Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Kursus


__ADS_3

"Papa, Rania mau ke sana," ucap Rania menunjuk ke arah taman bermain.


Arya pun langsung mengiyakan. Dan mengajak ke sana, tangan Rania tak lepas dari genggaman tangan Arya. Khawatir anak itu lepas dari perhatiannya, Arya bertanggung jawab penuh akan keselamatan Rania sebagai anak nya sekarang.


Di taman bermain banyak anak-anak yang bermain juga dan tidak luput dari perhatian orang tua nya juga. Mereka berbaur dan bermain bersama.


...---...


Renata pulang dengan hati yang kecewa antara percaya dan tidak kalau Arya sudah menikah dan yang paling menyakitkan adlah sikapnya yang dingin hingga berani mengusirnya.


"Apa mungkin iya, dia menikah? sama siapa! Sebentar! anak yang Arya gendong itu kan anak yang hampir tertabrak waktu itu." Renata memutar kembali memorinya.


"Sayang? aku pulang." Suara Doni memecah keheningannya Renata.


Sehingga Renata buru-buru naik ke atas tempat tidur dan pura-pura tertidur.


"Sayang ... kok sore begini sudah tidur sih?" Doni menarik dasi nya dan menyimpan tas kerjanya. Mendekati sang istri yang tampak tertidur.


Doni membelai pipinya dan mengecup keningnya. "Sayang bangun, aku pulang nih!" pelan.


Setiap Doni pulang kerja selalu langsung pulang ke rumahnya ini bersama Renata.


"Hem ..." Renata menggeliat. Membuka matanya melihat ke arah Doni.


"Kau sudah pulang?" tanya Renata sambil memicingkan matanya.


''Sudah dong sayang ku cinta ku, makanya ada di sini.'' Doni mendekat lantas mengecup bibir Renata.


''Aku mau mandi dulu." Renata bangun lantas turun.


"Aku, punya berita baru tentang mantan mu!" gumam Doni.


Membuat Renata sontak menoleh pada Doni. "Kenapa?"


"Mau tau? atau tau banget?" ucap Doni dengan nada dingin.


Renata terdiam, dan menatap ke arah pria yang menjadi suaminya ini.


"Aku dengar mantan mu juga sudah menikah, di Bandung. Dengan rekan bisnis ku, Fatmala, hebat dia. Lepas dari mahasiswa, bisa dapatkan CEO besar." Doni menyunggingkan bibirnya.


Berita yang Doni sampaikan itu sungguh mencengangkan. Yang semula tidak percaya kini menambah sakit di hati, bagai ada yang menghiris. Luka nya membuat kedua matanya berembun.


Doni, turun dan menghampiri, berdiri di dekat Renata yang betah mematung. "Kenapa? kau itu istri ku! bukan siapa-siapa dia lagi."

__ADS_1


Tangan Doni memegang kedua bahu Renata, lalu mengangkat dagunya. "Kau istri ku, kenapa harus menangis. Kita sudah bahagia!" memeluk Renata sangat erat.


"Ternyata benar, kamu sudah menikah dengan wanita dan anak itu? berarti anaknya." Air mata Renata berjatuhan ke bahu Doni dan tangisnya pun pecah.


"Hei ... buat apa kamu menangis? kamu istri ku, gak pantas menangisi laki-laki lain." Doni mengusap punggung Renata.


Renata melepas pelukan Doni dan menjauh dua langkah. Sehingga memberi jarak di antara keduanya.


"Ini semua gara-gara kamu! sadar gak? kamu yang membuat Arya meninggalkan ku, kamu yang terus menggoda ku sehingga aku menduakan nya." Suara Renata langsung meninggi dan menunjuk ke arah Doni.


Doni menatap tanpa ekspresi. "Sayang kenapa bilang begitu? bukankah kamu juga menikmatinya? ha! aku aja kalau kalian itu memang tidak berjodoh gak perlu menyalahkan orang! terus kenapa juga kamu mau selingkuh dengan ku? bukankah kita memang berteman. Kenapa sekarang kau menyalahkan ku?"


"Jelas aku menyalahkan mu, sebab gara-gara kamu datangi aku di restoran itu Arya jadi tahu, itu pasti berawal tahunya dia dari sana, kalau bukan kamu harus salahkan siapa lagi! aku gitu ha?" hardik Renata sambil menangis.


"Aku menyesal sudah menduakan nya, aku menyesal sudah membuat dia meninggalkan ku. Aku menyesal menikah dengan mu, aku menyesal." Renata menunjuk-nunjuk ke arah Doni.


