
Seraya menjalankan motornya, Arya terus berpikir siapa wanita tersebut? namun pertanyaan itu tidak ungkapkan pada Rania yang tampak sedih.
"Sayang mau pulang atau mau main dulu hem?" tanya Arya ingin menghibur nak ini yang tampak murung.
"Main ke Playground yu, Pah?" sahut anak itu.
"Rania mau ke sana?" tanya Arya meyakinkan.
"Mau!" jawab Rania kembali.
"Oke, siapa takut. Papa akan mengajak putri cantik ini bermain, tapi jangan lama-lama ya? Papa harus menyiapkan diri buat tugas."
"Siap Papa ... terima kasih?"
"Sama-sama sayang ..." si kuda besi milik Arya meluncur ke taman bermain anak-anak.
Hanya sekedar untuk mengajaknya bermain dan menghiburnya yang di balut rasa sedih setelah kehadiran wanita tadi.
...--...
"Aduh ... Markonah ... aku minta baju! kenapa di kasih celana juga?" suara berat seorang pria yang hanya mengenakan handuk di pinggang tersebut.
"Eeh, Zaylangkung! emangnya kamu cuma mau pakai baju apa ha? masa mau pakai baju doang kan gak mungkin," sahut wanita muda yang memakai dress hitam.
"Iya juga ya? he he he sorry," ucap Zayn sambil nyengir.
"Kamu gila atau apa sih? disediakan sama istri juga. masih banyak protes." Gerutu Susi.
"Ia sorry sayang? aku buru-buru nih mau pertemuan sama sepupu ku yang sudah lama tidak bertemu. Fatma." Zayn buru-buru memakai pakaian formalnya.
"Sepupu atau mantan? atau kekasih mu yang sekarang?" tanya Susi sambil berdiri dan melipat tangan di dada.
Zayn sejenak menghentikan aktifitasnya, pada akhirnya berkata. "Kau cemburu? bagus lah jika kau cemburu."
"Aku cemburu? no, cemburu! tapi kan kamu suami ku, wajar dong bila aku bertanya," ucap Susi yang mulanya dengan nada tinggi menjadi rendah.
"Kau curiga padaku?" selidik Zayn sambil menaikan sebelah alisnya.
""Curiga? wajar saja aku curiga, kamu itu kan Playboy cap kapak," nada suara Susi kembali meninggi.
__ADS_1
"Gak usah dengan nada tinggi. saya tidak tuli. Dan saya ini dekat tidak jauh-jauh, teriak-teriak seperti itu." Pekik Zayn melirik ke arah Susi yang tampak kesal.
"Kamu sendiri yang suka aneh-aneh," balas Susi sambil memajukan bibirnya.
"Aneh-aneh apa?" Sudah, aku mau berangkat." Zayn menghampiri dan merengkuh tubuh Susi dan mencium singkat bibirnya.
Kemudian Zayn berlalu meninggalkan Susi yang terdiam lalu Zayn tarik tangannya. Agar mengikuti nya mengantar ke depan.
"Aku pergi dulu, jangan macam-macam di rumah--"
"Kamu gila ya? bilang aku jangan macam-macam, aku ini di rumah, aneh banget." Susi memotong perkataan Zayn.
"Iya-iya, iya ajalah. Daripada Markonah melempar kaca nantinya. He he he." Zayn mencium kening Susi. Lalu berjalan.
"Aku mau ke Mension," ucap Susi singkat dan padat.
Kepala Zayn menoleh. "Boleh, Markonah ... tapi sebelum aku pulang harus ada di rumah."
"Iya, paling malam pulang nya." Balas Susi mesem.
"Enak aja, gak usah pulang sekalian." Zayn melanjutkan langkahnya.
Zayn menggeleng kemudian masuk ke dalam mobilnya. Dan mengendari sendiri.
Kini Zayn keluar dari bawah naungan Malik Ibrahim sebagai Bos nya dulu dan kini dia berbisnis sendri serta mampu bersaing dengan yang lain. Namun tetap ada campur tangan Ibra dan intinya mereka berdua masih saling melengkapi satu sama lain.
Zayn berhenti bekerja dengan Ibra bukan karena tidak di butuhkan lagi oleh Ibra, namun dia memutuskan berhenti kerena ingin mencoba berbisnis sendiri itupun tidak luput dari bantuan Malik Ibrahim juga. Sebagai orang yang pernah mempercayainya dulu.
