
"Dasar laki tiada guna! laki-laki gak becus. Letoy, gak berguna! segitu aja kalah," wanita itu penuh emosi. Kakinya menendang bagian-bagian tubuh Aldian.
"Kau pikir gua gak capek ha? gak siang gak malam kau mengajak ku hubungan terus. Lu pikir gua mesin robot ha?" Aldian pun tersulut emosinya. Bangun dan mengenakan pakaiannya.
Namun tangan wanita itu menarik pakaian Aldian dan mendorong tubuhnya ke kasur.
Blak!
Namun Aldian langsung bangun lagi. Wanita itu tetap menarik tubuh Aldian dan menarik semua yang melekat di tubuhnya, sehingga pria itu polos kembali.
Dan dengan liarnya. Wanita tersebut berperan penting terhadap lawan mainnya. Namun Aldian yang kewalahan tidak bisa lagi menghidupkan gairahnya, dia benar-benar lelah dan aset berharga miliknya sakit serta lecet. Dia tidak sanggup bermain lagi, terkulai lemah.
Wanita itu kalap memukul menampar, menendang. Begitupun dengan Aldian yang tidak mau kalah. Dia menjambak rambut wanitanya, meremas dadanya yang kiri dengan amarah, menggigit.
"Set-an lho, gila lu. Beraninya menganiaya perempuan, dasar cemen. Banci, Monet kau. An-ji-ng yang makan sampah." Maki perempuan tersebut.
"Lu pikir gue yang mulai ha? lu yang mulai, biawak. Perempuan penjahat kela-min lu, wanita gila, stres. Monster lu, dasar hiper lu." Balik pekik Aldian.
Pria dan wanita yang sama-sama polos itu saling serang. Dengan tanda kutip menyakiti satu sama lain, berguling di atas tempat tidur, saling cekik. Lalu berguling di lantai dan pada akhirnya. Tangan perempuan itu menyambar vas bunga dari meja yang tidak jauh dari mereka.
Brug!
Prak!
Vas bunga yang terbuat dari keramik itu menimpah kepala Aldian dengan sekuat tenaga wanita tersebut, yang langsung pecah berkeping vas tersebut. Netra nya Aldian melotot dengan sempurna. Kepala bagian atas berdarah.
Perempuan tersebut bangun terhuyung menghindari tubuh Aldian. Dia menatap puas. "Mampus lu."
Namun Aldian mengejarnya dan mendorong perempuan tersebut ke dekat jendela, perempuan itu panik dan berusaha melepaskan diri dari Aldian yang terus menyeretnya ke jendela, dan sambil menjerit meminta tolong.
Si perempuan menjerit-jerit meminta tolong. "Tolong ...."
"Lu ingin gue mampus kan ha? oke kita mampus sama-sama, terus kenapa lu takut ha?" Teriak Aldian dengan terus mencekik leher lawan mainnya.
Perempuan itu, semakin tersiksa dan mulai terganggu pernapasannya. Kedua tangannya memegangi tangan Aldian supaya melepaskannya.
__ADS_1
"Le-lepas brengsek, kalau lu mau mampus saja sendiri. Gue ma-masih pe-pengen hi-hidup." Suara perempuan itu terbata-bata.
Gep!
Perempuan itu dapat menggigit bahu Aldian. "Awwww ..." pekik Aldian memegangi bahunya dan melepaskan cekikan nya. "Set-an lu!"
Perempuan tersebut berlari mendekati pintu. Namun karena panik Tidan dapat membuka pintu yang terkunci, kemudian lari ke pintu balkon dan mau minta tolong dari sana.
Aldian mengejar dengan cepat dan menangkap tubuh perempuan itu. "Jangan berharap kau bisa lolos, wania binal, ******!"
"To-tolong?" jerit perempuan itu. "Tolong ...."
Kini mereka berdua saling cekik kembali, berguling di pagar balkon. Semakin lama tubuh mereka semakin oleng, condong ke depan, postur tubuh Aldian yang besar membuat beban yang mendorong wanita tersebut semakin berat, dan akhirnya tubuh keduanya terjatuh ke bawah, dari ketinggian lantai 20.
Kejadian itu sangat menggemparkan di malam ruang masih terbilang sore. Yaitu sekitar pukul 21.00 wib. Sepasang pria dan wanita yang sama-sama polos itu bersimbah darah dan meninggal di tempat.
