
Setelah pergi dari kantor Doni, Indah berjalan dengan gontai di pinggir jalan, dan tiba-tiba ada mobil yang berhenti di dekatnya. Sebelum indah menoleh siapa di dalamnya. Indah langsung di tarik oleh kedua orang yang tinggi besar, dibawanya ke dalam mobil secara paksa.
Indah teramat kaget, mau menjerit namun langsung mulutnya di bungkam dengan sapu tangan dan kedua tangan pun terkunci di belakang. Dia hanya bisa melotot dan berontak sebisanya.
Namun ada suatu barang yang mereka todong kan pada dagunya. Ya itu ujung senjata api membuat kedua mata Indah melotot dengan sempurna.
...---...
Kini Arya sedang berada di dalam pesawat yang masih dalam masa persiapan untuk terbang mengudara membawa puluhan penumpang yang ingin ke tempat tujuannya.
"Mumpung masih ada waktu, para pramugari. Bersihkan yang seharusnya si bersihkan, jangan jorok dan itu untuk kebaikan kita semua dan perusahaan juga." Arya mengintruksikan pada para pramugari untuk lebih menjaga kebersihan di dalam pesawat.
"Baik kapten. Siap kami laksanakan," sahut para pramugara dan pramugari.
Mereka pun bubar dan melaksanakan tugasnya masing-masing. Begitupun dengan Arya yang menemani ahli mekanik di mesin pesawat. Sebagai pilot, diapun tentunya menguasai dalam bidang itu.
Beberapa waktu kemudian pesawat yang di tangani oleh Arya mulai take-off melayang ke udara. Membawa para penumpang nya ke tempat yang menjadi tujuan.
Dengan serius, Arya dan rekannya menjalin kerjasama yang sempurna demi hasil yang memuaskan.
Cuaca yang sedikit buruk tak jadi halangan buat si burung besi itu mengudara dan membawa seluruh penumpangnya sekitar 150 orang beserta para awak laya.
Di atas ratusan ribu kaki Garuda melayang di udara menembus awan dan cuaca buruk pun diterobos Hingga akhirnya sinyal-sinyal tempat mendarat pun sudah mulai dekat.
Namun dada belum bisa tenang bila belum bisa mendarat dengan sempurna di terminal tujuan. Dada masih berdebar tidak menentu, dag-dig-dug begitu cepat. Bagaikan senam jantung.
Masya Allah ... pada akhirnya pesawat mulai turun, dan landing menapakkan rodanya dipermukaan terminal tujuan.
"Alhamdulillah ... akhirnya sampai juga di tempat tujuan." Arya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Iya, Alhamdulillah." Balas rekannya dengan wajah yang sumringah. Menggambarkan sebuah kebahagiaan, sudah melewati masa-masa yang menegangkan.
Setelah para awak berkumpul di instansi terkait, mereka pun berkumpul sambil makan di sebuah restoran, melepas penat dan lelah.
Kemudian Arya beranjak, dan berjalan-jalan mencari oleh-oleh buat Rania si gadis kecil yang bawel. Baru landing saja pas nyalain ponsel. Sudah puluhan pesan dari nomor Dewi atas nama Rania yang menanyakan, papa sudah nyampe mana? kapan pulang? Rania kangen dll.
Bikin bibir Arya tersenyum lebar. "Apa ya buat oleh-oleh?" Arya kebingungan dengan barang yang ada.
Arya terus berjalan sampai akhirnya menemukan sesuatu yang sekiranya Rania akan menyukai, ya barby yang memakai baterai. Dia bisa menangis dan mengaji.
Rencananya. Arya akan mendatangkan khusus guru ngaji untuk Rania belajar setiap malamnya. Sebab Rania dan Fatma menginginkan Rania lebih di arahkan pada agama sebagai bekal kelak ia dewasa.
"Mbak tolong bungkus kan yang ini. Oya bisa pesan bajunya yang lebih bagus dan tentunya tetap sopan." Pinta Arya sambil menunjuk bajunya boneka tersebut.
__ADS_1
"Oh, boleh. Mohon tunggu sebentar ya, Tuan? akan kami kemas sebentar.
Arya mengangguk dengan ramah sambil mengeluarkan uang kes nya untuk membayar.
"Ini sudah siap. Terima kasih dan semoga anda puas dengan berbelanja di toko kami?" kata pelayan tersebut.
Arya membawa bungkusan tersebut ke tempat peristirahatannya. Dan sebelum masuk. Bertemu dengan Sofi yang kebetulan sama-sama tugas di satu pesawat yang sama.
Dia tampak murung dan ketika melihat ke arah Arya, Sofi langsung menghampiri. "Kebetulan sekali kita bertemu di sini!
"Ada apa emang nya Sofi?" tanya Arya merasa heran. Orang ketemu terus kok.
"Ada yang ingin aku bicarakan, sebelumnya aku meminta maaf atas semua yang pernah terjadi." Sofi menjeda omongannya.
"A-aku, tidak mengerti deh, bicara saja lah." Arya mengajak Sofi untuk duduk di salah satu kursi.
"Em ... seperti kau tahu. Aku pernah dekat dengan Sultan." Sofi menunduk sedih.
"Iya, aku tahu. Terus kenapa?" tanya Arya terheran-heran.
