
Keesokan harinya. Rania datang bersama Dewi dan Sultan, dia berlari ke menuju ruangan sang bunda ingin segera bertemu dan melihat sang adik yang katanya baby laki-laki seperti yang dia mau.
Baru di depan pintu saja Rania sudah berteriak. "Mama ... Papa?"
Sembari menyeruak masuk. Dan langsung mendapat teguran dari sang bunda dengan lembut.
"Sayang? setttt jangan teriak-teriak! gak boleh sayang, ini rumah sakit," tutur Fatma sambil membuka tangannya untuk memeluk Rania.
"Oh, iya. Lupa." Rania menutup mulutnya, lalu memeluk sang bunda.
"Em ... Mama kangen sama putri Mama ini." Fatma memeluk erat si putri kecil yang menggemaskan itu.
Rambutnya di kuncir dua memakai pita merah. menambah tampak chaby pipinya, mengenakan kaos dan celana pendek dari jeans.
"Kak, selamat ya? baby-nya wah ... sangat menggemaskan. Tampan dan ah greget aku lihatnya." Suara Dewi pada Fatma yang kini melepaskan pelukan pada Rania.
"Siapa dulu dong papanya? Aa." Timpal Arya sambil menunjuk dadanya.
"Lagian siapa juga yang mau mengakui? aku nggak merasa menanam saham tuh, makanya gak mengakui." Celetuk Sultan dari dekat Dewi.
"Eeh, lagian siapa juga yang mau mengijinkan kau menanam saham di rahim istriku. Kau gila apa?" kepala Arya menggeleng.
Pada akhirnya Arya dan sultan tertawa yang tanpa suara. "Ha ha ha ...."
"Makasih ya? Wi ... sudah menjaga Rania, gak rewel dan gan nakal kan?" Fatma menatap Dewi yang kini duduk di kursi di dekat ranjang pasien.
"Sama-sama, Kak! ih, aku gemes deh pengen dendong tapi takut," Dewi melirik ke arah babi.
"Rania, sayang! gak kangen nih sama Papa mentang-mentang sudah punya baby jagoan. Papa di lupakan nih?" Arya menggoda Rania yang sedang melihat baby dengan bibir yang merekah.
Tangan Rania menyentuh tangan mungil baby yang masih merah itu. "Baby nya bobo, Pah." lanjut menghampiri Arya lantas memeluknya erat.
"Ya ... hari ini Rania bolos dong ya?" Arya mengusap punggung Rania yang berada dalam pelukannya.
"Nggak pa-pa, kan? sebab Rania kangen mama, Papa juga adek baby." Anak itu menatap lekat kepada Arya.
"Em ... iya lah. Sehari kan? besok masuk sekolah ya?" imbuhnya Arya. "Sudah makan belum?"
"Sudah. Rania mau melihat baby lagi ah." Anak itu mendekati si baby.
"Baby nya bangun? bergerak tuh tangannya menggaruk pipi, Mama pipi baby nya gatal," suara Rania menoleh pada Fatma, mamanya.
"Bukan gatal sayang? memang bergerak nya begitu." Kata Fatma sambil tersenyum.
"Namanya siapa bro?" tanya Sultan menoleh pada Arya yang duduk santai sambil menatap putranya itu.
"Namanya ... Arifin Firmansyah," jelas Arya sambil menoleh ke arah lawan bicaranya.
"Wah ... bagus namanya tuh! sebagus anaknya, ganteng. Lah bapaknya pasti ngaku, lah anak gue, gitu kan? gue tahu isi otak lu. Ha ha ha ..." Sultan menunjuk ke arah Arya sambil tertawa.
"Yey ... baru mau ngomong." Arya menggeleng.
"Dede Arif ... hei ... pasti panggilannya Dede Arif ya, Aa?" Dewi melirik ke arah baby dan Arya bergantian.
"Ya, betul. Arifin panggilannya, baby Arif yang comel." Arya berdiri dekat box baby yang yang memicingkan matanya. Menajamkan pandangan pada sang ayah.
"Oa ... oa ... Oa ..." suaranya begitu nyaring.
Arya menoleh pada sang istri. "Sayang? haus kayanya."
Fatma Mendudukkan dirinya. "Bawa aja sini?"
Arya mengangkat baby Arifin, dibawanya ke Fatma. "Sayang-sayang, Papa? janganlah menangis, yang anteng yang Soleh ya?"
Rania menatap Arya yang tampak sayang sama baby Arifin. "Papa sayang banget ya? sama Dede baby?"
