
"Iya benar, sudah bawa angkot saja yang jelas-jelas di daratan dan akan banyak yang membantu bila ada sesuatu yang tidak diinginkan," timpal yang lain lagi.
"Ini bukan saatnya untuk menyalahkan siapapun. Sudah jelas di luar cuaca buruk, Bapak, Ibu. Abang dan Mbak, sebaiknya kita berdoa semoga Tuhan memberi keajaiban dan kita diselamatkan!" suara seorang pramugari dengan sangat lembut.
Akhirnya mereka tidak saling menyalahkan lagi, yang terdengar hanya suara orang-orang yang bertasbih, bertakbir. Dan tahlil saja.
Gagal mendaratnya pesawat, sungguh bikin kepala para awak bukan hanya cemas, panik dengan kondisi yang ada namun juga panas seakan mendidih dengan omongan mereka yang gak sabar dan menyalahkan pilot selaku orang yang bertanggung jawab dalam mengendalikan sebuah pesawat.
"Kami mohon, harap bapak, Ibu tenang dan terus berdoa. Sebab bukan cuma kalian yang ketakutan, termasuk kami. Para awak dan tentunya pilot yang tentunya bertanggung jawab akan hal ini" ungkap Sultan dan pramugari terus mencoba menenangkan.
Arya dan para awak lainnya harap-harap cemas bisa mendarat dan selamat. Cuaca masih tak berubah, gelap dan hujan masih mengguyur serta kabut semakin menebal.
"Ya Allah ... aku berlindung padamu dari segala marabahaya ini. Beri kami kesempatan untuk menjalani hidup lebih baik, selamatkan kami ya Allah." Batin Arya penuh dengan doa.
"Allahuakbar, Allahuakbar. Lahaula walakuwata ilabillah." Takbir terus bergema dari bibir Arya dan rekannya.
Namun setelah beberapa waktu melewati kondisi yang menegangkan, yaitu pesawat yang kembali melayang di angkasa tersebut terkendalikan juga. Kini badan pesawat sudah mendekati area bandara yang tadi ditinggalkan. Perlahan turun-turun dan akhirnya landing dengan sempurna di atas landasan yang luas itu.
__ADS_1
Akhirnya semua bisa bernapas lega dan mengucap syukur dengan segala kebesarannya yang maha kuasa. Telah membawa pesawat beserta isinya ke atas landasan, ada yang langsung bersujud syukur sebab terlepas dari masa-masa yang menegangkan otak dan tubuh di sekian waktu sebelumnya.
Semua selamat tak kurang suatu apapun, Semua mengucap syukur kehadirat yang maha pencipta alam beserta isinya. Masa-masa panik telah berlalu dan semua orang segera keluar walau hujan deras masih juga mengguyur tempat sekitar.
Arya yang kebetulan selalu disandingkan dengan kapten Wisnu, pada akhirnya bisa bernapas lega kendati rasa shock begitu menyelimuti hati dan pikirannya. Dibalik rasa syukur dan bahagia telah mendarat dengan selamat. Tetap saja perasaan was-was masih mendera, tidak terbayang kalau saja terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Arya dan Wisnu terdiam di tempat, tubuhnya melemas. Setelah melewati kejadian tersebut. Bagaimana tidak shock tingkat tinggi? keselamatan sekitar 143 nyawa berada di tangan mereka berdua.
...****...
Degh!
Fatma teringat pada Arya yang aktifitasnya sebagai seorang pilot. Fatma tertegun kepikiran pria itu, wajahnya mendadak pucat Paseh, tampak gusar. Gelisah, khawatir pria itu kenapa-napa.
Entah sadar entah tidak, Fatma bergumam. "Jalan Pak, ke bandara Halim ya?"
Pak Harlan terheran-heran niat bertanya mau apa ke sana? ada apa di sana? namun tak berani bertanya, melihat raut wajah sang majikan yang begitu cemas.
__ADS_1
Pak Harlan hanya melakukan mobil dengan kecepatan sedang menuju bandara sesuai permintaan sang majikan. Tanpa banyak kata yang ingin dia tanyakan, hanya suara mesin dari mobil tersebut yang terdengar dan suara mesin dari kendaraan lainnya.
Sepanjang perjalanan, Fatma hanya bengong, melihat keluar jendela dengan tatapan kosong. Dari wajahnya terlihat sangat gelisah.
"Semoga saja Arya baik-baik saja." Batin Fatma, ia kepikiran terus pada Arya mengingat berita itu dan ponsel Arya pun tak bisa dihubungi sama sekali. Menambah hati Fatma merasa cemas.
Setibanya di bandara, Fatma bergegas turun. Setengah berlari memasuki area bandara. Matanya mencari keberadaan sosok pria yang ia cemaskan.
Di bandara ramai dengan orang-orang yang menjemput sanak, saudaranya nya penuh haru. Ada yang histeris mengucap syukur bahwa mereka sudah selamat.
Netra mata Fatma terus mencari sosok pria yang ia cari namun dari kerumunan tersebut tak satupun ia temukan awak pesawat seperti pramugara dan pramugari. Apalagi pilotnya.
Bikin hati Fatma bertanya-tanya, kemana mereka? Pandangan Fatma terus menyapu tempat sekitar sambil membawa langkahnya tanpa tujuan. Mata dan hatinya terus mencari bila kah dapat ditemui.
"Dimana dia?" gumamnya lalu mencoba telepon namun tetap hasilnya nihil. Gak aktif. "Masih gak aktif?" Huuh ... buang napasnya berkali-kali melalui mulutnya.
"Tempat nya di mana sih?" Fatma terus bermonolog sendiri. Hingga akhirnya Fatma merasa putus asa, dengan hati yang terus gelisah. Was-was, cemas bergejolak dalam kalbu. Fatma membawa langkahnya yang gontai menuju parkiran, melamun. Pikiran Fatma terganggu tersiksa teringat dia yang entah bagaimana sosoknya ....
__ADS_1