
Setibanya di bandara, Arya langsung menemui kawan-kawan nya. Dan bergegas ke kantor untuk membuat laporan dan semacamnya.
Kini Arya sudah berada di dalam pesawat dan memeriksa kembali mesin-mesin yang sudah diperiksa oleh mekanik ahli.
Pesawat pun bersiap untuk take-up, Sebelum menghidupkan mesin. Senantiasa Arya membaca doa untuk keselamatan semuanya. Dengan wajah mendongak, dia panjatkan doa-doa berharap sampai dan langit pun mendengar, serta sang maha pencipta mengabulkan.
Berdoa selesai. Arya mengusap wajahnya, begitupun kapten satunya. Pesawat mulai merayap untuk lepas landas.
...---...
Di suatu sore di kediaman nya Renata, yaitu rumah sang bunda. Renata sedang duduk santai di kursi panjang, depan kolam renang, dan Indah sedang berenang sendiri.
"Ren, turun dong? aneh deh. Pakaian renang sudah di pakai, tetapi gak mau berenang! aneh." Pekik Indah dari kolam.
"Malas, dingin. Lagian bentar lagi suami ku datang, sudah nikmati saja sendiri," sahut Renata sembari meneguk minumnya.
"Ya biar saja, kalau dia pulang! ya tinggal naik saja. Gampang," timpal Indah.
Renata lebih memilih diam dan membaca majalah. Tanpa menghiraukan indah yang asyik berenang.
Terdengar suara mobil Doni yang memasuki pekarangan rumah tersebut. Renata buru-buru beranjak dan berjalan ke depan melalui jalan samping.
"Sayang, kau sudah pulang?" Renata menyambut ramah sang suami.
Doni yang baru turun dari mobil langsung menoleh dengan hati yang bahagia, semakin hari Renata sikapnya kembali seperti semula.
"Iya sayang," balas Doni lalu memeluk Renata ketika sudah mendekat.
Renata memeluk erat tubuh Doni. Kini hatinya mulai terbuka lagi terhadap Doni. "Kangen."
"Apalagi ku baby ... kangen sama senyum kamu dan sikap manja kamu seperti dulu. Pokonya aku selalu kangen kamu." Balas Doni, tangannya mengusap punggung Renata.
"Benarkah, gak bohong kan?" tanya Renata memberi jarak wajah mereka, menatap lekat ke arah Doni.
"Bener dong sayang ... kau mau berenang apa?" Doni melepas pelukannya, menatap intens sang istri yang mengenakan baju renang.
Renata melihat penampilannya. Lalu berucap dengan nada manja. "Iya sih tadinya. Tetapi malas, pengen sama kamu aja."
"Hem ... sekarang aku capek sayang. Bisa nanti malam kita berenangnya?" tawar Doni.
"Em ... boleh. Ya sudah, aku bikinkan minum ya? yu ikut aku?" tangan Renata menarik tangan Doni ke dapur.
Netra Doni sempat mendapati Indah yang sedang duduk di tepi kolam renang.
Doni terus mengikuti sang istri ke dapur. Yang membuatkan minum buat dirinya.
"Makasih sayang?" ucap Doni sambil meneguk minumannya. "Baby, kita balik ke rumah kita ya?"
"Ha? aku pikir-pikir dulu ya?" jawab Renata.
"Baiklah, Oya ganti baju sana! gak enak dilihatnya pakai baju renang, tapi gak renang." Doni menatap dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Emang gak suka ya lihatnya?" Renata menaikan alisnya.
"Suka malah, bikin aku naik pitam nih. Pengen," ucap Doni dengan tatapan nakal.
__ADS_1
"Iih, apaan sih?" Renata tersipu lalu mengajak Doni untuk ke kamar.
Bibi yang berada dekat kompor hanya tersenyum mendengar obrolan Doni dan Renata.
"Mau mengajak ku? boleh, itu yang aku mau." Doni langsung berdiri dan mendorong pelan bahu Renata untuk berjalan.
"Ehem. Ren, gak jadi berenangnya?" sua Indah menghentikan langkah keduanya yang hampir menaiki tangga.
Renata berbalik menoleh ke arah Indah. "Nggak, aku malas untuk itu."
"Mending kita berenangnya di kamar sayang? lebih asyik," ucap Doni sambil kembali mendorong kedua bahu Renata.
Jawaban dari Doni bikin hati Indah dongkol, merasa kalau Doni sengaja memanas-manasi dirinya. Bahkan Doni hanya menoleh dingin pada dirinya.
"Tapi Ren?"
"Tapi apa? kau gak dengar yang dibilang istri ku?" Doni menatap datar dan tidak suka pada Indah yang hampir setiap hari datang atau menginap.
Dan bila ada kesempatan, menggoda Doni. Untungnya Doni sekarang kuat gak mau tergoda lagi pada Indah.
Indah terdiam sambil berdiri. Dengan posisi yang mematung, Hati kesal, marah dan dongkol. Sampai detik ini dirinya belum bisa merebut kembali hatinya Doni.
Doni dan Renata melanjutkan langkah menuju kamar pribadinya di atas.
"Sudahlah, yang ... jangan di pikirin. Biarkan saja," ucap Renata.
