Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Kendala


__ADS_3

Suci terdiam dengan gigi mengerat menahan amarah yang ingin rasanya membludak. Tangan mengepal agar tak bertindak gegabah, kalau saja tidak berpikir jernih! sudah pasti jari-jarinya bergerak mencakar wajah Fatma say ini juga.


Yang Suci inginkan saat ini hanyalah Fatma mengeluarkan Aldian dari penjara, itu saja. Tapi yang dia dapat setara dengan hinaan yang mencoreng wajahnya. Hinaan yang menghunus ke dalam jantung.


Diam tak bergeming, mata tak melotot tak seakan tak berkedip mengarah pada Fatma yang juga menatap tak kalah tajam.


"Kenapa? kau mengakui kan? sadar bahwa kalian telah menjebak ku masuk ke dalam kehidupan kalian dan seenaknya kau menjadikan anak ku sebagai alasan kalau kalian sangat berharga buat kami. Sementara perlakuan suami mu jauh dari sebutan suami baik, ayah yang bertanggung jawab. Dia perlakukan aku seperti binatang peliharaan, Sudahlah! aku malas tuk bahas itu, pergilah. Pintunya masih terbuka." Suara Fatmala dari nada tinggi menjadi menurun. Dia merasa terlalu lelah bila harus membahas tentang Aldian.


Tanpa banyak kata, Suci lalu berdiri membawa pergi langkahnya dari situ. Dengan tangannya masih sempet-sempetnya memukul daun pintu sebagai luapan kekesalannya.


Membuat Fatma tersentak dan akhirnya mengelus dada-dada. "Sabar ... Fatma sabar. Huuh ..." sembari membuang napasnya melalui mulut.


Sejenak Fatma terdiam di tempat menatap pintu yang masih terbuka. Kemudian beranjak dari sofa yang ia duduki barusan, berjalan mendekati pesawat telepon yang ada di meja kerjanya dan memanggil sekretarisnya.


Fatma kembali duduk di kursi kebesarannya. Sedikit membelalakkan matanya ke meja serta membuang napas dengan sangat panjang. sementara waktu menetralkan rasa sesak di dada. Mulai dengan aktifitas yang tertunda.


"Iya, Bu?" ucapnya sekretaris Fatma menghampiri.


"Ini ... tolong di cek kembali ya dengan teliti?" memberikan beberapa berkas yang ia rasa tak sesuai itu.


"Ooh baik, Bu." Balas sekretaris nya sambil mengangguk lalu memutar badannya hendak pergi membawa berkas di tangan.


"Satu lagi?"

__ADS_1


Sekretarisnya yang bernama Aulia itu menoleh dan balik badan. "Iya, Bu?" menatap menunggu perintah.


Fatma sedikit bengong lalu menggeleng. "Tidak jadi. Dan ... tolong pintunya di tutup!"


Aulia mengulas senyum ramahnya pada Bos cantik itu. Kemudian melanjutkan langkahnya, menarik handle pintu di tutup dengan rapat.


Fatma mengalihkan pandangan pada layar laptop dan bersiap berkutat di sana sibuk dengan seluruh anggota badan.


Setelah sekian lama menyibukkan diri. Fatma menoleh jam yang ada di tangannya. Putaran jarum jam sudah menunjukan pukul 13.00 wib. Saking sibuknya, sampai-sampai Fatma tidak sempat makan siang.


"Ya, Tuhan ... jam berapa nih? jam makan siang sudah lewat." Menggeliat, berdiri menggeliat nikmat.


Lalu tak ada niat tuk mencari makan. Fatma malah kembali duduk dan sibuk dengan kerjaannya.


Pada sore hari, cuaca buruk di langit sebagian wilayah Indonesia gelap dengan awan yang tak mampu lagi menahan beban, sehingga air hujan pun turun mengguyur bandara Halim Perdana Kusumah.


Memang cuaca akhir-akhir ini tidak menentu dan seringnya hujan menjadikan landasan bandara pun licin akibat diguyur hujan.


Pesawat yang Arya kendalikan pun hampir saja mengalami kendala yang bikin spot jantung setiap awak dan penumpang yang berada di dalamnya, riuh, panik semua was-was takut nyawanya terhenti di situ. Para pramugara dan pramugari berusaha menenangkan supaya semua penumpang tenang dan tidak panik.


Sebagai manusia biasa tentunya para awak pun merasakan yang sama, namun mereka berusaha bisa mengendalikan emosinya apalagi setidaknya mereka terlatih tuk bisa mengurus orang-orang di dalamnya, dalam keadaan apapun.


Pesawat yang sedang berusaha landing di atas landasan tiba-tiba naik kembali membuat awak, khususnya pilot seakan berhenti bernapas saking terkejutnya.

__ADS_1


"Astagfirullah ... allahuakbar-allahuakbar," para awak panik. Dan Pilot terus berusaha mengendalikan si burung besi tersebut.


"Allahuakbar, Allahuakbar. Allahuakbar. Laialaha illallahu, lailaha illallah."


Bunyi tahlil dan takbir terus bergema di dalam pesawat yang kembali terbang meninggi itu. Suasana begitu riuh, ada juga yang teriak-teriak ketakutan akibat terlalu shock.


Jantung semakin berdegup kencang. Dada berdebaran. Pikiran kacau, kepala panas. Gusar, gelisah. Ketakutan bercampur menjadi satu.


"Ya Allah ... selamatkan kami semua? jauhkan dari marabahaya." Bibir Arya terus bergumam. "Lahaula walakuata illabillah. Astagfirullah ... astagfirullah ...."


"Kami harap semuanya tenang, kita berdoa pada yang maha kuasa dengan keyakinan masing, Semoga Tuhan menyelamatkan kita semua," ungkap Sultan, suaranya nyaring dan bergema di dalam pesawat tersebut.


"Gimana mau tenang? ini kita berada di dalam pesawat yang tidak bisa mendarat, gimana dengan nasib kita? menunggu mati di sini?" Teriak seorang pria.


"Terus kita harus melompat gitu lewat jendela? kan gak mungkin!" timpal yang lain dengan nada cemas dan ketakutan.


"Terus kita harus gimana dong? menunggu mati!" teriak yang lainya, suasana begitu ribut.


"Ini gara-gara Pilot nya nih yang gak becus bawa pesawat. Kalau gak becus jangan jadi pilot! bawa angkot saja di daratan." Suara orang yang panik bergemuruh ....


****


Jangan lupa like komen dan vote nya agar author lebih semangat lagi dalam berkarya.

__ADS_1


__ADS_2