Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Salahkan aku


__ADS_3

Fatma kesulitan berdiri disebabkan tubuhnya pada sakit dan berasa remuk semua. Dibantu oleh sang bunda dan asistennya ke sofa.


"Kamu kenapa Nak ... kenapa ..." menatap intens Fatma dengan tatapan sedih dan pilu, anak satu-satunya ini terlalu tak ingin diketahui orang lain kalau ada masalah walaupun itu orang tua.


"Aku tidak pa-pa Bu ..." Fatma menyandarkan kepalanya ke sofa.


"Tidak apa-apa gimana Fatma ... kamu kesusahan berdiri gitu?" kepala bu Wati menggeleng tak mengerti. Kemudian melirik pada Arya yang masih berdiri melihat ke arah Fatma.


Arya masih berdiri sambil melihat ke arah Fatma, napasnya masih bergemuruh. Capek habis berkelahi Bi Ina memberikan segelas air mineral pada Arya yang langsung disambut dan di teguknya sambil berjongkok. "Makasih Bi?"


"Sama-sama Tuan." Bi Ina mengangguk.


"Nak, Arya tidak ke napa-napa?" tanya Bu Wati pada Arya.


"Lumayan, Bu. Capek dan badan berasa sakit, balas Arya lalu menghampiri dan duduk di sofa.


"Di sini banyak orang, kenapa gak minta tolong? jangan dihadapi sendiri sementara gak bisa melawan!" Arya memprotes Fatma yang ia pikir terlalu santai.


"Kok kamu marahin aku? aku sudah melawan sekuat tenaga ku! dan aku gak mau bikin seisi rumah ini direpotkan--"


"Walaupun sampai anda tergeletak tak bernyawa misalnya," ucapan Arya memotong kalimat dari mulut Fatma.


Fatma terdiam sejenak sambil nyengir menahan sakit. "Kamu kok malah salahkan aku! kamu gak tau apa-apa dalam berumah tangga," lirih Fatma sembari menunduk melihat lantai.


"Aku memang gak tau dan belum berpengalaman dalam berumah tangga tapi ... setidaknya aku tahu cara menghormati seorang istri," sahut Arya sambil mengalihkan pandangan pada bu Wati.


"Nak, Arya benar sayang ... kalau dai macam-macam itu teriak jangan diam saja. Gimana kalau dia benar-benar kalap? gimana nasib mu sayang?" tutur bu Wati begitu lirih dan merasa sedih.


Helaan napas Fatma begitu berat sebelah meminum air yang tersedia di dekatnya. "BI. Antar aku ke atas." Pinta Fatma sambil menurunkan kakinya ke lantai ekspresi wajahnya kesakitan.


Bi Ina mendekat dan memegangi bahu Fatma dibantunya berdiri, sementara Fatma begitu sulit berdiri dengan badan yang berasa remuk redam terutama bagian bokong dan pinggul.


Arya tak tega melihatnya sehingga tanpa ia sadar meneteskan air bening di sudut matanya, ia terenyuh melihat kondisi Fatma saat ini dan berdiri mendekati Fatma yang didekati Bu Wati tuk membantu.

__ADS_1


"Bi, Bu. Biar aku yang bantu," ucap Arya pada dua wanita tersebut dan langsung mengindahkan perkataan Arya. Menjauh dari tubuh Fatma.


Fatma terduduk kembali karena memang berdiri juga tak mampu tuk saat ini. Netra matanya menatap ke arah Arya yang makin mendekat.


Arya membungkuk dan meraih tubuh Fatma seraya berkata. "Maaf." Arya menggendong tubuh lemah Fatma yang tampak tak berdaya.


Tubuh Fatma melayang dan spontan mengalungkan tangan di pundak Arya sambil memandangi wajah pria itu dengan perasaan yang tak menentu. Jantung nya berdebar-debar terus melonjak-lonjak dari tempatnya.


Begitupun dengan Arya yang dia rasakan saat ini tidak jauh beda dari Fatma, hatinya bergetar. Dag Dig dug bagai bedug yang ditabuh. Apalagi ekor matanya mendapati wajah wanita itu begitu dekat dan terus menatapnya. "Ah ... bikin Arya salah tingkah. "Tunjukan kamarnya." Begitu pelan nyaris tak terdengar, namun manik mata Fatma bergerak seakan mendengar yang Arya maksudkan.


