
Sebelum subuh, Arya sudah bangun dan pergi ke mushola yang sebelumnya ngecek ke adaan Fatma yang masih tertidur.
...****...
Di sebuah Villa milik nya Doni. Doni dan banyak teman lelakinya mengadakan acara bakar-bakar ditemani beberapa cewe yaitu Indah dan Renata. Mana mungkin Renata mendapat ijin ke luar di malam-malam begini. kecuali beralasan menemani indah dan ada pelajaran kelompok yang harus dikerjakan bersama.
Waktu sudah menunjukan pukul 20.30 malam,
dan Renata belum ada tanda-tanda untuk pulang, sementara acar bakar-bakar pun baru mau dimulai.
Renata yang tidak jauh dari Doni yang terus nempel pada Renata tampak sedikit aneh. Entah kenapa sikapnya kaya gimana gitu pokonya sedikit aneh.
Penghuni Di Villa tersebut saat ini terdiri Doni dan lima temannya dan wanitanya Renata, indah dan Rara. Kedua wanita itu tampak sudah terbiasa dengan ada diantara pria yang kadang Suak iseng colak-colek sesukanya. Sementara Renata tidak terbiasa dengan itu. Doni terus menguntitnya saja kadang merasa risih.
Tadinya Renata menolak ajakan itu, namun dengan terus dibujuk oleh Doni dan Indah pada akhirnya Renata mau. Dengan dalih ulang tahunnya Doni dan paling malam juga pukul 09.30.
"Aku pengen pulang, nanti Bunda khawatir." Gumamnya Renata yang mengeluh meminta pulang.
"Aduh sayang ... bakar-bakarnya baru mau dimulai, gimana dong?" Doni menggenggam tangan Renata erat, tak mengijinkan kekasihnya segera pulang.
''Nanti saja Renata. Bareng aku ya? bakar-bakarnya nya kan baru mau dimulai jadi nanti saja setelah makan!" Indah nimbrung perbincangan Doni dan Renata.
Renata berwajah cemas. Khawatir sang bunda mengkhawatirkan nya, benar saja belum satu detik ponselnya sudah berdering dan tampak jelas yang memanggil itu kontak sang bunda.
^^^Renata: "Iya, Bun ... nanti aku pulang sama Indah dan Doni."^^^
^^^Bunda: "Sayang, jangan terlalu malam."^^^
^^^Renata: "Iya Bun. Aku pulang bentar lagi."^^^
Tutt ... tutt ... tutt ... sambungan telepon terputus.
"Pokonya setelah makan, Aku mau pulang!" kata Renata menatap Indah dan Doni. "Biar gak diantar juga, aku bisa pulang sendiri."
__ADS_1
"Iya sayang iya ... jangan ngancam gitu! nanti aku antar pulang," bukan cuma bibir Doni saja yang bicara tapi tangan juga ikut bergerak merapikan rambut Renata yang tergerai dan mencium pipinya.
Kemudian Doni berbincang dengan para sahabatnya yang kebetulan berada jauh dari Renata. "Sepertinya rencana malam ini akan gagal, khususnya gua. Renata merengek terus minta pulang, jadi setelah ini gua mau cabut."
"Lah, gak asyik dong. Kamar sudah menunggu bro." Timpal salah satu kawannya sambil menepuk pundak Doni.
"Ha ha ha ... gua akan sabar menunggu ikan nya keluar tanpa memperkeruh airnya bro,'' balas Doni.
"Ah, gak asik dong ... kita sudah rencanakan untuk bersenang-senang dengan bergantian menikmati indahnya body si Indah dan si Rara. Ah ... gak asik lah kalau lu pulang," ungkap salah seorang temannya lagi sambil mengipas bakar ikannya.
"Si Indah gua ajak pulang juga." Timpal Doni kembali.
"Lah, apalagi begitu. Masa 5 lawan 1 si Rara doang? jangan gila dong. Itu orang bukan binatang." Balas satunya lagi.
"Hei ... kau masih punya hati rupanya? ya jangan nikmatin lah." Doni dengan santainya. "Lain kali saja. Bila perlu sambil menikmati sunset misalnya, iya gak?"
"Betul juga tuh, setuju gua." Sambut kawan-kawan yang lain.
