Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Terbakar


__ADS_3

Renata bersandar di daun pintu. Lalu melorot ke bawah dengan kepala mendongak dan memejamkan mata yang terasa panas itu, Hik hik hik. "Segitu bencinya kamu sama aku?"


Sesaat kemudian, Renata bangkit dan berlari menuju lift. Berlari meninggalkan unitnya Arya yang tidak bisa dia masuki lagi, ruang yang benar-benar tertutup untuk dirinya masuk.


Ting!


Pintu lift terbuka di lantai dasar dan Renata bergegas menghampiri taksi yang tadi.


"Ke jalan xx Pak," pinta Renata setelah berada di dalam taksi tersebut.


Supir mengangguk dan segera meluncurkan mobilnya ke tempat yang menjadi tujuan Renata.


Sepenjang perjalanan Renata anteng melamun, dan tau-tau taksi sudah sampai di depan salah satu gedung pencakar langit tersebut.


"Beneran ini kantornya wanita itu?" kepala Renata mendongak menatap gedung tersebut.


"Lho, sayang? ngapain di sini?" tanya Doni yang tiba-tiba berada di area parkiran tersebut.


Renata kaget bukan kepalang. "A-aku, ini. Aku em--"


"Kamu sedang apa di sini cinta?" ulang Doni yang membawa sebuah berkas.


"Em, itu. Aku lagi ... kamu sedang apa di sini juga?" pada akhirnya Renata balik nanya, sementara dia sendiri sangat kelimpungan untuk menjawab pertanyaan dari Doni.

__ADS_1


"Lah, aku lagi kerja. Habis meeting, ayo pulang? kebetulan sudah waktunya makan siang nih." Doni melihat jam yang ada di tangannya.


"Tanpa berkata apa-apa Renata mengangguk dan mengikuti langkah Doni yang menarik tangannya ke dalam mobil. Sebelumnya membayar taksi terlebih dahulu.


Doni membukakan pintu buat Renata, lalu dia mengitari mobilnya untuk masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang setir. Setelah duduk dia membantu Renata memasang sabuk pengaman.


Seusai terpasang, Doni menatap ke arah wajah Renata. Menyelipkan helaian rambut ke belakang telinganya, netra mata Renata membalas tatapan Doni yang semakin lekat. Dan akhirnya wajah Doni mendarat di wajah Renata membungkam mulut Renata dengan bibirnya. Mulanya ciuman itu biasa saja namun lama-lama menuntut sehingga tangan sebelah kanan Doni bergerilya di buah yang menggantung tersebut. Di ***** nya dan yang satu lagi mengunci kepala Renata.


Dan niatnya membuka penutupnya. Tapi Renata menangkap tangan itu, dia jauhkan dari tempat itu.


Seketika Doni melepaskan bibirnya yang membungkam mulut Renata. "Kenapa cinta? sebentar lagi kita akan menikah. Kamu akan menjadi milik ku seutuhnya." Setengah berbisik.


Renata menggeleng. "Jangan. Nanti saja, aku takut--"


"Aku takut kebablasan. Saat ini kita belum menikah, jadi sabar saja dulu." Lirih Renata menatap sayu.


Tatapan Doni penuh ekspresi kecewa lalu posisi duduknya menegak menjauhi tubuh Renata. "Oke."


Lalu Doni bersiap untuk menyetir, tanpa berkata-kata lagi. Dia meluncurkan mobilnya dengan kecepatan sedang guna mencari restoran untuk makan siang.


Renata menatap ke arah Doni dengan tatapan lekat lalu merapikan pakaiannya. Melihat keluar jendela dengan tatapan kosong.


"Gagal deh, tadinya aku mau temui wanita sihir itu. Enak saja sudah merebut Arya dari genggaman ku," batin Renata.

__ADS_1


...****...


Suatu hari Sultan sedang makan malam dengan Fatma, tentunya tanpa sepengetahuan Arya. Namun Arya pun Sultan suruh datang ke tempat itu dengan alasan akan bertemu dengan teman kuliah dulu yang kini tinggal di luar Negeri.


Setibanya Arya di sana, alangkah terkejutnya dengan pemandangan yang ia dapati saat ini. Sultan dan Fatma sedang berdua makan malam dan tampak akrab sekali.


"Apa maksudnya nih? mana kawan kita yang dari luar Negeri itu?" tanya Arya sambil berdiri menatap tajam ke arah Sultan. "Dia? yang kau maksud kawan dari luar Negerinya?"


"Em, dia-dia ... tidak bisa datang. Dia kencel. Katanya ada urusan.


"Alasan, Sejak kapan kau pandai berbohong bro?" sambung Arya menatap tajam ke arah Sultan yang nampak santai.


Fatma tersenyum pada Arya yang tampak kesal, berdiri melipat tangan di dada. "Kenapa gak duduk?" gak enak di lihat orang."


Arya melirik, lalu menarik kursi yang ada di antara Fatma dan Sultan, lalu duduk. Wajah tampannya sedikit di tekuk dan entah apa penyebabnya sehingga dia tampak sewot.


"Eh ... sejak kapan ya?" Sultan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Sejak ... langkah yang hilang."


"Itu jejak, gak usah bercanda lah." Arya semakin kesal.


"Ooh, jejak ya?" Sultan menatap ke arah Fatma yang anteng dengan makannya lalu membalas tatapan Sultan.


Dengan susah payah, Arya menelan saliva nya ketika melihat Sultan dan Fatma saling melempar senyuman yang bikin hatinya panas terbakar. "Ngapain kalian berada di sini? berduaan lagi. Kata Rania mama ada meeting." Pertanyaan itu Arya tujukan pada Fatma tanpa melihat orangnya ....

__ADS_1


__ADS_2