
Hi ... reader ku semua? hari ini aku sibuk membantu adek bikin nasi kuning, jadinya telat up nih, tapi jangan khawatir. Walau satu bab tapi isi dua bab kok, selamat membaca 🙏
...---...
Dengan masih memeluk erat sang istri, Arya memberikan kecupan kecil di tengkuknya. "Aku menyesal, gak dari dulu menikahi mu. Ternyata punya istri itu lebih enak, tidur ada yang nemenin, diperhatiin. ada yang masakin ... tentunya dengan penuh cinta."
Nyess ....
Padahal Fatma sudah berburuk sangka pada sang suami. Dengan mata yang berkaca-kaca, ia membalikan tubuhnya menghadap Arya. "Kamu jahat, aku pikir kamu beneran menyesal menikahi ku?''
Fatma memukul dada Arya dengan suara kesal dan merajuk. Kemudian memeluk erat sang suami yang juga merangkul dirinya. Dan menenggelamkan kepalanya di dada Aya.
"Ha ha ha ... justru aku beruntung sudah menikahi mu, Menyesal kenapa gak dari dulu kita bertemu dan menikah?"
"Hem ... tapi dulu kamu rencana menikahnya bukan sama aku lho. Tapi sama dia." Timpal Fatma sambil tetap menyembunyikan wajah di dada bidang Arya.
"Iya sih, tapi di tengah perjalanan. Aku merasa kalau kamu adalah jodoh ku," ucap Arya sambil mengeratkan pelukannya.
"Kok bisa gitu?" tanya Fatma penasaran.
"Sebab ... sering aku bermimpi, menikah dengan wanita yang kini dalam pelukan ku ini," sahut Arya sembari mencium Icuk kepala Fatma.
"Oya? bohong." Timpal Fatma.
"Beneran, setiap aku berdoa yang terbesit adalah wajah mu. Yang menari di pelupuk mata ku, makanya aku merasa kalau kamu adalah jodoh ku," ujar Arya sembari tersenyum menawan.
"Em ... so sweet ... tapi aku aku gak merasakan apa pun tuh." Fatma mencibirkan bibirnya.
"Tapi sekarang bucin, kan sama aku? sangat sayang, kan sama diriku ayo ngaku?" jari Arya menjepit hidung Fatma yang mancung.
"Nggak, siapa bilang?" memutar bola matanya jengah.
"Nggak apa? nggak sedikit. Tau aku!" timpal Arya.
Kemudian Fatma menggerakkan tubuhnya, hidung mengendus mencium bau sesuatu. "Bau apa nih?" seraya terus mengendus.
Hidung Arya pun ikut mengendus dan mencari sumber bau gosong berada.
"Ya, ampun. Aku lupa! kamu sih ganggu aku." Fatma memutar badan lantas mematikan kompor. "Aah ... nasi goreng ku hangus. Aah ... ini gara-gara kamu," Fatma mendelik, melotot ke arah Arya.
"Ha ha ha ... kok nyalahin aku sih? coba lihat?" Arya mengorak-ngarik nasi goreng di wajan. "Ini masih bisa dimakan sayang, gosong sedikit bawahnya."
"Iih, bau ... ini gara-gara kamu. Aku jadi gak becus masak, hik hik hik. Kamu aja yang makan, aku gak mau!" Suara Fatma manja.
"Iya, nggak pa-pa buat aku aja, sayang bikin yang lain aja." Arya seraya menunjukan senyumnya.
"Sudah roti aja, bikin BT akh. Aku mau mandiin Rania dulu." Fatma membuka celemek nya.
Gegas ke kamar Rania yang seperti kemarin, Rania tampak sudah mandi.
"Mama, aku sudah mandi. pinterkan?" sambut anak itu ketika sang bunda muncul dari balik pintu.
"Oo! iya dong anak Mama, yu dandan dulu?" Fatma langsung mendandani Rania. lanjut membereskan tempat tidurnya, membuka gorden. Menyapu bersih ruangan tersebut.
"Papa, bikin apa?" tanya Rania pada Arya yang sedang berkutat depan kompor.
"Eeh, anak manis, ini lagi bikin nasi goreng spesial ala Papa buat Mama dan Rania." Arya menoleh ke arah Rania.
Rania duduk di kursi meja makan dan menghadapi segelas susu hangat. "Lho. emangnya Mama gak bikin sarapan buat kita?"