"Eh, enggak sayang. Cuma pembicaraan laki-laki dan cewek gak usah tahu. Pamali, iya pamali." Doni sedikit gugup namun berusaha tuk senyum.
"Sudah matang ... kota makan-makan." Suara teman pria Doni. Memegangi bakar ikan yang besar.
Semua langsung melahap hidangan yang ada. Renata cuma ngambil dikit tuk cicipi saja dan malah yang sedikit juga masih tersisa di piringnya.
Kemudian merapikan kemeja dan celana jeans nya. Rasanya sudah tak sabar untuk pulang. Doni yang memperhatikannya jadi gak enak hati makan pun jadi kurang berselera.
"Sebentar sayang ... lihat Indah masih lahap makannya." Bisik Doni. Menunjuk ke arah Indah.
Renata melirik ke arah mereka yang memang pada lahap makan malamnya. Jujur ia merasa risih kalau melihat Rara yang dengan bebas di sentuh teman prianya, bak buah yang di tawar bukan cuma di pegang namun juga di emek-emek iih ... bikin Renata merinding.
Kemudian mengalihkan pandangannya pada Doni. menatap dengan tatapan yang sulit diartikan. Dalam hati meronta ingin segera pulang, melihat ekspresi Doni saja bikin hati deg degan.
Doni segera mengabiskan makannya. Kemudian bersiap untuk pulang, langkahnya teruji ke dalam Villa untuk mengambil kunci mobi. Sesaat kemudian kembali dengan jaket yang menutupi badannya.
__ADS_1
"Yu, sayang?" Doni melirik Renata yang sudah siap dan menenteng tas nya.
Indah mengikuti dari belakang dan duduk pun di jok belakang. Sementara Renata di depan dengan Doni yang nyetir.
"Lho, Rara kok gak pulang?" gumam Renata dengan pandangan tertuju pada Rara yang masih asik ngobrol dengan kawan prianya.
"Nanti diantar mereka pulangnya," sahut Doni sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Kenapa gak diajak bareng Ndah? kan perginya juga bareng-bareng!" Renata menoleh ke belakang pada Indah yang duduk bersandar tampak lelah atau mungkin habis makan, kekenyangan.
"Nggak tahu, biar ajalah dia mah dah biasa tak seperti kamu anak Mami." Kali ini perkataan Indah nyeletuk di hati.
"Kamu juga, ibumu sangat mengkhawatirkan mu Ndah. Tapi kamu gak perduli!" ketus Renata. "Masih mending aku ada yang yang mengkhawatirkan, pertanda mereka sayang sama aku."
Indah tak menjawab lagi, dia malah memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya.
Kepala Doni melirik ke arah Renata dan menyentuh tangannya lalu dicium punggung tangan Renata dengan sangat mesra. "Jangan di ambil hati sayang hem!"
Renata hanya membalas tatapan Doni kemudian mengalihkan penglihatannya ke depan. Kemudian Doni melajukan mobilnya setelah pintu gerbang Villa tersebut terbuka.
Mobil melesat dengan tujuan ke jalan xx dimana rumah Renata berada. Sepanjang jalan tak satupun membuka obrolan, hanya suara mesin mobil yang menghiasi. Indah tertidur di belakang.
Renata dan Doni sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Tanpa sedikitpun Doni melalaikan rambu-rambu jalan. Meskipun saat ini Doni sudah dalam pengaruh obat namun tetap bisa mengontrol emosi dan pandangannya.
Indah dah teler dibelakang, dia mengonsumsi obat yang sering ia gunakan, begitupun Doni. selain pengedar dia pun pemakai yang belum Renata ketahui dengan jelas.
Setibanya di halaman rumah Renata, mobil berhenti dan Doni menangkap pergelangan Renata sebelum membuka pintu.
Sementara waktu keduanya bersitatap, kemudian wajah Doni mendekat. Cuph! mencium pipi Renata dan bergerak ke bibirnya yang ranum. Renata tak memberikan penolakan sedikitpun sebab kini sentuhan Doni sudah menjadi candu buat Renata ....
****
Untuk penggemar Fatir dan Viona, malam ini BSH libur dulu ya, penulisnya ada kesibukan lain di dunia nyata.🙏
__ADS_1