Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Lepaskan aku


__ADS_3

Tatapan mata Aldian begitu tajam pada Fatma yang menghindarinya dan tampak tak perduli pada suaminya ini. Kemudian dengan kasar Aldian menangkap tubuh Fatma yang sontak meronta ingin melepaskan diri.


"Lepaskan aku! keluar dari kamar ku?" teriak Fatma setelah bisa lepas dari rangkulan Aldian. Semakin ke sini Fatma semakin memantapkan diri untuk meninggalkan Aldian dan menggugat cerai.


"Hei ... kau menolak ku rupanya--" Aldian menggantungkan perkataannya.


"Aku tidak sudi lagi melayani mu, cuih. Aku akan segera melayangkan gugatan cerai! aku dah muak melihat mukamu yang bikin aku enek." Pekik Fatma sambil menunjuk-nunjuk ke arah Aldian.


"Oya! lakukan saja mau mu sayang, sebab aku tak akan pernah melepaskan mu, ha ha ha ...."


"Lihat saja, siapa yang akan menang? aku atau kamu!" Tatapan tajam Fatma seakan menghunus jantung Aldian yang tampak memerah wajahnya penuh napsu.


"Aku tidak perduli dengan omongan mu itu, yang jelas malam ini layani aku! sampai aku puas." Tangannya kembali menangkap dan langsung merengkuh tubuh Fatma.


Fatma juga langsung meronta-ronta ingin lepaskan diri, kini ia semakin jijik dengan sentuhan Aldian yang semakin lama semakin liar dengan wanita-wanita di luaran sana. "Aku sudah tak sudi di sentuh pria macam kamu! tak punya akhlak."


"Jangan banyak bicara kamu, kamu saat ini masih istriku yang berkewajiban melayani ku." Aldian terus menyeret tubuh Fatma yang terus berontak, lalu ia angkat dan dijatuhkan ke atas tempat tidur.


Fatma menggelinjang bangun hendak turun namun dengan kasar Aldian tarik sehingga terbaring kembali. "Aku sudah jijik sama kamu suami yang tak ada puasnya dan tidak ada akhlak."


Tangan Fatma memukul dada Aldian yang menindih tubuhnya. Mencengkram rambut menjauhkan kepala aldian dari wajah Fatma yang terus nyosor menciumi wajah Fatma dengan kasar.


Kesal dengan penolakan Fatma yang membuat emosi Aldian naik.


Plak ....


Telapak tangan Aldian menampar pipi mulus Fatma. Gambar lima jari yang besar itu bersarang di wajah Fatma.


"Au!" desis Fatma dengan spontan tangannya memegangi pipi yang terasa panas dan perih itu. Manik mata yang terhalang helaian rambutnya melotot dengan sangat sempurna mengarah pada sosok laki-laki yang sudah beberapa tahun ini menikahinya sehingga mempunyai seorang buah hati.


Aldian melihat Fatma mendesis kesakitan kian memperlihatkan seringai puas, puas melihat wanitanya menderita. Lalu kedua tangannya menarik belahan kimono Fatma sehingga mengekspos yang ada di dalamnya yang indah itu dan semakin mengundang hasratnya untuk melakukan lebih. Ia menggigit buah mangga yang tampak segar itu dan tak perduli pemiliknya memekik dan berusaha menjauhkan diri dari kebuasan Aldian.


Fatma yang terus berontak dan ketika salah satu miliknya digigit Aldian, Fatma memekik hebat dan memejamkan matanya hingga keluar air bening dari sudut matanya. Tangan Fatma lagi-lagi menjambak dan memukul-mukul bahu Aldian.

__ADS_1


Dugh!


Dengkul Fatma menendang depan pinggul Aldian ketika ada kesempatan tuk bergerak.


Hek!


Berasa sampai ke ulu hati, Aldian nyengir merasakan nikmatnya. tendangan dengkul Fatma yang tepat sasaran. Fatma segera bangun namun dihempaskan lagi sama Aldian yang semakin emosi dibuatnya, mata Aldian memerah bukan cuma napsu namun juga rasa marah berbaur menjadi satu.


Plak! plak! tangan lebar Aldian kembali bersarang di pipi Fatma dan kali ini keduanya tak luput dari amukan Aldian yang makin buas dan arogan.


Dengan rasa sakit di bagian tubuhnya membuat Fatma tak berdaya. Dia menangis raungannya begitu panjang, menjerit yang tertahan supaya suaranya tak sampai ke telinga orang rumah. Kini dirinya sangatlah tersiksa dan tubuh yang masih berada dalam kungkungan Aldian tak bisa lagi menggunakan anggota tubuh itu untuk berontak, kedua tangannya terkunci di atas kepala Fatma dengan satu tangan Aldian yang kekar.


