Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Bahagia


__ADS_3

Walau masih tidak habis pikir. Fatma langsung maju beberapa langkah, lantas memeluk tubuh Arya yang mengembangkan senyumnya.


"Apa kita berada di pesawat yang sama?" tanya Fatma dalam pelukan Arya.


"Iya sayang. Kita di pesawat yang sama, Aa. Semat melihat keberadaan sayang tengah duduk melamun." Arya mengangguk.


"Kenapa tidak menegur ku?" tangan Fatma memukul dada Arya pelan.


"Gimana mau menegur sayang? Aa lagi sibuk. Mau? Aa, ninggalin tugas?" Arya menangkupkan kedua tangan di pipi Fatma.


"Aku bahagia, kita dapat bertemu di sini," ucap Fatma dengan raut wajah yang bahagia.


"Sekarang, sayang ke hotel aja dulu, kirim alamat nya. Nanti ,Aa nyusul. Aa mau bikin laporan dulu." Arya celingukan mencari teman-teman nya.


"Oke," Fatma mengangguk. "Tapi beneran kan mau menyusul?"


"Iya sayang ... kan, sebelum Aa take up lagi istirahat dulu, ya sudah aku duluan ya?" cuph! kecupan hangat mendarat di pipi Fatma.


Arya bergegas membawa langkahnya. Menyusul yang lain, menyelinap di antara kerumunan orang-orang yang berada di sana.


Fatma memakai kembali kaca mata hitamnya, menatap kepergiannya sang suami. Hatinya berbunga-bunga, lalu menarik kopernya menunggu taksi, setelah mengecek paspor dan data lain-lainnya.


Fatma kini berada di dalam taksi untuk menuju kamar hotel yang tidak jauh dari bandara.


Setibanya di kamar hotel, Fatma langsung meminta kunci dan pelayan membawakan koper Fatma ke dalam kamarnya.


"Here, your room. Enjoy your rest and be comfortable?" Kata pelayan pria tersebut, menyilakan Fatma masuk.


"Terima kasih?" Fatma memberikan sejumlah uang buat insentif tersebut.


Pria tersebut mengangguk dan berterima kasih. Kemudian mengundur diri.


Setelah orang itu tidak ada, Fatma barulah memasuki kamar tersebut. Netra matanya mengamati suasana kamar yang dekornya mewah itu. Lalu membawa langkahnya ke kamar mandi yang juga wah dan bikin betah bila berada di dalamnya.


Lalu berniat membersihkan dirinya sebentar berendam di bathtub yang ia isi dengan air dan aroma terapi kesukaannya.


Dalam suasana yang hening, tenang dan nyaman. Fatma menikmati ritual berendam nya, yang tadinya mau sebentar saja menjadi lama dan menyenangkan.


Namun setelah melihat ke arah luar yang gelap. Kemudian beranjak mendekati shower dan lalu meraih handuk kimono yang sudah disediakan oleh pihak hotel.


"Aa, mana ya? kok belum datang? perasaan sudah ku kirim lokasinya." Gumamnya Fatma sembari mengayunkan langkahnya ke dekat lemari.


Ketika belum juga mengenakan baju, terdengar ada yang mengetuk pintu hotel. Mengingat suaminya akan datang, Fatma buru-buru menghampiri pintu dan mengintip sebelum membuka.


Tampak dari sela-sela liang pintu seorang pria berdiri tegak dengan pakaian pilotnya dan tampak gagah. Bibir Fatma tertarik membentuk senyuman lantas membuka pintu tersebut.


"Assalamu'alaikum, sayang ...."

__ADS_1


Arya langsung masuk membawa bag kecil miliknya.


"Koper, Aa. Mana?" tanya Fatma ketika melihat sang suami cuma membawa bag kecil.


"Oh, itu. Di kantor titip sama teman-teman. Oya Aa bawa coba tebak?" Ary duduk dan membuka sepatunya yang Fatma bantu.


"Apa? apa sih? makanan atau apa?" Fatma penasaran serta mendudukkan bokongnya di sisi Arya yang membuka jaketnya.


"Mau tahu atau mau tahu banget?" Arya mengedipkan mata genitnya itu.


"Iih, buruan, pengen tahu? ya udah kalau gak pengen ngasih tahu, ngapain ngomong lah." Fatma mendadak jutek.


"Ha ha ha ... iya sayang iya," Arya menjepit hidung Fatma dengan gemasnya.


"Sakit, apaan sih?" dengan tangan menyentuh dada Arya yang mulai membuka kancing pakaian formalnya.


Tatapan Arya mengarah pada kepala Fatma lantas menyingkirkan anak rambut yang ada di kening sang istri. "Sayang kan, bilang mau periksa kehamilan. Udah belum hem?"


"Ooh, belum. Belum ada waktu yang ... kenapa?" tanya balik Fatma sembari merubah posisi duduknya menghadap sedikit nyender ke bahu sang suami.


"Em ... kalau gitu, Aa. Bawakan tes kehamilan buat sayang." Arya mengambil bag nya untuk mengambil sesuatu.


"Oya? ampun ... Aa baik banget sih? sempet-sempet nya ya?" manik mata Fatma tertuju ke arah benda kecil yang Arya pegang.


"Ini, tau kan? cara pakainya. Kalau Aa gak tahu. He he he ..."Arya menunjukan barisan giginya yang putih.


