
Arya menatap layar ponsel, dan membaca isi pesan singkat tersebut dari nomor kontak yang tidak ada namanya itu.
Namun walau tidak ada di kontak, tapi Arya hafal betul kalau itu nomor Renata. Dia kirim pesan mengungkapkan isi hati nya yang merasa bersalah.
Sejenak Arya bengong lalu segera menghapus pesan tersebut. Melanjutkan kembali tugasnya, lanjut membuka gorden sehingga sinar mata hari masuk ke dalam unit tersebut.
Dalam pikiran Arya terus berputar dan terganggu dengan isi pesan barusan. Beberapa kali kepalanya menggeleng membuang yang ada di pikirannya.
"Aku harus benar-benar move on. Sekarang aku harus fokus ke anak dan istri.
Arya membawa sapu ke tempatnya lalu menggantung pakaian di balkon.
"Yu, pakai seragam dulu. setelah itu kita sarapan." Ajak Fatma yang langsung mengurus Rania.
"Yang bikin sarapannya siapa Mam?" selidik anak itu. Sebab kan kalau di Mension sang bunda tahu nya mengurus dirinya saja kalau pagi. Soal sarapan ya tinggal sarapan, toh banyak asisten yang mengerjakan semuanya.
"Mama, dong sayang. Sehabis bangun, Mama mandi, siap-siap lalu langsung siapkan sarapan buat Rania dan papa!" akunya Fatma percaya diri.
"Dulu, Mama gak pernah masak, buat papa. Apalagi pagi gini ya?" kata-kata polos itu keluar dari mulutnya sang anak.
"I-iya, sayang. Di Mension kan banyak asisten dan Mama fokus ngurus Rania saja. Papa dulu jarang makan di rumah, kan? buat apa Mama masak." Fatma memberi pengertian. "Sekarang kita tinggal di sini dan gak ada asisten, Rania juga sudah bisa mandi sendiri dan mandiri. Jadi Mama masak deh."
"Iya-ya. Papa Aldian gak sayang kita! tidak seperti papa yang sekarang. Baik dan sayang kita." Gumamnya Rania.
Sebentar Fatma terdiam dan lalu membereskan semua perlengkapan Rania. Ia kembalikan ke tempatnya.
"Sudah selesai. Kita sarapan dulu ya?" ucap Fatma sambil beranjak.
Kemudian Fatma meraih dan membawa tas Rania keluar kamar, sementara anak itu keluar duluan mencari papanya.
"Papa? Papa di mana?" Rania tengok kanan dan kiri mencari keberadaan sang papa.
"Mam, papa kok nggak ada? di mana sih?" pekik Rania pada sang bunda yang masih di depan pintu kamar Rania.
"Nggak tau, tadi di ruang tengah sayang. Sedang menyapu, mungkin menjemur pakaian di balkon kali."
"Pa? Papa?" Rania menghampiri Arya di balkon yang sedang menjemur pakaian.
"Hi ... dah cantik nih anak Papa?" balas Arya menoleh sebentar.
Anak itu menatap heran, melihat Arya mengurus pakaian dirinya dan sang bunda. "Papa, kenapa mengurus jemuran? itu kan tugas asisten. Atau ke londry saja, kan beres Papa gak perlu capek."
__ADS_1
"Lho, kan di sini gak ada asisten, lagian apa salahnya kita lakukan sendiri. Apalagi sedang tidak ada kerjaan, tidak semuanya harus di kerjakan oleh orang lain sayang." Arya tersenyum.
"Oh, gitu ya?" anak itu menjinjing keranjang ke dalam.
Arya menunjukan senyumnya sembari membawa langkahnya mengikuti Rania, menutup pintu yang mempertemukan dengan balkon tersebut.
"Yu, sarapan dulu sayang?" Fatma sudah menyiapkan untuk Arya dan Rania juga sepotong roti untuk dirinya.
"Ayo ... sarapan." Rania pun duduk di sebelah Arya. Dan langsung menarik piring nasi goreng.
"Baca doa dulu ya sayang?" Arya mengusap kepala Rania.
"Oke, Papa." Rania mengangguk.
"Sayang, kok belum sarapan?" Arya menatap heran pada Fatma yang malah sibuk membersihkan bekas masaknya tadi.