Hanya air mata yang mengalir sebagai ungkapan rasa sakit hati dan sakit di tubuhnya bercampur menjadi satu. Hanya bisa menjerit dalam hati berharap semua berakhir dan datangnya dewa penolong sehingga ia mampu terhindar dari singa buas saat ini juga.


Bibir Aldian terus mencumbu Fatma yang selalu bergerak penuh penolakan. Namun tak sedikitpun membuat Aldian menghentikannya.


Tingkah Aldian yang beringas dengan seringai mengerikan terlihat jelas dari wajah pria yang tidak berakhlak itu. Dengan tangan yang satunya mengarahkan pedang panjangnya. Namun di detik-detik terakhir mau menerobos jalan yang ada di depannya.


Blak!


Dua pasang mata Fatma dan Aldian sontak menoleh dan menggelinjang, Fatma yang merasa ada jalan terperanjat dan menutupi tubuhnya Dangan kimono yang masih melekat di tubuhnya itu, bergegas turun berhambur memeluk Rania.


Rania, Fatma peluk membelakangi Aldian yang mengekspos tubuh polosnya. Serta mengajak Rania kembali ke kamarnya. Fatma sesegera mungkin membawa Rania keluar dari kamar pribadinya.


"Ck, hah?" pekik Aldian memukul-mukul kasur dengan kedua tangan nya, menghempaskan tubuhnya tidur terlentang tanpa memperdulikan pedangnya yang mengarah ke langit-langit lalu kemudian terkulai dengan sendirinya. Sesat kemudian bangkit mengenakan celananya lalu berjala mengarah ke pintu keluar.


Saat tiba di kamar Rania. Rania menetap intens pada sang bunda yang tampak pucat dan shock, menutupi kedua pipinya. Rania membuka dan melihat kedua pipi Fatma.


Netra mata polos itu memperhatikan wajah Fatma kemudian dia terkejut. "Mam, kok nangis? terus pipi Mama kenapa kok merah begitu? dipukul papa lagi ya?"


"Em, nggak. Mama baik-baik saja kok sayang, Rania bobo ya?" elak Fatma dan berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Bohong. Mama menangis! pipi Mama juga merah-merah begitu, pasti sakit." Anak itu menggeleng dan ikut menangis, memeluk sang bunda dengan erat.

__ADS_1


Anak itu meraung. Menangis sampai tersedu mungkin merasa kasihan dengan kondisi ibunya yang shock.


"Sudah, sayang. Bobo ya sudah malam," memeluk dan mengelus kepalanya Rania.


"Tapi, Mama ... sakit. Rania obati ya?" anak itu memudarkan pelukannya dan menatap kedua pipi sang bunda yang merah. "Rania ambilkan obatnya ya, dimana?"


"Rania mau ambilkan buat Mama sayang?" tanya Fatma dengan mata yang masih berkaca-kaca dan Rania membalas dengan anggukan.


Fatma tersenyum getir. "Makasih sayang. Salep nya di laci bawah."


Rania berjalan mendekati pintu. Keluar kamar menuju kamar sang bunda. Setibanya di depan pintu kamar, dengan ragu gadis kecil itu memegang handle pintu lalu masuk pelan-pelan tapi setelah memastikan papanya gak ada. Rania berlari mendekati laci namun matanya tetap bergerak-gerak waspada, dia jadi segan pada sang ayah.


Rania melihat ponsel milik sang bunda tergeletak di laci. Ia ambil dan mencari kontak Arya. Namun Rania tak menemukannya, dasarnya Rania anak pintar dan cerdas. Dia ingat kalau pernah melihat kartu nama Arya dan daya ingat Rania begitu kuat.


Dengan hati-hati Rania mengetik nomor yang dia yakini nomor Arya. Kebetulan langsung tersambung.


Tuuutttt ....


Tuuutttt ....


Tuuutttt ....


^^^Rania: "Halo?"^^^


^^^Arya: "Halo, siapa ya?"^^^


^^^Rania: "Om. Ini Rania, Om. Mama sakit."^^^


Rania langsung menutup teleponnya. Kemudian berlari kembali ke kamarnya untuk menemui sang bunda.


Setelah Rania pergi. Fatma merosot duduk di lantai bersandar pada tepi tempat tidur. Tangisnya pecah, meratapi nasib yang kurang beruntung dalam berumah tangga. Ia memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya ....


****

__ADS_1


Salam hangat untuk kalian semua. Terima kasih sudah mengikuti karya ku ini, jangan lupa like, komen dan juga vote atau hadiahnya 🤭ngarep. Pokonya yang bikin aku semangat ya.


__ADS_2