Tragis, miris. Ngeri. Itu yang di rasakan orang-orang yang melihat kedua orang tersebut, tergeletak tidak jauh dari pohon palem.
...---...
Dewi dan Sultan baru hari kemarin datang dari umroh bersama keluarga keduanya yaitu Abah dan umi. Ayah dan ibu nya Sultan juga.
Pandangan Sultan begitu intens daun pintu, menunggu sang istri yang sedang berada di kamar mandi.
Setelah pegal menunggu, akhirnya Dewi muncul juga dengan penampilan yang lain dari biasanya.
Mengenakan pakaian yang kurang bahan menurutnya. Dia muncul dengan malu-malu, kedua tangannya menutupi bagian-bagian tertentu miliknya.
Mata Sultan melotot, memandangi sang istri yang berdiri di dekat pintu. Dia tampak malu-malu dan maju mundur penuh ragu.
"Aku ganti lagi ya? ini mah kurang bahan, malu, biarpun dulu aku suka seksi, tapi gak gini-gini juga kali, Nerawang banget ..." Dewi mengamati penampilannya.
Sultan buru-buru turun dan menghampiri. "Nggak-nggak, gak usah, orang cuma kita berdua kok, Abang suka kaya gini."
"Tapi malu. Gak biasa kaya gini, masih ada yang lebih sopan kok." Dewi kekeh ingin mengganti pakaiannya.
__ADS_1
"Tidak, tidak perlu ya? biar gak malu ... sini Abang peluk?" Sultan memeluk tubuh mungil Dewi.
"Iih, ini mah maunya Abang." Dewi memukul bahu Sultan.
"Siap belum? siap dong ..." Sultan mengeratkan pelukannya dan mencium pucuk kepala Dewi nan mesra.
"Em ..." Dewi dengan pelan mengangguk.
"Yes!" Sultan menarik tangannya. Wajahnya sumringah kalau malam ini mau belah duren, malam yang teramat di tunggu-tunggu.
Sultan menarik tangan Dewi ke atas tempat tidur dan menggantikan sinar lampu menjadi temaram.
"Abang bahagia jika malam ini dapat menikmati sesuatu yang seharusnya kita nikmati dari setelah kita menikah." Jemari Sultan mengelus pipi Dewi yang halus.
Dalam remang, Dewi menatap sendu ke arah Sultan yang tatapannya penuh dengan gairah. Maklum sudah dua Minggu ini menikah belum memenuhi kewajibannya sebagai suami istri. Ada aja halangan nya apalagi ketika beribadah umrah pengen lebih khusu aja menjalaninya nya.
Jadi. Akhirnya mereka akan melakukannya di Jakarta juga, Sultan mulai melapaskan sejuta rayuan mautnya. Membuat lawannya klepek-klepek. Dengan lembut dan sabar mencumbu dan menuntun wanitanya itu ke dalam kenikmatan yang kata orang bikin play. Berasa melayang ke awanan.
Dengan suasana yang syahdu. dan malam yang sangat mendukung untuk menikmatinya. Pada akhirnya mereka melepaskan juga predikat pe-ra-wan dan bujang di malam ini.
Dewi meneteskan air mata ketika melepaskan sesuatu yang selama ini dia jaga dengan sepenuh hati.
"Sakit!" desis Dewi.
"Maaf sayang?" Sultan menghentikan kegiatannya sejenak. Namun setelah beberapa saat dia melanjutkan kembali dengan pelan dan penuh perasaan.
Malam yang panjang ini menjadi malam yang teristimewa untuk keduanya, dari setelah menjadi sepasang suami istri bari kali ini penyatuan yang mereka berdua lakukan dan inilah jalinan yang sesungguhnya.
"Akh ... semoga menjadi benih yang baik, di dalam rahim mu. Dan aku titipkan benih yang terbaik dari semua yang terbaik." Harap Sultan dan menjadi doa untuk keduanya.
"Aamiin." Timpal Dewi dengan suara yang bergetar dan akhirnya melepas rasa bahagia yang tidak dapat di gambarkan dengan kata-kata.
Malam semakin beranjak dengan begitu indah bagi pasangan pengantin baru ini ....
.
__ADS_1
.
Terima kasih peda reader ku yang sudah mengikuti dari awal sampai detik ini๐ bagi siapa yang ingin di sebutkan namanya di acara tujuh bulanan Fatma nanti daftar y?