"Em, aku kira aku yang salah. Disaat aku jalan dengan Sultan, terus aku kenalan dengan seorang pria. Aku kira pria itu serius dan benar-benar kaya, namun nyatanya cuma bohong. Dia cuman memanfaatkan ku saja."
"Terus?" tanya Arya menatap datar pada Sofi.
Arya menghela napas panjang. "Kenapa gak kau sendiri yang meminta maaf padanya?"
"Aku, sudah coba. Namun ... ah entahlah. Sepertinya dia marah banget sama aku gitu." Jawab Sofi dengan wajah memelas.
"Ya, nanti aku sampaikan. Oya. Aku harus istirahat sejenak sebelum kita kembali lagi." Arya beranjak dari duduknya.
"Terima kasih?" lirih Sofi sambil menatap lekat punggung Arya yang meninggalkannya.
Arya membawa langkahnya yang lebar ke tempat rehatnya. Mumpung masih ada waktu beberapa jam lagi tuk kembali ke Jakarta.
Dia mengingat perkataan Sofi tadi. Sementara Sultan sekarang ini mau mau menjadi adik iparnya dan akan menikahi sang adik, Dewi.
Pikiran Arya melayang, sampai akhirnya Arya memejamkan kedua matanya tuk rehat sejenak.
Beberapa jam kemudian. Arya dan para awak lainnya sudah bersiap di lokasi, mempersiapkan segalanya keperluan selama penerbangan yang akan dilakukan.
"Gimana istirahatnya cukup?" tanya Arya pada sesama pilot. Kebetulan pilot tersebut masih baru, dan baru satu atau dua kali bareng Arya.
"Cukup, Alhamdulillah. Cukup nyenyak. Gimana sebaiknya nih?" dia bertanya balik.
__ADS_1
"Lumayanlah." Balas Arya dengan senyuman manisnya.
Kemudian mereka berdua pun mempersiapkan penerbangan secara khusus demi kelancaran perjalanan nanti.
"Semoga perjalanan kali ini cuaca bagus ya? agar perjalanan ini lebih lancar dan gak bikin hati was-was," ucap Arya melirik para rekannya.
Semua yang ada di sana mengangguk dan mengucap Aamiin. Semua persiapan sudah selesai dan kini tinggal melakukan take-off. Menunggu para penumpang yang mulai memasuki pesawat.
Beberapa waktu kemudian. Pesawat mulai dikendalikan oleh para pilot yang sudah ahli tersebut.
"Bismillah ... ya Allah ... semoga engkau melindungi kami semua. Melancarkan perjalanan ini sampai tujuan. Aamiin."
Pesawat mulai take-off dari mulai rendah sampai di ketinggian ribuan kaki. Membawa para penumpangnya dengan tujuan kota Jakarta.
Selang beberapa waktu pesawat sudah nongkrong di terminal tujuan. Terlihat semua awak pada sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Arya meraih bag, lalu memakai kaca mata hitamnya. Keluar dari pesawat bersama yang lainnya.
Setelah melakukan laporan ini itu di kantor. Akhirnya Arya bisa bernapas lega dan tugas berakhir. Kini tinggal pulang ke mension namun mau mampir dulu ke apartemen yang sebentar lagi mau berpindah tangan.
Di saat Arya sedang berjalan di pintu sekian. Tampak dari balik kaca mata hitamnya seorang wanita cantik, tinggi. Tubuh body gold, rambut terurai bergelombang. Mengenakan blazer biru Dongker. Memakai kaca mata hitam juga, tengah berdiri dengan menjinjing tas dan di sampingnya sebuah koper dengan ukuran sedang.
Bibir Arya mengembang. Tersenyum lebar. Hatinya berdebar-debar tak menentu, jantung berdegup teramat kencang. Bagai bertemu sang mantan, seseorang yang pernah amat berarti sebagai tambatan hati.
...---...
Saat ini Doni dan Renata juga sang bunda. Tengah berada di rumah sakit untuk melayat seseorang yang terbunuh dengan tragis.
Seorang wanita muda meninggal dengan luka-luka tu-su-k di sekujur tubuhnya dan juga diduga sebelumnya korban si per-ko-sa terlebih dahulu dan mirisnya lagi ada juga luka tembakan di tubuhnya.
Keluarga wanita tersebut menangis histeris dan tidak terima dengan kenyataan ini. Ibundanya tidak terima kalau putri nya meninggal secara tragis begini.
Renata dan Ibunda pun tidak ayal menangisi wanita tersebut. Bukan cuma berduka saja melainkan mengecam pembunuhnya gadis itu.
Renata kini memeluk Doni sambil menangis tersedu. Di depan Jenazah itu, masih terbayang akan kedatangannya untuk tarakhir kali. Dan terngiang jelas ditelinga Renata kalau dia bilang akan menikah, rupanya dia menikah dengan sebuah kematian. Sungguh mengenaskan.
Doni memeluk Renata yang terisak itu. Terbayang ketika kemarin datang ke kantor. Mencoba menggodanya lantas ia usir dan dilempar dengan uang lima ratus ribu.
Helaan napas Doni tampak sangat berat mengingatnya. Jenazah yang terbujur kaku itu ... dialah Indah seorang wanita yang pernah dekat dengan Doni dulu sebelum menikah. Kini nasibnya sangatlah tragis ....
.
.
__ADS_1
Terima kasih ya reader ku yang masih setia 🙏 maaf bila membosankan 🙏