Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Melepas rindu


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul 21.30 wib. Arya sudah selesai membersihkan dirinya dan sudah wangi juga, Arya merangkak naik. Berbaring miring menghadap Fatma yang masih juga terlelap.


Jarinya Arya bergerak mengarah ke pipi Fatma di tatapnya dengan sangat lekat. Mengusap lembut seraya berkata. "Assalamu'alaikum , sayang ku?"


Tatapannya yang lekat dan lembut, mengarah pada wajah cantik yang begitu lelap seakan tidak merasakan pergerakan dirinya yang beberapa kali menyentuh lembut pipi dan rambutnya.


Cuph! kecupan mesra mendarat di kening sang istri. Perlahan Fatma bergerak memindahkan posisi tidurnya, meletakkan kepala di dada Arya. Menambah nyamannya tidur Fatma.


Bibir Arya tersenyum dan tangannya membelai rambut Fatma dengan sangat mesra. Turun ke pipi mengelus dengan punggung jarinya.


Fatma yang merasa nyaman, sekaligus mencium bau parfum milik Arya, hidungnya mendengus pelan. Lalu tangannya bergerak meraba dada bidang Arya yang telanjang itu.


Tanpa membuka mata, tangan Fatma terus meraba dadanya Arya sampai menemukan satu titik dan ia mainkan dengan jarinya. Dengan masih terpejam, bibir Fatma tersenyum bahagia.


Begitupun dengan Arya yang ikut tersenyum dengan melihat senyuman di bibir sang istri. Sentuhan tangan Fatma di dadanya dan memainkan titik yang membuat Arya geli serta memejamkan mata. Sebab itu salah satu titik rangsangan buat dirinya.


Tangan Arya memeluk erat tubuh Fatma dan bibirnya menempel mencium mesra keningnya. Sehingga Fatma terbangun, perlahan membuka matanya memicing dan mendongak.


"Aa? Aa dah pulang?" gumamnya pelan, suaranya parau khas bangun tidur. Kembali memejamkan matanya sejenak.


"Hem?" sahut Arya lirih.


Fatma terkesiap dan lantas bangun. Membuka matanya lebar-lebar, menatap ke arah Arya yang ikut terbangun mendudukkan dirinya di samping Fatma.


Fatma menggosok kedua matanya dengan jari. Mengumpulkan kesadarannya.


"Aa, dah pulang. Beneran ini Aa?" gumam Fatma kembali.


"Iya, sayang ini Aa." Arya memegang kedua tangan Fatma di cium punggungnya mesra. "Aa sudah pulang dan sengaja pulang ke sini. Sebab istri Aa ada di sini."


"Kapan pulangnya? kok gak bangunkan aku sih?" Fatma menarik tangan dan mengusap wajahnya.


"Nggak tega. Sayang sangat nyenyak sekali," ucap Arya seraya menyampingkan rambut Fatma yang ke depan itu.


Tampak Fatma mengenakan lingerie hitam warna kesukaannya. Jelas mengekspos belahan dadanya, bahunya yang tampak mulus dan leher yang jenjang.


Saat ini kesadaran Fatma belum terkumpul sepenuhnya. Terbukti dengan diamnya dan sorot mata yang masih kosong.


Tangan Arya bergerak menyentuh tengkuk Fatma yang langsung netra nya melihat ke arah kedua mata Arya yang menatap lekat. Kedua pasang mata pun bertemu saling menatap sendu dan cuph! bibir Arya meraup bibir sang istri yang merah natural dengan sangat lembut. Membuat bola mata Fatma membulat dan pada akhirnya terpejam menikmati saat-saat yang menebarkan ini.


Emcuph, haaa. Sesaat Arya lepas dan berkata. "Aa, kangen sama sayang. Kangen." Dan menyatukan kembali bibirnya dengan bibir tipis Fatma yang menganga seakan menantang untuk disentuh.


Mulanya biasa saja. Menumpahkan rasa rindu yang menggebu, bagai lama tiada bertemu. Namun lama-lama setiap sentuhan yang tercipta menuntut untuk melakukan lebih dan tak ayal tangan Arya pun bergerilya kemana-mana.


Jantung Fatma dan Arya sama-sama dag-dig-dug berdebar tak menentu. Bergemuruh bagai deburan ombak yang menghantam batu karang dilautan.