Namun entah kenapa, Zayn merasa bosan dengan bisnisnya Sehingga kini dia memutuskan untuk menjadi asisten pribadi Fatmala.
Malik Ibrahim pun masih membuka lebar pintu untuk Zayn, namun ia ingin mencoba pengalaman lain.
Susi pun sesekali masih suka datang ke tempat Malik Ibrahim dan Laras untuk sekedar bermain dan bertemu khsatria putra dari Ibra dan Laras.
Susi sendiri sampai detik ini belum juga di kasih kepercayaan sama yang maha kuasa atau belum juga di kasih momongan, padahal pernikahan keduanya sudah lama dan tidak ada masalah apa pun dengan alat produksinya. Membuat hari-hari nya Susi sunyi dan kesepian kalau tidak ke Mension Ibra dan Laras, bermain bersama khsatria di sana.
Ternya Zayn ini merupakan sepupu'an dengan Fatmala. Namun mereka jarang bertemu. Dikarenakan kesibukan masing-masing.
Mobil terus melaju cepat hingga akhirnya tibalah di gedung dimana kantor Fatma berada.
__ADS_1
Brugh!
Suara pintu mobil Zayn, setelah turun dan berdiri di depan gedung tersebut. Dengan teratur Zayn berjalan masuk dengan wajah yang sumringah nan ramah pada siapapun yang bertemu dengannya.
Langsung ke tempat tujuannya yaitu ruangan direksi. Atau CEO yang bertanggung jawab terhadap perusahaan tersebut.
"Siang? maaf kalau saya terlambat datang," ucap Zayn setelah mengetuk pintu dan berdiri depan pintu.
Di sebuah kursi kebesarannya CEO duduk seorang wanita cantik dan lumayan muda penampilan menarik. Tersenyum terhadapnya.
Fatma berdiri dan berjalan menyambut kedatangan Zayn dengan ramah. "Apa kabar kamu? baru ingat sama sepupu mu ini ha?"
Keduanya berjabat tangan. Saling melempar senyuman yang sama-sama manis.
"Baik, baik sekali. Gimana sebaliknya." Tanya balik dari Zayn.
"Duduk!" Fatma menyilakan duduk di sofa bersamanya.
"Makasih." Zayn pun duduk sebelum melanjutkan obrolannya.
"Kabar aku baik, ngomong-ngomong apa sih yang membuat mu berhenti berwira usaha sendiri? padahal kau itu beruntung lho." Fatma menatap lekat sang sepupu.
"Iya sih, bisnis ku baik-baik saja. Namun entah kenapa aku merasa gimana ... gitu. Jadi aku putuskan biar orang lain saja lah yang mengelola. Aku biar dari awal saja menjadi asisten. Iya sih orang pasti bilang aku bodoh. Sudah punya usaha sendiri tapi malah memilih kembali jadi asisten," ujar Zayn.
"Iya, tapi aku bukan aku yang bilang lho. Kamu dulu bertahun-tahun jadi asistennya seorang Malik Ibrahim. Terus usaha sendiri, kini mau jadi asisten lagi, kan gila?"
"Usaha ku jua masih campur tangan Malik Ibrahim. Dan aku ingin ngerasain menjadi asisten sepupu ku sendiri. Boleh dong? kalau aku mau ... aku bisa menjadi asisten nya Malik Ibrahim kembali dengan bayaran seorang direktur. Namun aku pengen coba dulu di sini. Ha ha ha," Zayn mengakhirinya dengan tergelak kecil.
Kepala Fatma menggeleng. "Sungguh tidak masuk akal, sudah enak mau susah, Kan aneh namanya." lagi-lagi Fatma menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah, jangan banyak bicara diterima gak?" tanya Zayn menatap penasaran.
"Eeh. Gak sabaran benget sih, aku harus lihat data-data mu dulu yang memang tentunya tidak akan diragukan lagi, Fatma mengangguk-anggukan kepalanya pelan sembari menatap ke arah Zayn.
Blak!
Keduanya menoleh ke arah pintu yang terbuka ....
--
__ADS_1
Ayo siapa yang kenal dengan sosok Zayn dan Susi ?