
Derap langkah yang mereka dengar, membuat semua mata melihat ke arah yang datang.
Alangkah terkejutnya Fatma melihat kedatangan Aldian. Dia datang dengan penampilan yang rapi dan intelek.
"Kau?" gumam Fatma, lalu melirik ke arah Rania yang malah sembunyi di belakang tubuhnya.
"Apa kabar sayang, Rania ku? ini Papa ingin bertemu dengan mu?" Aldian mengangkat kedua tangannya berdiri di bawah dasar tangga.
Namun anak itu sembunyi di balik tubuh sang bunda dengan manik mata yang berkaca-kaca. Dalam hatinya ada rasa sedih yang mendalam, di balik rasa rindu yang tersimpan.
Fatma memegang tangan Rania dan di tuntun nya ke depan. "Sayang, salam sama papa ya?"
Gadis kecil itu menunduk dan terdiam seribu bahasa.
"Sayang, Papa kangen sama Rania, apa Rania gak kangen sama Papa sehingga gak disambut nih?" ucap Aldian masih merentangkan kedua tangannya.
Fatma menelan saliva nya melihat reaksi anak itu yang mendadak diam dan sedih. Fatma berjongkok seraya berkata lirih. "Sayang, bukankah Rania Kenten sama papa? papa sudah ada buat Rania."
Dewi yang tidak tahu apa-apa cuma mematung dan menyimak saja.
"Papa Al jahat, papa gak sayang Rania makanya baru datang temui Rania. Bertanya kabar pun tidak." Anak itu menggeleng dan menangis.
Membuat hat Fatma kembali mencelos. Lalu memeluk Rania erat. Matanya melihat ke arah Aldian yang bengong mendengar ucapan putri nya sendiri.
"Em ... kita ngobrol di ruang tamu yu?" Fatma memudarkan rangkulannya dan menuntun tangan Rania ke ruang tamu.
Begitupun Aldian mengikuti setelah bersalaman dengan Bu Wati dan suami.
Mereka duduk di ruang tamu bersama, Bu Ina pun menyuguhkan minum beserta kue nya.
Setelah bi Ina kembali ke dapur. Semua mata mengarah pada Rania yang berada dalam pelukan sang bunda dan tampak sedih.
Fatma terus mengusap kepalanya dengan sangat lembut. "Rania gak mau Rania tidak hormat sama papa Rania yang mana pun, Rania harus menjadi anak yang baik salehah. Membanggakan Mama dan papa."
Dengan lembut Fatma mencium kening Rania. "Papa mungkin sibuk. Makanya gak nanyain kabar Rania, gak temui Rania. Tetapi bukan berarti gak sayang, buktinya sekarang papa Al datang." Fatma terus memberi pengertian. Sesekali manik mata Fatma melirik ke arah Aldian dan Bu Wati juga sang ayah.
Aldian mendekati Rania dan Fatma. "Iya, sayang. Papa minta maaf sudah tidak peduli sama Rania. Tapi bukan berarti Papa gak sayang, Papa sayang kok sama putri Papa ini."
Tangan Aldian berusaha menyentuh kulit Rania namun anak itu menghindar tidak ingin di sentuh.
Rania malah menangis dalam pelukan sang bunda. Entah apa yang dia tangisi.
Aldian menoleh pada kedua mertuanya terutama kepada pak Wijaya. "Yah, saya minta maaf atas segala kesalahan saya yang sudah kurang ajar sama ayah?" ucap Aldian tampak tulus meminta maaf sama pak Wijaya.
Sebelum berbicara, pak Wijaya menghela napas kasar. "Saya sudah memaafkan mu, apalagi bagaimana pun kau sudah mempertanggung jawabkan nya."
Aldian mengangkat wajahnya dengan bibir membentuk senyuman. "Terima kasih, Yah. Ibu. Aku minta maaf aku orang yang sudah mengecewakan putri dan cucu mu?" kini pandangan Aldian beralih pada Bu Wati yang tampak cuek.
__ADS_1
"Ya, sudah saya maafkan kok." Bu Wati mengangguk.
"Sayang, gak mau maafin Papa nih?" kata Aldian kembali menatap Rania yang masih di posisi yang sama, menyembunyikan wajahnya di dada Fatma.
Fatma mengusap lembut kepala Rania. "Papa tuh, jawab dong?" dengan sangat lirih.
Perlahan Rania bergerak dan melihat ke arah Aldian. "Rania sudah maafkan kok, tapi Rania gak mau bertemu papa dulu. Rania mau sama mama aja."
"Rania memang sama mama kok, Papa cuma ingin bertemu saja dengan Rania, dan Rania mau bicara sama Papa aja Papa sudah bersyukur kok." Kata Aldian.
Heningh!
"Kalau lain kali Papa ajak Rania jalan-jalan mau ya?" sambung Aldian.
Gadis kecil itu malah mendongak melihat sang bunda. Dan Fatma memberikan anggukan pada Rania. Kemudian Rania pun mengangguk pada Aldian.
