
Di sela-sela makannya. Arya bertanya. "Sayang mau balik kantor lagi?"
"Nggak. Tapi aku ada seminar yang harus aku kunjungi. Paling sore juga aku pulang." Fatma melirik jarum jam.
"Aku ikut ya? mengantar mu!" pinta Arya sambil kembali menyuap.
"Makannya gak boleh sambil ngobrol, pamali. Nanti makannya di ambil setan." Celetuk Rania dengan mulut penuh.
"Hem ... itu Rania bicara!" kaya Fatma sambil tersenyum.
"Rania memberi contoh, Mam ... nyontohin." Akunya Rania.
"Ooh, nyontohin? baiklah. Mama mau diam ah. Makannya mau diam--"
"Mama, mau diam tapi ngomong terus sih?" Rania memotong ucapan sang bunda yang terus berbicara sambil makan.
Arya menaikan tangan dan memberi kode untuk diam jangan ada yang bicara sampai makannya abis.
Arya meneguk minumnya setelah selesai makan. "Gimana sayang, Boleh kita mengantar ke tempat seminar?"
Fatma mendongak, sebelum menjawab ia meneguk dulu minumannya itu. "Boleh. Tapi aku mau mandi dulu."
"Ya sudah. Mandi dulu sana? biar ini, Aa. yang bereskan." Arya membereskan bekas makannya. Tinggal Rania yang masih ad sedikit lagi.
"Rania ikut? masa Rania di tinggal di sini? kalau ada yang culik gimana?" rengek Rania.
"Iya sayang, ikut kok. Siapa sih yang akan biarkan Rania di sini sendiri?" Fatma mengusap kepala Rania sambil beranjak mau mandi.
Sambil berjalan. Fatma teringat pada pesanannya. "Susu bumil buat ku beli gak, Aa?"
"Beli dong, Mama ... Rania yang pilihkan dong." Timpal Rania dengan cepat.
"Ooh, makasih ya sayang?" lalu Fatma melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.
"Udah belum makannya? habiskan dong?" tanya Arya sambil membersihkan meja.
"Sebentar, Papa ... sabar. Orang sabar itu di sayang Allah." jawab Rania sambil menghabiskan makannya.
"Iya, baiklah. Papa sabar nih. Emang Papa gak sabar ya? atau kurang baik!" Arya pura-pura merajuk.
"Sabar. Papa baik kok, lebih baik dari papa Aldian." Rania jadi bengong.
Arya menghela napas panjang. "Rania sayang. Papa Aldian adalah papa Rania asli, papa kandung. Papa Arya gak mau kalau sampai Rania marah yang berkepanjangan pada papa Aldian. Rania harus tetap hormat dan sayang sama beliau, itu pinta papa sama Rania."
Anak itu menunduk dalam. Tampak sedih di omongin gitu sama Arya.
Arya mendekat dan menarik kepala Rania ke dalam pelukannya. "Papa bicara seperti ini ... karena Papa ingin Rania sayang juga sama papa Adian. Jangan sayang sama Papa Arya saja."
Beberapa kali kecupan penuh kasih sayang mendarat di pucuk kepala Rania, anak itu menangis pilu namun tidak bersuara di pelukan Arya.
"Maaf sayang. Bukan Papa ingin membuat Rania sedih kok, Papa akan tetap sayang sama Rania sekalipun sudah ada adek bayi nanti. Rania tetap menjadi putri Papa yang pertama." Tangan Arya membelai kepala Rania dengan lembut.
__ADS_1
Fatma yang keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kimono. Merasa heran melihat Rania dalam pelukan Arya tampak sedih.
Namun dia hanya melihat dari jarak yang beberapa langkah. Fatma memilih duduk di tepi tempat tidur, dengan hati yang bertanya-tanya kenapa Rania.
"Sudah, sedih nya hem?" tanya Arya sambil mengusap pipi Rania yang lepas dari pelukan Arya.
Rania mengangguk pelan sambil mengusap pipinya yang basah.
Arya menangkupkan kedua tangan membingkai wajah Rania lalu mencium kening Rania penuh kasih. "Putri Papa jangan sedih lagi ya?"
Tanpa terasa ada buliran air bening yang mengalir di sudut matanya Fatma, terharu melihat Arya yang menyayangi Rania dengan tulus. Tangan Fatma mengusap perutnya seraya berkata dalam hati. "Lihat papa sayang, yang menyayangi kakak dengan tulus walau putri sambungnya. Dan papa pasti akan menyayangimu juga dengan sepenuh hati."
Saat ini mereka sudah bersiap untuk memenuhi undangan seminar. Fatma yang berpenampilan formal namun sopan dan tidak mengurangi kecantikannya.
Taksi yang membawa mereka melaju dengan cepat agar segera sampai tujuan sesuai permintaan penumpangnya.
Rania terus berceloteh dan tangannya terus menunjuk pinggir-pinggir jalan yang di tumbuhi buah-buahan.
"Waaah ... Apple, pir. Anggur. Mama. Papa lihat di sini banyak buahan, Rania mau metik. Boleh tidak?"
Arya dan Fatma saling bertukar pandangan lalu Fatma berkata. "Mama sedang lagi ada kepentingan sayang, gak bisa santai!"