"Tadi mama bikin, sayang ... cuman gosong sedikit, is oke buat papa aja." Arya menyajikan piring nasi goreng buat sang istri dan Rania.
"Gosong? mama gak mahir dong ya?" ucap Rania sembari menyesap susu hangat nya.
"Bukan! bukan gitu sayang. Mama mahir kok, cuman papa yang ganggu mama," sahut Arya seraya menunjukan senyumnya.
Arya menyodorkan lagi piring sarapan Rania. "Makan sayang? jangan lupa membaca doa dulu ya!" cuph! mencium pucuk kepala Rania penuh kasih.
"Iya, Papa. Bismillah ... الَّلهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. Aamiin." Selesai membaca doa, Rania langsung sarapan.
"Aamiin ya Allah ..." timpal Arya pun memulai makannya berdua dengan Rania. Sebab Fatma masih beres-beres di kamar Rania.
Detik kemudian Fatma muncul dengan membawa tas sekolah Rania, lalu memasukan bekal Rania yang sudah ia siapkan sebelumnya.
"Lho. Kok nasi goreng nya baru?" kata Fatma terheran-heran ketika melihat dua piring nasi goreng yang baru. Sementara Arya makan nasi goreng yang tadi sedikit gosong.
__ADS_1
"Iya dong, kan aku yang bikin spesial buat istri dan anak ku tercinta." Arya mengedipkan matanya nakal.
"Asli?" Fatma duduk dan mencicipi sedikit. "Enak. Tapi beneran Aa yang bikin?" masih ragu.
"Iya dong sayang. Asli, Rania saksinya ya?" Arya melirik ke arah Rania.
"Iya, Mam. Papa yang masak, enak ya? Oya, Mama kok gak baca doa sih?" Rania menatap sang bunda yang lagi dan lagi menyuapkan sendok ke mulutnya.
"Eh, iya lupa!" Fatma tersipu malu.
Jari Arya mengarah ke saing wajah Fatma, untuk menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. " Kalau lupa, baca basmalah lalu membaca ini. بِسْمِ اللهِ فِىِ أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ."
Fatma mengikuti yang Arya ucapkan. Lalu melanjutkan sarapannya.
Setelah sarapan selesai Arya memimpin doa sesudah makan.
"Sekarang kita membaca doa sesudah makan. الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مُسْلِمِينَ."
"Aamiin ya Allah." Timpal Fatma dan Rania.
Kemudian mereka bersiap untuk memulai rutinitas masing-masing. Fatma ngantor dengan mobilnya yang dikemudian pak Harlan.
Sementara Arya mengantar Rania ke sekolah dengan motornya.
Mereka bertiga terpisah di parkiran.
"Hati-hati ya sayang, yang rajin juga yang pinter?" Fatma mencium kedua pipi Rania.
"Oke Mama." Jawab Rania.
Kemudian Fatma berdiri dan mendekati Arya yang berdiri dekat pintu mobil.
"Aa, hati-hati ya dan titip Rania." Kemudian meraih tangan Arya tuk diciumnya.
"Iya sayang, hati-hati juga. Oya, ngomong-ngomong ada imbalannya gak?" tanya Arya sembari menaik turunkan alisnya, bibir menyunggingkan senyuman.
Sejenak Fatma terdiam, mencerna maksud Arya sembari menatap lekat. Kemudian tersenyum dan mendekatkan mulut ke pipi Arya seraya berbisik. "Tenang aja, nanti aku kasih seperti semalam. Kapan-kapan," cuph memberi kucuran mesra di sana.
Tangan Arya mengusap pipi yang barusan Fatma kecup. "Jangan kapan-kapan dong?"
"Sudah ah, siang." Fatma memasuki mobil yang Arya bukakan.
Begitupun Rania melambai pada sang bunda yang juga membalas lambaian mereka.
Arya dan Rania gegas menaiki si roda dua tersebut. Segera melaju menuju sekolahan Rania.
"Bismillah ... Rania berangkat sekolah. Semoga di selamatkan sampai tujuan dan mendapat ilmu yang bermanfaat."
"Aamiin ..." sahut anak itu.
Perjalanan pun di mulai. Arya melajukan motornya dengan cepat tapi gak ngebut. Membelah jalanan yang cukup ramai dengan kendaraan yang lalu lalang dan membawa penumpangnya untuk beraktivitas harian.
