkan tangannya Arya.


"Hore ... kita jalan-jalan, 🎶 di hari terakhir kita jalan-jalan. Bersama mama, papa yang ku sayang, besok kita pulang tinggalkan si mama sendian!" nyanyian Rania dengan riang.


Arya tertawa merasa lucu dengan nyanyian Rania yang yang seingatnya.


"Ah ... Mama mau ditinggalin. Sedih." Fatma berlaga sedih.


Rania menoleh pada Arya yang berada di kiri dan Fatma yang berada kanan. Dan kembali bernyanyi.


🎶"Di hari terakhir kita jalan-jalan. Bersama mama, papa yang ku sayang, besok kita pulang tinggalkan si mama sendian!"


Fatma dan Arya tersenyum mendengarnya. Lalu mengangguk hormat pada orang yang bertemu mereka di lift.


Mereka memasuki mobil taksi yang Fatma pesan, kebetulan supir tersebut Paseh bahasa indo.


"Mau kemana Tuan. Nyonya?" tanya sang supir.


"Jalan-jalan pak. Mengelilingi kota Berlin," jawab Rania pada sang supir.


Sang supir mengangguk. lantas melajukan taksi dengan kecepatan yang sedang-sedang saja.


Arya melirik ke arah Fatma yang juga melirik dirinya. Memberi kode dengan sikap anak itu yang tampak riang dan tanpa beban. Padahal besok pagi-pagi sekali mau terbang kembali ke indo, berpisah dengan sang bunda.


Namun anak itu tampak santai dan bahagia. Seolah tidak akan ada perpisahan di antara mereka. Sudah beberapa puluh menit mobil itu keliling kota dan yang ada di dalam taksi tersebut sangat menikmati perjalanannya

__ADS_1


Namun ketika datang waktu Maghrib. Arya menghentikan taksi tersebut di depan sebuah masjid yang sangat kebetulan sekali melewati masjid tersebut.


"Kita berjamaah dulu yu!" Arya bersiap turun dan diikuti oleh Fatma dan Rania.


"Waah ... besar sekali masjidnya. Indah juga Rania baru deh ke sini, Mama sudah pernah balum?" anak terkagum-kagum memandangi masjid tersebut.


Fatma menggeleng. "Nggak, sama juga baru kali ini Mama ke sini."


"Papa, pernah ke sini?" tanya Rania menolah ke arah sang papa.


"Em ... Papa sih sering ke sini sayang!" jawab Arya sambil mesem-mesem.


"Oya?" Fatma dan Rania berbarengan. Menatap ka arah Arya yang mesem-mesem itu.


"Iya, sering. Sering ke sini dalam mimpi!" jawabnya Arya sambil berjalan.


"Asli?" tanya Fatma ingin meyakinkan.


"Bohong!" sahut Arya kembali.


"Iih, Papa ... Rania kita beneran! rupanya bohong." Rania dan Fatma, menyusul langkah Arya.


Memasuki masjid tersebut dan setelah mengambil air wudu terlebih dahulu. Lantas mereka menunaikan salat berjamaah dengan yang lain.


Selepas berjamaah dan membaca doa. Rania mundur ke belakang bersandar ke tiang masjid, memandangi mama dan papanya yang masih berzikir.


Manik mata Rania mengitari isi masjid tersebut. Masjid yang lumayan megah, terus manik matanya sampai ke arah luar dan mendapati seorang anak laki-laki yang berada di dekat pagar. Sedang berdiri tampak lesu.


Rania tersentuh dan berdiri mendekati anak laki-laki tersebut. Membawa air mineral miliknya, tetapi Rania bingung harus bicara apa? toh berbeda bahasa.


Gadis kecil itu memberikan botol minumnya pada anak itu yang langsung mengambil lalu meneguknya. Anak itu terlihat kehausan dan kelaparan.


Rania merasa kasihan, dan ingin memberikan makanan namun ia tidak memegang makanan. Ada juga di mobil taksi yang berada di parkiran, agak jauh dari situ.


Gak mungkin Rania ke sana takut dan nanti papa mamanya kesulitan mencari.


Arya dan Fatma selepas membaca doa menoleh ka arah tempat Rania duduk dan mengikuti salatnya. Namun tempat tersebut kosong, Rania gak ada.


Fatma terkejut dan manik matanya mencari keberadaan Rania. "Astagfirullah. Sayang? kamu di mana?"


Fatma berdiri disusul oleh Arya yang ikut panik dengan hilangnya Rania dari tempat duduknya.


"Ya Allah ... Rania? kamu di mana?" pekik Arya dan Fatma bergantian.


"Rania, yang ... Rania gak ada! gimana nih? Rania ... kamu dimana sayang?" Fatma panik wajahnya tampak sangat cemas.


"Sabar sayang. Kita cari di sekitar sini. Aa yakin Rania gak akan. Kemana-mana kok! sabar ya?" Arya mencoba menenangkan sang istri, walau hatinya juga cemas, was-was dan khawatir takut Rania kenapa-napa.


Mereka berjalan keluar dengan pandangan intens ke sekitaran masjid. Orang-orang yang di dalam pun bertanya ada apa?


Arya menjelaskan kalau dia kehilangan anak kecil dengan ciri-ciri yang terbaru ....

__ADS_1


.


__ADS_2