Sekarang hatinya menjadi marah pada Doni yang menyebabkan terpisahnya dia dan Arya.


"Jangan menangis sayang. Turunkan ego mu itu, nikmati aja sekarang kita sudah menikah, kan ini kesempatan kita juga. Cepat-cepat menikah agar tak merubah dengan rencana semula. Tanggal dan hari yang memang sudah di tentukan, sudah ah jangan marah padaku!" ujar Doni dengan tetap lembut.


Renata mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur, menutup wajahnya yang basah dengan air mata. Hatinya semakin hancur mendengar Arya sudah menikah.


"Ooh, jadi Arya menikahi wanita yang pelihara dia rupanya." Gumamnya Renata dalam hati sembari mengusap pipinya yang basah itu.


"Gimana kalau kita jalan-jalan, makan malam di luar, kamu belum masak, kan sayang?" Doni mendekati dan duduk di dekatnya Renata.


Tak ada pembicaraan lagi di antara keduanya. Renata memilih tuk diam, dan pada akhirnya Doni beranjak berjalan mendekati kamar mandi.


"Aku, mandi dulu. Setelah aku mandi kamu harus sudah siap-siap," ucap Doni sembari menoleh ke arah Renata.


"Siap-siap, apaan? orang belum mandi." Ketus Renata.


Doni memutar badannya. "Terus, sekarang mau mandi duluan atau aku duluan!"


Renata terdiam sejenak. Kemudian beranjak dari duduknya. Berjalan cepat ke kamar mandi.


Doni menggeleng sembari tersenyum. Dan menempelkan bokongnya di sofa. Menunggu sang istri.


...---...


"Sayang sudah belajarnya?" tanya Fatma menoleh Rania yang sedang belajar dengan Arya.


"Sudah," sahut Rania sembari mengangguk.

__ADS_1


"Pinter, yu makan dulu?" ajak Fatma.


Arya menutup buku yang di genggamannya. Kemudian berdiri mengikuti langkah Fatma dan Rania menuju ruang makan.


Fatma langsung menyiapkan makanya Arya dan Rania. "Siapa yang cumi balado?"


"Rania suka?" sahut Rania mengangkat tangannya.


"Dari mana? kan gak ada di dapur?" tanya Arya menatap piring berisi cumi balado.


"Dapat online. Kamu suka nggak?" Fatma balik tanya.


"Nggak, aku gak suka." Arya menggeleng.


"Ha? gak suka? sorry. ku gak tau kamu gak suka." Fatma jadi merasa ga enak hati.


"Tidak apa, masih ada ayam dan tumis-tumisan." Balas Arya seraya mengambil ayam goreng.


Fatma terdiam, merasa bersalah tidak bertanya apa aja yang suaminya suka dan yang nggak.


Fatma terdiam, merasa bersalah tidak bertanya terlebih dahulu. Apa aja yang suaminya suka dan yang nggak.


"Kok bengong? makan! Rania aja sudah mulai makannya." Arya menoleh Rania dan Fatma bergantian.


Arya mengalihkan pandangannya pada Rania. "Sayang, sudah baca doa belum? jangan lupa baca doa dong."


"He he he ... lupa!" lalu anak itu menengadahkan tangan dan membaca doa mau makan.


"Pinter," Arya tersenyum bangga. Kemudian melirik ke arah Fatma yang sedang menatapnya.


Melanjutkan makannya dengan lahap. Menikmati hidangan yang ada di meja, kini Arya mau makan ada yang siapin. Tidur ada yang nemenin. Baju ada yang siapin.


"Sorry ya? kalau masakannya gak enak?" Fatma menoleh ke arah Arya.


"Enak kok, aku biasa dan sebenarnya aku lebih suka makan di rumah." Akunya Arya di sela-sela menyuapnya.


"Em ... aku mau kursus memasak." Kata Fatma seraya meneguk minumnya.


Kedua netra mata Arya menatap ke arah Fatma. "Jangan memaksakan dirimu. untuk pandai memasak, sebab aku tidak menuntut mu pandai itu. Aku tau sayang sibuk, bila perlu tidak perlu memasak juga."


"Tapi, bukankah itu memang sudah sewajarnya aku melayani mu?" balas Fatma.


"Iya sih, tapi yang jelas. Aku tidak akan menuntut mu!" sambung Arya ....

__ADS_1


****


Jangan lupa like komen dan vote nya.


__ADS_2