Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Lahiran


__ADS_3

Pukul sepuluh yang diperkirakan dokter, Fatma akan lahiran. Pada kenyataannya dia belum juga melahirkan, padahal yang bersangkutan sudah merasa tidak kuat. Namun di dorong pun si baby belum juga keluar.


Tubuh Fatma sudah lemas dan bahkan kehabisan cairan sehingga jarum infus pun harus terpasang di tangannya.


Tubuh Fatma semakin melemah. Jelas wajah-wajah cemas memenuhi ruangan tersebut. Bu Wati dan umi Santi wajahnya basah dengan air mata, mau menolong? tak tau gimana caranya! yang mereka bisa hanya menangis dan berdoa.


Begitupun dengan Abah dan Pak Wijaya wajahnya tampak cemas khawatir dan apa yang akan terjadi, melihat kondisi Fatma yang seperti ini.


"Ya Allah ... mana si Aa belum pulang juga." Gumamnya Abah lirih sambil mengusap wajahnya yang lusuh.


"Iya nih, saya jadi cemas takut dan was-was, maklum saya baru kali ini menemui orang yang mau melahirkan selain istri sendiri, itupun sekali-kali nya." Pak Wijaya menimpali.


"Terus kita harus gimana sekarang?" tanya Abah dengan lirih melirik pada Pak Wijaya.


"Gimana ya? ya mungkin kita menunggu anjuran dokter saja, Bah, mudah-mudahan semuanya lancar?" harapan pak Wijaya.


"Aamiin ya Allah," timpal Abah sambil mengusap wajahnya.


Jarum jam terus bergulir hingga membawa ke pukul 00.00 malam, Fatma yang merasa kesakitan terus terjaga. Gelisah tak jelas yang di rasa.


Menikmati rasanya mau persalinan dan perasaan itu tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Umi dan Bu Wati terus menemani sambil mengusap-usap pinggangnya Fatma yang katanya terasa panas dan rasa mules pun terus menyiksa.


"Aduh, Umi. Ibu ... sakit ..." desisnya Fatma, air mata pun terus mengalir menghiasi pipinya yang terlihat pucat.


"Sabar Nak ... dengan terus beri, memohon dan meminta pertolongan sama Allah," lirihnya Umi.


"Aku sudah nggak kuat!" keluhnya Fatma, sambil terus membuang nafasnya melalui mulut "Huuh ... huuh ..."


Dokter pun masuk kembali ke ruangan tersebut dan memeriksa lagi Fatma yang terus gelisah.


"Dok, gimana ini? cari jalan yang terbaik saja dok, kami tidak tega melihatnya." Kata Bu Wati pada Bu dokter.


"Iya, Bu. Iya sabar ya? kami pun akan berusaha yang terbaik untuk Ibu Fatma, agar semuanya berjalan dengan lancar. Baby dan ibunya pun selamat," balas ibu dokter.


Rasa sakit dan rasa kecewa bercampur aduk dan menyelimuti hati Fatma, rasa yang begitu Ingin melahirkan ditemani oleh sang suami. Sepertinya harus pupus sudah.


Dia sudah merasa tidak kuat lagi, dan kini masa-masa persalinan tengah berlangsung dan lahiran normal adalah pilihan Fatma saat ini, biarpun dia merasa lemah tetap ingin lahiran normal, terkecuali bila benar-benar tidak ada jalan lain.


...---...


Sekitar pukul sebelas. Pesawat yang dikendalikan oleh arya baru saja landing di Bandara tujuan yang berada di kota Jakarta.


Arya sudah membaca chat dari keluarganya, yang mengatakan kalau Fatma mau lahiran dan sudah berada di rumah sakit harapan bunda.


Tak terbayang gimana gelisah nya hati Arya saat ini. Was-was cemas bercampur menjadi satu. Namun meskipun begitu dia tidak bisa segera pulang.


Dikarenakan harus menunggu tugasnya selesai. Setidaknya sampai membuat laporan di kantor.


"Ya Allah ... lancarkan persalinan istri ku?" gumamnya dalam hati yang terus berdoa untuk kelancaran persalinan Fatma.


Setelah menyelesaikan semua tugasnya di kantor, Arya segera untuk mengambil motornya yang berada di dalam kantor tersebut. Agar secepatnya pulang dan bertemu sang istri.


Rekan-rekan yang tahu bahwa istri Arya akan melahirkan, mereka sempat memberikan doa pada Arya semoga lahiran sang istri lancar dan selamat baby maupun ibundanya.


