
Renata sontak bergerak menjauh ketika ia sadar di depan rumahnya, gimana kalau sang bunda melihat dia sedang bersentuhan bisa-bisa bundanya marah besar.
Doni menatap penuh kecewa pada Renata sebab merasa belum selesai. Belum puas menjelajahi benda kenyal Renata.
"Aku harus pulang!" bergegas mendorong pintu turun dan menutup kembali pintunya lalu berlari memasuki teras dan langsung disambut oleh sang ibu dengan tatapan sangat tajam.
"Pukul berapa nih?" ketus bundanya yang berdiri menghalangi pintu.
Renata melirik jam tangannya. "Pukul 23. Kurang Bun." Renata menunduk dalam mengaku bersalah telah pulang terlalu larut.
"Kenapa baru pulang? sudah tahu kan ini sudah larut." Masih dengan tatapan yang penuh interogasi.
"Maaf, Bun!" Renata dengan lirih.
"Pulang dengan siapa?" bundanya celingukan ada mobil Doni yang masih berada di depan.
"Sama Indah dan Doni Bun." Perlahan mengangkat kepalanya.
"Jangan lagi-lagi pulang malam gini, ngerti? Bunda marah sama kamu! masuk." Bundanya menyuruh masuk seiring bergeraknya dagu menunjuk ke arah dalam.
Renata tersenyum dan bergegas masuk sembari berkata. "Makasih Bunda."
Doni memutar kemudinya. Setelah Renata terlihat masuk, ia memundurkan mobilnya dan merayap meninggalkan tempat tersebut. Sejak berada jauh dari rumah Renata, mobil kembali merayap ke pinggiran dan berhenti di sana.
Kedua netra mata Doni bergerak melihat ke kaca spion. Melihat Indah yang tampak nyaman tiduran di jok belakang. Terbesit senyuman di bibir Doni sebuah senyuman yang mengandung arti.
Lalu netra nya begitu tajam melihat suasana sekitaran mobil tersebut yang tampak sepi. Doni berpindah duduk ke belakang lewati jok depan tanpa harus keluar terlebih dahulu.
__ADS_1
Dengan senyuman nakal, perlahan Doni duduk di dekat Indah yang mulai merasakan pergerakan tubuh doni.
Indah membuka matanya sedikit memicing, dengan remang Indah melihat jelas Doni berada di sampingnya. "Mau apa kamu ke sini, mau nyusu ha?" sekenanya.
Namun Indah langsung melonjak menegakkan duduknya. Ketika sadar dan ingat pada Renata, manik matanya celingukan melihat ke jok depan. "Renata mana?" kemudian pandangannya beralih pada Doni.
"Sudah pulang!" balas Doni dengan tangan yang mulai kelayapan ke mana-mana mengenai bagian tubuh Indah yang lumayan sintal dan dada yang lumayan montok.
"Ooh." Indah membulatkan bibirnya dan membiarkan begitu saja tangan Doni meraba kemanapun yang dia suka. Indah yang mengenakan dress pendek di atas lututnya tentu mengekspos bagian pahanya.
Tangan Doni terus saja menjelajah setiap lekuknya. Kini tangannya berada di paha mulus Indah, tatapannya yang tampak lapar memandangi buah-buah yang membusung. Sengaja menantang, merasa tidak tahan dengan hasratnya itu, Doni segera menurunkan dress bagian atas Indah.
Indah hanya membiarkan saja yang Doni lakukan. Seolah sudah terbiasa dengan ritual itu, Deru napas yang memburu dan naik turun tampak jelas dari dada Indah.
Tanpa membuang waktu, Doni bergelantungan di buah segar milik Indah, seperti balita yang tengah meminum asi dari sang ibu. Kanan dan kiri bergantian dan terus me-nye-sap dengan sangat kuat. Tangan Indah meremas rambutnya dan membenamkan wajah Doni di depannya.
Doni mengehentikan aksinya dan menatap wajah Indah yang mulai terbakar oleh api yang membakar dan membuat tubuhnya kepanasan. Doni meraup bibir Indah yang menganga secara tidak langsung meminta disentuh.
M******* bibir Indah yang basah. *******t nya dengan sangat lembut. Sehingga tubuh Indah berubah miring dan tubuh Doni terus mengikuti gerak dari anggota tubuhnya Indah.
Tangan juga tak ayal terus jalan-jalan. M*****s kasar membuat sang empu terus menggelinjang nikmat. Serat hanyut dengan permainan yang mereka ciptakan sendiri.