Setelah memberikan baby Arifin pada Fatma, Arya mengagerakan netra nya pada Rania yang mendongak.
Arya berjongkok mengsejajarkan tubuhnya dengan gadis kecil itu. "Sayang dong, sama seperti sayang Papa sama Kakak Rania, sama mama juga."
Kemudian Arya melirik ke arah Fatma yang menatap sendu pada dirinya dan Rania.
Kedua netra nya Arya kembali bergerak ke arah Rania. "Kakak Rania gak usah takut. Papa maupun mama akan tetap sayang sama Kakak Rania dan Dede baby-nya, gak ada yang beda. Nona manis dan Dede Arifin, sama. Kesayangan papa!"
Arya memeluk ads kecil itu penuh kasih sayang. dia tidak mau anak ini merasa di beda-beda kan kasih sayang orang tuanya setelah hadirnya baby Arifin.
Fatma, Dewi. Sultan menatap haru pada Arya dan Rania yang sedang berpelukan.
Lalu Arya bawa Rania ke ranjang Fatma dan duduk di sana. Anak itu terlihat happy berdekatan dengan baby Arifin yang sedang menyusu.
"Oa ... Oa ..." lagi-lagi Dede baby bersuara, lalu menyesap asi sang bunda dengan kuat.
"Mama! Dede baby nya haus sekali ya? paha sekali ya?" Rania mengintip baby Arifin dan sesekali menyentuh pipinya.
__ADS_1
"Iya, sayang. Baby Arifin haus sekali." Fatma mengangguk seraya mengusap pipi Rania dengan lembut.
Semua menatap bahagia pada baby yang masih hitungan jam berada di dunia ini.
"Nanti kita bikin yang seperti ini ya! yang?" Sultan menyenggol tangan Dewi yang melongo melihat gemas pada baby Arifin.
"Eeh ... apaan sih?" Dewi tersipu malu.
"Om Tatan. Bikinnya pake apa? biar sama dengan Dede arifin?" tanya anak itu seraya mengerutkan keningnya.
Semua mata tertuju pada Sultan, seolah mengintimidasi dirinya. "Aduh, Om kebelet pipis nih! ke toilet dulu ya?"
Sultan kabur ke toilet dan tentunya untuk menghindari pertanyaan dari Rania.
"Tante? bikin Dede bayi gimana sih?" tanya ulang Rania, kini Dewi yang menjadi sasarannya.
"Ehem, Kakak Rania sayang gak sama dede nya?" suara Arya mengalihkan pertanyaan yang bikin orang bingung itu.
"Rania, sayang dong ... apalagi kan Kakak Rania yang mau adik laki-laki. Berarti Allah mengabulkan doa Rania ya Mam? Pah?" Rania melihat kedua orang tua nya bergantian.
"Oh, iya. Dong ... Allah sayang sama Rania, mengabulkan doa Rania. Jadi Rania harus bersyukur," timpal Arya sambil mengusap pucuk kepala gadis kecil itu.
Senyuman yang merekah, menggambarkan kebahagiaan di wajah-wajah orang berada di tempat tersebut. Terutama Arya dan Fatma juga Rania.
Keluarga kecil yang dipenuhi kebahagiaan yang sesungguhnya. Saling mencintai dan saling menyayangi satu sama lain, di tambah dengan hadirnya baby Arifin yang menambah lengkapnya keluarga kecil mereka.
Sekitar tiga hari di rumah sakit. Setiap hari itu juga orang-orang pada datang, seperti rekan bisnis. Karyawan dan relasi Fatma berdatangan.
Begitupun rekan-rekan dari pilot juga pramugari dan pramugara juga tak luput datang untuk menjenguk dan menyambut kehadiran baby Arifin yang tampan dan menggemaskan. Pipinya merah, hidungnya mancung dan bibirnya ranum serta kulitnya makin ke hari semakin putih bersih.
Hadiah-hadiah buat baby Arifin pun memenuhi ruangan VIP Fatma, dari yang biasa sampai yang luar biasa, bahkan sudah sebagian pak Harlan bawa pulang ke mension dengan perintah Arya yang menyuruh untuk dibawa pulang.
Namun Arya tidak membawa pulang Fatma ke Mension. Melainkan ke istana ke milik Arya yang akan Arya persembahkan buat Fatma, istri tercinta.
"Kemana ini sayang? kok bukan ke mension?" tanya Fatma seraya melihat kanan dan kiri.
Baby nya Fatma di gendong oleh ibu Wati dan umi di kursi belakang.
