
Tiba-tiba sebelah mata Fatma mendapati pergerakan Rania yang mungkin mau bangun. Gegas tangan Fatma mendorong dada Arya, seraya memberi isyarat dengan ekor matanya kalau Rania bangun.
Arya menoleh ke arah Rania yang sudah duduk, menggeliat dan menguap lebar. Lalu Arya mengalihkan kembali pandangannya pada Fatma dengan sebuah senyuman.
Fatma menggigit bibir bawahnya. Kemudian mereka saling pandang dengan sangat lekat. "Aku mau mandi dulu." Lantas meraih handuk bekas Arya tadi. Badan begitu lengket dan gak nyaman.
Netra mata Arya terus menatap punggung Fatma sampai hilang di sebalik pintu kamar mandi.
"Pah?" Rania memanggil dengan suara parau, matanya celingukan mencari sang bunda.
Arya menoleh dan mendekat. "Apa sayang?"
"Mama kemana? kok aku gak melihatnya?" mata Rania tetap mencari keberadaan sang bunda.
"Em, mama mandi. Ikut mandi sama mama aja," tangan Arya menurunkan tubuh anak itu ke lantai.
Wajah Rania sesaat mendongak. "Nanti siang jalan-jalan gak?"
"Em ... kalau mau? boleh, Papa antar kalau Rania mau jalan-jalan." Sembari mengacak rambut Rania.
"Hore! mau jalan-jalan, Rania mau mandi dulu ya?" Rania hendak pergi.
"Iya, sayang biar wangi nan cantik." Lanjut Arya.
Rania masuk ke kamar mandi dengan riang. Sementara Arya membereskan bekas tidur. Merapikan tempat tidur tersebut.
Arya keluar dari kamar untuk mencari angin pagi di teras, di sana ada Abah dan pak Wijaya, kemudian mereka berbincang.
"Gimana semalam lancar?" tanya pak Wijaya yang di tujukan pada Arya.
Arya tertegun tidak faham dengan yang dimaksud sang bapak mertua Namun tak ingin juga bertanya. Lantas Arya cuma mengangguk pelan.
"Ayah betah di sini. Ada gak ya? yang mau jual tempat di sekitar sini? Ayah mau tinggal di sini ah," ucap pak Wijaya.
"Betah sih betah, tapi bagaimana yang di luar negeri yah? Sekarang aja sudah lama kita tinggal." Timpa Bu Wati seolah memprotes. Dia baru datang dari belakang membawa tiga cangkir teh manis.
"Iya, sih." Tapi beneran deh, Bu. di sini tenang, nyaman." Lanjut Bu Wati.
"Kalau cari tempat sih gampang aja, cuman pertanyaannya tempat tersebut akan bermanfaat atau mudarat?" ucap Arya sambil menatap kedua mertuanya.
"Itu, benar yang di katakan Arya, Yah. Buat apa membeli di daerah ini. Kalau cuma untuk main-main dan cuma buang duit," ungkap Bu Wati.
Mia datang membawa minuman hangat untuk Arya.
__ADS_1
"Minuman hangat, Tuan." Mia menyodorkan Secangkir minuman.
Netra mata Arya bergerak melihat minuman tersebut. "Terima kasih!"
Mia membalas dengan senyuman, lalu kembali masuk ke dalam.
Fatma datang dengan penampilan yang tampak segar habis mandi. Terdengar suara Rania yang bermain di dalam.
tangan Fatma meraih secangkir minuman hangat yang dibuatkan Mia untuk Arya, setelah duduk di dekat Arya.
Fatma melihat intens ke cangkir tersebut. Lalu membuang isinya ke belakang teras yang gak ada tanamannya.
Arya terheran-heran. "Kok di buang, sayang?" menatap lekat.
Begitupun yang ada di sana seperti Bu Wati, pak Wijaya dan Abah. Pandangannya tertuju pada Fatma yang beranjak membawa cangkir.
"Aku, bikin lagi ya sebentar! Oya berapa sendok gulanya?" Fatma menatap ke arah Arya.
"Satu sendok aja," balas Arya dengan masih merasa heran.
Fatma membawa cangkir ke dapur dan membuatkan lagi yeh hangat buat sang suami.