Doni membuka kemejanya dan mendekati Renata yang mengambil pakaian dari lemari.
"Mandi dulu sana?" Renata mendorong dada Doni.
"Mandi dulu, biar wangi. Oo, oo. Oo," Renata merasa mual dan beranjak berlari ke kamar mandi.
"Sayang kenapa?" Doni heran dan mengikuti sang istri ke kamar mandi.
"Oo, oo. Oo ..." Renata muntah-muntah, mengeluarkan semua isi perutnya.
Renata terus memuntahkan isi perutnya, sampai pahit di lidah. Perutnya terasa merilit, kepala pusing, merasa mual dan mual. Oo lagi dan lagi.
Doni masuk ke dalam kamar mandi, dimana sang istri terus mengeluarkan isi perutnya. "Kamu gak kenapa-napa beb?" memegangi bahunya Renata.
Renata melihat wajahnya di cermin. Yang terlihat sangat pucat. "Aku mual banget yang ..."
Doni mengusap mulutnya Renata dengan tisu. "Sudah belum muntahnya? kita ke rumah sakit ya? periksa!"
Renata yang merasa lemas hanya mengangguk pelan.
Doni langsung menggendong Renata keluar dari kamar mandi, mau langsung ke rumah sakit tapi mengingat pakaian yang di kenakan oleh Renata baju renang. Membuat Doni urung dan menyarankan ganti dulu baju.
Setelah Renata berganti pakaian, barulah Doni kembali menggendong Renata dibawanya ke mobil.
Bibi heran dan segera menyusul Doni yang menggendong Renata ke dekat mobil. "Kenapa Non?"
"Sakit, Bi." Balas Renata.
"Sakit apa, Non?" tanya lagi bibi.
__ADS_1
"Belum tahu, Bi. Kan baru mau periksa, gimana sih?" balas Doni sambil mengitari mobilnya.
Bibi terdiam menatapi mobil Doni dengan hati cemas.
Indah yang baru nongol dari pintu utama langsung menanyakan tentang perginya mobil Doni.
"Tanya kan aja sendiri!" sahut bibi dengan dinginnya sambil melengos ke dalam.
"Iih ... punya masalah apa sih lu sama gue?" Indah kesal dan mengepalkan tangannya yang diarahkan pada bibi.
Selang beberapa lama, mobil dini tiba di sebuah klinik. Doni langsung memapah sang istri sebelum menemukan kursi roda.
Renata di tangan oleh dokter wanita. Setelah melewati serangkaian pemeriksaan, akhirnya selesai.
Kini Doni dan Renata duduk di hadapan dokter yang menangani Renata.
"Gimana dok? istri saya sakit apa?" tanya Doni menatap penasaran pada dokter tersebut.
Bu dokter tersenyum ramah pada keduanya. "Selamat ya? istri Tuan sedang mengandung tiga bulan. Di jaga ya? kandungannya."
"Ha?" Doni dan Renata sama-sama shock mendengarnya. Tidak mengira kalau ternyata Renata hamil.
"Beb. Kamu hamil sayang?" Doni langsung memeluk Renata erat.
Renata hanya terdiam, masih belum percaya kalau di perutnya tumbuh benih dari Doni. Padahal beberapa waktu lalu, dirinya sudah memantapkan diri untuk bercerai.
Kepala Renata menoleh pelan pada dokter. "Dok, beneran saya hamil?"
"Benar, Nyonya. Anda hamil, kalau tidak percaya! silakan periksa ke dokter ahli kandungan. Saya yakin kok, bahwa anda hamil." Kata dokter meyakinkan.
Kemudian Renata membalas pelukan Doni lantas memeluknya erat. Manik matanya berkaca-kaca, perasaannya bercampur aduk, antara percaya dan tidak.
"Sebentar lagi aku akan menjadi ayah, Beb ... seneng nya aku." Doni sangat antusias dan tidak serta-merta melepaskan pelukannya itu.
"Ini akan menjadi berita sangat bagus untuk keluarga kita." Gumam Doni kembali.
Sementara Renata bengong. "Berarti kalau aku jadi cerai, aku jadi janda punya anak dong? iiy ... janda beranak. Mana mau laki-laki lain sama aku?" Renata bergidik.
Dokter memberi resep pada Doni agar kehamilan Renata kuat dan vitamin-vitamin lainnya.
Setelah itu mereka berdua berpamitan, dengan hati yang penuh kebahagiaan. Sikap Doni semakin manis pada Renata yang merasakan pusing dan mual.
Saat ini, Doni dan Renata sudah duduk di dalam mobil dan Doni bersiap untuk melajukan mobilnya.
Menoleh pada sang istri yang meringis dan tampak mual-mual. Duduk bersandar ke belakang jok.
"Mulai sekarang, kamu harus nurut sama aku. Tidak boleh kerja lagi. Banyak di rumah menjaga kehamilan, satu lagi. Kamu juga gak boleh makan sembarangan." Pinta Doni sambil membelai rambut Renata.
Huuh ... Renata menghirup udara dari sekitar yang sebanyak-banyaknya. Lalu mengangguk pelan sambil menatap sendu pada Doni ....
.
.
Assalamu'alaikum ... apa kabar reader ku semua di mana pun berada?
__ADS_1