...---...
Pagi-pagi Zayn tengah di kamar mandi dan Susi tengah menyiapkan pakaiannya di atas tempat tidur yang sudah rapi itu.
"Markonah? tolong handuk dong? aku lupa bawa handuk ku di sana." Suara Zayn dari dalam kamar mandi.
"Aish ... kebiasaan suka lupa bawa handuk atau sengaja nyimpen handuk di kamar." Gerutu Susi sambil meraih handuknya Zayn.
"Kebiasaan! ini handuknya." Susi mengetuk pintu kamar mandi.
Pintu terbuka, dan muncul Zayn yang basah kuyup dan tanpa apapun yang melekat di tubuhnya. Mengambil handuk dari tangan Susi sekaligus menarik ke dalam kamar mandi, di bawanya ke bawah kucuran air shower.
"Eeh, apa-apaan sih kamu Zaylangkung? aku tuh sudah mandi. Enak saja bawa basah-bashan." Pekik Susi yang di rangkul Zayn dibawah air hangat tersebut.
"Biarpun sudah mandi, apa salahnya sih mandi lagi?" pekik Zayn tak kalah tinggi nadanya.
"Apa salahnya? salah dong! aku mau siapkan sarapan buat kamu, bukan nemenin mandi," timpal Susi kembali.
"Mau ngasih sarapan, kan sama aku ha?" tanya Zayn menatap wajah Susi.
"Iya, jadi basah kuyup gini!" Susi kesal.
"Ya, sudah. Kasih sekarang?" pinta Zayn.
__ADS_1
Susi mendongak sembari mengusap air yang membasahi wajahnya. "Kau gila ya? masa mau makan di sini? Makan, ya di dapur."
"Kau mau memberi aku sarapan bukan? kasih di sini? aku sudah lapar nih," ucap Zayn dengan suara bergetar dan menatap aneh pada Susi.
Susi tidak mengerti dengan maksud Zayn yang bikin pusing itu. "Maksud kamu apa sih? kamu mau makan di sini? lepas aku mau ambilkan."
Zayn menggeleng melihat sang istri yang tidak mengerti dengan maksudnya. Kemudian Zayn langsung bereaksi, memegang dagu Susi sedikit di angkat dan ia meraup bibirnya.
Susi kaget namun tidak berontak, mulanya biasa saja namun lama-lama semakin menggiring ke sesuatu yang lebih.
Tubuh merapat. Bibir bertaut, mata terpejam menikmati asyiknya yang ditambah sensasi yang berbeda dengan dilakukannya di bawah kucuran air hangat yang terus mengalir.
Zayn terus menuntun gairah Susi yang mulai terbawa suasana. Tubuh mereka semakin merapat dan bibir pun semakin bertaut, lidah menjelajah setiap rongga mulut masing-masing.
Susi hampir kehabisan napas dan mendorong dada Zayn. Ingan mencari oksigen yang hilang akibat Pacitan barusan.
Sesaat Zayn menyudahi, memberikan ruang pada Susi untuk bernapas namun tak sedikitpun melepas rangkulannya.
Setelah cukup membiarkan Susi mendapatkan oksigen, Zayn kembali menyatukan bibirnya. Tangan bergerilya ke titik sensitif milik Susi tampak jelas akibat bajunya yang basah itu.
Susi merasakan kalau di depannya ada yang mengganjal dan menyeruak ke depan. Tangan Zayn mulai membuka semua yang melekat di tubuh Susi, di lemparnya begitu saja ke sembarang tempat. Tanpa melepaskan pagutan bibirnya.
Napas keduanya sama-sama memburu. Tanda hasratnya sudah pada naik. Kucuran air hangat tersebut menambah bergolaknya darah yang mengalir deras di tubuh mereka.
Mereka kembali merapatkan tubuhnya dan Zayn menyeret tubuh Susi ke dinding. Dan memberi arahan agar susu menuruti perintahnya. Susi pun menuruti apa yang Zayn mau.
Kedua tangan Zayn yang kekar mengangkat bokong Susi dengan tetap punggung Susi menyandar ke dinding. Kedua kaki Susi melingkar ke pinggang Zayn, tangan memeluk erat leher Zayn takut terjatuh. Nafsu yang kian memuncak membawa mereka segera melakukan sesuatu.