Mia yang yang melirik tidak curiga sama sekali kalau minuman yang dia buat di buang oleh Fatma.
"Ooh, gula itu di dalam lemari kecil." Umi menunjuk ke arah lemari kecil.
"Em, makasih. Umi," tutur Fatma sambil mendekati tempat tersebut.
Setelah jadi, minuman itu mau Arya bawa ke teras. Namun Arya keburu datang dengan Rania yang berceloteh, kalau dia lagi lapar dan ingin segera sarapan.
"Sayang," gumam Fatma sambil menyimpan gelas di depan Arya yang duduk di kursi meja makan.
"Terima kasih? Oya, sarapan apa? Rania lapar nih." Arya menyesap minumnya.
"Rania lapar, emang papa gak lapar ya?" Rania menatap penasaran pada Arya.
"Papa, lapar juga sih. Terus Mama mau bikin apa ya ... buat sarapan kita sayang?" sambung Arya sembari melirik ke arah Fatma.
Fatma terdiam, merasa bingung mau bikin sarapan apa? toh umi sudah menyiapkannya. Tinggal menata di meja saja.
"Apa? Umi sudah menyiapkan nya." Fatma menunjuk masakan yang sedang di pindahin umi ke meja.
"Aa, Non Rania. Sarapannya sudah siap nih. Tinggal makan dan tidak perlu bikin lagi. Ada ayam, telur. Sayur." Umi menata mangkuk di meja di bantuin oleh Fatma.
__ADS_1
Setelah semua berkumpul kecuali Dewi yang masih ngamar dan belum berselera makan. Sarapan pun di mulai.
Fatma mengambilkan beberapa menu ke piring untuk Arya. Kemudian barulah untuk dirinya. sendiri, kalau Rania memang lebih duluan makannya.
"Ayo, makannya yang banyak sayang? biar Rania tambah gemuk," ucap arya di sela-sela makannya.
"Neng geulis betah gak di sini?" tanya umi mengarahkan pandangannya pada Rania yang sedang makan.
"Betah," anak itu mengangguk.
"Betah sih. Tapi sekolah nya beberapa hari ini bolos ya?" Fatma mengusap pipi Rania yang ada nasi nya.
"He'em. Turus pulangnya kapan, Mam? Rania mau sekolah lagi." Rania menatap sang bunda.
Fatma melirik ke arah Arya. Seakan bertanya. Arya faham dengan tatapan sang istri.
"Em, besok aja Selasa pulang. Jadi hari Rabu Rania bisa sekolah lagi. Oke?" ucap Arya yang ditujukan pada Rania.
"Oke, Papa. Tapi jadi kan hari ini jalan--"
"Jalan kemana?" tanya Fatamala memotong ucapan Rania dan menoleh pada Arya juga.
"Entah, Papa yang mau ngajak Rania jalan." Rania menggeleng.
Sebelum bicara menelan dulu makannya. "Ke tempat rekreasi terdekat saja."
"Oo!" Fatma membulatkan bibirnya. Lalu meneruskan sarapannya.
Arya mengakhiri makannya dengan segelas air putih. Terus pamit untuk ke kamar.
Rania pun selesai dan Fatma juga. Setelah membereskan bekas makannya mereka menyusul ke kamar.
Namun Rania malah belok ke kamar aunty Dewi. "Mam, Rania mau temenin aunty Dewi ya sama aunty Mia, kasihan aunty Dewi sedih terus."
"Ooh, boleh sayang. Nanti kalau papa sudah siap untuk jalan, Mama panggil Rania. Ya?" ungkap Fatma mengusap kepala Arya.
Rani masuk kamar Dewi yang bersama Mia. Sementara Fatma masuk ke kamar Arya.
Ketika masuk, netra mata Fatma mendapati Arya sedang tengkurep sambil memainkan ponselnya. Fatma mengendap jalan pelan mendekati Arya dengan niat mau mengagetkan sang suami yang anteng itu.
"Jangan mengendap gitu sayang ... Aa tahu sayang masuk dan mendekati Aa," ungkap Arya tanpa menoleh.
"Akh ... gak lucu, diam-diam aja kenapa sih?" Protes Fatma sembari menghentakkan kakinya ke lantai.
__ADS_1
Lalu merangkak naik, berbaring menghadap ke arah Arya ....