"Em ... Rania mau metik, gemes." Rania merengut.
"It's free to pick one, ma 'am." Kata pak supir taksi.
"Won't anyone be mad if we ask him? tanya Arya penasaran.
Perbincangan mereka menyimpulkan, kalau buah-buahan yang berada di pinggir jalan tersebut. Bebas, setiap orang yang mau petik sendiri. Tanpa harus bayar pun.
"Very nice, if Indonesia would not mature like that, someone would take a crap. Even here is free but ripe. Too many." Sambung Arya kembali.
Lalu mobil berhenti di pinggir dan supir mengambilkan buah pir tiga buah buat Rania. "Here. Miss. Hope you like it, huh?"
Rania mengambil buah tersebut dengan sangat riang, setelah Fatma lap dengan tisu. Barulah Rania boleh makan.
"Thank you very much Sir?" ungkap Fatma dan Arya bergantian.
"You're welcome, ladies and gentlemen." Supir mengangguk.
Kemudian mobil melaju kembali dengan lebih cepat. Melanjutkan perjalanan menuju sebuah gedung yang jadi tujuan Fatma.
Selang beberapa puluh menit. Taksi tiba di tempat tujuan dan Fatma disambut oleh pihak penyelenggara. Dengan sangat ramah tamah.
Fatma memperkenalkan Arya sebagai suami dan Rania adalah putri kecilnya. Mereka sangat welcam dengan kehadiran mereka bertiga.
Bahkan sangat mengagumi ketampanan Arya dan kecantikan putri kecilnya itu.
"Suami anda sangat tampan sangat serasi dengan mu yang cantik. Dan putrimu sangat manis dan sangat menggemaskan." Kata mereka rekan-rekan Fatma.
Arya hanya mengangguk ramah pada mereka. Bahkan ada juga wanita yang matanya terus melihat ke arah Arya sampai tidak berkedip.
__ADS_1
Dan Fatma hanya melirik dingin ke arah wanita tersebut. Serta melirik ke arah Arya yang mungkin tidak mengetahui atau memang tidak peduli.
Ketika Fatma melakukan pertemuan dengan pihak-pihak terkait. Arya dan Rania menunggu di ruangan lain dan di sana Arya berbincang dengan orang-orang baru di kenalnya di sana.
Rania terus saja makan jamuan yang tersedia di meja. Sampai-sampai tertidur di sofa akibat kekenyangan.
Arya tersenyum dan menusuk pipinya Rania yang gembul itu dengan telunjuknya. "Hem ... si pipi gembul bobo nih, kekenyangan ya?"
"Anaknya sungguh menggemaskan. Cantik, manis. Pipinya juga chubby bikin ghemes ...."
Begitu kata orang-orang yang berada di sana.
Arya hanya mengangguk sambil tersenyum dan mengangguk hormat.
Setelah melewati beberapa waktu. Akhirnya Fatma selesai juga dan menghampiri suami dan anaknya, yang di kerubuni orang-orang yang kebetulan orang indo juga.
"Yu sayang pulang?" ajak Fatma sambil menyoren tas nya.
Arya menoleh. "Sudah selesai sayang?"
"Sudah. Lho ... kok Rania bobo sih ..." manik Fatma memandangi putri kecilnya yang tertidur di sofa.
Arya menggendong tubuh gadis kecil tersebut. Berjalan bersama Fatma. Keluar dari gedung tersebut mencari taksi untuk mengantarnya ke hotel tempat Fatma menginap.
"Rania kekenyangan nih yang ..." ucap Arya sambil berjalan.
"Hem anak itu ya ada-ada saja." Fatma menggeleng sambil mengusap kepalanya.
"Yang penting sehat sih sayang. itu saja sudah buat kita bahagia, melihat anak sehat. Ceria, jauh dari penyakit apapun." Tambah Arya kembali.
"Iya sih, Aa emang benar." Fatma membukakan pintu taksi yang mereka pesan. Agar Arya masuk duluan bersama Rania.
Mobil melaju dengan kecepatan rendah. Yang membawa mereka ke hotel tempat Fatma menginap.
Selang waktu. Taksi pun sampai di area hotel tersebut dan Arya yang masih menggendong si kecil Rania.
Fatma turun belakangan, setelah memastikan Arya dengan Rania sudah berada di Sam samping mobil taksi.
Keduanya terus berjalan menyusuri jalan yang menuju unitnya. Namun sebelumnya harus mengambil jalur lift untuk segera sampai di tempat tujuan.
Fatma membukakan pintu buat suami yang masih menggendong putri sambungnya itu. Di baringkan di tempat tidur yang lumayan besar tersebut.
Tangan Fatma menyimpan tas nya di atas meja. Sebelumnya mengunci pintu terlebih dahulu. Berjalan gontai mendekati tempat tidur tersebut, tadinya mau duduk di sana.
Namun belum juga bokongnya sampai di tepi tempat tidur, tangan Arya yang kekar itu meraih pinggang Fatma, di tarik ke dalam pelukannya ....
.
.
Semoga kabar kalian semua sehat-sehat wahai reader ku🤲
__ADS_1