
"Papa juga lepek ya rambut nya?" tanya Rania lagi.
"Em ... Papa habis bobo, biar segar ya mandi." Balas Arya sembari menggoyangkan kedua bahunya.
"Oo!" Rania singkat lalu melanjutkan makannya.
Fatma hanya memandangi Arya yang juga melanjutkan makannya.
Netra mata Rania kembali mengarah pada sang bunda. Melihat ada tanda merah di leher bawah seperti bekas gigitan serangga entah manusia?
"Mam, kenapa leher Mama merah? di gigit apa?" selidik Rania menatap sang bunda kembali intens.
Deg!
Fatma yang baru mau menyuap kaget lantas segera kembali saling melempar pandangan dengan Arya. Tanpa berkata sepatah pun.
"I-ini. Di gigit serangga sayang, iya digigit serangga jahat." Fatma gelagapan.
"Kok di kamar Mama ada serangga sih. Suruh bibi bersihkan dong disemprot biar serangga yang mati," timpal Rania lagi.
"Iya sayang, nanti Mama atau bibi yang bersihkan. Biar serangga nya mati semua!" Fatma mengiyakan.
Kemudian Fatma mengarahkan pandangan ke arah Arya yang menyeringai, manik Fatma melotot. "Ini gara-gara Aa yang membuat tanda kepemilikan di mana saja." Gumamnya dalam hati.
Arya semakin menyunggingkan bibirnya ketika Fatma melotot ke arahnya, lalu Arya mencibirkan bibir serta menaikan bahunya.
"Huam ... Rania ngantuk. Mau bobo dulu ah. Nanti bangunkan aku ya kalau sudah sore dan Papa mau berangkat?" Rania turun dari kursinya setelah makan siang di piringnya sudah habis.
"Iya. Nanti Mama bangunin. Sekarang bobo aja nggih?" Fatma mengangguk.
"Jangan khawatir! anak manis ... nggak akan Papa tinggalin kok. Pasti di ajak." Sambung Arya.
Anak itu berlari naik melompati anak tangga. Bikin cemas Arya dan Fatma saat melihatnya.
"Sayang. Jangan lari-lari lho, takut jatuh?" pekik Fatma seraya mendongak.
Namun Rania tidak hiraukan. Dia terus saja berlari, sampai hilang dari pandangan.
Fatma menoleh ke arah Arya yang menggeleng. "Aa sih ... bikin itu. Jadinya dia tanya-tanya, kan bingung juga jawabnya. Coba kalau dia curiga Aa menyakiti aku gimana?"
"Ha ha ha ... sayang sih, bikin Aa--" Arya menggantungkan kalimatnya seraya menoleh ke arah kepala asisten, bi Ina.
Fatma pun mengikuti pandangan Arya yang mengarah ke bi Ina. "Dasar. Aku bingung kalau nanti Rania mencurigai kamu menyakiti aku!"
__ADS_1
"Ya ... tinggal jawab aja, beres kan?" Arya dengan ringannya.
"Jawab apa Aa ... gak segampang itu juga!" ucap Fatma seraya menggeleng lalu ngeloyor pergi.
Fatma jadi kebingungan sendiri. Gimana nanti kalau Rania mencurigai Arya seperti papanya yang dulu menyakiti mamanya.
Fatma membawa langkahnya ke kamar Rania yang katanya mau tidur.
Cklek!
Fatma mendorong pintu kamar Rania dan tampak putri kecilnya meringkuk memeluk boneka-boneka hadiah dari Arya.
Perlahan langkah Fatma menghampiri anak itu, naik dan duduk di tepi tempat tidur. Tangannya mengulur, mengusap kepala dan mencium pipinya Rania. "Met bobo sayang," cuph!
"Mam?" panggil Rania dengan suara pelan.
"Ha, iya sayang, kenapa?" mengelus pipi Rania dengan lembut. Hatinya dag-dig-dug, sudah curiga dengan yang akan Rania ucapkan.
Kedua mata Rania terbuka memandangi sang bunda. "Mama bahagia, kan? sama papa?"
Sebelum menjawab. Fatma mengulas senyuman yang menawan di bibirnya.
"Sayang, Mama sangat bahagia bersama papa yang sekarang. Papa sangat menyayangi Mama, dan juga Rania. Tentunya Rania pun merasakan kasih sayang papa, kan?" ujar Fatma dengan jelas.
"Nggak sayang ... papa gak mungkin nyakitin Mama. percaya deh." Fatma terus membelai pipi Rania sampai tertidur.