Saat ini Arya sudah duduk di atas motor besarnya itu, tidak lupa menggunakan helm dan segera melajukan si roda dua dengan cepat melesat bak kilat. Kebetulan jalanan pun tampak lengah dari kendaraan lainnya. karena memang suasana hampir larut malam.

__ADS_1


Pikiran Arya melayang-layang, mengingat sang istri yang entah gimana keadaannya sekarang ini? namun dia tetap fokus dalam mengendarai sepeda motornya itu. "YA Allah ... lancarkan lahiran istriku selamatkan baby dan ibunya." Batin Arya.


Wajah yang tampak gusar, terus fokus melaju dengan cepat dan tujuannya bukanlah ke mansion namun langsung ke rumah sakit. Dimana sang istri sudah berada di sana dari siang hari.


"Aku ingat, kalau Fatma ingin aku menemaninya ketika lahiran, saat ini aku masih di sini dan nggak tahu apa Fatma sudah melahirkan atau belum?" Monolog Arya.


Dengan kecepatan yang tinggi, sehingga tidak terlalu menyita waktu, si roda dua memasuki area parkiran Rumah sakit tersebut.


Setelah menyimpan helmnya hanya setengah berlari, menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang bersalin dimana sang istri di sana.


Dengan masih mengenakan seragam pilotnya, serta terbungkus jaket hitam. Arya terus berlari hingga akhirnya sampai di depan ruangan tersebut, di sana ada abah Pak Wijaya dan kebetulan Sultan pun berada di sana.


"Hai bro cepetan?" panggil Sultan seraya melambai.


"Assalamualaikum, Abah. Ayah, kau Sultan sudah ada di sini?" tanya Arya.


"Aku baru datang bro, sama habis tugas," sahut Sultan.


"Ooh Makasih sudah datang?" ucapnya Arya.


"Sebaiknya, cepat masuk? Fatma sudah menunggu." Kata Abah dan Pak Wijaya berbarengan.


Arya mengangguk sambil membawa langkahnya memasuki ruangan bersalin.


"Sayang, Aa datang." Ucapanya ketika sudah melintasi pintu.


"Aa, Alhamdulillah ..." wajah Bu Wati dan Umi yang tadinya pucat sedikit berubah kembali bercahaya, merasa senang Arya datang tepat pada waktunya.


Apalagi Fatma, di tengah kondisinya yang lemah dan payah. Bibirnya selintas berikan senyuman yang tipis, menyambut sang suami yang akhirnya datang dan menemani.


Bahagia, sekaligus sedih. Bisa datang tepat pada waktunya. Karena memang Fatma belum lahiran juga. Dan insya Allah bisa menemani.


"Maafkan, Aa sayang. Aa terlambat? kecupan mesra lagi-lagi mendarat di kening Fatma yang memejamkan matanya.


"Kenapa baru datang?" aku nunggu dari sore soalnya lirih dan pelan.


"Iya, sayang. Pesawat mengalami keterlambatan, dan baru saja landing sekitar pukul 11.00 lewat buru-buru landing. langsung ke sini belum sempat pulang ke mansion, barang-barang pun masih di motor di luar rumah sakit," kata Arya sambil memeluk kepala sang istri.


"Alhamdulillah, ya Allah ... akhirnya, Aa pulang juga." Lirih Umi dan Bu wati bergantian.


"Iya, Alhamdulillah ... sekarang, Aa sudah berada sini.


Dokter terdiam memandangi haru arya dan Fatma, dan berapa kali terlihat dia menghela nafas dengan sangat panjang.


Kemudian, tangan Arya bergerak mengarah ke perut Fatma seraya berucap. "Sayang, calon baby Papa, keluarlah Nak? sekarang Papa sudah berada di sini, dan akan menyaksikan kamu lahir ke dunia ini, semoga Allah memberi kemudahan dan keselamatan padamu dan mama." Ungkap Arya sambil mengusap perut Fatma penuh haru.


Fatma terus mengatur napasnya. Mengikuti anjuran dari dokter agar dia bisa ngeden dengan baik.


"Ayo, sayang? yang semangat! demi baby kita." Bisiknya Arya.


Keringat Fatma yang sudah bercucuran dengan keringat dingin, dia menatap sayu pada sang suami seraya mengganggu. "Huuh ... huuh ..." membuang napas dengan sangat teratur.


Tangannya memegang erat pergelangan tangan Arya bahkan mencengkeramnya dengan kuat.


Dalam hitungan detik, Fatma mengeden dengan sepenuh tenaga. Dan akhirnya si jabang bayi keluar dengan mudahnya.