"Iya, nih. Papa mau bawa kita kemana sih? nggak nyadar kan jalannya." tanya Rania sambil celingukan.
Semua tersenyum mendengarnya. Arya tidak menjawab pertanyaan dari anak dan istrinya itu.
"Pak supir? mau di ajak ke mana sih kita? gak mau di culik kan?" tanya Rania kembali penasaran.
Mobil memasuki sebuah halaman rumah dengan ukuran yang sederhana. Dan berhias bunga-bunga, di pintu terdapat hiasan balon dengan ucapan selamat datang.
Di samping, terlihat jelas taman bermain anak-anak dengan begkron warna-warni khas kesukaan anak-anak.
"Wah ... rumah siapa ini?" tanya Rania dengan mulut menganga. Lalu Rania Arya turunkan terlebih dahulu.
Kemudian menuntun sang istri dengan pelan. Mata Fatma tertuju pada rumah yang terlihat sederhana namun terdapat dua tingkat dengan cat yang dominan warna putih tersebut.
"Ini, istana kecil kita sayang. Walaupun tidak sebesar Mension namun aku pastikan kalian akan merasa nyaman tinggal di sini." Arya berucap lirih pada sang istri yang memandangi ke arah rumah minimalis tersebut.
"Ini teh rumah, Aa?" tanya umi sambil mendekat.
"Iya Umi, rumah ini rumah kita!" sambut Arya sambil tersenyum.
"Masya Allah ... kok Umi baru tahu!" Kata umi Santi.
"Iya, saya juga baru tahu!" timpal Bu Wati sambil gegas memasuki teras kasihan baby Arifin kepanasan.
Rania pun umi tuntun menyusul Bu Wati. Padahal anak itu mau ke taman bermain.
Fatma menatap sang suami. Ia merasa terkejut tiba-tiba mereka di ajak ke rumah baru. "Sayang, serius?"
"Serius dong ... masa nggak. Yu masuk? tinggal kita tempati kok. Semuanya sudah komplit." Arya merangkul bahu Fatma untuk masuk.
Benar saja. Di dalam sudah tersedia perabotan dan di kamar utama pun sudah siap sedia box bayi dan segala keperluannya.
"Makasih yang? makasih?" Fatma memeluk Arya penuh haru.
"Hore ... ye-ye-ye, Rania punya rumah baru! Umi. Kita menginap di sini ya?" Rania berjingkrak bahagia lalu berlari ke taman.
Arya menyuruh pak Harlan untuk menjemput yang lain seperti abah, pak Wijaya yang sudah duluan pulang ke Mension.
Akhirnya kebahagiaan Arya dan Fatma lebih sempurna setelah mendapatkan baby Arifin dan tinggal di rumah baru yang ke lokasi sekolah Rania pun lebih dekat.
Kini di rumah baru itu sedang dengan kedatangan Zayn bersama sang istri, Susi. Dengan perut yang besar dan sebentar lagi lahiran juga.
"Ya Allah ... baby Arifin bikin gumusnya aku, pengen nyubit. Pengen gendong. Aihs ... pengen gigit pipinya." Susi menatap gemas pada baby yang tengah berada di dalam box nya itu.
Fatma dan Arya juga Zayn tersenyum melihat ekspresi wajah Susi yang amat gemas pada baby nya Fatma.
__ADS_1
"Sebentar lagi juga kita akan mempunyai nya." Zayn mendekati dan menyentuh tangan mungil baby Arifin. Serta mencium bahunya yang khas baby.
"Pengen seperti ini," ucap Susi sambil merangkul lengan Zayn penuh manja. Mereka berdua sekarang memang lebih akur ketimbang dulu sebelum Susi hamil seperti kucing dan tikus.
"Mam, Kakak Rania mau gendong ya?" tangan Rania sudah bersiap untuk menggendong.
"Eeh, jangan sayang. Nggak boleh, bayi nya belum kuat, nanti jatuh sayang." Cegah Fatma dengan cepat.
"Rania kuat ko," sambung anak itu sambil merengut.
"Jangan dulu sayang. Nanti kalau Kakak sudah agak besar. Tante aja masih takut jatuh lho!" timpal Susi.
Arya yang baru keluar dari kamar mandi melihat ke arah mereka. "Adiknya ajak main saja, ajak ngobrol biar bawel seperti Kakak!"
"Iih, gemes. Pengen gendong, Papa. Kakak mau gendong!" rengek Rania pada papanya.
Arya menoleh pada sang istri yang menggeleng. "Jangan dulu sayang, nanti kalau baby-nya sudah agak kuat ... baru Kakak boleh menggendongnya ya?"