Tangan Fatma memeluk erat punggung Arya yang sedang mencumbunya penuh gairah. Tubuh keduanya mulai bergetar menahan hasrat yang membakar jiwa.


Darah yang mengalir deras, bergolak panas. Napas pun mulai berat dan menyapu kulit wajah masing-masing.


"Aku pun kangen sama kamu dan sangat khawatir, aku takut kamu kenapa-napa." Suara Fatma bergetar dan memeluk erat tubuh Arya.


"Aku juga. Sekarang aku sudah di sini sayang, bersama mu! untuk melepaskan rindu." Balas Arya sembari memberi kecupan kecil di area bahu dan tengkuk Fatma yang putih bersih.


Arya mendorong bahu Fatma dan memberi jarak di antara mereka. "Siap gak kalau sekarang aku meminta sesuatu?"


Fatma tersipu malu namun tidak lama mengangguk pelan. "Aku siap kok."


Tangan Arya meraih rambut Fatma dan menciuminya. "Wangi." Berlanjut ke bagian tubuh lainnya. Kulit nya yang halus dan wangi juga.


Ditambah lagi Fatma habis perawatan kecantikan. Menjadikannya tampak lebih segar, dan baunya wangi semerbak.


Tak sengaja tangan Fatma menyentuh sesuatu yang bergelayut namun bukan ayunan dan terasa tegang berdenyut kecil. Bikin Fatma menelan saliva nya berkali-kali.


Manik matanya menatap penasaran dengan yang ada di dalam sana. Benda hidup, kecil nan menggemaskan, kemudian Fatma mengalihkan pandangan ke arah wajah Arya yang sendu menatap ke arah dirinya.


"Aku ingin membuatmu bahagia malam ini," kata-kata itu terdengar begitu nakal. Tangan Fatma sedikit menarik tali lingerie nya ke bawah dan mulai menggoda Arya yang sudah play dengan candu alami, bagi insan yang normal.


Hasrat Arya semakin naik ketika melihat tali lingerie nya Fatma turun sebelah mengekspos Bukit indah yang amat menantang untuk di jamah. Membuat Arya semakin klepek-klepek dibuatnya.

__ADS_1


"Aku juga akan membuat sayang bahagia, yang tidak pernah sayang rasakan dulunya." Bisik Arya tak kalah nakalnya, lengannya yang kekar mengarah pada sesuatu.


Napas Arya kian terasa berat, terbakar hasrat yang kian membakar tubuhnya. Dengan cepat ia menyentuh dan *e**m** pelan tapi mengundang rasa yang bikin pemiliknya mendongak nikmat. Apa lagi ketika Arya menghujani tubuh Fatma dengan kecupan kecil namun bertubi-tubi.


"Akh ..." rintihan Fatma seraya menggigit bibirnya bawahnya.


Suara rintihan Fatma, terdengar begitu merdu di telinga Arya, menambah ia lebih semangat untuk melakukan sesuatu yang lebih. Dengan sekilas dia menarik penghalang di antara keduanya.


Netra nya Fatma terbelalak melihat burung pipit yang sudah hidup dan meminta makan.


Sebuah suntikan yang siap mengeluarkan isinya ke tubuh pasien yang membutuhkan obat tersebut.


Dengan perlahan namun pasti, Arya membaringkan tubuh Fatma di atas bantal, di bawah kungkungan. Mengunci tubuh Fatma di bawah kekuasaannya Arya.


Tidak lupa yang sebelumnya membaca basmalah dan doa niat untuk berhubungan.


Kemudian Arya segera melakukan ritual yang sedari tadi mereka inginkan. Dengan penuh kesyahduan, Arya merasakan yang lebih dari sebelumnya. Di sekitarnya lebih mulus dan lebih berasa nyaman menjadikannya lebih mengasyikan untuk berpetualang.


Arya kembali menyatukan bibir mereka, saling mengecap manisnya. Saling m****** dan *******p satu sama lain. Tak ayal tangan pun jalan-jalan serta untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan.


Di bawah selimut yang tebal itu pergulatan semakin memanas, terbukti dari keduanya mengeluarkan keringat yang bercucuran dan tersorot sedikit cahaya sehingga terlihat berkilau bak permata.


Suasana malam yang semakin larut kian membawa keduanya terhanyut dalam percintaan yang penuh gairah dan memanas tersebut, namun teramat mengasyikan.


