
"Oya, Rania melihatnya sayang?" tanya Bu Wati ada Rania.
"Iya, Oma." Rania sangat antusias.
"Iya, biarlah. Semoga kita semua dapat bertemu lagi." Arya merangkul bahu Rania yang memeluk bonekanya.
"Ya, Pah ... Rania Rania ngantuk!" Anak itu menguap terus.
"Bobo aja, kebetulan Papa bawa bantal leher. Buat Rania satu dan buat Papa satu." Arya memakaikannya di leher Rania.
"Nah ... sekarang boleh bobo ya?" Arya mengusap kepala Rania. "Jangan lupa membaca doa dulu ya?"
"Oke, Papa!" Gumam Rania dengan sinar mata yang tinggal dua wat lagi itu.
"Ayah juga ngantuk, Bu." Kata pak Wijaya sambil menyandar ke belakang.
"Ibu juga, mata ini lelah sekali." Keluh Bu Wati sambil menguap pula.
Arya menoleh kanan dan kiri. Melihat para penumpang lain, ada yang tegang. Ada yang membaca buku, ada pula yang mulutnya komat Kamit Entah membaca apa?
Pramugari sedang memberi panduan pada para penumpangnya. Arya sendi memilih membaca ayat-ayat suci.
Kini saatnya para arwah menyuguhkan semua penumpangnya hidangan untuk mengganjal perut.
"Hidangan apa yang anda inginkan?" tanya seorang pramugari pada Arya dan yang lainnya.
"Saya sandwich saja." Pintanya Arya sekalian buat Rania.
"Baik, Tuan ... semoga menyenangkan perjalanannya ya?" ucap pramugari tersebut.
Arya sedang menikmati sandwich nya serta buahnya. Kini mungkin sudah setengahnya perjalanan.
"Papa? makan apa sih? Rania juga lapar! anak itu sambil berbisik matanya. Memicing melihat papanya yang sedang makan.
Melihat ke belakang, Oma, opa nya sedang makan juga.
"Ini, makanan buat Rania. Dimakan sayang!" Arya menunjuk makanan yang ada di depan Rania.
Rania langsung menyantap memakan dengan sangat lahap. Sampai tandas.
Setelah melewati waktu yang lumayan panjang, kemudian pesawat pun landing di tempat tujuan. Tepatnya sekitar pukul 02.00 wib. Dan sekitar pukul 10 waktu setempat.
Mereka pun berkumpul di tempat arrival sementara waktu, setelah selesai pengisian dokumen. Semua penumpang pesawat berbencar, masing-masing menuju tempat yang menjadi tujuannya.
Begitupun dengan Arya dll nya. Memasuki sebuah taksi untuk ke hotel dimana Fatma menginap. Rani yang lagi-lagi tertidur dan kali ini berada dalam gendongan Arya.
Bu Wati pun tampak sangat lelah. Namun tidak menyurutkan semangatnya.
"Masih jauh gak?" tanya Bu Wati pada Arya.
"Bentar lagi juga sampai, Bu!" Arya mengangguk dan meyakinkan kalau tempat tinggal Fatma tidak terlalu jauh.
"Ooh, semoga aja lancar!" gumam pak Wijaya.
Benar kata Arya, dalam waktu yang terbilang singkat, taksi berada di bawah gedung yaitu hotel bintang lima. Berhenti untuk menurunkam semua penumpangnya.
Arya yang menggendong Rania segera keluar dari taksi tersebut. Taksi pun meluncur setelah Arya membayar jasa ongkosnya.
__ADS_1
Kedatangan mereka di sambut ramah oleh para pelayannya di sana.
"Ayah mau pesan kamar?" tanya Arya pada sang mertua.
Pak Wijaya menggeleng. "Nggak ah, gak akan menginap kok, paling istirahat sebentar."
"Iya, tanggung pesan juga." timpal Bu Wati.
"Oh, ya sudah. Yu?" Arya berjalan menuntun Rania. meninggalkan lobby.
Mereka berjalan menulusuri jalan menuju lift untuk sampai ke lantak sekian. Namun ketika menunggu lift terbuka.
Tingh!
Pintu lift terbuka dan keluarlah beberapa orang yang di antaranya Fatma yang sengaja turun untuk menjemput keluarganya dari Jakarta.
"Mama?" Rania langsung lepas dari genggaman tangan Arya. Berlari menghampiri Fatma yang langsung menyambutnya.
"Rania sayang ... Mama kangen." Fatma memeluk erat gadis kecil tersebut yang sudah beberapa hari ini tidak ia jumpai.
"Rania juga kangen sekali sama, Mama? rindu ... sangat," suara Rania dalam pelukan.
Bu Wati, pak Wijaya dan Arya memandangi dengan senyuman di bibir penuh rasa bahagia. Melihat Rania dan Fatma saling melepas rindu.
"Mama, Mau jemput ke bandara tadinya. Tapi Mama sibuk! ini juga baru pulang dari seminar. Belum sempat mandi juga." Fatma memudarkan pelukannya.
"Iya, Mama gak jemput ih!" keluh Rania.
"Kan. Sibuk sayang ... Rania tambah gendut ya? Masya Allah ..." Fatma menatap intens putri kecilnya itu.
"Iih ... Rania kan banyak makan, Mama. Biar gak kurus. Kata om Tatan juga kalau Rania kurus, malu!" celoteh anak itu dengan gayanya khas anak kecilnya.