"Ya, sudah. Kakak ajak bicara saja ya, Pah. Mam?" anak itu tampak gemas pada adiknya sedang bermain dengan tangan terus bergerak.
Kini Dede Arifin sedang di ruang tengah bersama kedua nenek dan kedua kakek nya. Sultan, Dewi. Susi dan Zayn juga beberapa asisten yang ikut bahagia dengan hadirnya baby Arifin.
Arya sedang berada di dalam kamar tengah sibuk dengan laptopnya. Fatma baru selesai mandi dengan masih mengenakan handuk kimono nya, datang menghampiri lantas duduk di dekat Arya, suaminya.
Arya tersenyum ke arah sang istri, menatap intens dan menutup laptopnya. "Seger banget?"
"Hem ... namanya juga habis mandi." Jawab Fatma sambil mesem tangan nya mengusap rambutnya yang basah.
"Terus kapan nih kita mandi bareng?" ucap Arya dengan nada bertanya.
"Ya ... mandi aja, kenapa?" Fatma menatap heran.
"Mandi keringat bersama! he eh he ..." Arya tertawa kecil.
"Apaan sih? baru beberapa Minggu." Fatma mengusap rahangnya Arya dan menatap intens.
"Berarti harus puasa lebih lama lagi nih?" ucap Arya lesu.
"He'em." Fatma mengangguk lalu mengecup pipi sang suami. Bukan gak kasihan sih, tapi kan memang seperti itu.
"Nasib-nasib." keluh Arya sambil membalas kecupan sang istri.
Setelah mendaratkan beberapa kecupan di pipi dan berakhir di bibir Fatma. Arya ********** dengan lembut, tak ayal tangan pun meremas sesuatu yang mengembang karena sedang masa memberi asi.
Sementara waktu, keduanya menikmati sentuhan yang menumbuhkan gairah tersebut. Kemudian perlakuan itu terhenti dengan tatapan Arya yang sebenarnya berharap lebih.
Namun itu sangat tidak mungkin. Untuk melakukannya. Arya memeluk sang istri dengan perkataan yang lembut.
"Terima kasih sayang? sudah menjadi istri ku, memberikan seorang putra dari rahim mu." Cuph! mengecup kening sang istri dengan lembut.
Fatma memudarkan pelukannya dan menatap lekat wajah sang suami.
"Aku juga ucapkan banyak-banyak terima kasih. Kau telah memberiku kebahagiaan dan menyayangi Rania seperti putri mu sendiri. Dan teruslah seperti itu?" harap Fatma sambil membingkai wajah Arya dengan kedua tangannya.
"Tentu sayang, aku akan berusaha semampu ku membuat kalian semua bahagia." Arya dengan lirih.
"Kita berdua akan menjaga dan mendidik anak-anak kita. Agar menjadi anak yang Soleh dan berguna." Kata Fatma kembali.
"Iya sayang. Pasti." Mereka kembali saling berpelukan penuh kehangatan.
"Ayo, lagi ngapain? jangan dulu belah duren! masih lama?" suara Bu Wati mengagetkan Arya dan Fatma yang sedang larut dalam pelukan.
Rupanya Bu Wati menuntun Rania, dan umi yang sedang menggendong si bikin gemes baby Arifin. Di belakangnya ada Dewi, Sultan, Abah dan pak Wijaya. Zayn beserta istri, Susi. Segerombolan orang-orang itu memasuki kamar Fatma dan Arya mengganggu keheningan yang tercipta.
"Jangan dulu belah duren bro, kasihan?" celetuk sultan. setelah berada di dalam kamar.
"Siapa? mana ada?a aja r" Arya dan Fatma tampak malu-malu.
"Oma, Om Tatan. Mana durennya? kok Rania gak lihat ada durian di sini? baunya aja Rania gak nyium nih." Anak itu celingukan.
Semua pasang mata yang berada di sana menatap ke arah Rania yang kebingungan dan mencari-cari keberadaan durian. Lanjut semuanya tertawa dan saling bertukar pandangan ....
...Tamat...
.
.
Terima kasih aku ucapkan pada reader ku semua, yang sudah mengikuti atau setia dengan kisah recehan ini🙏
Terima kasih banyak? kalian lah yang mendukungku untuk terus semangat dalam menulis.
Dan mohon maaf? aku tidak bisa memberi apapun selain doa semoga Allah membalas kebaikan kalian semua yang tidak bisa aku sebutkan namanya satu persatu🙏
__ADS_1