
"Jangan memuncak kan emosi ku, dan enyah lah dari hadapanku!" Doni semakin muak melihat keberadaan Indah.
"Hi ... santai! aku salah satu kunci rahasia kebusukan mu, tau kan maksud ku? jika kamu baik dan menuruti ku! tentunya kau aman. Tetapi bila sebaliknya ... kebahagiaan mu sedang berada di ujung tanduk." Indah seolah menyudutkan Doni.
Mata Doni memerah, amarah nya kian memuncak dengan sosok wanita sebenarnya berteman baik bahkan pernah ia cicipi tubuhnya.
"Pergi! jangan perlihatkan wajah mu lagi dihadapan ku," ucap Doni sambil menunjuk supaya Indah pergi.
Indah melihat kanan-kiri. Tangannya dengan cepat menarik kemejanya bagian atas, sehingga terbuka dan tangan satu lagi meraih tangan Doni di letakkan di atas dadanya yang terbuka tersebut, berbarengan dengan datang nya Renata ke tempat itu.
Doni kaget. Dan sontak menarik tangannya dari dada Indah, dan tampak kikuk di hadapan Renata.
Renata mematung melihat mereka berdua yang begitu dekat. Apalagi sempat melihat tangan Doni memegang dada Indah.
"Kamu kurang ajar ya Don? kamu tau aku ini teman baik istri mu, kau tega. Ren, aku minta maaf? bukan aku yang menggoda, tetapi suami mu yang sudah melecehkan ku! kamu lihat sendiri kan?" Indah bergeser dan bersuara lirih juga bernada kecewa pada Doni.
"It-itu tidak benar sayang! dia bohong. Aku tidak melakukan itu." Elak Doni berdiri mendekati Renata yang mematung.
Renata yang tidak bergeming hanya menggerakkan matanya melihat Doni dan Indah bergantian.
Indah berlutut dihadapan Renata lantas menggenggam tangannya seraya berkata. "Sesungguhnya bukan aku yang kurang ajar apalagi menggoda suami mu, tapi dia yang menggoda ku dan melecehkan ku. Seperti barusan, bajakan dulu--"
"Bohong, sayang. Itu tidak benar, Barusan aku tidak melakukan apapun. Dia bohong supaya kita bertengkar dan ingin rumah tangga kita hancur, sayang harus percaya padaku?" akunya Doni sambil memegang tangan Renata yang satunya.
Renata masih tetap mematung, malah kini air matanya berderai membasahi pipi.
Doni terlihat frustasi, mengacak rambutnya dan menjadi kebingungan dalam keadaan ini.
"Aku, gak tahu harus bilang apa? tentang ini." Pada akhirnya Renata terduduk lesu dan mengusap wajahnya yang basah itu.
Doni duduk dan memeluk bahu sang istri. "Beb, maafin aku? tapi yang kamu lihat barusan itu tidak benar, itu dia yang menarik tanganku, beb."
Indah pura-pura menangis dihadapan Renata. "Aku memang taman tak bermoral, tetapi dia yang sebenarnya menginginkan ku."
"Indah! kau jangan menambah suasana jadi panas ya, kau memang teman kurang ajar." bentak Doni. Yang semakin dibuat ilpil pada wanita ini.
"Iya aku kurang ajar, aku mengakui itu. Rena, suami mu di depan mu memang garang padaku. Tetapi di belakang dia selalu lembut dalam merayu ku untuk melayani nya." Indah terus menyalakan api di antara Doni dan Renata.
"Itu tidak benar, beb bohong dia bohong!" Doni terus mengelak.
"Dia yang bohong, mungkin dia lupa kalau kita pernah melakukannya di mobil! dia memaksaku dasar biadab, dia yang sudah mengambil kesucian ku, Rena. Hik hik hik, dia laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Mau enaknya sendiri." Indah berdiri sambil pura-pura menangis serta menunjuk-nunjuk pada Doni.
Wajah Doni semakin memerah. Dalam hati kecil mengakui kalau pernah melakukan itu di mobil bersama Indah. Benar.
__ADS_1
Tapi itu dulu sebelum dirinya menikah dengan Renata, dan itu bukan memaksa tapi sama-sama mau ditambah karena dorongan obat yang mereka gunakan. Waktu itu Indah sudah bukan pera-wan lagi.
Doni sendiri yang sering pergoki Indah menyerahkan dirinya pada kekasih-kekasihnya dengan gampangan.
Doni menggelengkan kepalanya kasar. "Tidak benar, Beb. Percayalah kalau yang dikatakan dia--"
"Cukup? cukup. Aku gak mau dengar apa pun!" pekik Renata sambil memegangi kedua telinganya.
Indah mengulas senyuman di balik muka sedihnya. Merasa puas, sebentar lagi rumah tangga Renata akan kembali hancur bahkan akan lebih parah dari sebelumnya.
"Aku tidak perduli dengan masa lalu kalian! Tapi aku gak bisa terima dimasa saat ini atau masa yang akan datang. Aku tidak mau menerima itu, tidak." Renata menggeleng kasar.
