
"Jalan Pak, Oya nanti setelah saya sampai kantor. Balik lagi ke rumah dan antar Ibu belanja." Suara Fatma yang ditujukan pada pak Harlan.
"Tunggu sayang, Fatma Ibu bingung masakan apa yang harus disiapkan?" rupanya Bu Wati masih bingung dengan masakan Sunda sebab lama dia tinggal di luar Negeri. Agak lupa dengan masakan Sunda.
Fatma terdiam sebentar, lalu menoleh dan berbicara pada sang bunda. "Nanti pak Harlan balik lagi untuk mengantar belanja, lagian Ibu ngapain bingung? kan yang masak orang dapur. Jadi buat apa Ibu bingung?"
"Iya sih. Tapi apa salahnya Ibu kan pengen menyambut kedatangan tamu kita." Elak Bu Wati sembari mengulas senyumnya.
"Aku, pergi dulu ya, Bu." Fatma kembali menyuruh supirnya jalan.
Bu Wati berdiri seraya melambaikan tangan pada Fatma.
Mobil terus merayap keluar dari gerbang dan memasuki jalan raya untuk menuju tempat kerja yaitu kantornya Fatma.
"Ngapain sih? ibu antusias segala untuk menyambut tamu, aku aja biasa saja." Gumam Fatma dalam hati dan bibirnya tertarik menunjukan senyuman. Matanya melihat ke luar jendela dimana banyak kendaraan lain yang lalu lalang dan berpacu dengan waktu.
Selang beberapa waktu mobil Fatma sampai di area parkiran khusus staf. Fatma segera menurunkan kakinya dan menapaki jalanan. Membawa langkahnya menuju gedung yang menjulang tinggi. Fatma langsung mendekati sebuah lift untuk dapat segera sampai di tempat tujuan.
Ting!
__ADS_1
Pintu lift terbuka setelah sampai di lantai kantornya berada. Fatma berjalan membawa langkahnya, berjalan penuh wibawa namun tak mengurangi pesonanya. Bagi laki-lagi hidung belang cara jalan Fatma seakan melenggak-lenggok membuat mata yang memandang merasa betah untuk berpaling.
Tubuh tinggi, bentuk body biola Spanyol, rambut panjang dibawah bahu indah bergelombang. Paras cantik, hidung mancung. Kulit putih dan tidak nampak kalau sudah turun mesin satu.
Mata pria yang memandang begitu anteng melihat Fatma berjalan, mulut menganga mungkin kalau saja lalat masuk pun tidak terasa. Saking antengnya.
"Pagi, Bu?" sapa orang-orang yang berpapasan dengannya.
Fatma mengangguk dan netra matanya bergerak melihat pria-pria yang matanya jelalatan mengarah padanya. Bibir Fatma tersenyum dan kepala menggeleng.
Saat ini Fatma sudah berada di dalam ruang kerja dan duduk di kursi kebesarannya memulai dengan aktifitas yang menunggu uluran tangan dari Fatma. Di meja begitu menumpuk berkas belum lagi harus ke lapangan.
Kepala Fatma spontan menoleh ke sumber suara tersebut. "Suci?" gumamnya Fatma.
Fatmala berdiri, mendekati sofa seakan mengajak tamunya dan menyuruhnya duduk. "Ada apa datang ke sini?"
Suci duduk di depan Fatmala tepatnya bersebrangan. "Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan."
"Apa lagi? saya rasa tak ada lagi yang harus kita bicarakan. Kita tidak ada kaitan apapun." Jelas Fatma tampak malas bertemu dengan Suci.
__ADS_1
"Hem, itu salah." Suci tersenyum sinis ke arah Fatma.
"Bagaimana pun kita akan selalu ada kaitannya. Sebab saya istri dari seorang Aldian. Pria yang kamu penjarakan dan satu lagi! Aldian adalah ayah dari anakmu," ujar Suci menatap tajam.
"Oya, ayah? dia ayah anak ku? masa sih kok gak pernah ada perhatian nya! jangankan sekarang ketika dia berada di sel. Satu atap pun tak ada perhatiannya tuh?" tatapan Fatma tak kalah tajamnya dari Suci.
"Tapi mau bagiamana pun dia tetap ayahnya. Hati kecil kau pun pasti mengakui itu kan?" ucap Suci kembali.
Fatma membuang napas melalui mulutnya. "Sekarang, bilang ada perlu apa? sebab saya tidak ada waktu untuk buang-buang waktu. saya sibuk."
"Hem, maksud saya cuma mau bilang. Cabut laporan mu itu, keluarkan Aldian dari penjara?" Suci sedikit memohon pada Fatma.
Tatapan Fatma begitu menghujam dada Suci yang duduk di hadapannya. "Saya tidak akan pernah memenuhi permintaan mu. Sebab itu sudah selayaknya dia mendekam di penjara."
"He ... apa kau tidak memikirkan psikis anak mu, ayahnya di penjara! punya ayah tahanan, apa gak akan mengganggu mental dia ha?" desak Suci yang tetap ingin suami tercintanya keluar dari penjara.
"Oh, itu benar sekali. Kalau itu akan mengganggu mental anak ku. Tapi ... saya tidak perduli tentang hal itu, sebab aku punya cara sendiri untuk mengurus sendiri tanpa ayahnya, yang sedari dulu juga tidak perduli tentang anak itu. Saya punya cara sendiri untuk mengatasinya, sekarang kau pergi! jangan pernah datang dan membujuk ku lagi." Fatma menunjuk ke arah pintu yang terbuka.
"Hei ... kamu lupa? kalau saya ini istri mantan suami mu, pria yang sudah memberikan mu keturunan, buah hati! seharusnya kau itu menghormati saya sedikit saja." Timpal Suci.
__ADS_1
"Ya-ya, ya. Saya lupa. Kalau kalian lah yang memasukan saya ke dalam perangkap kalian, demi apa? harta! ya, demi harta. Sesungguhnya kau itu sama saja tidak punya malu alias muka tembok," ucap Fatma sangat tegas ....