Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Kenyang


__ADS_3

"Papa ... Rania kangen. Kok Papa gak temua Rania sih? lua kah sama aku," Rania berjalan cepat menghampiri Arya.


"Hi ... anak manis kesayangan Papa. Pagi ... Papa tadi ke kamar Rania tapi Rania nya masih bobo gimana?" Arya menyambut Rania lantas memeluk anak itu penuh kasih sayang.


Sejenak mereka saling berpelukan. Menumpahkan rasa rindu bak ayah dan anak kandung.


Fatma mengambil piring buat Arya dan Rania setelah sampai di dekat meja makan. Menyimpan tas Rania di bawah.


"Mau makan apa Aa?" menatap ke arah Arya yang masih memeluk Rania dan mencium pucuk kepalanya.


"Nasi goreng aja sayang." Arya menoleh dan menunjuk ke arah nasi goreng dan ikan goreng yang tertata di meja.


"Rania mau mau makan nasi goreng atau roti?" tanya Fatma sambil mengambilkan sarapan buat sang suami.


"Rania mau makan roti saja, Mam." Balas Rania sambil duduk di sebelah Arya.


"Oke." Fatma membuatkan roti buat Rania yang kini minum susu.


Setelah itu fatma mulai makan satu piring dengan Arya sesekali saling menyuapi.


Dewi cuma mesem sendiri melihat kemesraan sang kakak. Begitupun Abah dan umi. Turut bahagia dengan kebahagiaan Arya dan istri.


"Tambah kah? makannya hem?" tanya Arya pada sang istri.


Fatma menggeleng. "Nggak. Cukup. Sudah kenyang."


"Kenyang mana dengan yang semalam?" bisik Arya pada fatma. Membuat Fatma tersipu malu lalu tak segan mencubit kecil pinggang Arya.


"Aw ... sakit sayang." Pekik Arya mengusap pinggangnya yang terasa panas.


"Kenapa, Aa?" tanya umi. di sela-sela makannya.


"Ah, nggak, Umi. Ini ada semut nakal," sahut Arya menoleh pada orang tua nya sembari nyengir.


Abah dan umi hanya tersenyum melihat tingkah anak dan mantunya.


Usai sarapan, Fatma beranjak. Naik ke lantai atas untuk mengambil tas kerja nya yang masih di kamar.


Setibanya dikamar mengecek kerapihan di cermin dan meraih jam tangan dari laci. Segera menyambar tas kecil dan kerjanya. Ketika mau keluar, berjalan menunduk tiba-tiba menubruk benda keras yang menghalangi langkahnya.


"Aa? kok gak bilang-bilang sih?" Fatma mengusap keningnya.

__ADS_1


Tangan Arya memegang tangan Fatma. "Nanti Aa ke kantor ya? Sore Aa berangkat lagi."


Fatma terdiam sejenak. Menatap mani mata Arya. Bibirnya berdetak ingin bicara sesuatu namun lidah terasa kelu.


"Em besok atau lusa gak ada penerbangan kan?" pada akhirnya Fatma mengajukan pertanyaan.


"Besok, lusa juga ada penerbangan. Setelah itu. Aa cuti beberapa hari, kenapa hem?" Arya mengangkat dagu dengan jarinya agar mendongak.


Fatma menggeleng pelan. Kini keduanya saling berhadapan.


Hari Minggu besok acara kita sayang, resepsi pernikahan kita dan aku ingat itu kok." Cuph mengecup pipinya mesra.


"Nanti Aa mau nyusul ke kantor buat ngecek persiapan acara kita." Lirihnya Arya.


Kepala fatma mengangguk, "Boleh. Datang saja. Aku gak terlalu sibuk kok."


"Makasih sayang?" Cuph! pipi kanan dan kiri fatma.


"Aku mu pergi dulu, titip Rania ya?" Fatma melepas pelukan.


Kemudian Arya pun mengikuti langkah sang istri yang meninggalkan kamar tersebut.


Arya menuntun tangan Fatma menuruni anak tangga. Fatma segera pamitan untuk ngantor. pada sang ibu mertuanya.


Kemudian Fatma mengulurkan tangan pada Abah. "Abah, aku pergi dulu ya. Kalian kalau mau jelan-jalan. Minta saja pada supir yang ada."


Fatma mencium tangan Abah penuh hormat.