Kemudian Fatma beranjak. Turun berjalan mendekati pintu. Alangkah terkejutnya Fatma ketika mendapati Arya berdiri depan pintu.
"Sudah, sudah dijawab? gak ada yang berat kan?" tanya Arya sambil menarik sudut bibirnya ke atas.
Bibir Fatma pun mengukir senyuman. "Sudah." Lantas memeluk tubuh Arya sangat erat, menyembunyikan wajahnya di atas dada Arya. "Teruslah menyayangiku dan Rania."
Arya meletakkan dagunya di atas kepala Fatma. "Aku akan berusaha untuk menyayangi mu."
"Terima kasih?" ucap Fatma semakin mengeratkan pelukannya.
"Sama-sama sayang." Cuph! mengecup kening sang istri penuh kasih. "I love you?"
"I love you too!" balas Fatma.
Kejadian itu terjadi di depan pintu kamar Rania. Sepasang mata bening dan polos menatapi Arya dan Fatma tanpa mereka sadari.
Bibir mungil itu tersenyum bahagia dan menutup matanya dengan sepuluh jari, yang masih bisa mengintip di sela-sela nya.
__ADS_1
Keduanya asyik berpelukan sehingga tak menyadari kalau anak yang Fatma pikir sudah tidur itu mengintip.
Beberapa saat kemudian Arya melepas pelukannya. "Yu, biarkan Rania bobo. Nanti bangunkan sore kalau mau berangkat." Menuntun tangan Fatma diajaknya keluar dari kamar Rania.
"Ayo!" akhirnya Fatma bergelayut mesra di tangan Arya. Tidak lupa menutup pintu terlebih dahulu.
Arya dan Fatma masuk kembali ke kamar dengan masih berpegangan tangan sangat mesra. Keduanya duduk di sofa berdekatan seakan tak ada jarak sedikitpun di antara keduanya.
Kepala Fatma bersandar di dada bidang Arya dan Arya merengkuh bahu Fatma ke dalam pelukan. "Nggak ada urusan penting di kantor hem?" tanya Aray sambil membelai rambut Fatma dengan sangat lembut.
"Nggak. Aku pengen di rumah saja sama kamu." Jawabnya seraya mengusap dada Arya dengan teratur.
"Hem ... istri ku manja juga." Bisik Arya sambil menempelkan bibirnya. kening sang istri.
Fatma mendongak. "Emang gak boleh gitu bermanja-manja sama suami?"
"Boleh dong, masa dak boleh bermanja-manja dengan suami
mu ini." Balas Arya seraya mengusap bahu Fatma.
"Mungkin Rania gak mau mamanya mengalami hal yang sama seperti dulu!" gumam Fatma mengingat sang putri.
"Aku tahu, Rania itu anak yang peka dan pinter. Wajar kalau Rania seperti itu kok." Lanjut Arya.
Keduanya asyik berbincang. dari mulai timur sampai ke barat. Kemudian jari Arya menaikan dagu Fatma, di tatapnya sangat lekat.
Lalu menyatukan kedua bibir mereka. Penuh kasih dan gairah. Saling Lu-mat dan his***, Beberapa saat sudah mereka menikmati pagutan masing-masing. Hingga akhirnya Arya menyudahi itu.
"Doakan semoga perjalan, Aa lancar ya?" ucap Arya sembsri mengusap bibir Fatma yang lembab.
"Tidak di pinta pun aku pasti mendoakan mu, sebab aku ingin selalu kita bersama-sama. Cepat pulang," lirih Fatma mengusap pipi Arya dan bibirnya lembut.
"Iya sayang, terima kasih!" sambung Arya kembali merengkuh bahu Fatma ke dalam pelukannya.
"Aku tau setiap pekerjaan mempunyai resiko. Hati-hati ya dalam berkerja dan perhatikan kesehatan serta keselamatan." Tambah Fatma dalam dekapan sang suami.
Kemudian Arya berdiri untuk mengambil tas dan koper nya. Mengecek isinya barangkali ada yang ketinggalan.
Fatma berdiri dari tempat duduknya bersiap membangunkan Rania dan memandikannya. Katanya mau jalan-jalan dulu bersama papanya sebelum jam terbang. Langkahnya dengan cepat meninggalkan kamar tersebut ....
****
Terima kasih atas dukungan reader ku yang selama ini terus mengikuti ku mendukung ku🙏
__ADS_1