__ADS_1


Namun suasana begitu hening, tidak ada suara bayi yang menangis kala itu.


Sontak, semua yang berada di sana dibuat senam jantung, dag-dig-dug tak karuan. Khawatir, takut. Was-was, shock. Bercampur menjadi satu.


Gimana tidak membuat spot jantung? biasanya bayi ketika keluar langsung menangis, tetapi baby nya Fatma tidak bersuara sama sekali. Dan tidak bergerak sedikitpun.


Semua saling pandang dengan kegusaran masing-masing. Takut baby nya Arya dan Fatma kenapa-napa.


Khususnya Fatma dan Arya hatinya melengos sedih. Ingin menjerit sekencang-kencangnya.


Namun pada akhirnya ... Oa ... oa ... oa ... oa ... baby yang masih merah itu bersuara dengan keras.


Si baby bersuara keras seolah memberi tanda kalau dia sudah keluar dari rahim seorang ibu. Melihat betapa indahnya dunia ini.


Fatma memejamkan kedua matanya. Perasaan lega dan bahagia setelah mendengar suara baby-nya yang begitu nyaring.


Cuph!


"Sayang, baby kita sudah lahir sayang." Arya berkali-kali mencium kening dan pipi Fatma, betapa bahagianya perasaan yang menyelimuti Arya dan Fatma khususnya.


Fatma yang lemah, hanya mengangguk dan menunjukan senyum bahagianya.


"Selamat ya? baby nya laki-laki." Kata dokter sambil mengurus baby Arya junior.


"Alhamdulillah ..." gumam nya semua yang ada di sana." Mengucap sukur atas kerunia nya. Lahiran yang lancar, baby laki-laki yang tampan.


Sebenarnya Arya dan Fatma sudah tahu dari awal kalau yang Fatma kandung adalah bayi laki-laki. Namun mereka sengaja bungkam, takutnya pas keluar, Allah mengatakan lain dan akhirnya kecewa.


"Masya Allah ... ya Allah ..." umi dan Bu Wati menutup mulutnya memandangi baby yang masih merah tersebut yang kini sedang di adzanin oleh papanya, Arya.


Mendengar suara bayi dari dalam. Pak Wijaya Abah dan Sultan melonjak dari duduknya, mereka saling pandang dengan sinar mata yang berbinar dan wajah yang sumringah.


"Sudah lahir, Om. Abah, itu bayinya terdengar menangis." Sultan antusias.


"Iya Tan, Alhamdulillah ya Allah ..." Abah bersujud syukur saking bahagianya, cucu pertama telah lahir.


Begitupun dengan Pak Wijaya. dia sangat bahagia karena Fatma sudah melahirkan, sesuatu yang sangat mencemaskan dari sore hari itu. Akhirnya plong ... disaat ini.


Kini Fatma sedang dipindahkan ke ruang inap, tentu saja beserta baby nya juga, berpindah dari ruang persalinan ke ruang VIP. Ruang yang berkualitas bagus dan terjamin kenyamanannya, hanya dihuni oleh satu pasien saja.


Semua berkumpul di ruangan tersebut. Arya tidak jauh-jauh dari Fatma yang memang gak mau ditinggal.


"Baby kita jagoan. Persis yang Rania mau." Bisik Arya dengan bibir tertarik melengkung membentuk sebuah senyuman yang menggambarkan betapa bahagianya.


"Iya, seperti yang Rania mau ya? Arya junior sambil," sahut Fatma sembari tersenyum tipis ke arah sang suami yang tidak jauh darinya.


"Sekarang sudah launching junior pertama, dan sebentar lagi kita akan membuat junior yang kedua, he he he ...."


Tangan Fatma yang masih terpasang jarum infus, mencari bagian tumbuh Arya untuk dicubit. "Dasar, baru aja melahirkan! Sudah bilang kayak gitu. Emangnya melahirkan nggak sakit apa?" ucap Fatma sembari menyunggingkan bibirnya.


"Kan tidak sekarang sayang ... nanti satu bulan lagi, kita bikin lagi. Bikin junior-junior yang lainnya! biar ramai," sambung Arya sembari mengecup kening sang istri.


Abah, pak Wijaya. Sultan, Bu Wati dan umi mengerubungi baby yang tampak menggemaskan. Kulitnya masih merah. Hidungnya mancung. rautnya tampan, bibirnya juga begitu ranum ....


.

__ADS_1


Semoga kalian suka dengan detik-detik akhir cerita Arya dan Fatma 🙏


__ADS_2