"Dewi, kamu antar Rania sekolahnya mulai besok aja ya? hari ini kamu istirahat saja," ucap Fatma yang di arahkan pada Dewi yang tampak belum selesai makannya.


"Iya, Kak, aku nurut saja pada kalian."


"Nona manis. Bekalnya sudah dimasukan ke tas?" tanya Arya seraya mengambil tas Rania.


"Sudah, Papa. Tinggal capcuss saja," ucap Rania turun dari kursinya. Kemudian menarik tangan Arya.


Lalu mereka berjalan ke depan melintasi pintu utama itu. Kemudian Fatma memasuki mobilnya.


Sementara Rania, Arya naikan ke atas motor Arya. Dan mereka


bersiap melajukan kendaraanya masing-masing.

__ADS_1


Fatma dan Rania saling melambaikan tangan. Dengan kendaraanya masing-masing.


...---...


Sudah beberapa hari Renata tinggal bersama orang tua nya, Doni pun kekeh sering menginap tadi tempat mertua. Sekalipun sikap dingin yang Renata tunjukan padanya bikin hati marah berasa tidak dihargai.


Namun Doni tetap tidak perduli. Sekalipun kerap tidur di sofa sebab Renata usir, tidak serta merta Doni memilih pulang. Dia tetap pulang kerja ke tempat mertua nya.


Seperti pagi ini. Doni meminta di bikinkan kopi. Namun dari pada dibikinkan, Renata malah marah-marah. Dengan alasan dia pun mau pergi kerja. Tidak ada waktu untuk melayani Doni.


Sering kali bunda Tita tegur agar Renata tidak bersikap demikian pada Doni sebagai suaminya. Renata yang kini keras kepala tidak perduli dengan omongan sang bunda.


"Bunda gak pernah mengerti dengan kamu sekarang ini. Rena ..." ucap bunda pada Renata yang sedang sarapan.


Lalu bunda mengalihkan pandangan pada Doni yang juga sedang sarapan. "Maaf Nak Doni. Bunda tidak pernah mendidik Renata untuk kurang ajar pada suami. Sebab Bunda juga tidak pernah begitu."


"Buat apa sih? Bunda minta maaf. Bunda gak salah kok. Aku cuma minta pisah itu saja," ungkap Renata dengan nada dingin.


Degh!


Doni sejenak berhenti mengunyah, menatap datar pada Renata yang meminta pisah, kata-kata itu terucap untuk kesekian kalinya dari Renata.


Doni terdiam sejenak. Makannya pun mendadak tidak berselera lagi. Sehingga ia langsung meneguk minumnya. Menatap piring yang masih ada setengahnya lagi.


"Aku maunya pisah, titik." Renata melengos pergi. Meninggalkan tempat tersebut yang ada Doni dan sang bunda.


"Rena? Renata? tunggu!" pinta bunda Tita pada Renata.


Namun Renata terus berlari menenteng tas kecilnya. Keluar melalui pintu utama. Doni masih mematung di depan makannya. Kini ia bingung harus bagaimana menghadapi nya ini? sementara tidak sedikitpun ada niatan untuk meninggalkan Renata. Doni tidak pernah membayang kalau rumah tangganya dengan Renata akan menjadi serumit ini.


Bunda Tita menggeleng. Memandangi Dani yang wajahnya menjadi puas. "Jangan di ambil hati ya kata-kata Renata barusan. Bunda yakin Renata tidak sungguh-sungguh."


Doni cuma mengangguk. Lalu beranjak dan pamitan untuk berangkat kerja. "Bunda. Aku pergi kerja dulu."


"Iya, hati-hati ya. Jangan ngebut. Dan jangan diambil hati ya omongan Renata barusan.


"Iya, Bunda!" Doni berlalu membawa langkahnya yang lebar menuju teras, dimana mobilnya terparkir manis di sana.


Setibanya Doni di teras dan hendak memasuki mobilnya. Alangkah kagetnya dia, ternyata ban depan nya kempes. "Ah sial, gimana ini? mana siang lagi. Ck." berdecak kesal.


Kaki Doni menendang ban yang kempes tersebut. Hatinya tambah kesal, mau tidak mau dia harus mengganti ban terlebih dahulu ....

__ADS_1


****


Kira-kira siapa ya yang sudah bocorkan ban mobil doni?


__ADS_2