"Malu, Mama ... malu, nanti dikira gak di kasih makan sama papa," ucap Rania sambil melirik ke arah Arya yang tersenyum.
"Ha ha ha ...Sultan ada-ada saja tuh orang." Arya menggeleng.
Semua ikut tersenyum. Lalu Bu Wati mendekati lalu memeluk Fatma yang meraih tangan nya.
"Selamat ya? Nak ... semoga sehat-sehat kehamilannya dan juga kamu nya." Bu Wati memeluk anak semata wayang nya itu.
"Ya, Bu ... doa kan saja." Balas Fatma sambil mengusap punggung sang bunda.
"Ibu saja yang cuma punya anak satu. Kamu harus punya lebih dan memberikan Ibu cucu yang banyak." Tambah Bu Wati.
"Ibu ini. Emangnya aku mesin pembuat anak apa? hi hi hi ..." Fatma terkikik.
"Iih, bukan gitu juga." Bu Wati melepas pelukan bergantian dengan pak Wijaya.
"Ya ... Papa gak kebagian peluk Mama nih." canda Arya sambil berjongkok.
"Ah, Papa? kok sedih sih? tenang nanti kalau Oma, Opa. Sudah peluk Mama. Baru Papa selama-lamanya ... oke?" Rania mengusap punggung papanya. Seperti orang dewasa saja laganya.
"Semoga kelak, calon baby nya menjadi anak yang Soleh atau Solehah, berbakti pada orang tau berguna buat orang banyak." Pak Wijaya mengusap kepala sang anak dengan tatapan yang penuh kasih sayang seorang ayah.
"Iya, Yah ... Aamiin. Ya udah kita ke kamar saja. Kalian pasti capek dan belum makan. Aku mau pesan makanan. Atau mau makan di luar saja?" tanya Fatma mengedarkan pandangan pada semuanya.
"Di kamar saja lah, Ibu capek nih ingin sambil selonjoran nih kaki," tutur Bu Wati sembari menunjuk kakinya yang berasa lelah.
__ADS_1
"Baiklah." Fatma mengangguk pelan.
Kemudian mereka, pak Wijaya dan Bu Wati juga Rania berjalan memasuki lift.
Di belakang. Arya dan Fatma berjalan berdampingan. "Aa, gak di peluk nih? sedih." Dengan gaya sedih.
Fatma melirik serta senyuman indahnya. "Apaan sih? nanti ada waktunya. Biar puas."
Arya berdiri menghadap istrinya. "Puas gimana sayang, ada scurity sayang?" ucap Arya sambil tertawa tipis.
Fatma menarik bibirnya membentuk senyuman yang indah. "Kan scurity nya juga ada tidurnya, gak mungkin lihatin kita Mulu,"
"Mama, Papa. Ayo?" pekik Rania dari lift.
Fatma dan Arya menoleh. Lalu buru-buru memasuki lift yang hampir tertutup.
"Capek nih, pengen selonjoran kata Oma juga. Kaki Rania pegal-pegal sangat," ungkap Rania seperti orang tua saja.
Membuat semua yang ada di lift tertawa lucu mendengarnya. Ada aja tingkahnya yang bikin tertawa.
Tangan Arya merangkul pinggang Fatma yang masih ramping. Bahasa tubuh mereka berdua menunjukan kalau tersimpan sebuah kerinduan satu sama lain.
Setibanya di kamar hotel Fatma, masing-masing mengambil posisi duduk senyaman-nyamannya. Perjalanan panjang tadi cukup melelahkan.
Fatma memesan makanan buat makan mereka yang tampak lapar dan capek itu.
Arya memilih ke kamar mandi buat membersihkan diri yang terasa lelah dan lengket itu.
"Mama, adek baby nya mana?" tanya Rania, baru ingat kalau mamanya mau punya adek baby.
Manik matanya mencari keberadaan baby tersebut. Yang tidak ia temui. Di tempat tidur mamanya kosong kecuali guling saja.
Fatma dan Bu Wati saling bertukar pandangan. "Sayang, adek bayi nya masih di sini lho," Fatma menunjuk pada perutnya yang masih rata.
"Masih di perut?" tanya Rania, melihat ke arah perut mamanya.
"Iya, kan butuh proses sayang, sembilan bulan lebih baru akan lahir." Jelas Fatma sambil mengusap pipi Rania dengan lembut.
"Betul itu, mama harus hamil dulu. Barulah nanti melahirkan baby." Tambah Bu Wati.
"Jadi perut Mama besar dulu ya, kalau baby nya tumbuh besar?" tanya Rania lagi.
"Iya dong? sayang ... nanti perut Mama membesar. Dulu juga waktu Mama hamil Rania yang masih di perut Mama seperti itu juga lho." Lanjut Fatma kembali sambil menatap lekat putrinya ini.
Arya keluar dari kamar mandi lalu bergantian dengan pak Wijaya yang barusan sempat tertidur di sofa.
Fatma menyiapkan pakaian Arya dari tasnya. "Gak bawa pakaian banyak ya, Aa?"
"Nggak ah, dikit juga cukup kok. Lagian kalau kurang bisa beli aja yang baru, berat kalau harus bawa dari sana." Balas Arya sambil mengenakan kaosnya.
Heningh!
Kemudian pesanan makan Fatma pun datang dan segera Mereka menyantapnya dengan sangat lahap ....
.
.
__ADS_1
Terima kasih pada reader ku yang selalu setia dengan karya-karya ku🙏