
"Aku sedih aja, yang seharusnya di usia Rania ini kenyang dengan kasih sayang seorang ayah. Namun--"
Arya mengangkat telunjuk dan menempelkan di bibirnya sendiri. "Settt ... jangan di teruskan lagi, aku akan berusaha untuk menyayanginya dengan semampuku."
Fatma semakin terharu, dengan tatapan nanar Fatma menetap sangat lekat ke arah Arya. "Terima kasih banyak ya?"
Dengan membalas tatapan Fatma, rasanya ingin sekali mengusap air mata yang menetes di pipinya namun dia belum berani untuk melakukan hal tersebut. Walau sekedar menyeka air matanya itu, lalu Arya tersenyum dan berkata. "Sama-sama, Yu turun?"
Dalam beberapa saat keduanya masih bersitatap, kedua netra mata mereka saling mencurahkan isi hati lewat tatapan yang mengandung arti. Kemudian arya dan Fatma berjalan meninggalkan kamar Rania.
Melihat Fatma membawa tas sekolah, Arya bertanya. "Mia kemana ya? kok lama aku gak melihatnya!"
"Em, Mia masih libur, mungkin besok baru balik dia," sahut Fatma sambil menuruni anak tangga.
"Mam, cepetan? lama ih, nanti kesiangan." Rania sudah duduk di depan meja makan bersama opa dan Omanya.
"Sayang, sabar dong ... itu mama lagi jalan sama om nya." Kata Bu Wati sambil menuangkan air ke dalam gelas.
Fatma yang masih menapaki anak tangga, tersenyum melihat Rania yang begitu semangat. Namun mungkin matanya yang lengah atau entah kenapa kakinya terpeleset, membuat tubuhnya oleng dan hilang keseimbangan dan hampir saja terjatuh.
"Astagfirullah ..." untung saja tangan Arya yang kekar dan berbulu itu dengan cepat menangkap pinggang Fatma dari belakang sehingga tubuh Fatma tidak terjatuh dan cuma tas milik Rania aja yang lepas dari tangan Fatma.
Dag-dig-dug, hati Fatma berdebar-debar. Jantung berdegup sangat kencang, getaran yang menjalar ke sekujur tubuh, bak tersengat aliran listrik.
__ADS_1
Begitupun yang dirasakan oleh Arya, tidak jauh beda dengan yang Fatma rasa. Bahkan darah yang mengalir di tubuhnya mengalir lebih deras, mungkin karena bagian tubuh yang secara tidak langsung bersentuhan sebab berhadapan. Tatapan kedua mata terkunci pada satu sisi. Tangan Arya juga belum berubah dari tempat semula, Mengunci tubuh Fatma.
Tangan Fatma yang tadi dengan refleks melingkar di leher Arya juga masih betah di sana.
"Mam, gak kenapa-napa? gak sakit kan?" suara Rania yang berdiri di dekat Fatma dan Arya, menyadarkan keduanya.
Arya melepaskan tangan dari bagian tubuh Fatma setelah Fatma berdiri lagi dengan tegak. Fatma menarik tangan dari leher Arya.
"Nggak sayang, Mama nggak kenapa-napa kok." Seraya mengambil tas yang tergeletak di lantai.
"Huuh ..." Arya menghembuskan napasnya dari mulut.
Bu Wati dan pak Wijaya hanya saling melempar pandangan dan senyuman saja melihat Fatma dan Arya seperti itu.
Kemudian mereka berjalan mendekati meja makan dan Fatma mengambilkan piring buat Arya dengan hati yang masih belum terkontrol.
Lalu mereka bergegas sarapan, Arya memakan menu yang Fatma berikan. Sepiring nasi goreng dan telor ceplok.
"Oma-oma, tau gak? Rania akan di antar sama om ganteng sekolahnya, iya kan, Om ganteng?" Rania melihat Oma dan Arya bergantian.
"Oya, Rania seneng gak?" tanya omnya menatap ke arah Rania.
"Seneng dong ... seneng banget, nanti Rania mau tunjukkin sama semu ... a, teman-teman di sekolah. Kalau Rania punya papa baru yang sayang ... banget sama Rania." Celoteh anak itu di sela menghabiskan makannya.
__ADS_1
Semua yang berada di meja makan tersenyum dan ikut bahagia akan kegembiraan Rania yang berseri-seri.
Selesai makan, mereka terpisah di halaman rumah mewah tersebut. Fatma pergi ngantor dengan mobil yang dibawa pak Harlan dan Arya membonceng Rania untuk sekolah.
Sebelum berangkat, Fatma mencium sang putri seraya berkata. "Sayang, hati-hati ya? jangan nakal dan yang rajin ya belajarnya."
"Iya, Mam. Siap," balas Rania dengan wajah yang riang.
"Aa, nitip Rania ya?" ucap Fatma ambil menoleh ke arah Arya.
Arya bukannya menjawab melainkan menatap lekat pada Fatma yang baru saja memanggilnya Aa. "Iya," pada akhirnya keluar juga sahutan dari mulut Arya.
Kemudian keduanya berangkat dengan kendaraan masing-masing. Motor Arya meluncur dengan kecepatan sedang.
Rania yang duduk di depan Arya, bernyanyi dengan sangat riang. Sesekali berceloteh, di sela-sela bernyanyi.
Selang beberapa puluh menit, akhirnya roda dua milik Arya tiba juga di depan sekolah Rania yang sudah ramai dengan kehadiran teman-teman Rania.
Teman-teman Rania bengong melihat Rania turun dari motor besar tersebut. "Eh, Rania kok turun dari motor. Mobilnya kemana?" tanya mereka.
"Iya, Rania di antar sama Om. Mobilnya ada kok di rumah," balas Rania sambil melihat ke arah Arya.
"Ooh, kirain mobilnya di jual." Celetuk salah satu temannya ....
__ADS_1
****
Mohon dukungannya ya? reader ke semua🙏