Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Gelisah


__ADS_3

Bu wati dan umi pun, bergegas memasuki mobil tersebut untuk mendampingi Fatma. Sementara Dewi di Mension menemani Rania yang masih tidur, gak baik bila anak sebesar Rania lama-lama di Rumah sakit.


Mobil mewah itu terus meluncur menuju sebuah rumah sakit, yang sudah di rekomendasikan sebelumnya. Fatma lemas, keringat dingin pun membasahi sekujur tubuhnya.


"Fatma Sabar ya, Neng ..." wajah cemas umi tampak dari wajahnya.


Begitupun dengan Bu Wati. wajahnya ikut pucat. Ikutan meringis juga, mengusap pinggang Fatma dengan lembut. Ada rasa was-was dan sebagainya.


"Aduh ... mules! Huuh ..." rintihan Fatma di barengi dengan membuang napas berulang-ulang. Tangannya memegangi pinggangnya yang terasa panas.


"Sabar, Nak ... semoga persalinannya nanti lancar ya? Aamiin." Harap Bu Wati.


"Aamiin ya Allah ..." balas orang-orang yang ada di sana.


Wajah Fatma menyusup ke bahu sang ibunda. Tidak lama di jalan, mobil berhenti di depan Rumah sakit dan langsung meminta kursi roda untuk membawa pasien.


Dengan cepat Fatma di tangani oleh dokter ahli. Hanya para wanita saja yang boleh masuk. Sementara pak Wijaya dan abah menunggu di luar dengan hati yang cemas dan was-was.


"Ya Allah ... semoga persalinan nya lancar tidak ada halangan apapun." Abah mendongak ke langit-langit.


"Aamiin ya Allah ... tentu itu yang kita semua harapkan. Keduanya selamat, lancar tidak ada halangan apapun. Sehat." Timpal pak Wijaya.


"Mana si Aa. Sedang tugas, entah kapan pulangnya." Gumamnya Abah sambil melihat arah koridor rumah sakit.


"Ya, doa kan saja walau tidak ada si Aa, semua berjalan lancar. Tidak ada halangan apapun." Sambung pak Wijaya.


"Huuh ... Huuh ... Huuh ..." Fatma terus membuang napas lewat mulutnya. Sesekali meringis menahan sakit.


"Ya Allah ... lancarkan persalinan ku ini. Semoga anak ini keluar dengan mudah, Aa ... cepat pulang?" batin Fatma memanggil suaminya.


Umi dan Bu Wati setia menemani Fatma, di usap. Di pijit pinggangnya dengan lembut dan di usap pula keringatnya dengan tisu.


"Ibu, Umi. Aku minta maaf ya? mungkin aku banyak salah dan dosa pada kalian terutama Ibu. Maafin aku! dan aku titip Rania seandainya nanti ..." ucapan Fatma terhenti.


"Ibu sudah maafin kamu Nak, jangan bilang begitu. Berdoalah semoga persalinan ini lancar tanpa ada halangan apapun, kalau soal Rania ... pasti kami menyayanginya, ada ataupun nggak ada dirimu kami akan menyayanginya, Iya kan Umi?" Bu Wati menoleh pada Umi yang berwajah sendu, terharu dan sedih mendengar ucapan Fatma.

__ADS_1


"Ahk ... sakit ..." desis Fatma sambil memejamkan kedua matanya.


"Yang sabar ya Nak ... semoga Allah memberi kekuatan padamu dan memberi kelancaran," ucap Bu Wati.


"Iya, Neng Umi juga cuma bisa berdoa, semoga kelahiran baby ini begitu dimudahkan sama Allah, baik juga ibunya sehat. Hanya itu yang Umi harapkan saat ini." Gumamnya umi Santi sambil mengusap keringat yang keluar dari keningnya Fatma.


"Harus tenang ya, Bu, yang nyaman ini baru pembukaan lima. Diperkirakan paling nanti malam lah lahirannya, permisi? saya tinggal dulu?" ucap dokter ahli meninggalkan ruangan tersebut.


Dan setelah dokter keluar, masuklah Abah dan pak Wijaya ke dalam ruangan tersebut.


"Bagaimana masih lama?" tanya Pak Wijaya ketika melihat Fatma berdiri sambil sedikit menggerakkan kakinya untuk melangkah.


"Belum katanya baru pembukaan lima, dan diperkirakan dokter sih nanti malam lahirannya," sahut Bu Wati pada suaminya itu.


Abah menghela nafas panjang. "Bagaimana kalau kita salat ashar dulu? atau kita bergantian?"


"Iya kalian duluan lah biar saya yang nemenin Fatma." Kata bu Wati sambil melirik ke arah Fatma.


Selanjutnya Abah Umi dan Pak Wijaya kembali keluar, untuk menuju mushola. Tinggallah Fatma dan sang Ibunda di sana berdua. Bu Wati memberikan Fatma air mineral.