Yang akan membuat mereka puas. Penetrasi pun terjadi dengan sangat baik dan tenang, tidak terasa mereka melakukan itu sudah satu jam berlalu dengan beberapa gaya yang telah dilakukan keduanya.
Susi kelelahan. "Sudah, cukup. Aku sudah lelah." Suara Susi serak dan bergetar.
Namun Zayn tak mengindahkan begitu saja permintaan sang istri, ia malah mempercepat ritualnya. Dan seraya berkata dengan suara berat. "Aku belum cukup sayang, aku masih lapar."
"Sudah siang, kamu mau ngantor. Zaylangkung, sudah?" pekik Susi seraya mendorong dada Zayn dan suaranya tampak berat dengan napas yang kasar serta naik turun.
Akhirnya Zayn menyudahi kegiatannya dan melepas Susi yang langsung menghampiri shower untuk membersihkan diri.
Pria tinggi tampan itu menatap setiap gerak Susi dengan napas yang terengah-engah serta bibir yang menyunggingkan senyuman penuh kemenangan.
Lalu mendekati ikut membersihkan dirinya, Susi agak minggir takut di ajak gitu lagi. Tubuhnya sudah cukup lelah dan capek, meraih jubah handuk lantas buru-buru keluar dengan manik mata yang sedikit mendelik.
Kini Susi sedang menata sarapan buat Zayn di meja, wanita itu mengenakan dress pendek dan rambut terurai basah menambah anggun penampilannya. Tubuhnya yang mungil dari dulu sampai sekarang yang tidak berubah.
Zayn muncul dengan tas kerja di tangan serta kunci mobil yang ia mainkan, menghampiri Susi. "Aku pergi dulu?" cuph! kecupan mesra mendarat di kening Susi.
"Sarapan dulu?" balas Susi.
"Tidak, aku sudah telat!" jawab Zayn seraya membawa langkahnya yang lebar keluar dari dalam rumah tersebut melintasi pintu utama.
Susi melirik ke arah jam yang sudah menunjukan 07.30 wib. " jelas lah telat. Suruh siapa main-main dulu? kaya gak ada waktu lain saja." Lagi-lagi Gerutu Susi memecah keheningan.
Matanya menatap punggung Zayn sampai menghilang dari pandangan.
"Bisa, kan nanti malam atau sepulang kerja kek mainnya! bukan waktunya mau pergi kerja. Dasar gila Zaylangkung." Susi menggeleng, lalu makan sendiri.
Saat ini Zayn sudah berada dalam perjalanan, mobilnya sedang berhenti di lampu merah. Kedua telinganya mendengar ada percekcokan dari sebuah mobil lalu matanya melihat ke arah sumber suara tersebut.
Sekilas lalu berpaling lagi, namun segera kembali menoleh terdorong rasa penasaran yang ingin tahu dan berasa kenal dengan pria yang ada di dalam mobil tersebut. Sementara wanitanya sangatlah asing baginya.
Mobil mereka terhalang beberapa meter dan kendaraan lain sehingga tidak terlalu jelas dengan yang mereka ributkan.
Walau pandangan Zayn tertuju ke arah mobil tersebut tak bisa dengan jelas mendengarnya, Hingga akhirnya lampu jalan berubah hijau dan kendaraan lain di belakang sudah menyalakan klakson berharap kendaraan yang di depan segera merayap.
Begitupun Zayn segera memutar kemudinya. Melaju dengan cepat, dalam hatinya masih di runding rasa penasaran. Namun ia abaikan dengan fokus melihat ke depan memandangi jalanan.
Sesekali melihat kaca spion apakah mobil yang tadi masih satu arah, namun ternyata tidak ada. Mungkin melaju ke lain arah atau berhenti di persimpangan. Sehingga tidak terlihat lagi.
Zayn semakin menancap gas agar segera sampai di kantor yang dia tuju, sesekali melirik jarum jam mahal di tangan nya.
Di tengah fokus menyetir, ponselnya berdering dan Zayn usahakan untuk menjawabnya. Memakai headset dan menerima telepon yang dari Fatma.
Zayn: "Ya , Bos? saya masih di jalan nih. Sorry telat."
Fatma: "Tumben kau telat? biasanya kau selalu standby di lokasi!"
__ADS_1
Suara Fatma dari ujung telepon tampak terheran-heran dengan keterlambatan Zayn ke kantor ....
****