Dia tampak shock. Air matanya terus mengalir, diingatan nya jadi terbayang akan kesalahan yang dia buat, yaitu menduakan Arya.
"Renata?" Indah mendekat.
Renata mengangkat tangannya. "Jangan dekati aku? aku jijik sama kamu Ndah. Aku minta mulai saat ini jangan pernah temui aku lagi, aku kira kamu lain dari yang lain. Namun ternyata kamu malah sebaliknya, aku kecewa sama kamu Ndah. Kamu malah ingin mengambil suami ku, kan?" suara Renata agak tinggi.
"Renata, dengarkan aku?" Indah ingin membela diri.
"Pergi? aku mohon pergi? sekarang juga, jangan pernah temui aku lagi! pergi ..." jari Renata menunjuk pintu.
Namun Indah tetap berdiri memandangi ke arah Renata.
Doni pun mematung melihat Renata yang tampak marah besar pada Indah.
"Bibi, ambilkan barang-barang Indah? jangan ada yang tersisa." Pinta Renata pada bibi.
Bibi. Dengan cepat mengambil barang-barang Indah dari kamarnya.
"Renata? dengar aku! kamu gak bisa mengusirku begitu saja, sementara suami mu yang jadi biang keladinya tidak kamu apa-apakan, gak adil namanya. Ceraikan dia!" Indah masih masih sempat-sempatnya bilang seperti itu sambil berjalan yang terpaksa atas dorongan dari Renata.
Brugh!
"Tuh, barang kamu! sok-sokan kaya majikan, rasain lho ... sekarang malah di depak dari rumah ini, emang siapa dirimu?" cibir bibi, melempar tas nya Indah.
"Pergi dari sini, jangan pernah kembali atau temua aku lagi, Aku muak sama kamu." Renata tampak sangat geram pada Indah.
"Tapi Rena-Rena ..." Indah memegang tangan Renata yang langsung ditepis.
"Pergi ..." Renata menunjuk jauh agar Indah pergi.
Indah menghela napas panjang. "Baiklah. Aku akan pergi bila kamu mau, namun jangan salah kan aku bila suatu saat kamu akan menyesali sudah mengusir ku!" Indah kini menatap dengan kebencian.
__ADS_1
Renata terdiam dengan menyilang kan tangan di dada. Menatap muak pada wanita itu.
Indah membawa tasnya keluar dari rumah orang tua Renata. Yang menjadi tempatnya berpijak bak majikan. Apa-apa dilayani pembantu dan apa-apa minta bantuan Renata.
Renata buru-buru masuk dan mendapati Doni bengong di tempat semula. Melihat Renata menghampirinya, Doni langsung berdiri dengan wajah pucat.
"Beb? aku minta maaf, itu yang dikatakan Indah cuma masa--"
Helaan napas Renata tampak panjang. "Cukup, gak perlu bilang apa-apa lagi, aku sudah tahu semuanya. Aku tahu sekarang suami ku sudah berubah. Berubah lebih baik, aku tahu itu."
Keduanya saling tatap. Bibir pun sedikit mengguratkan senyuman. Tadinya jantung Doni berasa hampir berhenti berdetak, merasa semua berakhir di sini. Tetapi ternyata Renata memaafkan dirinya. Mengerti kalau itu cuma masa lalu.
Doni memeluk Renata erat. "Terima kasih beb, sudah percaya padaku. Dan menerima masa lalu ku!" Cuph! beberapa kali kecupan mesra mendarat di kening dan pipi Renata.
...---...
Suatu hari, Arya baru datang bertugas lalu menghampiri Rania yang sedang bermain di tempat permainan yang letaknya di sebuah ruangan berdesain khusus permainan anak-anak.
"Rania sayang ... mau ikut gak?" tanya Arya sambil berdiri memperhatikan Rania yang ditemani beberapa anak-anak tetangga. Diawasi oleh Dewi.
"Mau kemana Pah?" Rania malah balik tanya sambil anteng bermain dengan temannya.
"Ya sudah, kalau gak mau! bermain aja di sini ya?" balas Arya sambil mesem-mesem.
"Ya ... Papa, kemana dulu ikutnya? Papa gak jelas banget ih." Jawab Rania kembali.
"Ha ha ha ... Papa mau ke luar Negeri, mau temui mama dan calon Ade bayi." Arya sambil tertawa sendiri.
"Ha? beneran, Pah? nggak bohong kan?" Rania senang namun kemudian merasa ragu.
"Beneran dong sayang ... Papa sudah beli tiket lho buat kita berdua. Tapi itupun kalau Rania mau ikut, kalau gak mau juga ya ... terserah," ungkap Arya kembali.
"Ikut, Papa ikut?" Rania menghampiri sang papa sambung itu.
"Aa, mau jadi ke tempat kak Fatma?" tanya Dewi menatap ke arah Arya.
Manik Arya melihat ke arah Dewi dan Rania bergantian ....
.
.
"Jangan lupa ramaikan juga "Gadis Satu Milyar Ku" ya? terima kasih?
__ADS_1