"Ya Allah ... semoga engkau mempermudah persalinan ini," gumamnya Fatma dengan lirih.


"Semoga, Aa secepatnya pulang." Harap Fatma


"Aa, kan belum pulang? karena lagi kerja, biarkanlah dia tenang dengan kerjaannya. Jangan dibikin cemas kalau bayi ini mau lahir? lahirlah dengan segera dan selamat. Tidak perlu menunggu papa nya," ucap Bu Wati sambil mengusap pinggang Fatma yang meringis.


"Tidak, Bu. Aku tidak ingin seperti dulu, melahirkan sendirian tanpa suami ada di sisiku, dulu Ibu dan Ayah apa lagi dari pihak mertua tidak ada menemaniku! bahkan suamiku pun tidak peduli aku mau melahirkan, makanya ... aku ingin saat lahiran anak ini, Aa ada disamping ku." Lirihnya Fatma sambil menangis.


"Tapi kan, kalau seandainya mau brojol juga gimana? nggak mungkin kan kamu menunggu?" tutur Bu Wati lagi.


Fatma terus membuang napasnya dari mulut. "Huuh ...."


"Kau harus tenang dan tawakal. Tak apa lahiran tanpa, Aa, juga. Mending kalau cepat pulang? kalau nggak, gimana? kamu juga yang akan tersiksa," ujar bu Wati kembali.


"Insya Allah kami kuat dan akan menunggu sampai, Aa. Pulang." Suara Fatma, dengan sangat pelan sambil mengusap perutnya yang sudah semakin turun itu.

__ADS_1


Bu Wati hanya bisa menghela napasnya. Saat mendengar keinginan Fatma yang ingin melahirkan di tungguin sama suaminya tersebut.


Waktu terus berputar dan saat ini suasana sudah memasuki malam. Fatma masih menahan mulas panas di bagian perut dan pinggangnya, sesekali perutnya kontraksi.


Gelisah tak menentu, dirinya menjadi serba salah. Duduk nggak enak, tidur nggak nyenyak. Nggak nyaman. Berdiri pun tidak tenang. Berat, kedua kakinya merasa lemas.


Saat ini dokter pun memeriksanya kembali dan diperkirakan lagi paling lahirannya ... paling cepat pukul 10.00 malam atau kemungkinan juga paginya, kata dokter.


Abah dan Umi, Ibu juga Ayah tetap setia menunggui Fatma di ruangan persalinan tersebut. Mereka berempat tak henti-hentinya terus berdoa untuk kelancaran lahiran cucunya nanti.


Wajah Fatma terus meringis dengan rasa nyeri yang tidak terkira, tubuhnya berasa menusuk ke dalam tulang-tulang. Rasa tidak nyaman dan sulit bila harus diungkapkan ataupun digambarkan dengan kata-kata.


Fatma terus membuang nafasnya dari mulut dan menghirupnya kembali, ditambah hatinya semakin gelisah. Karena suami tercintanya belum juga terlihat batang hidungnya.


"Apa, Aa. Sudah dikasih tahu? kalau aku sudah di rumah sakit ini?" tanya Fatma lirih pada sang ibunda.


"Sudah, sudah Ibu kasih tahu. Namun tidak ada jawaban!" kata Bu Wati.


"Umi juga sudah telepon, Aa. berkali-kali, tapi nggak diangkat! ya kan Mbah?" Timpal Umi Santi menoleh pada sang suami.


"Iya ... mungkin masih sibuk atau mungkin masih dalam penerbangan, sabar aja nanti juga chat nya dia baca selepas landing, berdoa saja. Biar semuanya lancar." Begitu kata Abah.


"Kalau Rania sama Dewi kan bu, umi? Rania sama Dewi, kan?" lirihnya Fatma, teringat pada putri kecilnya yang tidak ada di situ.


"Iya, Rania sama Dewi, Dewi sengaja Ibu suruh tinggal di mension untuk menemani Rania di sana. Kurang baik kalau anak itu berada di rumah sakit," ucap Bu Wati.


"Tadi juga Dewi nelpon, katanya Rania pengen ke sini, tapi Umi bilang jangan dulu ke sini. Nanti saja kalau Dede bayi nya sudah lahir, barunya diajak ke sini sama Dewi," sambungnya umi Santi


"Iya, Umi ... biar Rania nya di rumah saja, apalagi kalau ada Dewi aku lebih tenang." Kata Fatma kembali.


Suasana malam yang hening. Dan kondisi Fatma semakin mendekati lahiran, Air ketuban pun sudah keluar. Dokter dan beberapa suster masuk dan Abah juga pak Wijaya keluar dari ruangan persalinan tersebut ....


.


.

__ADS_1


Apa kabar reader ku semua? semoga kabar kalian dalam lindungan yang maha kuasa. 🤲🤲


__ADS_2