Beberapa kali Arya menembakan peluru ke dalam perhutanan yang bergua itu dan hutannya sepertinya habis dibersihkan sehingga tak ada satu pohon pun yang menghias di situ tampak begitu bersih.


"Em ..." erangan nikmat beberapa kali lolos dari bibir Fatma, sekalipun ia mencoba untuk menguncinya dengan cara menggigit bibir dan ujung selimut namun tetap saja lolos juga.


"Tidak apa-apa sayang, keluarkan saja. Aku suka dan suaramu membuat ku semakin bergairah," ucap Arya dengan suara yang bergetar, di sela-sela ritme yang ia ciptakan.


Fatma mengangguk pelan serta membungkam mulut Arya dengan bibirnya namun cuma sesaat.


Lalu tangan Arya membelai rambut, pipi. Tengkuk dengan sangat lembut, pasang mata yang melukiskan haus, haus sentuhan. Haus kasih sayang dan ingin saling memberi kepuasan yang lebih-lebih dari sebelumnya.


Tubuh keduanya sudah mulai lelah setelah beberapa kali mencapai puncaknya yang membawa jiwa-jiwa melayang jauh ke awan terbang, terbawa rasa yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Hanya bisa di rasa gimana indahnya setelah terjadi intimnya mereka.


Fatma sudah sangat kelelahan. Melayani sang suami yang seolah tak ada capeknya, namun bibir Fatma tersenyum mengembang. Ada rasa yang entah apa itu, yang jelas saat ini ia merasa sangat bahagia.


Cuph! beberapa kali kecupan hangat mendarat di pipi dan kening sebagai tanda terima kasih. "Makasih sayang?"


"Hem ..." gumam Fatma sembari membelai rambut Arya.


Arya membaringkan tubuhnya di samping Fatma yang ikut bergerak tiduran di dada Arya.


"Rania nanyain terus sayang, sampai-sampai murung. Gitu. Aku jadi bingung menghadapi nya." Fatma mendongak.


"Aa sudah melihatnya. Dia tampak sangat nyenyak, dan aku sudah menyimpan yang dia pesan di sampingnya," ucap Arya sembari membelai rambut panjang Fatma yang bergelombang.


"Oya, kapan ke sana?" menempelkan dagu di atas dada Arya.


"Tadi pas pulang, sebelum ke sini."


"Ah ... jadi sebelum menemui istrinya temui anak nya dulu! dimana-mana temui istrinya dulu, baru anaknya." Fatma mengerucutkan bibirnya sangat manja.


"Ha ha ha ... apa salahnya? sayang ... sama-sama sudah tidur juga. Rania sudah nyenyak, sayang juga di sini juga pas aku datang gak ada yang nyambut. Sedih! katanya kangen? tapi ketika aku pulang malah di cuekin, kan?" ungkap Arya.


"Suruh siapa gak bilang-bilang, coba bilang mau pulang! aku jemput atau setidaknya supir yang jemput." Kata Fatma yang tidak mau disalahkan.


"Kan sengaja. Mau bikin surprise tadinya tapi malah sudah pada tidur." Cuph! mengecup keningnya dengan sangat mesra.


"Hem ... ke apartemen dulu gak?" tanya Fatma.


"Nggak sayang ... langsung ke sini aja." Arya menggeleng.


"Ooh." Fatma membulatkan bibirnya yang langsung Arya bungkam dengan bibirnya. Dengan kecupan kecil.


"Iih, nakal. Oya sudah makan belum? aku mau siapkan." Selidik Fatma kembali. Sedikit merubah posisi tidurnya dan menjepit selimut dibawah ketiaknya.


"Sudah makan tadi. Di rumah tinggal di makan sama istri saja, he he he ...."

__ADS_1


"Apaan sih? sudah aku makan habis barusan," ucap Fatma sembari tersipu malu.


"Iya, tapi pengen lagi." Bisik Arya tepat ditelinga Fatma.


"Apaan? baru aja selesai--" ucapan Fatma menggantung.


"Kalau masih kangen gimana? gak lihat apa junior ku bangun lagi." Arya menunjuk sesuatu yang hidup.


Netra Fatma bergerak melihat yang Arya tunjuk dengan manik matanya itu. Benar saja di balik selimut ada yang menjulang dan bergerak-gerak.