"Ya ... di sini gak bekal buat Rania makan siang deh, atau buat ngemil. Gimana dong?" Fatma baru ingat kalau di sana gak ada makanan buat bekal Rania sekolah.
"Em ... nanti di jalan aja Papa yang belikan." Timpal Arya di sela makannya.
"Iya Mam, biar Rania sama papa yang beli ke Alfamart dulu ya Pah?" Rania melirik ke arah Arya.
"Baiklah, makasih sayang?" Fatma duduk di samping Arya. lalu memakan roti nya.
Mata Fatma begitu intens melihat setiap gerak Arya, dari mulai menggeser kursi sampai mencuci piringnya.
Kemudian ngeloyor ke kamarnya sambil berkata. "Papa ambil jam tangan sama kunci dulu ya?"
"Iya, Papa." Rania menyahut.
Fatma jadi malu kalau sampai bekas makannya tidak di cuci dulu. Ia mengambil bekas Rania juga lantas buru-buru di cucunya.
Jadi pas ditinggal dapur dalam keadaan bersih.
"Mau berangkat sekarang?" tanya Arya sambil mengenakan topi kesayangannya.
"Sekarang aja. Yu sayang?" ajak Fatma dan menuntun Rania. Tangan kirinya menenteng tas miliknya dan Rania.
"Tas Rania, sini. Aku yang bawa." Arya mengambil alih tas milik Rania.
Bibir Fatma senyum simpul ke arah Arya. Mereka berjalan menuju parkiran yang harus melalui lift terlebih dahulu itu.
__ADS_1
"Kalau aku ada pertemuan, aku pilih tempat di apartemen ini aja ya? biar gak jauh-jauh!" ucap Fatma sambil melihat-lihat suasana apartemen itu.
"Boleh, terserang sayang aja." Gumamnya Arya.
Sesampainya di parkiran khusus, Arya membonceng Rania dan Fatma dengan motornya menuju parkiran umum dimana mobil Fatma menunggu di sana.
"Pak Harlan bukan yang menunggu di depan?" selidik Arya.
"Iya, pak Harlan." Fatma mengangguk.
Sesaat kemudian roda dua milik Arya berhenti di dekat mobil Fatma yang terparkir manis. Dan pak Harlan bersiap untuk membukakan pintu.
Fatma turun sambil mmegangi bahu Arya. Menoleh ke arah Rania. "Rania, hari ini di antar jemput sekolahnya sama papa ya? jangan nakal di sekolah, yang rajin dan pintar."
"Baik, Mam, jangan khawatir. Rania kan anak pinter." Anak tersenyum.
Fatma mencium kedua pipi Rania dan pucuk kepalanya. "Ingat pesan Mama ya?"
"Iya, ih. Bawel, he he he ..." ucap anak itu polos.
"Eeh, jangan bilang gitu ah, mama kan sayang Rania makanya bawel." Protes Arya dengan lembut.
"Iya, Papa." Rania menunduk. "Maaf Mama?"
Fatma mengulas senyumnya. "Iya sayang. Mama sayang Rania." Memeluk sebentar.
"Hem ... Rania terus yang di peluk dan ciumnya, Papa nggak! Papa merajuk nih." Arya pura-pura sedikit merajuk.
"Ha ha ha ... Papa kaya anak kecil, merajuk. Papa kan sudah besar. Tidak boleh merajuk lagi." celoteh anak itu dengan suara cempreng.
Fatma yang melepas pelukannya pada Rania melempar senyuman ke arah sang suami. Lalu mencium pipi kanan dan kirinya, kemudian menyodorkan keningnya minta di kecup.
Arya pun segera mengecupnya dengan singkat. Kedua tangan Arya memegangi setang motor, sebab dia dan Rania tak turun dari motor tersebut.
"Aku pergi dulu ya?" ucap Fatma seraya mencium punggung tangan Arya.
"Iya, hati-hati."
"Sayang, Mama pergi dulu ya! Papa hati-hati juga bawa motornya." Fatma menatap Rania dan Arya bergantian.
Akhirnya, mereka terpisah di sana dengan tujuannya masing-masing. Fatma ngantor dengan sebuah mobil mewahnya, dan Arya mengantar sekolah sang anak sambung dengan moge miliknya ....
__ADS_1
****
Apa kabar nih reader ku semua🙏semoga kabar baik ya?