"Em ... ada waktu sekitar 5-6 jam. Setelah itu, Aa balik lagi. Nanti Aa kunjungi ke sini bawa Rania ya?" cuph! mencium mesra kening sang istri.


"Iya, ya udah. Aku mau gunakan ini dulu ya?" Fatma beranjak dari duduknya melepas genggaman tangan keduanya.


"Iya, semoga kabarnya baik ya?" Arya penuh harap.


"Aamiin." Fatma mengayunkan langkahnya ke kamar mandi.


Arya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan sembari mendongak ke langit-langit, menyandarkan punggung ke bahu sofa. Duduk kaki terbuka.


"Gimana sayang hasilnya?" tanya Arya ketika melihat sang istri keluar dari kamar mandi.


"Belum, tunggu beberapa menit yang ... biar akurat," sahut Fatma sembari menghampiri lawan bicaranya.


"Ooh, tunggu ya. Kirain dengan cepat!" Arya meraih tangan Fatma di tariknya supaya duduk di pengakuannya.


"Nggak, tunggu sebentar. Cari makan yu? lapar nih!" ucap Fatma sambil mengalungkan tangan di leher Arya.


"Aa, mau mandi dulu ya?" kata Arya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Fatma, menghirup wewangian yang Fatma pakai.


"Boleh. Tapi bentar lagi, masih kangen dan masih ingin di peluk." Suara Fatma manja.

__ADS_1


"Hem ... istri ku manjanya ..." ucap Arya sambil mendekatkan lagi bibirnya agar dapat meraih benda kenyal yang menjadi candu untuknya, selalu bikin penasaran bila tidak menyentuh dan **n**s** nya.


Beberapa saat mereka berdua bercumbu memadu kasih. Namun sesaat kemudian Fatma Ingan dengan tes pack yang di kamar mandi. Sehingga Fatma melonjak dari atas paha Arya serta merapikan kimono nya.


"Sebentar ya?" Fatma buru-buru berjalan sambil menyampingkan rambutnya ke depan. Mengambil tes pack ke kamar mandi.


dengan harap-harap cemas. Mengambil tes pack, lalu dengan hati yang deg-deg-gan. Matanya Fatma di tutup sebentar seraya mengucap basmalah.


Membuka matanya, menajamkan penglihatan ke garis dua merah benda kecil tersebut.


Perasaan Fatma sulit diungkapkan dengan kata-kata mulutnya menganga. Setengah tidak percaya dan bahagia bercampur menjadi satu.


Berbalik ke pintu berdiri dengan manik mata yang tidak lepas dari benda tersebut.


Arya yang melihatnya ikut penasaran. "Gimana sayang hasilnya?"


Namun Fatma tidak merespon, melainkan terus menatap alat yang berada di tangannya itu, terus meyakinkan hati bahwa yang dia lihat saat ini adalah benar. Dengan mata yang berkaca-kaca, antara bahagia dan belum percaya bercampur menjadi satu membuat tubuhnya lemas dan luruh.


"Sayang?" Arya kaget dan langsung berdiri menghampiri sang istri yang duduk bersimpuh di lantai. "Sayang kenapa? jangan buat aku cemas?"


Arya mengambil benda kecil tersebut dari tangan Fatma dan diperhatikannya. Netra mata Arya bergerak-gerak melihat benda itu dan Fatma bergantian. "Sa-sayang positif nih? Hem ... jawab sayang?"


Pada akhirnya Fatma mengangguk pelan lalu menatap lekat ke arah sang suami yang terlihat shock dan bahagia.


"Masya Allah ... sayang ... kamu hamil? beneran? kamu hamil?" kata-kata itu sampai berulang kali keluar dari mulut Arya untuk meyakinkan dirinya.


Fatma kembali mengangguk dan memberikan senyumannya yang penuh kebahagiaan. Arya langsung memeluk Fatma dengan sangat erat.


"Ya Allah ... akhirnya aku berhasil juga," pekik Arya sangat antusias.


Mendengar kata-kata itu Fatma mendongak. "Berhasil apa?"


Arya menunduk melihat sang istri. "Ha? berhasil membuat istri ku hamil. Alhamdulillah ya Allah ..." Arya melepas pelukan lalu sujud syukur.


Melihat itu, Fatma terharu sampai menangis, namun menangis kali ini bukan sebuah tangisan yang seperti Aldian berikan, tangis penuh derita. Tetapi kali ini menangis bahagia. Bahagia karena sudah mendapatkan suami yang baik, perhatian dan sangat menyayangi dirinya.


Kemudian Fatma, Arya gendong ala bridal style dibawanya ke tempat tidur. Dibaringkannya dengan perlahan.


Arya berbaring menyamping, dengan bertumpu pada siku tangan menyangga kepalanya. Tangan kanan mengusap perut Fatma dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Terima kasih sayang? sudah memberikan calon buah hati, buah cinta kita berdua. Adik dari Rania, dia pasti bahagia mendengar kabar ini sayang." Cuph! lagi-lagi kecupan hangat mendarat di kening sang istri dan Fatma menerima dengan sangat bahagia serta memejamkan kedua matanya ....


.


.


Reader ku yang terhormat dan aku sayangi, bantu aku dong. Dukung lagi karya ku yang baru "Gadis Satu Milyar Ku" Fav kembali agar ramai lagi🙏

__ADS_1


__ADS_2