Bibir Fatma tersenyum lalu kembali mengedarkan pandangan ke arah wajah Arya. "Kenapa sih ... sudah malam juga."


"Emangnya kenapa sayang? wajar dong. Nanti ah bentar lagi," balas Arya seraya mengecup bibir sang istri yang sudah menjadi candu itu.


"Em ... bobo yu? ngantuk!" ajak Fatma sambil mengusap dada bidang Arya namun dengan nakalnya memainkan titik yang ada di sana.


"Iya bobo, tapi nanti setelah menidurkan adik aku yang ini dulu," sambung Arya dengan senyuman nakalnya. Memegang tangan Fatma yang bermain di dadanya memberikan titik rangsangan di tubuhnya.


Bibir Fatma tersenyum manja dan mengecup area dada Arya yang kini merem melek merasakan sentuhan sang istri yang mulai nakal.


Kemudian Arya merubah posisi menjadi berada di atas tubuh Fatma yang terlentang. Mengunci tubuhnya kembali dan mengarahkan sesuatu yang siap menembak.


Satu jam kemudian, Arya barulah menyelesaikan ritual yang penuh gairah tersebut. Arya memeluk tubuh Fatma sangat erat dan mengecup kening sang istri yang tampak lemas dan lelah.


Detik kemudian rasa kantuk menyerang keduanya, setelah beberapa kali menguap kedua pasang mata mereka terpejam juga. Memasuki alam mimpi.


Malam semakin larut, dingin. Ditambah dengan AC yang menyala. Menjadikan keduanya pelukan semakin erat.


Pagi-pagi, suara kicauan burung terdengar sangat ramai. Arya menggeliat nikmat dan dan memicingkan sebelah matanya melihat kanan kiri. Dia terkejut ketika melihat jarum jam sudah menunjukan pukul 05.30.


"Astagfirullah ... aku sudah kesiangan," gumamnya Arya. Tanpa mengumpulkan kesadarannya, ia segera bangun mengibaskan selimut lalu turun dengan niat mau bersih-bersih.


Merasakan pergerakan Arya. Fatma pun terbangun lalu menggosok matanya pelan, melihat jam dinding yang menunjukan sudah pagi. Kemudian bibir Fatma tersenyum lucu ketika melihat Arya turun.


Dan berjalan terburu-buru tanpa mengenakan sehelai kain pun menuju kamar mandi. Fatma Bagun menjepit selimutnya, perlahan turun mengambil pakaiannya. Setalah memakainya ia pungut pakaian Arya yang tergeletak di lantai.


Kemudian buru-buru masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri berbarengan dengan Arya. Agar menghemat waktu, dengan singkat, sekitar 15 menit kemudian mereka keduanya sudah membersihkan diri lanjut dengan aktifitas paginya.


"Terlambat itu lebih baik ketimbang tidak sama sekali. Mungkin karena kita bobonya hampir dini hari, menjadikan kita kesiangan." Arya melirik sang istri yang melipat mukenanya.


"Hem, Aa sih. Minta terus! jadinya kesiangan." Balas Fatma lalu membuka semua gorden yang ada di kamar.


Membuka jendela sehingga udara pagi yang sejuk masuk ke dalam kamar. Arya mendekat dan memeluk dari belakang dan memberi kecupan di samping leher Fatma.


"Kenapa?" tanya Fatma, melirik dengan ujung manik matanya.


"Kangen." Gumam Arya sambil mengeratkan pelukannya itu.


Tangan Fatma memegang kedua tangan Arya yang melingkar di perutnya yang rata.


"Kangen mulu ah." Kata Fatma seraya menggeleng pelan.


"Iya nih. Nikmat juga ya pacaran setelah halal itu? gak ada yang dilarang. Mau ngapain juga, nggak takut dosa." Cuph! mencium pipi Fatma dengan sangat mesra. "Bisa gak? kalau kita ....''


Terdengar suara derap langkah yang yerburu-buru mendekati pintu kamar Fatma.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Mam ... Mama? papa adakan di sana? papa kan sudah pulang. Pasti ada di dalam, kan?" panggil Rania dari balik pintu.


Arya dan Fatma saling melempar pandangan dan arya melepas pelukannya seketika ....


****


Ayo mana yang nunggu Arya dan Fatma up nih? jangan lupa dukungannya ya🙏

__ADS_1


__ADS_2