Doni memang akhir-akhir ini sering mencumbu Indah bila ada kesempatan yang tepat. Namun belum berani lebih dari itu, selama ini hanya sebatas bagian atas saja gak berani menerobos. Walau Doni tahu Indah memang sudah tak bersegel lagi. Karena sudah diambil oleh kekasihnya dan kini mereka sudah putus, tak berhubungan lagi semenjak mengambil kesucian dari Indah yang tanpa syarat itu.
Keduanya semakin terhanyut dengan suasana yang akan membawa mereka pada nikmat sesaat. Sehingga pada akhirnya mereka melakukan sesuatu yang terlarang, hubungan intim di dalam mobil.
Angin malam yang menembus kulit mendesir syahdu pada dua orang yang tak terganggu sedikitpun aktifitasnya. Bahkan semakin semangat untuk berpacu dengan waktu, melepas semua hasrat yang tak kuasa mereka bendung tuk tidak melakukannya.
__ADS_1
Hasrat yang seharusnya tak terjadi, mereka melakukannya memang dalam pengaruh obat tapi bukan berarti mereka seratus persen tak sadar! mereka sadar dan begitu menikmati apa yang mereka berdua lakukan. Tak perduli halal dan haram, tak perduli salah atau benar yang mereka butuhkan saat ini adalah kepuasan sesaat.
Indah tak kalah agresif nya dari Doni yang terus ngegas dan seakan tak pernah mengenal lelah meski peluh keduanya berbaur menjadi satu. Malam semakin larut, Langit yang bertabur bintang-bintang saling menyapa dan mungkin bertanya, sedang apa mereka? bulan pun bersinar begitu sempurna, tak sedikitpun redup dan seolah pandangannya tak pernah lepas agar menjadi saksi akan kisah mereka saat ini.
Selepas beberapa waktu dan mungkin sudah melewati hampir satu jam lebih barulah keduanya merasa puas, Doni segera menuntaskannya. Dengan napas yang terengah-engah terlukis senyuman tipis dari kedua bibir itu. Mereka tak berpikir jalan yang akan mereka hadapi di hari esok, satu kata yang ada di benak nya saat ini yaitu kata. Puas!
Dengan senyuman puas dari bibir Indah, manik matanya bergerak turun pada suatu benda yang tampak hidup. Semakin membuat senyumnya melebar dan merasa lucu, tanpa permisi tangannya mengarah dan geph! Memegang belut yang langsung meronta tersebut dengan gemasnya Indah melakukan sesuatu yang sama sekali tidak Doni duga sebelumnya bahkan terkesiap dibuatnya.
...****...
Di Rumah Sakit. Arya masih setia menemani Fatma dan kali ini ia mengajaknya ke taman tuk mencari suasana baru serta menghirup udara segar dan itu akan memberi asupan yang baik untuk pasien.
Arya mendorong pegangan kursi roda Fatma, berjalan di lorong Rumah Sakit menuju taman. Langkah Arya berhenti di sebuah taman yang lumayan indah, rumput yang hijau dan tanaman hias yang menyejukkan mata.
Fatma menghela napas sangat panjang. "Masih untung ya? aku gak geger otak," ucapnya sambil meraba kepalanya yang di perban.
Bibir Arya memperlihatkan senyuman. "Tak apa kalau untuk melupakan masa lalu yang buruk, asal jangan melupakan aku aja."
Mendengar perkataan Arya Fatma menoleh pria tampan itu yang duduk di kursi panjang tersebut. "Apa? bisa kau ulang lagi?"
"Ha? ma-maksud aku, tidak apalah justru mungkin dengan cara itu ... bisa menghapus memori tentang semua kisah buruk, dan isi lagi memori tersebut dengan cara membuka lembaran baru yang penuh bahagia," ralat Arya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak merasa gatal.
"Gua ngomong apa sih? gak jelas benget." Batin Arya.
"Iya juga sih, tapi Alhamdulillah apapun yang terjadi ... aku harus bersyukur, Allah masih memberi aku kesempatan tuk hidup normal." Fatma berusaha menyemangati dirinya sambil memandang jauh ....
****
__ADS_1
Jujur, aku sedih😭 banget. banyak yang membaca dan menunggu up nya karya ku, tapi kenapa yang like cuma beberapa saja. Apa lagi yang ngasih hadiah, gak ada, apa tulisan ku ini jelek banget ya!