Semua merasa sedikit lega. Akhirnya Rania mau berdamai dengan papanya. Semoga aja Aldian mah berubah labuh baik terutama sikapnya pada Rania agar lebih perhatian dan menunjukan rasa sayangnya pada darah dagingnya sendiri.
Sekarang Rania mau tersenyum dan bercanda dengan Aldian walau masih dalam pangkuan Fatma, Fatma yang tadinya mau menjemput Arya terhambat dengan sikap manjanya Rania.
Sesekali manik mata Fatma melihat putaran jarum jam yang terus berputar. Namun Rania gak mungkin ditinggalkan.
"Semoga, Aa gak marah. Gak aku jemput lagian dia juga gak minta di jemput sih." Monolog Fatma dalam hati.
"Em ... gimana kalau kita makan malam dulu bersama?" ajak pak Wijaya mengedarkan pandangan pada semua yang ada di sana.
"Nggak pa-pa, Wi!" Gumam Fatma.
Aldian menjadi mengarahkan netra nya pada Dewi. Merasa heran. Dulu Mia yang mengasuh putrinya, sekarang malah beda. Gadis berkerudung yang belum pernah dia kenal.
"Siapa dia?" tanya Aldian menunjuk ke arah Dewi.
Sebelum Fatma menjawab, pak Wijaya sudah bantu menjawab. "Dia adik iparnya Fatma."
"Oh," gumam Aldian.
Lalu mereka beranjak berpindah ke ruang makan, yang sudah tersedia bermacam menu memenuhi meja makan.
Rania makan dan minta Fatma suapi. Dan Fatma sendiri tidak makan malam.
Dalam hati Fatma merasa gusar. Mengingat Arya yang entah gimana kabarnya? entah sudah landing dan pulang atau gimana? Fatma gak tahu.
Selesai makan. Rania mulai mau duduk terpisah dari sang bunda dan mau berbicara dengan Aldian.
"Sayang, Mama mau ke kamar sebentar ya? sebentar aja," ucap Fatma pada Rania.
Namun Rania menggeleng. "Nggak mau. Mama mau di sini sama Rania."
__ADS_1
"Huuh ..." Fatma membuang napas melalui mulutnya. "Baiklah."
Sebenarnya, Aldian itu sudah bebas dari beberapa hari yang lalu. Dengan sebuah jaminan yang diusahakan oleh pengacaranya, dan dia baru sempat datang menemui Rania sekarang.
Saat ini wajah Fatma sudah mulai gusar. Aldian belum nampak bersiap pulang. Mana Arya juga belum datang membuat hatinya was-was dan khawatir.
Bu Wati dan sang suami saling bertukar pandangan sejenak.
"Ehem," pak Wijaya berdehem. "Sudah malam. Sebaiknya kau pulang pulang lah?" tatapannya pak Wijaya tertuju pada Aldian yang langsung menoleh.
Aldian menatap kecewa, namun tentu dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tatapannya beralih ke arah Rania yang bermain boneka. "Em ... baiklah. Papa mau pulang dulu ya? Besok atau lain kali. Kita bertemu lagi."
Anak itu mengangguk pelan. Lalu mencium tangan Aldian. "Dah ..."
Aldian berpamitan dengan semuanya. Kemudian pulang walau masih betah pertemuan dengan putrinya itu.
Fatma menyuruh Rania tidur, karena malam pun sudah beranjak larut. Dewi pun mengajak Rania ke kamarnya.
Fatma mengambil ponselnya. Dengan niat mau menelpon Arya.
"Kok, Aa belum pulang, siapa yang jemput ke bandara?" tanya Bu Wati menanyakan sang menantu yang belum pulang.
"Nggak ada yang jemput, tadinya aku yang mau jemput. Kasihan pak Harlan kecapean, eh ... gagal." Fatma berucap lesu.
"Tapi bukankah motornya ada di kantor bekas waktu itu?" tambah pak Wijaya.
Fatma mengingat-ingat kalau motor Arya memang berada di kantor. Menjadi hati Fatma lebih tenang, sebab Arya akan pulang dengan kendaraannya sendiri.
"Ya, aku juga gagal mau beli test pack. Besok ajalah." Batin Fatma lagi.
Kemudian Fatma berpamitan untuk ke kamar, menelpon Arya pun tidak di angkat, mungkin sedang dalam perjalanan.
"Yu, Bu. Kita juga ke kamar? ngantuk nih." Ajak pak Wijaya menarik tangan sang istri.
Bu Wati pun mengikuti langkah sang suami untuk menuju kamarnya. Pasangan suami istri yang satu ini masih tampak romantis dan lengket.
Fatma yang sudah berada di tengah-tengah tangga menoleh pada ayah dan bundanya. Bibir Fatma tersenyum melihat keromantisan orang tua nya.
Kemudian melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga. Menuju kamar pribadinya, langsung mengambil pakaian malamnya dan langsung masuk ke kamar mandi.
Setelah menunaikan isya. Fatma mendudukkan bokongnya di atas sofa. Sambil memainkan handphone nya.
Terbayang tentang suaminya yang entah dimana sekarang? entah gimana keberadaannya ....
.
.
__ADS_1