Langkah Arya sudah menaiki beberapa anak tangga menuju lantai atas. Dimana kamar Fatma berada, Arya menoleh ke belakang melihat bu Wati mengikuti dari belakang.


"Awas Nak Arya, hati-hati. Pasti berat ya?" suara bu Wati dari belakang.


"Ah gak pa-pa, Bu. Iya ini juga mata-mata!" balas Arya sambil mesem.


Membuat Fatma pun menarik bibirnya tersenyum tipis walau terasa sakit.


"Iya, kata Ibu, kan hati-hati ... sementara hati-hati itu harus pakai mata ya!" balas Arya sambil menapakkan kaki di lantai atas dan Fatma menunjuk ke arah pintu kamar miliknya.


Bu Wati mendahului dan membukakan pintu, blak ... tampak kamar yang dalamnya lebih mewah dari luarnya.


"Maaf, aku lancang memasuki kamar mu," ucap Arya. "Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam ...."


Arya melangkahkan kakinya ke dalam kamar Fatma dan langsung mendekati tempat tidur yang besar itu. Kemudian membaringkannya di sana.


Fatma menghela napas dan meringsut bersandar ke bahu tempat tidur yang sudah dialasi beberapa bantal oleh sang ibu.


"Makasih? secara tidak langsung kau sudah masuk ke dalam masalah ku, sekarang gimana caranya kau mampu keluar dari masalahku itu?" lirih Fatma seraya menarik selimut menutupi tubuhnya.


"Ya, mungkin aku sudah lancang memasuki area itu. Namun takdir yang mengatakan lain seperti masuknya dirimu ke dalam hidup ku yang waktu itu memerlukan uluran tangan anda. Jadi adanya aku saat ini, tak seberapa bila dibandingkan dengan hadirnya anda dalam hidup ku. Yang mungkin tak akan pernah terbalaskan," ujar Arya sekilas menatap lalu mengalihkan pandangan nya ke lain arah.

__ADS_1


Fatma menunduk lalu melihat ke arah sang bunda yang duduk tidak jauh dari dirinya. "Bu, jangan biarkan Aldian masuk ke kamar ini! Oya tolong suruh bi Ina untuk mengeluarkan sisa-sisa barangnya di lemari. Keluarkan, segera!"


"Iya, Ibu keluar dulu ya?" Bu Wati turun manapakkan kakinya ke lantai.


"Oya, aku pamit dulu! sudah siang." Arya berpamitan, gak enak juga bila cuma berdua dengan Fatma di kamar ini.


"Eeh. Nak Arya jangan pulang dulu kita makan siang dulu!" pinta Bu Wati.


"Nggak usah, Bu. Oya ayah mana? gak kelihatan dari tadi apa ada urusan di luar?" tanya Arya sambil menatap bu Wati dan Fatma bergantian.


Keduanya saling lirik. Kemudian Bu Wati berkata. "Ayah sakit gara-gara Aldian menyerangnya tadi pagi."


"Apa?" Arya mengerutkan keningnya. "Ti-tidak salah yang aku dengar barusan?" Tatapan mata Arya berubah tajam.


"Iya, Nak Arya. Itu benar." Jawab bu Wati sedih.


"Astagfirullah ..." gumam Arya sambil mengusap wajahnya kasar. "Dimana sekarang ayah? apa aku boleh menjenguknya?"


Lagi-lagi tatapan Arya bikin Fatma salah tingkah. "Bo-boleh."


"Mari, Nak Arya. Ibu antarkan!" Bu Wati berjalan di depan Arya.


Sebelum Arya membawa langkahnya mengikuti bu Wati. Arya lagi-lagi menoleh ke arah Fatma yang langsung menunduk tak mau membalas tatapan dirinya.


Kemudian Arya menuruni tangga satu demi satu mengikuti bu Wati yang lebih dulu.


"Bibi Ina, tolong ke kamar Nyonya muda. Di tunggu sekarang juga." Perintah bu Wati, lalu melihat ke arah Arya dan mengajaknya ke kamarnya bersama suami.


"Ada apa Bu? tadi ribut-ribut? saya ingin sekali keluar tapi tak satupun orang menghampiri Ayah." Suara pa Wijaya setelah melihat sang istri masuk. Dia kesal semenjak tadi berharap ada seseorang yang datang namun tak seorangpun yang datang ....


****


Assalamu'alaikum semoga reader ku semua kabar baik ya? jangan lupa like, komen beserta vote nya kalau suka, maksud ku🙏

__ADS_1


__ADS_2